Jadilah Seperti Udara

Redaksi – Minggu, 23 Maret 2014 15:00 WIB

langit biruDi sebuah kelas, seorang guru bertanya kepada murid-murid di hadapannya. “Menurutmu, benda apa di dunia ini yang paling baik pada manusia?”

Murid-murid tampak berpikir keras. Ada yang tatapannya menyapu seisi kelas, seolah mencari sesuatu. Ada yang bisik-bisik dengan teman sebangku. Dan ada yang tetap diam. “Air, Pak Guru!” jawab seorang anak tiba-tiba.

“Kamu benar!” ucap Pak Guru menyambut jawaban seorang muridnya. “Air memang menyediakan kehidupan. Tapi, tidakkah kamu perhatikan, air cuma mengairi manusia-manusia di sekitar aliran sungainya. Manusialah yang harus menjemput air. Bukan sebaliknya!” tanggap Pak Guru begitu lugas. Beberapa saat, suasana kelas hening.

“Cahaya, Pak Guru!” ucap seorang murid yang lain. “Kenapa cahaya?” tanya Pak Guru memancing. “Karena cahayalah kita bisa melihat. Bayangkan jika tanpa cahaya. Dunia akan gelap!” jelas si murid begitu mantap.

“Kamu juga benar!” jawab Pak Guru. “Tapi, tidakkah kamu perhatikan kalau saat istirahat manusia tak butuh cahaya. Ada saatnya cahaya bisa menemani. Ada saatnya tidak,” ungkap Pak Guru kian membuat suasana kelas lebih serius.

“Gimana? Ada yang ingin berpendapat?” tanya Pak Guru memecah keheningan kelas yang mulai agak lama. Tapi, yang ditunggu tak juga muncul. Murid-murid tampak bingung. Tiba-tiba, ada seorang murid mengacungkan jari. “Udara, Pak Guru!” ucapnya begitu yakin.

“Ya, saya lebih setuju pendapat itu!” ucap Pak Guru memberikan respon positif. “Kenapa, Pak?” tanya murid-murid hampir bersamaan.

“Menurut saya,” ucap Pak Guru sambil menatap murid-murid begitu serius. “Udara memberi kebaikan dengan mendatangi manusia. Bukan sebaliknya. Tanpa memamerkan diri, ia akan bersusah payah menyelinap di lubang sekecil jarum sekali pun, demi memenuhi kebutuhan manusia. Udara pula yang selalu menemani manusia, di mana dan kapan pun,” jelas Pak Guru begitu meyakinkan. Dan murid-murid pun mengangguk setuju.
**

Dalam pentas kehidupan, selalu ada pegiat kebaikan. Mereka memberi tanpa pamrih. Mereka pun berlomba untuk bisa menjadi yang paling bermanfaat. Berusaha memberi dengan yang terbaik.

Namun, tidak semua yang baik adalah yang terbaik. Bercermin pada tiga makhluk Allah seperti air, cahaya, dan udara mungkin akan menambah nilai kebaikan. Bahwa, produk kebaikan harus mengejar, bukan dikejar. Dan yang menarik, ia selalu bersama dengan yang membutuhkan, walaupun orang tak menganggap keberadaannya.

Kalau saja pegiat kebaikan memahami peringkat udara, ia pasti tak akan berpuas diri cuma sebagai air atau cahaya. (mn)

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus