Kerdil di Hadapan Sang Pencipta

Sus Woyo – Sabtu, 23 Rabiul Awwal 1427 H / 22 April 2006 10:34 WIB

Beberapa waktu lalu, saya diingatkan oleh salah satuimam masjid, agar ikut sholat hajat sesudah sembahyang Isya. Saya bertanya-tanya, sholat hajat untuk apa? Kenapa mesti berjamaah juga? Pikir saya. Ternyata Sultan Brunei, Sultan Hassanal Bolkiah, yang bergelar Mu’izzadin Waddaulah itu, baru saja memerintahkan kepada seluruh rakyatnya, untuk melakukan shalat hajat, karena di sepanjang perairan negara itu air lautnya sedang tercemar warna kemerah-merahan. Jadi sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem laut dan tentu saja juga bagi rakyat Brunei sendiri yang sangat gemar makan ikan.

Shalat hajat itu berlangsung terus selama beberapa bulan, sampai air laut kembali pada warna semula, dan tidak berbahaya lagi. Di samping sembahyang hajat, juga disertai dengan doa-doa memohon perlindungan dari bala dan apa-apa yang tidak diinginkan oleh kita semua.

Tidak hanya itu saja, dulu ketika hutan-hutan di Kalimantan, yang masuk wilayah Indonesia,dilanda kebakaran besar-besaran, dan asapnya sampai menutupi langit Brunei, pemimpin berusia 60 tahun itu juga menganjurkan rakyatnya untuk shalat yang sama. Pokoknya setiap ada fenomena alam yang cukup membahayan rakyatnya, Sultan pasti menyuruhnya untuk sholat hajat dan mengadakan permohonan khusus. Termasuk ketika ada SARS, penyakit pernapasan yang mematikan itu, melanda sebagian Asia

Dan sekarang ini, tatkala penyakit membahayakan flu burung sedang merebak ke mana-mana, Sultan juga menghimbau rakyatnya untuk banyak-banyak berdoa kepada Allah. Sampai-sampai hampir setiap dua atau tiga jam sekali, radio dan televisi pemerintah negara itu selalu mengumandangkan sebuah doa khusus untuk memohon perlindungan dari merebaknya penyakit yang disebarkan oleh virus dari jenis burung itu.

Suatu malam beberapa hari lalu, saya menjadi lebihpaham dan tak berhenti untuk mengangguk-anggukan kepala ketika salah satu pemimpin senior di Asia Tenggara itu berkata di hadapan rakyatnya pada suatu acara.

“Kami ini mahluk Allah. Hamba yang sangat kerdil di hadapanNya. Kita tidak boleh sombong dengan teknologi yang dihasilkan oleh otak-otak manusia. Biarpun ilmu pengetahuan manusia telah menemukan berbagai cara untuk menangkal segala kemungkinan bahaya yang terjadi di dunia ini, tetapi doa kita kepadaNya adalah sesuatu yang mutlak harus kita panjatkan.”

Pantas saja, pemimpin yang masih kelihatan gagah ini tak malu-malu menengadahkan tangan di lapangan terbang, berdoa kepada Allah, setiap kali akan pergi ke luar negri atau pulang dari suatu kunjungan ke luar negri, untuk memohon perlindungan dariNya. Karena memang kita tak ada apa-apanya di hadapan Sang Pencipta.

[email protected]#

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus