Meluaskan Rezeki

Muhammad Rizqon – Rabu, 20 Syawwal 1428 H / 31 Oktober 2007 05:56 WIB

Kek Ngoh, 96, demikian orang biasa memanggil namanya. Kata ‘Ngoh’ diambil dari kata ‘Tengoh’ (bahasa Aceh) yang berarti tengah. Maksudnya ia memiliki satu kakak dan satu adik, sedang ia berada di tengah-tengah mereka, maka ia disebut kakek yang berada di tengah atau Kek Ngoh. Dia memiliki 24 cucu dari 5 orang anak perempuannya yang sudah berumah tangga.

Yang luar biasa dari Kek Ngoh, meski usianya mendekati satu abad, dia tidak pikun. Dia masih bisa membaca tulisan tanpa kaca mata, mampu mendengar dan berucap dengan baik, dan sanggup berjalan bolak-balik dari rumahnya ke masjid yang berjarak sekitar 500 meter. Fisiknya cukup sehat dan bugar. Dia kadang suka bercanda denganku, mengajak adu cepat berjalan kaki. Jarang sekali kutemui seorang tua berusia lanjut yang sehat dan memiliki sense of humor tinggi layaknya dia.

Kemampuan menjelajahnya, untuk ukuran orang yang berusia demikian sepuh tersebut, adalah luar biasa. Dia pernah cerita bahwa semua masjid-masjid di Kota Banda Aceh pernah disinggahinya. Biasanya setiap Jum’at ia melaksanakan sholat jum’at secara bergilir dari masjid satu ke masjid yang lain. Untuk menuju masjid-masjid itu, ia tidak menggunakan sarana transportasi umum, melainkan berjalan kaki! Bahkan ia mengaku sering berjalan kaki di pagi hari menuju dari rumahnya ke Lambaro yang berjarak cukup jauh, lebih dari 5 km.

Dia termasuk orang yang dihormati di Desa Tanjung, boleh jadi karena usianya yang paling tua dari semua penduduk kampung, sementara ia masih mampu berpikir dan berkomunikasi dengan baik. Menceritakan perjalanan dirinya saat ia muda pun ia masih bisa. Juga ketika diajak ngobrol berandai-andai ke masa depan, ia pun masih mampu menyimpan harapan yang ingin diwujudkan.

Ketika bertemu aku, biasanya saat aku ke masjid, kadang ia terlebih dahulu mengucapkan salam keras-keras sambil melambai tangan. Aku merasa itu adalah penghargaan ia atas diriku yang masih muda. Dan biasanya setelah bersalaman terjadi dialog-dialog yang hangat. Kadang aku menggunakan bahasa aceh sebisaku dan terkadang membuatnya tertawa karena ada kata atau logat yang kugunakan terasa lucu baginya. Kemudian ia mengucap bahasa aceh yang disengaja dan ia yakini bahwa aku tidak akan mampu memahaminya. Kalau aku diam karena tidak tahu, ia bertanya kenapa diam. Ketika aku bilang, “Hana Teupue (tidak tahu)”. Barulah dia tertawa terkekeh-kekeh kemudian menjelaskan artinya. Tetapi dari situlah keakraban sering terjadi.

Kami yang tinggal di komplek di Desa Tanjung menyadari bahwa Kek Ngoh adalah orang yang perlu disantuni mengingat kondisinya yang tua tersebut walau dia sendiri tidak pernah meminta. Terlebih mengingat Kek Ngoh adalah orang yang rajin datang ke masjid dan masih kuat menjalankan ibadah puasa.

Banyak dari kami warga pendatang berpikiran seperti itu. Terlebih lagi, Kek Ngoh adalah simbol dari sesepuh desa. Jika kami dekat dengan Kek Ngoh, maka kami merasa aman dalam berinteraksi dengan warga di desa tersebut.

***

Masa tua, apalagi pada usia 96 tahun yang teramat lanjut, adalah masa hilangnya keberdayaan manusia secara fisik. Pada masa itu, teramat susah bagi seorang tua untuk mencari nafkah menghidupi diri sendiri. Daya hidup dari Kek Ngoh di usia tua tersebut menyakinkan diriku bahwa benarlah apa yang sering dikemukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, Allah menjamin rezeki setiap makhluk, termasuk terhadap terhadap seorang kakek tua seperti Kek Ngoh.

Ya, banyak orang yang khawatir dengan jaminan rezeki saat dirinya tua kelak. Syukur, jika orang berupaya pada batas-batas yang dihalalkan Allah. Yang menyedihkan adalah dengan dalih mempersiapkan jaminan hari tua dan kesejahteraan keturunan, maka banyak orang melampaui rambu-rambu syariat dalam mencari rezeki yang halal. Maka yang terjadi adalah alih-alih membekali diri dan keturunan dengan jaminan kehidupan, justru mereka membangun fondasi jaminan yang rapuh bagi kelangsungan hidup. Rapuh karena jaminan yang terkumpul dari barang haram, akan mudah lenyap sebagaimana mudah dalam memperolehnya.

Kek Ngoh tidak memiliki harta yang berarti selain tanah dan rumah yang sudah habis dibagikan kepada semua anaknya. Beberapa anaknya bekerja dengan membuka toko kelontong dan jual bensin di pinggir jalan, menjadi buruh cuci dan setrika pada beberapa rumah, dan menjadi petani atau pekebun. Meski demikian, ia merasa bahwa hidupnya tentram. Dia sangat menyadari bahwa usianya tidak lama lagi akan berakhir, maka tiada upaya yang dapat dilakukannya selain berbuat kebajikan pada akhir-akhir hidupnya dan memakan dari rezeki yang halal.

Banyaknya warga yang mengenal Kek Ngoh, kurasa bukan sekedar dari usianya yang teramat tua, tetapi dari sikapnya yang senantiasa bersahabat dengan siapa saja, termasuk dengan diriku. Beberapa kali ia menawarkan diriku untuk makan bersama di rumahnya. Baik pada kesempatan Maulid, kenduri, atau kesempatan lainnya. Dia akan marah jika aku tidak memiliki alasan yang tepat untuk menurutinya. Sikapnya yang bersahabat itu, menjadikan orang suka dan menjadikan Kek Ngoh sebagai daftar prioritas untuk menerima uang zakat, infaq, atau sodaqoh dari beberapa warga yang mengenalnya.

Andaikan ia berdiam di rumah saja, tanpa berinteraksi dengan siapapun, tentu orang pun akan malas berhubungan dan berkomunikasi dengannya. Bahkan, boleh jadi anaknya sendiri akan bersikap seperti itu dan merasa lebih nyaman dengan mengirimkan ia ke panti jompo atau memisahkan kehidupan di tempat lain. Namun yang kulihat dari Kek Ngoh adalah hal yang luar biasa. Dalam usia 96 tahun ia masih mampu berpikir, berinteraksi dengan baik, dan menjalin silaturahim dengan semua orang. Boleh jadi, inilah salah satu berkah dari silaturahim yang menambah rezeki.

Banyak hikmah yang kupetik dari pergaulan dengan Kek Ngoh. Dan ini mengingatkanku pada mertuaku, Kamsir Effendis, yang berusia sudah senja juga, yaitu hampir 68 tahun danmasih bugar jasmani dan pikiran di usia tua tersebut. Hobbi dari mertuaku ini adalah bersilaturahim dengan saudara dan kerabat. Demi silaturahim, ke manapun jika diberikan kondisi sehat, maka beliau jalani.

Dengan silaturahim, beliau meluaskan hubungan dengan saudara, kerabat, dan handai taulan. Dengan silaturahim pula, beliau memperdalam ikatan bathin. Caranya adalah dengan membantu secara finasial bagi sanak keluarga yang membutuhkan dan rajin memberikan hadiah bagi kerabat dan handai taulan. Sungguh, aku belajar makna silaturahim sebenarnya di mana didalamnya terdapat kata-kata ‘super’ yang menjadi inspirasi bagi kemajuan bisnis. Meluaskan hubungan adalah prinsip umum bisnis untuk menunai menunai kesuksesan. Demikian juga memperdalam hubungan adalah prinsip umum bisnis juga dalam mempertahankan kesetiaan pelanggan.

Boleh jadi jika diterjemahkan ke dalam bahasa bisnis, silaturahim mengandung makna-makna network marketing, relationship marketing, customer loyalty, customer satisfaction, differentiation, focus marketing dan lain-lain. Semua prinsip-prinsip marketing tersebut tidak lain adalah dalam rangka meningkat penjualan yang merupakan rezeki bagi perusahaan. Maka mudah dipahami jika silaturahim itu bisa menambah dan meluaskan rezeki.

Aku mendapat pelajaran dari orang-orang tua tersebut bahwa jika ingin diluaskan rezekinya, baik di waktu muda maupun tua, maka perbanyaklah silaturahim. Tentu saja, silaturahim dengan segala keagungan makna yang terkandung di dalamnya.

Waallahu’alam.

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus