Memaknai Waktu Luang
Oleh Setta SS
SAYA masih duduk bertafakur di dalam masjid setelah menunaikan shalat Isya malam itu. Ketika tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas tanpa permisi di benak ini.
Apa yang menghalangimu untuk menunaikan dua rakaat shalat ba’diyah Isya?
Hening. Masjid sudah sepi dari para jamaah, menyisakan saya dan dua orang jamaah lain di belakang saya yang juga masbuk. Suara putaran tiga kipas angin yang terpasang di dinding dan langit-langit masjid mengisi sepi yang mulai merayap pasti.
Belum sempat syaraf di otak saya memproses sebuah jawaban, pertanyaan berikutnya sudah mencuat.
Bukankah kau ingin diakui sebagai umat Rasulullah Saw. kelak di hari Kiamat?
Ibnu ‘Umar r.a. berkata, “Aku hafal 10 rakaat (shalat sunah) Nabi Saw., yaitu 2 rakaat sebelum Zhuhur, 2 rakaat setelah Zhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib di rumahnya, 2 rakaat setelah Isya di rumahnya, dan 2 rakaat sebelum Shubuh.” (H.R. Bukhari)
Betul sekali.
Bahkan saya sangat sangat ingin diakui sebagai bagian dari umat Rasulullah Saw. kelak pada hari dimana manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Pada hari ketika ruh dan malaikat berdiri bershaf-shaf, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Dan hari di saat orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah saja.”
Adakah alasan untuk mengabaikannya?
Saya teringat ketika lebih tujuh tahun ke belakang masih sering mudik ke kampung halaman di Sumatera dengan menggunakan bis AKAP yang memakan waktu di jalan hampir 40 jam. Bunda hampir tak pernah lupa mengingatkan saya untuk tidak usah berlama-lama ketika menunaikan shalat selama di perjalanan karena berbagai alasan yang dikhawatirkannya.
Saya bisa memakluminya, karena shalat wajib pun dianjurkan untuk diqashar dan sekaligus dijamak selama di perjalanan.
Sedangkan sekarang ini, saya tidak sedang menempuh perjalanan jauh dan tak ada urusan mendesak untuk dikerjakan. Tidak dalam kondisi gawat darurat karena perang sedang berkecamuk, atau dingin yang sangat, dan sehat wal afiat pula.
Tapi kan hukumnya sunah, bukan wajib, sisi hati saya yang lain menyumbangkan argumennya.
Lantas kapan kau akan mulai mengerjakannya? Semoga kau masih punya kesempatan sebelum nafasmu sampai di kerongkongan!
Buk! Seperti bogem mentah yang menyodok telak keengganan-keengganan saya selama ini. Dan saya pun menyerah.
Ya Allah, bantu aku untuk meneladani jejak-jejak Rasul-Mu di sisa usiaku. Amin.
***
Jika setiap diri meyadari betapa berharganya waktu luang, tentu tidak akan pernah terjadi seorang pelajar atau mahasiswa menerapkan cara belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) saat masa ujian tiba. Tidak akan terjadi kelak di hari Pembalasan sebagian manusia berteriak minta dikembalikan ke dunia untuk melakukan amal kebaikan.
Mahasuci Allah yang telah menurunkan surat Al-‘Ashr dan Rasulullah Saw. yang telah mengingatkan kita tentang lima perkara sebelum datang lima perkara yang sebaliknya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang dikarunia kepekaan untuk mengambil pelajaran dari setiap episode kehidupan ini.
Allahu a’lam bish-shawaab.
***
29 Juni 2oo9 1o:o8 p.m.
Lainnya (Arsip)
- Warnet Apa Penitipan Anak, Bang!
Fiyan Arjun — Kamis, 09/07/2009 14:00 WIB - Istri Yang Sering Menangis
Ambe Mardiah — Kamis, 09/07/2009 07:31 WIB - Usia yang Berkurang
Fery Ramadhansyah — Rabu, 08/07/2009 11:21 WIB - Undangan SBY vs Undangan Allah
Gun Gun Ardiansah — Selasa, 07/07/2009 14:40 WIB - Ibu Madrosatun
Ummu Mufais — Selasa, 07/07/2009 06:25 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




