Membeli Kebun di Surga

Dadi M. Hasan Basri – Sabtu, 5 Safar 1430 H / 31 Januari 2009 10:09 WIB

Suatu ketika, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bersedekah, di surga nanti, ia akan memiliki seperti yang ia sedekahkan.”

Abu Dahdah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, aku memiliki dua kebun. Apabila salah satunya kusedekahkan, apakah kelak aku akan memiliki kebun seperti itu di surga?’

Rasulullah SAW menjawab, “Benar.”

Abu Dahdah kembali bertanya, “Apakah istri (Ummu Dahdah) dan anak-anakku juga akan bersamaku di surga?”
Rasulullah SAW menjawab, “Benar.”

Abu Dahdah pun membulatkan tekadnya untuk menyedekahkan kebunnya yang terbaik. Sesampainya di kebun itu, ia berjumpa dengan istri dan anak-anaknya. Ia pun menegaskan kepada mereka, “Aku akan menyedekahkan kebun ini. Dengan begitu, aku membeli kebun seperti ini di surga. Adapun engkau, istriku, akan bersamaku dan seluruh anak kita.”

Tiba-tiba saja meneteslah air mata bahagia dari kedua pelupuk mata istrinya yang beriman itu.
Istri Abu Dahdah lalu berkata, “Semoga yang engkau jual dan beli diberkati Allah SWT, wahai suamiku.”

Istri Abu Dahdah kemudian segera memanggil anak-anaknya dan meninggalkan kebun itu karena sudah bukan milik mereka lagi. Akhirnya, kebun itu menjadi milik umat Islam yang miskin.

Kisah diatas dikutip oleh al-Kalbi dalam tafsirnya saat menjelaskan surah al-Baqarah ayat 245,
Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjamannya yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

Kisah ini juga diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib. Kisah ini mengingatkan kita bahwa apa yang tengah kita genggam sekarang ini, apa yang kita miliki kini, pada hakikatnya tidaklah memiliki arti apa-apa bila tidak kita infakkan, bila tidak kita sedekahkan di jalan Allah.

Harta yang diperhitungkan oleh Allah untuk diberi balasan kenikmatan surga bukanlah harta yang kita peroleh kemudian kita simpan, melainkan harta yang kita peroleh dengan jalan yang halal kemudian kita infakkan (nafkahkan) dan kita sedekahkan.
Abu Dahda, seorang sahabat Nabi, ketika mendengar bahwa sedekah yang kita berikan akan diganti oleh Allah dengan ganti yang setimpal, bahkan lebih, dengan segera menginfakkan salah satu dari dua kebunnya, bahkan kebunnya yang terbaik. Ia berharap Allah akan menggantinya dengan kebun serupa di surga kelak.

Kisah ini dapat kita jadikan bahan renungan dan cerminan, apakah sudah seperti itu upaya kita untuk mendapatkan hal yang sepadan di akhirat kelak dengan apa yang kita infakkan di dunia ini. Apakah infak dan sedekah yang kita keluarkan hanyalah serpihan-serpihan kecil atau remah-remah dari harta kita yang tidak berarti dan tidak kita perhitungkan?

Seorang teman pernah berseloroh, “Bila Anda merasa berat sewaktu berinfak dengan sepuluh ribu rupiah, tetapi merasa ringan sewaktu berinfak dengan seribu rupiah, seukuran itu pulalah kualitas Anda. Semakin ringan Anda mengeluarkan infak dalam jumlah yang semakin besar dalam kemampuan Anda, sebesar itu pulalah kualitas Anda.”

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman,“Berikan hartamu maka Aku akan memberi kepadamu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jangan ragu-ragu untuk berinfak dan bersedekah. Biarkanlah diri Anda memberi. Bila Anda melakukannya dengan ikhlas dan kerendahan hati, banyak berkah Ilahi yang mengalir kepada Anda.

Tujuh manfaat bersedekah:
1. membebaskan dari kesulitan,
2. menyembuhkan penyakit,
3. memelihara harta benda,
4. meredakan murka Allah,
5. menarik cinta kasih manusia,
6. membuat hati yang keras menjadi lembut, dan
7. menambah keberkahan usia.

Dalam sebuah pepatah dikatakan, “Sebaik-baik harta adalah yang kamu infakkan (sedekahkan) dan sebaik-baik ilmu adalah yang memberimu guna.”

Jakarta, 28 Januari 2009
Dadi M. Hasan Basri

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus