Mencabut Rumput Liar

Sabtu, 20/02/2010 05:29 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Oleh Rifki

Dahulu saya tinggal di sebuah jalan bernama Jalan Masjid Al-Anwar. Dinamakan demikian karena di perempatan jalan tesebut terdapat masjid yang cukup besar bernama Al-Anwar. Di sepanjang jalan tersebut dan sekitarnya, banyak terdapat tanaman hias yang diperdagangkan, karena matapencarian masyarakat di situ pada umumnya adalah pedagang pohon hias. Halaman di setiap rumah ditanami berbagai jenis tanaman hias, dari kecil hingga yang besar, dari yang harganya mulai ratusan rupiah, hingga ratusan ribu rupiah. Tak terkecuali pekarangan di depan rumah saya.

Tanaman yang ada di halaman rumah saya memang tidak termasuk tanaman berkelas. Harga tanaman yang paling mahal hanyalah berkisar puluhan ribu saja. Tapi bila ada pembeli yang membeli dalam jumlah banyak, uang yang diperoleh ayah saya bisa mencapai ratusan ribu.

Ayah saya cukup rajin dalam hal melakukan pembiakan untuk memperbanyak tanaman. Yang biasa beliau lakukan adalah dengan mencangkok ataupun stek. Namun dalam proses pembiakan tersebut, tidak hanya tanaman yang dicangkok atau yang distek saja yang tumbuh, namun di sekeliling tanaman tersebut juga terdapat tumbuhan lain yaitu rumput liar. Keadaan demikian tentu saja akan mengganggu keindahan tanaman hias yang sedang dikembangbiakkan. Untuk menjaga keindahan serta baiknya pertumbuhan tanaman semua rumput liar harus dicabut hingga ke akarnya.

Selain di sekeliling tanaman hias yang ditanam dalam pot, rumput liar pun tumbuh di sisi jalan yang membagi dua pekarangan rumah saya. Terkadang saya dan ayah saya harus menggunakan cangkul untuk menghilangkan rumput-rumput tersebut agar halaman tetap bersih dan indah sehingga enak dipandang mata.

Ternyata rumput liar tidak hanya tumbuh di pekarangan rumah saja, tetapi juga tumbuh di dalam taman hati kita. Bila hati manusia diibaratkan sebagai sebuah taman maka rumput liar itu adalah segala macam penyakit hati seperti ria, sum'ah, takabbur, 'ujub, hasad dan lainnya. Ketika taman di dalam hati ingin kita hiasi dengan keikhlasan, tawadhu, qonaah, husnuzhon, serta aneka hiasan hati lainnya, maka rumput-rumput liar mulai mengganggu perkembangan dan keindahan tanaman di taman hati tersebut.

Sebagai contoh kecil seperti apa yang dialami seorang teman saya. Suatu waktu dia ingin memulai untuk ikut sholat berjamaah di masjid di lingkungan kantornya. Ketika itu di hatinya muncul bisikan-bisikan yang menyatakan bahwa pada dasarnya dia pergi ke masjid agar dikira sebagai orang yang alim, ingin dilihat orang di lingkungan kantornya.

Begitu juga apa yang sering terbersit di dalam hati saya ketika saya akan, ketika, maupun setelah melakukan suatu perbuatan baik. Amal yang saya maksudkan untuk menghiasi taman hati saya dengan keikhlasan dan tawadhu, munculah perasaan di hati saya agar dilihat, didengar, dipuji dan disanjung orang lain, serta untuk membuktikan bahwa amal saya tersebut menunjukkan bahwa saya lebih baik dan lebih mampu daripada orang lain.

Yang jelas, keadaan yang dialami saya dan teman saya, sudah pasti akan mengurangi bahkan menghilangkan keindahan taman hati. Lantas apa yang harus saya dan teman saya lakukan? Apakah kami harus berhenti memperindah taman hati karena khawatir akan tumbuh rumput-rumput liar yang merusak segala keindahannya?

Teman saya yang lain akhirnya memberikan masukan. "Jika kita berbuat baik karena ingin dilihat dan dipuji orang, itu namanya ria. Di sisi lain jika kita tidak ingin melakukan kebaikan karena khawatir akan terjangkiti ria dan takabbur, maka selamanya kita tidak akan pernah melakukan kebaikan."

Sebuah solusi akhirnya kami temukan. Kami akan tetap berusaha akan melakukan kebaikan diawali dengan perbaikan niat, serta diiringi dengan istighfar sebagai alat untuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh, agar taman di hati kami tetap indah, dan berharap lama-kelamaan rumput-rumput liar itu akan enggan untuk tumbuh di taman hati.

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Oase Iman

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang