Oleh Rodhiyatunnisa
Langit di atas kaki Gunung Slamet tampak cerah. Maghrib baru saja usai. Air mata mertua dan adik ipar menetes, melepas kepulanganku ke Jakarta. Bersama dua buah hati, aku segera memasuki mobil travel yang belum berpenumpang. Kami jemputan pertama.
“Cuma sama anak-anak Mbak? suara bariton sopir travel itu memecah keheningan. Tak seperti hari-hari biasanya, meski malam baru saja menampakkan diri, kedua anakku saat itu telah tertidur. Seharian, mereka asyik bermain-main hingga melupakan jam istirahat.
“Ya Pak…,”jawabku datar, menahan perih rasa di hati.
“Suami nggak ikut mudik?” tanya laki-laki setengah baya itu sejenak kemudian. Aku menjawabnya dan menceritakan bahwa suamiku telah dipanggil kembali oleh Pemiliknya yang sejati, tiga bulan lalu. Air bertambah deras mengalir dari kedua sudut mataku, menganaksungai di pipi. Pekan-pekan terakhir ini aku memang lebih melankolis dibanding hari-hari biasa. Satu hal yang paling sering membuatku menangis adalah ketika mengingat orang-orang yang paling kucintai dalam hidup ini, yang kini telah pergi meninggalkan kami selama-lamanya. Mereka adalah ibu dan suami.
Ibu seorang wanita yang hidupnya penuh perjuangan. Ayah meninggal ketika Ibu masih sangat muda dan anak-anak masih sangat kecil. Selama tiga puluh dua tahun, Ibu seorang diri membesarkan anak-anak hingga Allah memanggil beliau dua tahun lalu.
Pun suami. Laki-laki itu di mataku adalah seorang yang sangat baik. Kehadiran beliau dalam hidupku adalah bentuk istijabah Allah atas doa-doaku. Sejak lama sebelum menikah, aku mendambakan seorang pendamping hidup yang dekat dengan Sang Khaliq dan bisa membimbingku untuk menggapai kebahagiaan dunia akhirat. Benar, Allah memilihkanku seorang laki- laki saleh yang istiqamah mengerjakan sebuah amalan. Dalam sakit-sakit ringan atau perjalanan jauh ratusan kilometer, beliau bisa tetap menjalani shaum sunnahnya. Demi mengharap cinta Sang Maha Pengasih dan Penyayang, selama lebih dua puluh lima tahun, alhamdulillah hanya dua kali beliau terlewat menjalani shaum Senin Kamis.
Suamiku adalah orang yang melindungi dan menyayangi keluarga. Beliau ringan tangan dan cekatan dalam membantu pekerjaan-pekerjaan rumah termasuk mengurus anak-anak. Dibandingkan denganku, beliau juga lebih pintar mendidik anak-anak dan lebih berwibawa tetapi tetap dekat dengan buah hatinya. Saat lebaran, ketika biasanya mbak-mbak yang membantu pekerjaan di rumah pulang kampung, kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah dan mengurus anak-anak bersama-sama. Kini semua itu tinggallah kenangan.
Ketika mengingat kebaikan-kebaikan mereka, sesunggukanku kian bertambah. Aku merasa, begitu banyak mereka memberi, sementara hanya sedikit sekali yang telah aku berikan. Belum maksimal rasanya aku membahagiakan mereka di dunia ini. Mereka membuatku menangis. Sebuah tangisan penuh harapan dan keyakinan bahwa Yang Maha Memiliki akan menganugerahi orang-orang yang kucintai ini, tempat-tempat indah penuh kebahagiaan di alam sana.
Hidup tak selamanya manis. Tegar, karena suatu keyakinan bahwa Sang Mahakuasa telah menyediakan hal –hal manis, indah, dan penuh pesona di negeri yang abadi. Cepat atau lambat kita pun akan menyusul menghadap-Nya. Waktu setahun, dua tahun, dua puluh, bahkan tiga puluh tahun atau lebih, bukanlah sesuatu yang lama. Saat ini, di tempat persinggahan yang fana ini, saatnya kita mempersembahkan keagungan cinta, keridhaan, dan pengabdian terbaik kita pada Illahi. Allah menguatkan jiwa kita, ”Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka...” (QS At- Taubah : 111).
***
Bank Muamalat Cabang Cengkareng membutuhkan karyawan untuk posisi: 1. Customer Service (Wanita) 2. Legal (Pria) 3. Account Manager (Pria).
"Sistem perbankan yang saling menguntungkan, dengan keanekaragaman produksi dan skema keuangan yang lebih variatif" Sistem perbankan syariah adalah alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak (nasabah dan bank), yang di dukung oleh keanekaragaman produk dan skema keuangan yang lebih variatif, dan dilakukan secara transparan agar adil bagi kedua belah pihak.
Namaku Siko, lengkapnya Siko Tjikoa, usia 27 tahun, aku tak pernah menulis cerita, sekedar untuk berbagi maka aku ceritakan sebisaku, sebelumnya mohon maaf jika mungkin banyak hal yang tidak sesuai dengan anda para pembaca.
Tak disangka, Islamic Book Fair (IBF) ke-9 yang baru usai 14 Maret lalu menyimpan kenangan bagi saya. Setidaknya, atas izin Allah swt, saya bertemu beberapa kawan saya yang telah terpisah selama tujuh tahun. Dan kami bertemu di stand bank syariah di pameran buku tersebut.
Bank Syariah Bukopin (BSB) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp831 juta, artinya total laba tersebut naik sebesar 110,77 persen dari tahun lalu yang rugi sebesar Rp7,71 milyar. Hal ini terungkap saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BSB Selasa (12/3) lalu.
Salah satu contoh dari pertanyaan yang mereka ajukan adalah saat mereka bertanya tentang - bra/bh, mereka bertanya apa fungsinya dan mengapa mereka tidak dipakaikan juga
Tiga warga Desa Sukorejo, Bojonegoro, terjangkit Demam Berdarah. Tak menunggu lama, tim ACT yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia langsung terjun ke lokasi melakukan fogging.