Mereka Menangis Aku MenghadapNya
Oleh Kopri Nurzen
Kematian sesuatu yang misterius. Datangnya tak terjadwal. Kalau ia datang, semua yang selama ini dicari tak akan berharga. Harta, jabatan, keluarga tak ada yang mau menemani. Semua meninggalkan jasad yang miskin ini ditimbun dengan tanah. Tak ada yang bersedia tinggal walau sejenak bersamaku. Bahkan dalam mimpi sekalipun. Aku teringat dengan peristiwa kematian Baginda Nabi. Fatimah, putrinya tercinta tak bisa membendung sedih. Dia berlari meninggalkan para sahabat yang menguburkan jasad Sang Nabi yang mulia. "Kalian tega menimbun jasad Rasulullah dengan tanah!" katanya pada mereka sambil terisak-isak. Dia benar-benar sedih. Kesedihan membuatnya tidak lagi merasakan nikmat makan, hingga dia sakit dan meninggal setelah tiga bulan dari hari kematian Baginda Nabi. Itulah kesetiaan terbesar yang bisa dipersembahkan oleh seorang manusia, yakni kesedihan.
Amal, satu-satunya temanku yang selalu setia. Ia sahabat yang akan menemani jasad ini menjawab pertanyaan Malakikat yang diutus Tuhan. Di luar orang-orang menangisi kepergianku. Di kubur, tangisku lebih keras menghadapi setiap pertanyaan Malaikat itu. Ya Allah kenapa kebaikanku sedikit? Ooh… Seandainya dulu aku melakukan ini… Oooh… Andaikan dulu aku tidak begitu! "Ya Allah, kembalikan aku sejenak ke dunia untuk berbuat yang lebih baik. Rabb, beri aku kesempatan." Permohonanku tiada guna. Jawaban yang kudengar, "Bukankah telah datang kepadaMu hamba-hambaKu memberi peringatan?! " Tak ada lagi yang bisa kulakukan, selain menunggu waktu persidangan yang Hakimnya tak bisa disuap. Kalau pun bisa, dengan apa akan aku suap? Yang ada hanya bangkai yang dan kain kafan semata. Aku merintih karena hanya rintihan yang bisa meringankan deritaku. Anganku melayang, aku ingin menangis tapi, tak ada air mata. "Aduhai, seandainya amal buruk ini menjauh dariku, Sejauh-jauhnya!" "Aduhai seandainya aku dulu jadi tanah!"
Dahsyatnya kematian. Ia menghapus segala benci, iri dan dengki. Ibarat seorang ibu yang sangat membenci anaknya yang jahat, ketika dia tahu anaknya mati, air matanya pun tumpah ruah. Dia menyesali kebencian yang selama dia pelihara terhadap sang anak yang ternyata sangat dia cintai. Atau ibarat seorang anak yang tidak menyukai orang tuanya, ketika ajal menjemput si orang tua, sedihnya pun tak terperi. Padahal selama ini kematian orang tuanya itu dia nantikan. Sungguh, kematian sesuatu yang sangat dahsyat. Wajar, jika Nabi saw mengatakan, "Cukuplah kematian sebagai pelajaran."
Begitu juga aku. Sekarang aku bebas dari kebencian orang-orang. Tetanggaku yang dulu sangat membenciku, sekarang menangisi kepergianku. Ternyata dia juga mencintaiku. Mertuaku yang selama ini tidak pernah akur denganku dan selalu aku durhakai melolong, menangis dengan kerasnya. Ternyata dia juga mencintaiku.
Tapi, seandainya mereka tahu keadaanku saat ini, tentu tangisan mereka akan lebih keras. Aku menunggu persidangan yang maha dahsyat, yang memperhitungkan sekecil apapun kesalahanku. Walau sebesar biji zarrah. Hakim dan saksinya pun tak ada yang mau kompromi. Oooh… Seandainya!… hik..hik.. Ya Allah… Ya Tuhan… Kembalikan aku walau sejenak. Ku mohon. Aku bersumpah akan melakukan kebaikan! aku berjanji, Ya Allah." Tapi, jawaban yang ku dapat kali ini, "Jika engkau dikembalikan, niscaya engkau akan kembali melanggar laranganKu. Engkau pembohong!"
Oooh… Seandainya keluargaku tahu, mereka tidak akan meratapi diriku. Mereka tak akan mengingatku. Mereka pasti sibuk mencari keselamatan untuk diri mereka sendiri. Oooh…Seandainya mereka tahu.
Lainnya (Arsip)
- Gagalnya Pernikahanku
Teuku Zulkhairi — Jumat, 01/01/2010 14:14 WIB - Perjalanan Taaruf
Kelopakbiru — Jumat, 01/01/2010 07:12 WIB - Masih Adakah Sifat Syirik Dalam Diri Kita?
Elvira Suryani — Kamis, 31/12/2009 15:53 WIB - Kekecewaan Berbuah Kursi VIP
Elis Tating Bardiah — Kamis, 31/12/2009 07:56 WIB - Goresan Hati Seorang Muslimah, Seorang Istri
Ummu Wafa — Rabu, 30/12/2009 07:40 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




