Selagi Masih Ada Asa
Oleh Mira Kania Dewi
“Semalam aku nangis tersedu-sedu di depan suami, gak tahu deh kenapa. Sudah beberapa hari ini hatiku gak karuan rasanya, apalagi jika mengingat sebentar lagi anak gadisku harus pindah jauh berpisah denganku”. Begitulah kira-kira rangkaian kata-kata yang diutarakan sahabatku sepekan silam.
Setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Walaupun perpisahan itu bersifat sementara selalunya ia diikuti dengan kesedihan apalagi perpisahan antara seorang ibu dengan anaknya, buah hatinya, darah dagingnya. Itulah cerita dari sahabatku yang anak gadisnya kini duduk di kelas 3 SMA. Ia mendapat kabar gembira telah diterima di institut terkemuka di kota hujan melalui jalur undangan (tanpa tes).
Rasa gembira meliputi mereka sekeluarga namun tak dapat dipungkiri dalam hati seorang ibu tentu ada sebersit rasa sedih karena harus berpisah dengan buah hatinya yang akan pergi menyeberangi lautan, melampaui berbagai pulau dan melintasi beberapa negara, bukan jarak yang dekat.
Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin kita masih memakai seragam sekolah, kini sudah menjadi orang tua. Rasanya baru kemarin anak-anak kita lahir menyapa dunia, kini mereka sudah dapat melangkah dan berlari meraih cita. Rasanya belum puas hati ini membelai dan mendekap mereka dalam buaian namun ternyata mereka telah beranjak dewasa dan tibalah masanya kita harus siap berpisah dengan mereka.
Indahnya kebersamaan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Cinta yang tulus tak akan lekang oleh waktu. Walaupun jauh di seberang samudra, rasa sayang dan rindu tetap menyala dalam dada. Naluri keibuan yang dicurahkan oleh Sang Pemilik Cinta deras mengalir dalam darah orang tua dan anak. Maha Suci Engkau yang telah memberikan nikmat ini kepada hamba-hamba pilihan-MU.
Kebahagiaan, itulah yang dirasakan anak-anak yang jiwa raganya penuh oleh kasih sayang. Namun sayangnya tidak semua orang tua yang dapat memanfaatkan dengan baik kebersamaan mereka dengan anak-anaknya bahkan tak sedikit yang menyia-nyiakannya. Bukannya kata-kata lembut, dekapan sayang dan belaian penuh cinta yang diberikan namun justru omelan, bentakan, dan pukulan yang kerap diterima anak-anak.
Anak adalah “amanah yang mulia” yang dititipkan kepada kita. Seharusnyalah diisi dengan kelembutan, keikhlasan dan penuh rasa syukur. Ini semua yang akan selalu membawanya untuk kembali pulang, menemui kita saat rindu menerpa. Sebaliknya, orang tua yang menganggap anak adalah beban hidup dan mengisinya dengan kekerasan dan jauh dari keikhlasan, maka perpisahan justru membuat anak merasa bebas dari kita, bagai burung yang lepas dari sangkarnya. Entah kapan akan kembali pulang. Marilah kita berkaca pada diri sendiri, bertahun-tahun telah berlalu, apa sajakah yang telah kita lakukan dan berikan kepada anak-anak kita?
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) ALLOH (QS 33:21)
Ya, Rasulullah telah mencontohkan kepada kita bagaimana harus bersikap kepada anak-anak. Dari Aisyah r.a, ia berkata : “Suatu ketika beberapa anak kecil pernah dibawa ke hadapan Rasulullah, lalu beliau mendoakan mereka, pernah juga di bawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air lalu memercikkannya pada pakaian itu tanpa mencucinya.” (HR. Al-Bukhari).
Pada saat anak tersebut kencing di pangkuan Rasulullah, beliau tetap dalam keadaan tenang dan membiarkan sampai anak itu menyelesaikan kencingnya, namun sang ibu berteriak kaget seraya ingin mengambil kembali anaknya dari pangkuan Rasulullah. Rasul mencegahnya dan kemudian beliau berkata serta mengingatkan kepada ibu sang anak bahwa air kencing ini bisa dihilangkan, namun luka dalam hati anak akan membekas sampai sekian tahun (menginjak dewasa).
Para orang tua, bagaimana jika hal itu terjadi pada kita. Apakah kita dalam keadaan tenang (seperti yang dicontohkan Rasulullah), berteriak karena kaget, menjauhkan anak itu dari pangkuan kita atau bahkan memarahinya?
Ternyata anak yang sering kita anggap tidak tahu apa-apa, sebetulnya tidaklah demikian. Ia sudah punya hati dan perasaan bahkan sejak bayi dalam kandungan. Rasulullah sangat paham bagaimana harus bersikap kepada anak. Beliau berhati lembut dan penuh kasih sayang, beliau begitu peka dan sangat menghargai perasaan anak-anak. Beliau berakhlak mulia laksana Al-Qur’an yang berjalan. Bagaimanakah dengan kita, sudahkah kita meneladani pemimpin umat sepanjang jaman ini?
Sebelum perpisahan itu datang, sebelum muncul kata penyesalan, marilah kita rubah sikap kita. Selagi hayat masih dikandung badan, selagi jantung masih berdenyut, marilah kita lakukan yang terbaik untuk anak-anak kita calon kholifah di muka bumi, pengganti kita kelak. Selagi masih ada kebersamaan, marilah kita isi kebersamaan ini dengan keindahan dan curahan kasih sayang yang murni serta cinta yang tulus kepada anak-anak kita sesuai dengan tuntunan Rasul kita Muhammad SAW. Selagi masih ada asa.
Wallohu’alam bishshowaab.
(mkd/bkk/21.02.10)
Lainnya (Arsip)
- "Tar bi yah" dan Fenomena Kejenuhan
Sucipto — Sabtu, 20/02/2010 16:34 WIB - Mencabut Rumput Liar
Rifki — Sabtu, 20/02/2010 05:29 WIB - Serasa Ada Jarum Menusuk Hatiku, Sakit!
Rifa — Jumat, 19/02/2010 13:42 WIB - Amanah dalam Kehidupan
Meti Herawati — Jumat, 19/02/2010 07:44 WIB - Aku Ingin Selalu Cantik
Piyanza — Kamis, 18/02/2010 13:19 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




