Istri (istri) Sholehah

Mukti Amini – Jumat, 11 Maret 2011 13:49 WIB

Di salah satu sudut tiang Masjid Nabawi selepas subuh, khusyuk kubaca doa-doa titipan yang terhimpun dalam buku kecil itu. Ada doa dari teman-teman kantor, saudara, bapak, ibu, juga suami tercinta, yang saat itu tidak berkesempatan membersamaiku melakukan ibadah haji (dia sudah berhaji dua tahun sebelumnya, menemani ibuku dan ibunya). Doa yang sengaja kuminta supaya ditulis saja redaksinya oleh mereka sendiri, takut aku ada yang terlupa atau malah doanya gak pas sesuai keinginan mereka. Kan bisa berabe.

Tiba saatnya kubaca untaian doa tulisan dari suamiku, yang cukup panjang, satu halaman penuh. Kubaca pelan salah satu poin doanya:

"3. mohon dikaruniai istri2 yang solihah"

Kucermati lagi tulisan tangannya yang cukup bagus itu. Hah? Sontak aku terperangah, degup jantungku bertambah kencang. Yang benar apa nih? Istri atau istri-istri ya? Padahal ini sudah hari ke-8 aku berdoa dan membaca berulang-berulang buku itu setiap ada kesempatan. Di raudhah, di dalam masjid nabawi, di masjid jin depan asramaku, di masjid haram, di depan ka’bah, di arofah, di mana saja. Kok kemarin-kemarin aku gak nyadar ya waktu baca? Jadi geli sendiri, iseng aja nih suami pesan doanya. Sengaja apa gak sadar ya, dia?

Tapi…. tiba-tiba juga terselip rasa galau. Bagaimana andai ini benar-benar terjadi? Bagaimana jika suatu saat takdir Allah menentukan bahwa aku harus dimadu? Apakah aku sudah benar-benar siap?

Rabbi, faghfirlii, ternyata aku cemburu! Aku sadar aku mencintainya dan makin mencintainya, dan itu makin terasa saat dia tak ada di dekatku. Sejujurnya, aku tak ingin berbagi cinta dan tempatku dengan perempuan mana pun. Aku ingin dia setia menemaniku, menjadikanku istri satu-satunya sampai maut memisahkan. Astaghfirullah, semoga aku tak termasuk orang yang menyembahNya di tepi, karena ketidaksiapanku untuk berbagi cinta dengan perempuan lain.

Karena pikiranku jadi tak karuan, waktu dhuha aku SMS padanya: "Istri2 apa istri sih mas, doanya? Jadi ragu nih bacainnya."

Dia jawab dengan meyakinkan: "Istri-istri doooong. Kalau suatu saat nambah kan harus solehah juga. Kayak Bapak tuh, kalau mau cari istri setelah Ibu meninggal, kan yang solihah juga. Hehe, bisa aja ya…"

Kubalas lagi: "Iyya dah. Semoga bisa ikhlas bacainnya. Lebih sreg lagi kalo doa itu berlaku jika Ajeng duluan ‘pergi’, seperti Bapak juga kan? Sekarang cukup ‘istri’ aja ya?"

*mulai deh aku membujuk secara halus*

Dia jawab lagi: "Ya, siiip! Istri dulu sekarang. Benar2 Ajeng istri yang cerdas, pinter jawabnya :)"

Kuakhiri pingpong SMS itu dengan lega. Alhamdulillah, sudah ada ijin untuk berdoa dengan merubah redaksi, hehe. Jadi aku gak terlalu pusing lagi.

Tapi, karena ‘insiden’ itu, pesannya untuk tidak ingat rumah selama ibadah haji jadi sulit kulaksanakan. Meski sudah diperbolehkan merubah redaksi ‘istri2’ menjadi ‘istri’ saja, akhirnya aku baca saja doa itu sesuai yang ada di buku, tapi setelah itu aku juga punya doa sendiri:

"Ya Alah, peliharalah cintaku dan cinta suamiku dalam sakinah mawaddah wa rahmah. Jadikanlah aku satu-satunya istri, yang dia cintai, sampai ajal memisahkan kami…"

Judulnya, jadi kuat-kuatan doa deh, hihihi.

Semoga doaku bukan doa orang yang egois, yang tidak mempedulikan apakah dia merasa nyaman untuk terus mencintaiku atau tidak. Aku ingin menjadi ‘ratu’ di hatinya, satu-satunya, karena memang dia membutuhkanku dan mencintaiku, bukan karena kasihan padaku. Semoga.

~EPISODE FAJAR DI MASJID NABAWI

Kenangan Haji, Desember 2006

rewrite 11 Maret 2011 @Pondok cabe

www.muktiamini.blogspot.com

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus