Negeri Bertuah
Oleh Ummu Unaysah
Mereka menyebut negeri ini negeri bertuah. Negeri Raja-raja yang bersekutu menyatukan jajahannya dan menjadikan kerajaan ini sebagai tanah Diraja. Kalau orang Indonesia mendengar hal ini mungkin akan marah dan menyebutnya Malingsia!
Tapi tahukah Anda, negeri ini betul-betul negeri bertuah bagi sebagian orang. Puluhan ribu atau bahkan jutaan orang berbondong-bondong datang dari penjuru negeri Bangladesh, Nepal, Filipina bahkan Tibet untuk mengais ringgit. Dan tidak sedikit dari kita yang juga terdampar ke negeri ini.
Saudara-saudara kita dari pelosok desa dan dusun, di ujung pantai atau di puncak bukit yang datang ke negeri ini untuk mengadu nasib. Mencari sebentuk rizki yang Allah sembunyikan di tanah Melayu ini.Yang datang berkerumun bukan hanya saudara-saudara kita yang berbekal ijazah SD atau SMP. Banyak juga mereka datang dengan menyodorkan ijazah Doktor bahkan Professor.
Sedih memang kalau mengetahui bagaimana para TKI intelektual ini sampai “menjual” otaknya dan tidak mengabdikan ilmu yang diperoleh kepada bangsa dan negara. Bukan karena tidak ingin berbakti, tapi karena mereka “ditolak” di negeri sendiri. Ada seorang kawan yang putus asa sudah berkali-kali melamar pekerjaan sebagai dosen tapi ditolak. Bukan karena tidak memenuhi persyaratan, tapi karena ijazahnya S3 sedangkan yang dicari master. Aneh memang. Sepatutnya dengan ijazah yang lebih tinggi negara tidak akan mengeluarkan anggaran lagi untuk menyekolahkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Penghematan yang tidak sedikit kan? Tapi logika itu ternyata tidak berlaku.
Ada juga seorang doktor yang lelah menawarkan diri dari pulau ke pulau di penjuru Nusantara agar ilmunya bisa diamalkan bagi negeri tercinta. Tapi ditolak. Dan ditolak lagi. Akhirnya larilah ia ke negeri paling Selatan benua Asia ini. Seorang Professor yang sudah bertahun-tahun tinggal di Tanah Melayu ini ingin pulang membagi ilmu dan pengalamannya ke Jawa tapi tidak diterima karena tidak ada posisi yang tepat untuk kapasitasnya sebagai cendekiawan.
Jadilah kami di sini. Meninggikan dan mengharumkan nama para Raja dan Sultan sedangkan dalam hati kecil kami yang paling dalam selalu ada rasa bersalah. Karena seharusnya kebanggaan itu adalah milik Negeri Zamrud Khatulistiwa.
Negeri kita jauh lebih kaya alamnya. Lebih kaya dalam hal manusianya, baik jumlah maupun mutunya. Tanah air kita kaya budaya,melimpah warisan leluhurnya dan penuh dengan kreativitas. Tapi kenapa susah sangat untuk mencari jalan berbakti. Kenapa untuk sekolah tinggi kalau tak punya duit jangan pernah bermimpi atau berharap? Sedangkan disini ada kawan yang dari S1 sehingga S3 nya dia biayai dengan berdagang ala kadarnya?
Apakah memang negeri ini Negeri Bertuah?Atau sebenarnya tanah air kitapun bertuah. Hanya saja tuah itu sudah pergi ketika ketaatan padaNYA pun ikut pergi. Mungkin tuah yang Allah berikan pada kampung halaman kita ikut terbang tinggi bersama kejujuran dan kebaikan yang ikut terbang bersama asap hutan yang dibakar tangan-tangan tak bertanggungjawab. Tuah itu meninggalkan kita seiring kita sendiri yang meninggalkan iman dan hati nurani kita.
Wallaahu a’lam.
Lainnya (Arsip)
- Tundukanlah Pandanganmu!
Sucipto — Selasa, 10/11/2009 07:48 WIB - Mati Rasa
Ary Nur Azizah — Senin, 09/11/2009 07:00 WIB - Doa dan Kebiasaan Orang Arab di Pesisir Teluk Persia
Lawang Bagja — Minggu, 08/11/2009 09:33 WIB - Derita Suami
Nofri Yeni — Sabtu, 07/11/2009 14:14 WIB - Diantara Jurang Pemisah
Meti Herawati — Sabtu, 07/11/2009 08:42 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




