Batas Kesabaran

Abi Sabila – Senin, 14 Rabiul Akhir 1431 H / 29 Maret 2010 13:42 WIB

Sabar itu ada batasnya. Sering kita mendengar kata-kata seperti itu, dan terkadang kita sendiri pun mengucapkan hal itu. Tapi, ketika ditanya tentang batas kesabaran, tak pernah ada jawaban yang sama, jelas dan pasti, kapan, bagaimana dan sejauh mana kesabaran itu sampai pada batasnya.

Batas kemampuan seseorang dalam menghadapi sebuah ujian atau cobaan berbeda-beda. Barangkali inilah yang membuat batas sebuah kesabaran menjadi relatif. Namun sayangnya, batas kesabaran ini terkadang dijadikan dalih untuk melakukan hal-hal tidak terpuji yang bertolak belakang dengan sabar itu sendiri. Luapan emosi tanpa kendali seringkali terjadi ketika seseorang merasa kesabaran yang dimiliki sudah sampai pada batasnya. Seseorang yang mengakhiri hidupnya lantaran penyakit yang bertahun-tahun dideritanya tak juga sembuh, adalah contoh nyata lainnya.

Sesungguhnya manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Dan bila kesabaran sudah sampai pada titik maksimal yang diusahakan, semestinya pasrah pada Allah lah yang menjadi pilihannya.

Ada pelajaran berharga dari kisah hidup Anisa ( bukan nama sebenarnya ) yang ingin kuceritakan, semoga kita bisa mengambil ibrah darinya.

Seminggu menjelang pernikahan, Ahmad ( bukan nama sebenarnya ) calon suami Anisa tiba-tiba harus menjalani operasi karena penyakit batu ginjal yang dideritanya. Waktu penyembuhan yang cukup lama ditambah biaya pengobatan yang cukup besar, membuat keluarga Ahmad sempat mengusulkan untuk menunda pernikahan mereka hingga kondisi Ahmad benar-benar pulih. Sebuah usulan yang masuk akal, namun sulit untuk dijalankan. Tak mudah bagi Anisa menerima usulan ini karena selain dia sudah mengurus ijin dari perusahaan, juga karena seluruh teman kerjanya sudah mengetahui tentang rencana hari pernikahan mereka. Ini bukan semata persoalan waktu, tapi juga malu. Hal lain adalah, pihak keluarga Anisa sudah terlanjur menyebar seluruh undangan resepsi pernikahan mereka. Segala persiapan untuk acara resepsipun sudah matang. Tak mudah meralat atau menarik undangan yang sudah tersebar, apalagi jumlahnya cukup besar mengingat orang tua Anisa adalah seorang pejabat di pemerintahan desa.

Saya tidak ingin pernikahan ini ditunda. Tak mengapa kalau akhirnya kita yang harus datang kepada mereka, bahkan mesti harus melangsungkan pernikahan di rumah sakit, saya sudah siap. Inilah saatnya saya membuktikan cinta saya. Saya menerima calon suami saya apa adanya, dan akan menemaninya, merawatnya. Dan itu menjadi mungkin apabila saya sudah sah menjadi istrinya” mantap Anisa memilih keputusannya. Dan proses ijab qobulpun dilaksanakan di rumah mempelai pria ( delapan jam perjalanan darat dari rumah mempelai wanita ), dalam suasana yang sangat mengharukan. Tangis haru keluarga yang menyaksikanpun pecah, kecuali kedua pengantin yang tetap terlihat tabah.

Disaat keluarga Anisa menggelar acara resepsi pernikahan, justru Ahmad kembali masuk rumah sakit untuk menjalani perawatan lanjutan. Dengan tabah Anisa memohon maaf pada seluruh keluarga atas ketidak hadiran mereka. Anisa paham bahwa acara itu terpaksa dilanjutkan, namun bagaimanapun ia tak bisa meninggalkan Ahmad di rumah sakit sendirian. Ia tidak ingin mengabaikan perasaan orang tuanya, tapi inilah saat ia membuktikan baktinya pada sang suami.

Indahnya bulan madu sebagai pengantin baru tak pernah ada dalam lembaran hari-hari pertama pernikahan mereka. Empat hari setelah pernikahan mereka, sebagai karyawan Anisa harus kembali ke tempat kerjanya di Tangerang, meninggalkan sang suami yang masih terbaring lemah di kota Pati. Ahmad memang sudah diperbolehkan pulang, tapi harus tetap menjalani rawat jalan untuk beberapa bulan ke depan.

Tiga bulan berlalu, hari-hari yang berat mereka jalani dengan tabah. Sebagai suami istri mereka harus hidup terpisah. Begitupun ketika Ahmad merasa sudah pulih dan bisa menyusul Anisa, kebersamaan mereka tak berlangsung lama. Banyaknya biaya yang diperlukan selama pengobatan, membuat mereka kini terlilit hutang. Satu-satunya jalan agar mereka bisa cepat melunasi hutang adalah Ahmad harus kerja. Dan kembali ke tempat kerjanya semula di pulau Sumatra, dirasa satu-satunya jalan untuk mencapai tujuannya. Dan kembali Anisa menjalani hari-hari sebagai istri tanpa kehadiran suami di sisi dengan sabar dan tabah.

Setiap keluarga pasti menginginkan hadirnya anak di tengah-tengah mereka. Begitupun Ahmad dan Anisa. Untuk itulah maka Ahmad memutuskan untuk mencari pekerjaan di Tangerang agar bisa tinggal bersama dengan istrinya. Namun sudah setahun mereka hidup bersama, tanda-tanda bahwa mereka akan mendapatkan momongan belum juga muncul. Pernah tanda itu muncul di hari-hari terakhir bulan Ramadhan kedua sejak merek a menikah, tapi itu tak memberikan kebahagiaan lama. Di hari Idul Fitri ketiga, Anisa harus menjalani perawatan di rumah sakit karena ada masalah dengan kandungannya dan mengharuskannya untuk menjalani proses kiret. Tak ingin merusak kebahagiaan di hari lebaran, kepada pihak keluarga mereka sengaja menutupi ketidak pulangan mereka dengan tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya.

Dua tahun menjalani pernikahan yang nyaris tak pernah lepas dari ujian. Baik Anisa maupun Ahmad menjalani ujian demi ujian dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Mereka yakin bahwa semua ini adalah kehendak Allah swt yang harus mereka jalani. Juga ketika ujian itu datang kembali. Kali ini Anisa harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu untuk pengobatan batu ginjal. Ahmad yang sebelumnya pernah mengalami sakit yang sama, bisa merasakan betapa beratnya menjalani ujian ini. Dia sangat bersyukur karena sang istri tetap tegar dan semangat menjalani perawatan.

Kini, di tahun ketiga pernikahan mereka, kehadiran buah hati memang masihlah sebatas mimpi. Namun mereka yakin bahwa ini adalah bagian dari skenario Allah yang harus mereka perankan. Tak ada sesal, tak ada kesal. Mereka yakin bahwa Allah menyayangi mereka, dan dengan kesabaran, ketabahan serta kepasrahan mereka dapat melalui berbagai rintangan sebagaimana yang telah mereka lakukan.

**

Aku memang tidak mengalami apa yang mereka harus jalani. Namun aku tahu persis liku-liku perjuangan yang mereka lalui. Aku tahu betapa sabar dan tabahnya Anisa menjalani setiap ujian yang datang kepadanya. Begitupun dengan Ahmad, suaminya. Jika sempat tertetes air mata, itu adalah karena mereka juga manusia. Jika hadir perasaan duka, juga karena mereka manusia biasa. Tapi kesabaran, ketabahan dan kepasrahan mereka, dimataku itu luar biasa. Dan semua ini menyadarkanku bahwa sesungguhnya batas kesabaran ada pada keinginan kita untuk berjuang melewati setiap ujian dan cobaan. Kita memiliki keterbatasan kemampuan, tapi tidak semestinya kita menjadikan alasan batas kesabaran itu untuk melakukan berbagai pelanggaran. Karena kita memiliki keterbatasan, seharusnya kita memohon bantuan Allah dengan berdoa dan semestinya ketika semua usaha telah kita jalankan, semua ujian telah kita tahankan, selanjutnya pasrahkan akhirnya pada Allah Yang Maha Kuasa.

Dan mintalah pertolongan ( kepada ) Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’ , ( yaitu ) orang-orang yang menyakini , bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepad-Nya ” ( QS Al Baqarah : 45 -46 )

Tangerang, Maret 2010
Kudedikasikan tulisan ini untuk kedua adikku, T dan B.Sungguh meski usiaku berada diatasmu, namun aku banyak belajar sabar darimu. Jangalah bersedih, tetaplah jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, karena aku yakin Allah akan membantumu, bahkan Allah telah menyiapkan sesuatu yang sangat indah untuk hamba-hambanya yang sabar, sepertimu. Insya Allah

http://abisabila.blogspot.com

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus