• Senin, 26 Ramadhaan 1431/ 6 September 2010
 
 

Pilih Mana: Menjadi Musafir atau Hamba Sahaya?

Oleh Bahtiar HS

“Wahai Abu Hazm, mengapa aku begitu takut menghadapi kematian?” tanya Sulaiman bin Abdul Malik(1).

Abu Hazm memandangi wajah sang Khalifah yang pias. Tiga orang jenderal angkatan perang telah pernah dihukum mati atas perintahnya, ketika ia merebut tampuk kekhalifahan dari Hajjaj bin Yusuf.(2)

“Wahai Amirul Mu’minin,” jawab lelaki tua itu penuh wibawa, “Barangkali karena tuan telah merusak akhirat tuan hanya demi mengejar kehidupan yang mulia di mata manusia di dunia ini.”

Sang Khalifah tepekur mendengarkan jawaban ulama itu. Sebuah jawaban yang menyentil, menghunjam telak di ulu hatinya, dan tak ayal membuatnya menggelepar seketika.

“Itulah mengapa tuan begitu takut menghadapi kematian, wahai Amirul Mu’minin,” lanjut sang zuhud dengan tikaman yang lebih dramatis. “Karena tuan akan meninggalkan kemuliaan yang telah tuan bangun begitu rupa di dunia ini menuju akhirat yang telah tuan rusak.”

Sulaiman bin Abdul Malik termenung beberapa saat. Ia kini mengkeret seperti rusa di depan auman singa lapar. “Lantas, bagaimana gambaran orang yang kembali kepada Allah setelah kematiannya, wahai Abu Hazm?”

Abu Hazm menyedot napas perlahan-lahan. “Bagi orang yang baik amalnya di dunia ini,” kata lelaki tua itu fasih dan penuh penekanan, “kembalinya kepada Allah bagaikan seorang musafir ketika kembali kepada keluarganya setelah bepergian jauh. Sedangkan kembalinya seorang yang durhaka kepada Allah bagaikan seorang hamba sahaya yang dipaksa kembali kepada tuannya karena telah melarikan diri darinya.”

***

Kira-kira demikianlah sekelumit dialog antara Sulaiman bin Abdul Malik dengan ulama terkemuka pada masanya, Abu Hazm. Dialog itu saya terima dari khatib khutbah Jum’at minggu lalu di masjid sebelah kantor. Mudah-mudahan substansi ceritanya tidak melenceng jauh.

Al-Qur’an menamai maut antara lain dengan al-yaqin (keyakinan). Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin. (QS. Al-Hijr: 99). Kematian adalah keyakinan, tak seorang pun menyangsikan kehadirannya yang pasti bakal terjadi. Sayyidina Ali ra. berkata,

Saya tidak pernah melihat suatu yang batil (yang akan punah) tetapi dianggap haq (pasti dan akan langgeng) sebagaimana halnya kehidupan dunia. Dan tidak pernah pula saya melihat sesuatu yang haq (pasti) tetapi diduga batil (lenyap tanpa wujud) seperti halnya maut.”

Demikian M. Quraish Shihab menulis dengan apik tentang kematian dalam bukunya Perjalanan Menuju Keabadian (Lentera Hati, Jakarta, 2001). Meski ia sesuatu yang pasti, tetapi kebanyakan kita tidak menyadarinya, dan menganggapnya sesuatu yang jauh. Dalam bahasa Sayyidina Ali “diduga batil”, sesuatu yang kosong, tak berwujud. Bahkan saat kematian itu datang, ketika nyawa sudah di kerongkongan, orang masih sibuk bertanya dan sibuk mencari siapa yang bisa menyembuhkannya. Yang bersangkutan sendiri masih memiliki harapan dan baru menduga kematian telah datang. Demikian Allah menggunakan kata zhanna (menduga) pada QS. Al-Qiyamah: 26-30, yang menggambarkan betapa harapan hidup masih melekat pada seseorang hingga di titik akhir kehidupannya di dunia.

Karena itulah redaksional ayat QS. Al-Hijr di atas “sampai datang kepadamu al-yaqin (keyakinan).” Ini berarti bukan manusia yang pergi menemuinya, melainkan kematianlah yang akan mengejar manusia seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Dimana saja kamu berada, kata Al-Qur’an, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng-benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. An-Nisa: 78).

Jika kematian laksana sebuah pintu yang setiap orang akan melewatinya, yang memisahkan antara kehidupan di dunia dengan kehidupan entah sesudah melewatinya, maka sudah seyogyanya orientasi hidup di dunia ini hendaknya difokuskan untuk mempersiapkan kehidupan yang kedua nanti. Dan ketika manusia memiliki naluri untuk mempertahankan diri agar hidup kekal abadi (gharizatul baqa‘), maka sebenarnya sudah klop seperti “tumbu oleh tutup“, kata orang Jawa, dengan kenyataan di atas. Karena, justru pada kehidupan kedua itulah kehidupan yang abadi itu akan terjadi.

Karena abadi, endless, tak pernah berakhir, maka bayangkanlah jika pada masa yang kekal itu justru kehidupan yang sengsaralah yang harus kita jalani akibat perbuatan kita semasa hidup di dunia ini. Perbuatan durhaka dan kemaksiatan yang kita lakukan di dunia ini, dalam bahasa Abu Hazm, telah merusakkan akhirat yang abadi itu. Sehingga tak heran jika kita — sebagaimana Sulaiman bin Abdul Malik — takut menghadapi kematian, karena akan pergi ke sebuah tempat yang telah kita rusak sendiri untuk selama-lamanya. Ketakutan itu digambarkan seperti seorang hamba sahaya yang harus dipaksa dan diseret kembali ke tuannya, yang ia telah lari dari padanya. Sudah terbayang kira-kira apa yang bakal dilakukan tuannya kepadanya.

Sebaliknya, mereka yang sudah mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal itu, yang telah membangunnya sedemikian rupa semasa di dunia ini, maka kematian seperti buncah kerinduan, sebagaimana Anas bin Nadhr ra. mencium wangi surga saat perang Uhud berkecamuk di depan mata. Kematian justru dirindukan. Kepulangan orang semacam ini ke haribaan ilahi digambarkan Abu Hazm seperti seorang musafir yang diliputi rasa rindu ingin cepat pulang untuk bertemu dengan anak dan istrinya yang telah berpisah dengannya sekian lama.

Lantas kita sendiri pilih yang mana? Menjadi seorang hamba sahaya ataukah musafir yang rindu kembali pulang ke tengah keluarganya? Apalagi jika kita tak pernah tahu bagaimanakah kesudahan kita kelak di kehidupan kekal itu, sebagaimana tangis Abu Hurairah ra. menjelang kematiannya.

“Mengapa engkau menangis, wahai Abu Hurairah?”

“Sesungguhnya aku menangis karena jauhnya perjalananku, sementara bekalku amat sedikit. Sungguh aku akan melalui jalan yang berujung ke surga atau neraka. Aku tidak tahu, manakah di antara keduanya yang akan diberikan kepadaku.” (3)

*** 

Bahtiar HS

http://bahtiarhs.net

Keterangan.

  • (1) Khalifah Bani Umayyah (715-717M)
  • (2) Gubernur Irak (699-701M) pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dan Al-Walid bin Abdul Malik
  • (3) Dikutip dari buku Menyambut Umur 40 Tahun, karya Ahmad Syarifuddin (Nashiril Haq Publishing House, Surabaya, 2008)

 

Senin, 10/11/2008 12:19 WIB | email | print | share
 
 
 
 

Oase Iman Lainnya

(Arsip) (Ke Atas)

Oase Iman
menggugah dan menyegarkan iman
 
 
 

PELUANG

 
 
 

Simulasi Tabungan Rencana
Menabung adalah bagian dari perencanaan keuangan untuk masa depan. Namun, terkadang dengan segala kebutuhan dan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari terkadang menabung adalah ...

Kartu ATM SiAga Syariah
Fasilitas layanan kepada nasabah untuk melakukan transaksi perbankan dengan perangkat mesin ATM (Automated Teller Machine) yang dimiliki atau ditunjuk oleh Bank Bukopin a. Man...

Giro Utama iB
Giro Utama iB, adalah rekening koran wadiah dari Bank Mega Syariah yang memungkinkan Anda mengelola dana dengan nyaman sesuai kebutuhan. Menyimpan dana sesuai syariah dan mend...

BNI Syariah KC Jaktim Sukses Galakkan Tabungan iB Masuk Sekolah
Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Kantor Cabang Jakarta Timur melalui Tabunganku iB yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia menggalakkan Tabungan ini ke sekolah-sekolah. Progra...

 
 
 
 
 
 
 
Education Corner

Anak Pemarah

Saya wanita bekerja dengan 4 anak yg masih kecil-kecil paling besar kelas lima SD, saya membesarkan anak-anak sendiri tanpa didampingi suami karena suami jauh. Karena saya sendiri kadang-kadang dalam mendidik anak saya terlau emosional.

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Dr. Indah SPKK, Rawat Pasien dengan Senyum Indah

Ketika ditanya apa alasannya mau menjadi relawan di LKC, Dokter Indah menjawabnya dengan senyuman. "Motivasinya hanya untuk berbagi dengan sesama."

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Pengungsi Sinabung, Logistik Masih Minim

Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut beberapa hari ini cenderung menurun. Namun, segala kemungkinan bisa saja terjadi, seperti meletusnya gunung ini Minggu (29/8) dini hari yang di luar prediksi para ahli.