Rejeki Juga Harus Dijemput
Oleh Fery Ramadhansyah
“pengumuman, PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia) bilang, pihak JS (Jamiah syariyah) minta tajdid nama-nama penerima musaadah”. Teriakku ke kawan-kawan dirumah. Aku dapat informasi itu dari seorang kawan. Langsung aja aku beritahukan kepada anggota rumah yang juga rata-rata penerima musaadah JS itu. “Lebih cepat kan lebih baik” tambahku.
Kami serumah ada delapan orang. Huh…jumlah yang aku bilang membludak untuk kondisi rumah dengan satu shalah dan dua kamar. Itu juga kamarnya kecil. Ya kalaupun mau dibagi, berarti satu kamar buat empat orang. Lumayan hangat lah untuk musim dingin. Soalnya makin banyak orang, kalau rangannya kecil maka makin udaranya jadi hangat. Mungkin karena suhu-suhu tubuh penghuni kamar yang merubah tempratur ruangan. Bagiku, sempit juga, walau tidur susun ikan gembung, yang penting asyaiknya rame-rame.
Dari delapan yang enam orang dapat JS,lumayan lah, tiap bulan dapat sembako plus uang lima puluh pon, kecuali Aku dan irfan. Kalau aku, memang dulu sebelum bareng mereka, aku tinggal di Qatameya. Daerah yang masih jarang orang indonesianya. Jadi, sedikit ketinggalan informasi. Jadi pas waktu buka pendaftaran, aku gak ikut daftar. Tapi, kalau kawan ku Irfan, menurut pengakuannya sih karena Iqamahnya dah mati. Jadi gak berani mo daftar, ntar kalau daftar trus diminta passpor dan dilihat izin tinggalnya itu dah habis, bisa bahaya.
Langsung saja, setelah dapat info tajdid untuk penerima JS yang lama. Dan katanya, dibuka pendaftaran baru juga untuk yang belum menerima. Ada jatah lima ratus orang pertama. Saran kawan-kawan-kawan lain agar aku dan irfan juga daftar. Lumayan tuh, kalau semua dapat JS, uang rumah agak berkurang, karena sembako udah ada. Akupun langsung hari ketiga setelah pengumuman itu, meluncur ke PPMI. Ini peluang, jangan sampai kelewatan kayak kemarin, pikirku.
Tapi, anehnya kawanku yang satu itu. Irfan, sudah diajak berulang-ulang bahkan disarani sama yang lain, Cuman tetap aja gak mau daftar. Sebenarnya sih, bukan pertimbangannya kita banyak duitnya atau tidak, tapi memang kenyataannya kita yang disini tergolong ekonomi menengah kebawa pasti berguna musaadah seperti itu. makanya sayang kalau dilewatkan. Lumayan tiap bulan bebas sembako plus nambah uang saku. Dan akhirnya, seminggu setelahnya iya berangkat juga ke PPMI buat daftar JS.
Waktu aku daftar hari ketiga, aku ada diurutan dua ratusan. Itu untuk yang cowok belum lagi yang cewek. Karena pendaftaran nya dipisah. Yang pasti untuk yang hari ketujuh waktu irfan daftar, nomornya sudah hampir lima ratusan. itu artinya, kalau nama-namanya turun, aku lebih dulu menerima dari Irfan.
Bulan januari daftar, bulan februari turun nama. Ternyata namaku belum turun. Yang keterima banyakan cewek untuk seratus orang penerima. Baru bulan kedua namaku turun. Al hamdulillah, akhirnya dapat juga. Tapi tidak untuk irfan. Namanya gak ada. Ditunggu, bulan berikutnya, juga gak ada. Bulan berikutnya juga tidak. Lebih empat bulan juga belum ada tanda-tanda. Satu yang jadi kesimpulanku, ternyata memang rejeki juga harus disambut dan dijemput.
Saya jadi teringat ceramahnya aagym. soal mencari rezeki, sama seperti anak bayi yang sedang lapar. Anak bayi, yang belum bisa apa-apa, ngomong tidak dan berjalan juga tidak tapi waktu ia lapar, ia bisa mendapatkan makanannya. Si bayi yang lapar tadi, jika berpikir kan ASI adalah rezekinya, terus diam aja. Padahal lapar, mungkin ia bisa lapar terus. Tapi kalau dipikir, si bayi belum bisa ngomong, untuk bilang lapar kepada ibunya, juga belum bisa jalan untuk nyamperin sang ibu. Tentukan sangat kerepotan kalau dia butuh makan. Tapi, ternyata tidak. Dia ingat ada potensi yang bisa digunakan. Yaitu teriakkannya. Otomatis, kalau si bayi teriak maka si ibu langsung datang dan memberinya ASI.
Contoh kecil itu menandakan bahwa yang namanya rezeki harus dicari. Memang kata orang, kayak yang di bilang pak MZ, rezeki itu laksana bayangan. Didekati kadang lari, eh didiami malah datang sendiri. Aneh memang. Tapi itulah kenyataanya. Cuman bukan berarti cukup dengan duduk-duduk bisa dapat rezeki. Ya kalaupun ada, tapi itu hanya satu banding berapa. Dan itu tidak setiap hari. Kalau orang Cuma modal yakin terus tidak ada usaha, enak dong. Tidak perlu yang namanya kerja. Bahkan, kalau ada yang bilang cukup banyakin ibadah dan tawakal, terus rezeki ngalir, mungkin dulu rasul gak perlu dagang. Tapi nyatanya, beliau berusaha, berdagang dan menganjurkan sahabat-sahabatnya untuk mencari rezeki yang halal.
Nabi-nabi yang lain juga begitu. Mereka kerja, untuk keperluan hidupnya. Nabi adam AS misalnya, belia bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya. Nabi idris sebagai tukang jahit, nabi nabi nuh sebagai tukang kayu, nabi musa sebagai pengembala. Begitu juga salafuna ashalih yang ibadahya jauh lebih baik dari kita. Mereka bekerja untuk mendapatkan rezeki. Tidaklah karena keshalehan seseorang lantas Allah swt menurunkan sekarung emas dari langit untuknya.
Sungguh, lebih mulia dimata Allah, seorang hamba yang membawa tali, memikul kapak kemudian melangkah ke hutan lalu mencari kayu, dan kayu itu di jual sehingga menghasilkan uang, itu lebih baik daripada mereka yang Cuma berpangku tangan mengharap hujan emas turun dari langit.
Tidaklah benar,tawakal sebelum berusaha. Kalau ada yang bilang, rezeki adalah urusan Allah aku serahkannya semua kepadaNya. Tapi ia tidak bekerja, tidak berusaha untuk memperoleh rezeki tersebut, maka ini bukanlah tawakal melainkan pasrah. Dan wajar kalau ia tidak bisa memperoleh rezeki yang diinginkan. Karena miskin atau kaya seseorang adalah takdir. Dan dalam menyikapi takdir diperintahkah agar tidak melupakan sebab akibat. Ya, kalau mau kaya maka kerja. Sebalikna, orang yang tidak kerja maka mustahil akan kaya.
Untuk sebuah jawaban yang pasti, adalah usaha. Bukan semata angan-angan sampai berujung menempuh jalan yang salah. Hanya dengan waktu singkat,maka apa yang diinginkn bisa didapat. Ini kebanyakan yang membuat orang buta dengan kebenaran. Sehingga kalau rezeki itu berupa harta, maka ia tidak segan untuk memakan harta orang lain dengan bathil. Wal hasil, yang timbul adalah persengketaan terhadap sesama.
salam ukhuwah
http://madhan-syah.blogspot.com/
Lainnya (Arsip)
- Saat Pernikahan Dikatakan Kontraproduktif
Meralda Nindyasti — Rabu, 15/07/2009 14:07 WIB - Ambil Yang Jelek Buang Yang Baik
Fiyan Arjun — Rabu, 15/07/2009 06:00 WIB - Ketika hati Menangis
Agus Triningsih — Selasa, 14/07/2009 14:11 WIB - Bertahan dengan 3000 Rupiah
Tri Laksono Juliharto — Selasa, 14/07/2009 06:01 WIB - Rezeki, Tapi Bukan Rezeki
Azti Arlina — Senin, 13/07/2009 14:13 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




