Reuni Orang-orang Beriman
Oleh Sabrul Jamil
Tempatnya bisa berbeda, tapi biasanya kafe atau tempat-tempat sejenisnya. Meja-meja kecil digabungkan menjadi satu, membentuk empat persegi panjang yang panjang.
Menunya pun boleh gonta ganti, yang penting ada makanan penggugah selera. Peserta acara kumpul-kumpul ini biasanya belasan orang, bisa lebih bisa kurang. Peserta juga berganti-ganti, tergantung siapa yang sempat. Satu hal yang tetap sama, yaitu, mereka adalah alumni dari sekolah atau kampus yang sama. Ada reuni smp, ada reuni sma, ada reuni kampus. Malah ada pula reuni sd.
Usai reuni, ada foto-foto yang beterbangan ke internet. Teman-teman lain yang tidak hadir ramai mengomentari. Keceriaan pun merebak, menular, tak kenal batas demografis.
Reuni makin sering saja. Agaknya karena dipicu oleh semakin suburnya social networking atau media sosial di alam maya. Sambil kerja di meja kantor, kita bisa tetap terkoneksi dengan orang lain di negeri manapun, selama internet bisa menjangkaunya. Teman-teman yang lama tak jumpa, terselip di rimba mana, atau ternyata malah tetangga kompleks saja, bermunculan di internet. Saling sapa, tanya kabar, dan ini itu di wall tidak lagi cukup. Muncullah kekangenan. Terjadilah pertemuan nyata, tak sekedar maya. Jadilah reuni. After office hour, janjian bertemu di mana. Tentu saja tanpa istri/ suami, apalagi anak. Sekali-kali menjadi seperti remaja kembali.
Reuni memang memberikan kegembiraan, di tengah kepenatan kerja. Hubungan-hubungan baik di masa silam, kedekatan emosional, memberikan alasan yang kuat bagi keinginan bertemu lagi. Bertemu pun mungkin memang sekedar bertemu. Tak lebih. Bercanda. Sekedar berbicara ngalor ngidul. Melepaskan tawa yang mungkin tidak lagi lepas jika berada di kantor.
Dari reuni-reuni kecil, tak jarang berkembang menjadi reuni besar. Reuni satu angkatan. Puluhan, bisa ratusan jumlah pesertanya. Jauh lebih seru, tentu. Kadang lahir ide-ide mulia. Program dana beasiswa misalnya, yang diberikan buat para pelajar di sekolah tempat dulu kita menuntut ilmu.
Reuni bisa mengingatkan kita masa-masa remaja yang katanya paling indah itu. Entah kata siapa, tapi orang sering beranggapan demikian. Reuni kadang memberikan sensasi kembali muda, meski mungkin kita sebenarnya sudah separuh baya.
Bagi sebagian orang, reuni harus dihindari, karena orang ini enggan berurusan dengan masa lalu. Reuni juga bisa agak menyakitkan, jika niatnya hanya hendak membandingkan harta perolehan. Ini memang cara salah dalam memandang reuni. Mudah-mudahan tak ada yang demikian.
Bagi saya, reuni lebih memberikan warning. Warning bahwa waktu sungguh-sungguh berjalan. Jika dulu kita adalah ABG, maka sekarang kita sudah punya anak-anak yang ABG. Jika dulu kita masih ramping, sekarang kita sudah berkutat dengan baju yang sering kekecilan. Reuni seperti pembisik yang diam-diam memberikan pertanyaan menikam di hati kita, ‘apakah ente sudah lebih baik dibandingkan ABG dulu?’
Bagi saya, ada reuni besar yang sungguh-sungguh harus diantisipasi. Sampai sering kali dada ini berdebar-debar jika mengingat-ingatnya. Itulah dia, reuni orang-orang beriman. Kapan? Reuni itu tak jelas tanggalnya, tapi pasti datangnya. Yaitu di akhirat nanti. Allah, lewat kisah menggetarkan di surat Az Zumar, bercerita bahwa kelak orang-orang beriman akan masuk ke dalam surga berkelompok-kelompok. Pertanyaan yang paling meresahkan tentulah, apakah saya masuk ke dalam kelompok itu?
Saya, dengan stamina ibadah yang pas-pasan, kadang naik, sering turun, tapi sering kali mencintai dunia secara keterlaluan, acap kali merasa tak pede dengan pertemuan itu. Banyak orang lain yang lebih besar jasanya terhadap Islam. Lebih mantap ibadahnya. Lebih besar pengorbanannya. Perasaan tak pantas itu sering begitu rupa, hingga kadang membuat diri enggan berharap. Tapi, Allah sendiri yang melarang kita untuk mengubur harapan. Bahwa rahmatNya melampaui azabNya.
Dengan bermodalkan harapan, sering hati ini berpikir, apa kira-kira yang bisa diperbuat, agar dapat memantaskan diri bisa bergabung dalam reuni yang pastinya indah tersebut?
Agaknya itulah gunanya reuni. Membuat kita selalu bertanya. Menanyakan kepada diri. Sudah berapa siapkah kita? Itulah gunanya reuni, mengingatkan diri bahwa dunia isinya hanyalah fana berkepanjangan. Yang sejati adalah amal-amal yang akan kita bawa kelak di negeri abadi.
Sabrul.jamil at muslimterbaik.com
Lainnya (Arsip)
- Jalani Yang Tak Anda Ingini
Kiptiah — Rabu, 19/10/2011 04:39 WIB - Tauhid dan Berlian di Genggaman
Moh. Adi Susilo — Selasa, 18/10/2011 12:43 WIB - Ketika Nama Haji Menjadi Plesetan
Syaripudin Zuhri — Selasa, 18/10/2011 04:44 WIB - Menikahi Wanita Yang Tidak Cantik Berpahala?
Anung Umar — Senin, 17/10/2011 13:34 WIB - Manusia Tuntunan Di Eramuslim
Syaripudin Zuhri — Senin, 17/10/2011 06:58 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Â Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
Satrio Selamat dari Jantung Bocor
Dari semenjak lahir Satrio, 21 bulan, sudah menderita jantung bocor. Tubuhnya semakin membiru, bapaknya terkendala administrasi untuk mengurus Jamkesmas. Melalui bantuan LKC Dompet Dhuafa dan PT PPA…



