Sayang Iman Tak Diwariskan

oleh Meti Herawati Minggu, 15/11/2009 08:01 WIB Cetak |  Kirim |  RSS

Harapan dan do’a setiap orang tua yang beriman adalah memiliki keturunan yang soleh dan dapat melanjutkan estafet dakwah. Namun harapan dan do’a itu tidak serta merta mampu menghantarkan keturunannya menjadi sosok manusia yang beriman dengan ketaatan total kepada sang kholik.

Ada pemandangan yang cukup memprihatinkan ketika Kami sampai di suatu perkampungan, di sebuah rumah yang resik terpampang sebuah papan bertuliskan Ketua DKM (Dewan Keluarga Mesjid). Di teras rumah itu duduk seorang pemuda bertato sedang asyik merokok, saya pikir anak tetangganya. Ternyata pemuda itu adalah putra bungsu si empunya rumah yang notabene seorang DKM dan imam mesjid di kampung itu. Dari penuturan istri ustadz ini ternyata lima orang anaknya bermasalah, anak laki-lakinya sering keluar masuk penjara karena narkoba dan judi sedangkan yang perempuan terjebak pergaulan bebas hingga hamil di luar nikah. Astaghfirullah, saya mengurut dada mendengar kisah ini, apa yang salah? Saya yakin kedua orang tua paruh baya ini pasti sangat menginginkan putra putrinya jadi anak yang soleh taat pada aturan agama.

Kisah hampir serupa dialami kyai kondang di kampung ibu saya, yang dibuat pusing tujuh keliling oleh prilaku anaknya yang ugal-ugalan. Kyai yang sekaligus pemilik pesantren terbesar dibuat kehilangan akal menghadapi tingkah anak kesayangannya itu. Dia sukses mendidik ratusan santrinya tapi tak berkutik dalam menghadapi anak kandungnya sendiri.

Saya teringat syair lagu dari sebuah nasyid bahwa iman itu tidak diwariskan, betul juga keimanan dan ketakwaan orang tua tidak serta merta diwariskan pada anak-anaknya. Ketaatan orang tua terhadap agama tidak berbanding lurus dengan ketaatan anak-anaknya. Dengan kata lain keimanan dan ketakwaan tidak bisa diturunkan orang tua pada anaknya dengan cuma-cuma tanpa usaha. Kita bisa berkaca pada kisah Luqman yang begitu telaten dalam mendidik anaknya, Luqman berkali-kali berpesan pada anaknya “janganlah engkau mempersekutukan Allah”. Luqman begitu khawatir anaknya musyrik kepada Allah dan melanggar syariat Allah, tidak hanya do’a yang dipanjatkan tapi beliau langsung mendidik anaknya. Seringkali Luqman berbicara pada anaknya dari hati ke hati untuk menyampaikan ilmu, dengan metode yag sangat disukai anak-anak misalnya dengan melakukan rihlah, mendongeng, tanpa disertai tekanan sehingga anak bisa menyerap ilmu yang disampaikan Ayahnya.

Sudahkah Kita orang tua zaman sekarang melakukan hal itu? Seringkali Kita begitu piawai memberikan materi ceramah di depan puluhan orang bahkan mungkin ratusan orang tapi lidah ini terasa kelu ketika berbicara kebenaran dengan anak sendiri. Ketika lajang aktif menjadi pengajar Al Qur’an tapi setelah berkeluarga tak punya waktu untuk mengajari anak-anak sendiri membaca Al Qur’an. Akhirnya pendidikan anak-anak diserahkan pada lembaga sekolah, padahal itu adalah tanggung jawab orang tuanya. Berapa banyak waktu yang Kita sediakan untuk mendengar celoteh anak Kita? Seringkali Kita menganggap omongan anak-anak tidak penting dan membosankan, Tapi giliran ngobrol dengan teman bisa bertahan berjam-jam atau ngenet bisa berjam-jam pula. Jangan salahkan mereka jika tidak mewarisi ketakwaan dan semangat dakwah orang tuanya.

Ya Allah hamba mohon ampun jika belum melakukan yang terbaik untuk anak-anak Kami, amanah yang Engkau berikan pada Kami. Jadikanlah mereka hamba-hambaMu yang soleh, yang taat padaMu, penuh harap padaMu dan takut akan murkaMU. Berikanlah kelapangan bagi Kami untuk mendidik mereka, menghantarkan mereka pada kemuliaan hidup di dunia dan di akherat… Amin…


(Arsip Oase Iman)

Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Oase Iman. Kirimkan artikel anda melalui FORM yang kami sediakan.

BPRS Harta Insan Karimah, Bersama dalam Usaha dan Ibadah

Tak banyak bank syariah seperti BPRS Harta Insan Karimah. Meski tak sebesar bank umum syariah, BPRS HIK mampu menerapkan manajemen perbankan yang baik dan akuntabel serta mampu memelihara ruh syariah dalam diri para pegawai. Satu poin yang patut ditiru oleh bank berlabel syariah lainnya.

Meredam Keraguan Demi Selamat Dunia Akhirat

0leh: Khoiriyati Kusumaningtyas. Saya termasuk golongan masyarakat yang sejak awal mendukung 100% perbankan syariah. Keraguan itu justru muncul di saat Bank Syariah booming bagaikan jamur di musim hujan, kira-kira tahun 2006-an. Saat itu saya bertanya.tanya, mengapa semua bank konvensional mengadakan program syariah

Laba yang Adil, Margin tiap Bank dan Rumus Umum KPR iB

Tanya : Berapakah margin yang ditentukan oleh KPR Syariah untuk pinjaman sebesar 100 jt dengan angsuran selama 6 tahun ? apakah masig-masig daerah penetapan margin tersebut berbeda, bagaimana dengan margin untuk lokasi di daerah Depok dan DKI, kalau tidak salah dalam Al .Quran atau Hadist disebutkan untuk besaran nilai keuntungan seseoramg dari penjualan adalah maksimal 10%

Bank Syariah di Minimarket

uchiemasdar.blogspot.com Ide ini muncul saat saya berkunjung ke kota Metro di provinsi Lampung. Siapa nyana, ternyata di kota kecil tersebut, jaringan Indomaret dan Alfamart bertebaran di mana-mana. Sebagaimana transaksi di minimarket, masyarakat sekitar sudah akrab dengan alat pembayaran seperti Debit Card BCA, BNI, dan Mandiri.

BNI iB OTO, Pembiayaan untuk Pembelian Kendaraan

BNI iB Oto merupakan pembiayaan untuk pembelian kendaraan dengan proses yang mudah dan cepat berdasarkan syariah. Uang muka relatif ringan dan pembayaran dapat dilakukan secara debet otomatis. Keunggulan: 1. Rasa tenteram dan tenang karena dengan pembiayaan syariah terhindar dari transaksi yang ribawi. 2. Selama masa pembiayaan besarnya angsuran tetap dan tidak berubah sampai lunas.

 

Anak Ngambek Tidak Mau Sekolah

Bagaimana menghadapi sikap anak saya yang saat ini berusia 6 tahun 2 bulan, baru 2 minggu masuk SD yang jam belajarnya full day (pulang sekolah pukul 14.30). Pekan ke-2 ini dia malah ngambek (menangis dengan keras dan tidak mau ditinggal)

PELUANG