Selamat Pagi, Jendral
Oleh Abu Miftah
Seadainya semua harus mengalah pasti tak terjadi demikian. Tak mudah dilupakan ketika perjanjian demi perjanjian dijabarkan bersama-sama. Terasa indah bukan? Namun detik-detik terakhir datang sebuah SMS, yang menceritakan bahwa bakal pendampingnya berubah 100%. Pilihan pendamping ternyata orang lain. Sakit hati, begitu kira-kira. Sebuah pengorbanan waktu dan impian, harapan ternyata terpuruk sampai disini. ”Kenapa kamu tidak bicara terlebih dahulu,”piluku .. Kini seketika semua berjalan mengikuti jam waktu berdetak
Mengingat usia persahabatan sudah mendekati hampir 6 tahun, namun begitu mudah jika semua pupus ditengah jalan. Surat tentang janji-janji kita, masih tersimpan dalam meja kerjaku. Padahal kita seperti bersaudara. Keluh kesah, kita jalin dengan saling pengertian. Sejak kau hadir, aku selalu memberikan saran yang terbaik.
Apakah aku berdosa sehingga kau tetap memilih pendamping hidup yang lain. Padahal rasa memiliki aku hanya untukmu seorang. Dari nama-nama calon yang ingin berdamping, tak satupun namaku tercoreng dihatimu. Aku malu, aku malu, padahal aku sudah yakin kau adalah pendampingku kelak. Kini impian yang selama ini kita jalin, kini kandas ditengah jalan. Hanya isak tangis yang akhirnya selalu merindu, jika mengingat janji dan ucapan-ucapanmu.
Pesta kemeriahan sudah kau lakukan. Kantong ajaib, yang selama ini kau genggam erat, pastinya sudah terjawab. Sedih, pastinya. Kesal pastinya. Dalam benakku sosok laki-laki yang gagah berani membuat aku patah hati. Kenapa kau berpaling pada yang lain. Pastinya ada konspirasi dari orang terdekat yang membesarkan kamu bahkan tak segan ada tim membisik yang mengatakan agar selalu mencari teman dari kalangan berdarah biru. Atau apakah kau sudah enggan untuk berteman dari golongan aku. Atau apakah ada lobi dari hasil pergaulanmu terhadap orang asing yang bermain disini. Atau mereka enggan melihat umat islam akan berkuasa kelak.
Kini strategi apa yang kau akan kau genjarkan. Aku yakin kemenangan suaranmu melonjak drastis bukan karena pengikut atau teman-teman. Tapi memang kegagahanmu dalam berperan dalam sandiwara di negari ini selama 4 tahun. Kau telah menjadi aktor terbaik dinegeri ini, padahal aku ingat janjimu ketika 4 tahun lalu ketika kau masih berdiri tegak menjadi orang nomor satu di negeri impian ini.
Siapapun kau, kini menjadi bagian masa laluku. Kini kau sudah terkenal. Kau masih menjadi tanda tanya. Walau aku hadir ketika persta itu. Kau bersama pendampingmu berjabat tangan mesra. Secara fisik aku hadir dengan senyum khasku, tapi hati menjadi pilu. Sampai detik ini aku bersama teman seperjuangan, harus berhati-hati pada siapapun. Manis bibir bukan berarti manis dihati. Selamat pagi, Sang Jendral. Sambut harimu dengan cinta. Sang Khalik selalu melihat setiap langkahmu. Dan akupun segera merapat barisan pada sahabatku yang lain jika kau salah.
Lainnya (Arsip)
- Nikmat Yang Tak Bisa Kudustai
Irfan Saputra — Kamis, 21/05/2009 08:18 WIB - Sehari Tanpamu
Hariyanty Thahir — Rabu, 20/05/2009 14:15 WIB - Anakku Ingin Sholat di Mesjid
Bintang Mentari — Rabu, 20/05/2009 08:10 WIB - Keberhasilan Diukur Hanya Dengan Materi
Halimah — Selasa, 19/05/2009 14:26 WIB - Profesional dalam Segala Hal
Muhammad Rizqon — Selasa, 19/05/2009 08:02 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




