Semangat Hijrah untuk Pembebasan

Senin, 29/12/2008 10:43 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Oleh Muhammad Rizqon

Orang-orang Yatsrib termasuk rombongan orang Arab yang sering datang ke Mekkah. Mereka terdiri dari suku Aus dan suku Khazraj, dua suku yang selalu berperang dan berseteru satu sama lain selama 120 tahun.

Suatu malam di bukit Aqabah, Mina, Rasulullah Saw bertemu dengan enam orang Khazraj. Mula-mula Rasulullah Saw mengajukan pertanyaan, kemudian mereka menjawab dengan sopan. Lantas beliau memperkenalkan diri. Sesudah itu, beliau mengajak mereka duduk bersama dan mereka memenuhi ajakan itu dengan penuh rasa ingin tahu.

Rasulullah Saw mengajak mereka ke tempat yang sepi, sedikit jauh dari penglihatan orang. Di tempat itu, Rasulullah Saw membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Mereka mengerti dan terpikat dengan apa yang Rasulullah Saw serukan. Begitu yakin dengan kesungguhan mereka, Rasulullah Saw mengajak berpindah ke bawah bukit Aqabah, suatu tempat yang benar-benar terlindung dari penglihatan orang-orang. Di tempat aman itulah beliau mengajak mereka mendukung kerasulan beliau, dan meminta mereka menyebarkan ajaran Islam di kota asal mereka, Yatsrib.

Mereka meminta waktu berunding. “Nampaknya ini adalah jalan yang diberikan Tuhan,” demikian salah seorang dari mereka berkata. “Aku sudah bosan berperang dengan Aus, mudah-mudahan ajaran Islam ini akan menyatukan kita dan Aus dalam perdamaian.” Seusai berunding, mereka menyatakan bersungguh-sungguh mendukung misi penyebaran Islam di Yatsrib. Rasulullah Saw memberi nasehat agar mereka seia-sekata, tolong-menolong, dan bahu-membahu dalam menjalankan tugas mulia ini.

Keenam orang Khazraj itu kembali ke Yatsrib dan menyerukan Islam ke seluruh penduduknya. Pada musim haji berikutnya, yaitu tahun ke-12 dari perjuangan dakwah Rasulullah Saw, 5 dari 6 orang Khazraj itu bersama 7 orang rekan mereka (2 diantaranya dari suku Aus), kembali menemui Rasulullah Saw di bukit Aqabah. Di sana, Rasulullah Saw pun kemudian membai’at mereka. Inilah yang dikenal dengan Bai’at Aqabah pertama. Seusai pembai’atan itu, Rasulullah Saw bersabda, “Hendaknya kalian menepati janji-janji ini, kelak kalian akan menerima balasan Allah berupa surga. Namun jika ada yang menyalahi janji ini, aku serahkan urusannya kepada Allah semata.

Musim haji pun selesai. Ketika rombongan Yatsrib berangkat pulang, Rasulullah Saw menyertakan Mush’ab bin Umair, seorang duta pertama yang bertugas mengajarkan syariah Islam dan pengetahuan agama di bumi Yatsrib.

Islam makin bercahaya. Seiring dengan itu, persaudaraan antara suku Aus dan Khazraj pun semakin kokoh sehingga hilanglah rasa permusuhan di hati mereka masing-masing. Aqidah Islam benar-benar telah meyatukan hati mereka. Subhanallah.

Pada musim haji berikutnya, rombongan haji yang datang dari Yatsrib semakin banyak. Mereka ada 75 orang, dua diantaranya perempuan. Kembali mereka menjumpai Rasulullah Saw di bukit Aqabah. Kali ini mereka tidak bertemu di kaki bukit, melainkan di puncaknya. Abbas bin Abu Muthalib, paman Rasul yang menyertai Rasulullah Saw menyadari bahwa pertemuan itu berpotensi menyulut peperangan dari orang-orang yang memusuhi keponakannya itu. Abbas berpidato,

Saudara-saudara dari suku Khazraj, posisi Muhammad di tengah kami sudah diketahui bersama. Kami dan mereka yang sepaham dengannya telah melindunginya dari gangguan masyarakat kami sendiri. Dia adalah orang terhormat di kalangan masyarakatnya dan mempunyai kekuatan di negerinya sendiri. Namun, dia ingin bergabung dengan Tuan-tuan juga. Jadi, kalau memang Tuan-tuan merasa dapat menepati janji seperti yang Tuan-tuan berikan kepadanya itu dan dapat melindungi dari mereka yang menentangnya, maka silahkan Tuan-tuan laksanakan. Akan tetapi, jika Tuan-tuan akan menyerahkan dia dan membiarkannya terlantar sesudah berada di tempat Tuan-tuan, maka dari sekarang lebih baik tinggalkan saja.

Orang Yatsrib menjawab, “Sudah kami dengar apa yang Tuan katakan. Sekarang silahkan Rasulullah Saw bicara. Kemukan apa yang Tuan senangi dan disenangi Allah.

Setelah membacakan ayat-ayat Allah, Rasulullah Saw bersabda, “Saya minta ikrar Tuan-tuan untuk membela saya seperti membela isteri-isteri dan anak-anak Tuan-tuan sendiri.

Terjadilah dialog panjang sebelum keputusan ikrar diucapkan oleh mereka. Pada akhirnya mereka menjawab, “Akan kami terima, sekalipun harta benda kami habis dan bangsawan kami terbunuh. Namun, kalau dapat kami tepati semua ini, apa yang akan kami peroleh?”. Rasulullah Saw menjawab tegas, “Surga”.

Kedatangan orang-orang Yatsrib ke Mekkah dalam rentang perjuangan Rasulullah Saw selama 13 tahun di Mekkah, adalah bentuk pertolongan Allah yang diluar pengamatan orang-orang Quraisy waktu itu. Pada saat mereka sibuk meneror seluruh penduduk Mekkah agar tidak menjadi pengikut Muhammad Saw, di tempat terpisah, orang-orang Yatsrib mampu mengembangkan ajaran Islam dengan baik di kota Yatsrib. Berkat pertolongan Allah melalui orang-orang yang dijuluki Anshar itu, Islam tumbuh kuat nun jauh di sana di luar jangkauan kaum Quraisy di Mekkah.

Ketika tiba saatnya kaum musimin memindahkan basis perjuangannya ke Yatsrib, tanpa membuang waktu lagi, Rasulullah Saw memerintahkan para sahabatnya menyusul kaum Anshar ke Yatsrib. Dengan sangat cerdik, beliau memerintahkan kaum muslimin hijrah dengan berpencar-pencar dan diam-diam agar tidak menimbulkan kepanikan kaum Quraisy.

Namun demikian mereka pada akhirnya tahu juga. Mereka panik dan segera saja memerintahkan untuk mencegah gelombang perpindahan itu. Kaum muslimin dibujuk supaya kembali kepada sembahan lama dengan imingan harta benda. Jika tidak mau, mereka disiksa dan diintimidasi. Ada seorang isteri yang pisahkan dari suaminya. Bila dia orang Quraisy, ia tidak diperkenankan hijrah mengikuti suaminya. Jika tidak menurut, wanita itu akan dikurung.

Blokade untuk berhijrah dijalani dengan ikhlas oleh kaum muslimin. Mereka rela berpisah dengan keluarganya bahkan meninggalkan semua hartanya demi berhijrah meraih kebebasan menyembah Allah SWT.

Tentu alasan mereka tidaklah sederhana. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi faktor penyemangat dan optimisme. Ancaman kehilangan keluarga, karib kerabat atau bahkan harta benda tidak mampu membendung langkah mereka untuk berhijrah karena kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka yakin, Allah lah yang akan menggantikan semuanya. Tidak ada sesuatu yang perlu diragukan karena yang memerintahkan hijrah adalah Allah dan Rasul-Nya.

Sepenggal kisah Hijrah Nabi ini memberikan pelajaran yang cukup berharga. Jika kita “berhijrah” dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka tidak ada sesuatu yang perlu ditakutkan akan nasib di masa depan berkait dengan jaminan Allah atas rezeki. Hikmah ini cukup relevan bagi mereka yang saat ini ingin kembali kepada nilai Islam, namun mereka menghadapi ancaman pemutusan sumber ekonomi.

Pemutusan hubungan kerja, embargo ekonomi, sangsi perdagangan adalah sebagian bentuk ancaman yang sering muncul karena muatan ideologis, baik dalam level individu maupun kenegaraan. Selama ummat Islam takut menghadapi ancaman-ancaman seperti itu, kemandirian tidak pernah dapat terwujudkan. Sebaliknya, ancaman-ancaman seperti blokade yang terjadi di Palestina dan jalur Gaza akan semakin menjadi-jadi.

Sungguh mengenaskan bila ummat Islam, khususnya di Timur Tengah, tidak mampu membangun solidaritas untuk Palestina dan Gaza yang terakhir ini mengalami bombardir Israel yang berakibat lebih dari 200 orang mengalami kesyahidan, dan 800-an orang mengalami luka-luka. Seharusnya dengan semangat hijrah seperti dicontohkan Rasulullah Saw, pembebasan harus dilakukan walau dengan resiko yang pahit. Namun jika hanya Allah SWT dan Rasul-Nya yang menjadi tujuan, Insya Allah kepahitan itu akan berganti dengan kemanisan. Adakah semangat hijrah seperti itu?

Wallahua’lam bishshawaab
[email protected]

muhammadrizqon.multiply.com

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Oase Iman

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang