Muslim Keturunan Dan Saintis

muslim“Bagaimana Anda menjadi muslim?”

“Ya, karena saya mencintai agama Islam.”

“Sejak kapan Anda mencintainya?”

“Saya tidak tahu persis. Yang jelas sejak kecil saya sudah menjadi muslim.”

“Bagaimana dengan kedua orang tua Anda?”

“Sama seperti saya. Mereka muslim yang taat.”

“Apakah keduanya mengajarkan dan mengajak Anda menjadi muslim sepertinya?”

“Ya, dan hal itu adalah wajar menurut saya.”

“Kalau begitu, Anda keliru. Anda menjadi muslim karena orang tua Anda muslim. Bukan panggilan hati nurani.”

“Kenapa begitu?”

“Ya, sebab bukan mustahil kalau Anda lahir dan dibesarkan tidak oleh orang tua Anda yang muslim, Anda bukanlah seorang muslim seperti Sekarang.”

“Bagaimana dengan Anda, maksud saya kepercayaan Anda?”

“Saya saintis.”

“Kepercayaan apa itu?”

“Kepercayaan yang berdasarkan akal sehat, logika dan hasil penelitian yang valid. Pendeknya saya sangat percaya sain, ilmu pengetahuan dan teknologi.”

“Oo … bagaimana dengan orang tua Anda?”

“Sama seperti saya, cuma dia masih percaya pada Tuhan. Saya tidak. Bagi saya Tuhan adalah sain.”

“Kenapa begitu?”

“Saya tidak ingin seperti Anda, yang menjadi muslim karena ikut-ikutan orang tua. Bukan karena hati nurani.”

“Kalau Anda seorang saintis bahkan menganggapnya sebagai ‘tuhan’, bisakah Anda jelaskan kepada saya siapa itu Darwin dan teori evolusinya?”

“Tidak cukup menjelaskannya di pertemuan singkat kita ini.”

“Bisakah Anda menyederhanakan secara singkat saja?”

“Tidak mungkin, karena Anda tidak akan bisa memahaminya secara utuh.”

“Oke, … tapi Anda percaya dengan teori itu?”

“Saya percaya, bahkan yakin sekali teorinya benar.”

“Ya, saya pun percaya.”

“Apa yang Anda percayai?”

“Ada yang bilang pada saya, Anda “mirip” kera!?”

“Anda keliru.”

“Jangan salahkan saya, karena Anda sendiri tidak mau menjelaskannya untukku.”

“Itu kan kata Darwin!”

“Kalau begitu, di mana kekeliruan Saya jika mengikuti agama bapak Saya? Sebab bukan mustahil, jika Anda seperti saya, tidak akan ada orang yang mengatakan pada saya bahwa Anda ‘mirip’ kera.”

Depok,

[email protected]