Abah

ABAH
Siang itu bukanlah seperti siang biasanya. Yang membuat jadi tidak biasa adalah karena saya harus berjalan kaki dari gerbang kompleks menuju rumah. Motor andalan saya baru saja dirawat di bengkel depan kompleks. Karena tidak nyaman menunggu di bengkel, saya memutuskan pulang, menunggu di rumah. Lebih nyaman, dan bebas asap rokok plus knalpot.

Dalam perjalanan pulang itulah saya bertemu Abah. Siapakah Abah? Nantilah saya ceritakan. Saat ini saya ingin bercerita dulu tentang pertemuan saya dengan orang tua itu. Abah saat itu berjalan bertelanjang kaki, dengan tas besar disampirkan di samping kirinya. Kami pun saling menyapa.

“Dari mana Mas, kok enggak bawa motor?” Sapanya ramah.

Setelah kujawab pertanyaanya, selanjutnya gantian aku yang bertanya, “Abah mau kemana? Kok sendalnya enggak dipakai?”

Abah tertawa. Dia bercerita bahwa berjalan kaki di aspal yang hangat adalah baik untuk terapi. Sebenarnya saya tidak terlalu sepakat kalau dibilang aspal ini hangat. Menurut saya, aspal menjelang siang lebih dari sekedar hangat. Tapi tidak saya bantah kata-katanya. Saya hanya memandangi telapak kakinya yang besar-besar. Lebih besar dari telapak kaki saya. Padahal ukuran sepatu saya 42-43. Entah berapa ukuran sepatu Abah.

“Terus Abah mau kemana ini siang-siang?”

Abah kembali tertawa seraya menunjuk ke arah tas besarnya yang sedikit terbuka.

“Ini, ngider, siapa tahu ada yang mau beli”, katanya sambil menunjukkan koleksi VCD dan MP3 yang cukup banyak di dalam tasnya.

Saya mengintip sekilas, dan tersenyum. Saya termasuk yang tidak suka membeli CD bajakan. Tapi saya diam saja, dan merasa kurang pas jika pada kesempatan itu berusaha menjelaskan kepada Abah bahwa menjual CD bajakan adalah dilarang oleh pemerintah, dan sudah diharamkan pula oleh MUI. Mungkin ada yang menganggap sikap saya itu keliru. Tidak apa-apa, saya hargai anggapan itu.

Abah kemudian bertutur bahwa dagangan ini lumayan buat nambah-nambah penghasilan. Dari pada cuma nganggur di rumah. Setelah beberapa obrolan singkat lainnya, kami pun berpisah. Lagi pula, tentu tidak nyaman ngombrol lama-lama di tengah jalan yang terik.

Nah, tadi saya sudah berjanji untuk menceritakan siapakah Abah itu.

Abah adalah pria yang sudah berusia sekitar 50-an. Tinggal di dekat perempatan jalan, hanya beberapa meter dari rumah saya. Rumahnya merangkap menjadi warteg alias warung tegal, walau dia bukan berasal dari Tegal. Abah dan istri asli dari Kuningan, Jawa Barat. Anak-anaknya sudah besar, dan tinggal bersama pasangan masing-masing. Jadi, Abah hanya tinggal bersama istrinya di rumah merangkap warteg tersebut.

Setiap hari, usai membantu istrinya memasak untuk warteg, Abah berjualan keliling. Jadi, Abah sebenarnya tidak nganggur seperti yang dia akui. Tapi memang wartegnya cukup dilayani oleh istrinya saja. Sisa waktu yang ada, Abah berkeliling menjual CD. Sore hari, dia sudah kembali ke rumah, duduk di bale-bale depan rumah. Bercengkerama bersama istri dan para tetangga yang sering mampir untuk sekedar duduk-duduk atau minum kopi.

Hubungan kami dengan Abah dan istrinya terjalin baik. Di samping karena kami bertetangga, istri saya termasuk sering berbelanja di warteg itu. Kami memang tidak ada masalah dengan makanan wartegan. Jaman kuliah dulu, warteg malah menjadi menu sehari-hari kami. Warteg memang solusi bagi mahasiswa berkantung pas-pasan. Sekarang, meski kehidupan kami sudah jauh lebih baik, makanan warteg tetap pas di lidah kami.

Setiap kali berbelanja, Abah atau istrinya tidak segan-segan memberikan bonus. Entah berupa bakwan, sayur atau gorengan lainnya. Pada saat lainnya, kadang-kadang kami mengirim beras, walau tidak banyak. Saling memberi hadiah memang indah bukan?

Di sekitar tempat tinggalku, banyak pasangan yang mirip-mirip Abah dan istrinya. Maksudnya, mereka, suami-istri, adalah pekerja keras, bahkan kasar dan kotor. Kok kotor? Iya, karena banyak di antara istri mereka yang berprofesi menjadi tukang cuci buat orang-orang kompleks, sementara suami mereka narik becak atau jadi tukang ojeg. Pendidikan yang rendah, tidak ada skill yang berarti, membuat mereka terpaksa memilih pekerjaan-pekerjaan seperti itu.

Mereka orang-orang terhormat, karena mencari nafkah yang halal, dan tidak merampas hak orang lain. Baik merampas seperti copet jalanan, atau merampas secara halus seperti yang diperbuat oleh sebagian pengusaha besar. Mereka menerima sesuai jasa yang mereka berikan. Mereka juga tidak meminta-minta, entah meminta-minta seperti pengemis yang banyak berkeliaran di jalan, atau meminta-minta dengan cara canggih dengan menyiasati anggaran Negara, seperti terkadang dilakukan oleh sebagian aparat Negara.

Mudah-mudahan anak-anak mereka bisa lebih baik dibandingkan mereka. Bisa meraih pendidikan yang lebih tinggi ketimbang orang tua mereka, sehingga mampu berbuat lebih banyak dan berarti.

Kami sendiri, tak banyak yang bisa kami lakukan. Paling sekedar menyediakan pendidikan dini yang murah berkualitas, di garasi rumah kami. Mencarikan beasiswa untuk satu – dua di antara mereka. Dan berdoa. Jangan pernah remehkan berdoa.

Mereka orang-orang yang mengingatkan saya kepada banyak hadits nabi.

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”, (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud as, selalumakan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Apabila kamu selesai shalat fajar (shubuh), maka janganlah kamu tidur meninggalkan rejekimu”. (HR. Thabrani)

”Berpagi-pagilah dalam mencari rejeki dan kebutuhan, karena pagi hari itu penuh dengan berkah dan keherhasilan.” (HR. Thabrani dan Barra’)

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami)

“Sesungguhnya seseorang di antara kamu yang berpagi-pagi dalam mencari rejeki, memikul kayu kemudian bersedekah sebagian darinya dan mencukupkan diri dari (meminta-minta) kepada orang lain, adalah lebih baik ketimbang meminta-minta kepada seseorang, yang mungkin diberi atau ditolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sebaik-baik nafkah adalah nafkah pekerja yang halal.” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu ‘Umar)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Sabrul Jamil
[email protected]