Shaf-Shaf yang Terurai
Oleh Muhammar Khamdevi
Setelah memarkirkan motornya, Lie berjalan tenang menuju tempat berwudhu' di sebuah langgar. Sambil berwudhu', Lie mendengar suara iqomah dari ruang shalat. Dengan kata lain mungkin kali ini ia harus bermasbuk.
Berjalan ia tak tergesa menuju ruang shalat, lalu mendapati seorang makmum duduk di halaman tidak turut shalat dengan sang imam. Ia adalah Pak Suhail, 'pelanggan' rutin langgar itu. Maka merupakan sebuah pemandangan yang tidak biasa jika ia tidak ikut berjamaah.
Lalu Lie pun menegurnya dengan salam lalu bertanya.
"Tidak shalat Pak?"
"Saya tidak mau bershalat dengan mereka!"
Lie pun tercengang.
"Lihatlah Nak! Karpet untuk shalat telah diganti dengan yang baru."
Lie pun seketika menyadarinya dan memperhatikan karpet baru tersebut. Karpet itu mirip sajadah yang bersambungan, tidak seperti karpet lama yang hijau polos tak bermotif.
"Lihatlah! Tiap orang sudah punya kavling-kavlingnya sendiri. Lihatlah shaf-shaf mereka! Bahu-bahu dan ujung-ujung jari kaki mereka tak bersentuhan. Padahal sang imam telah mengisyaratkan untuk merapatkan shaf. Mereka seakan ego tak mengikuti suruhan sang imam. Mereka kira mereka sudah merapatkan barisan"
Lie pun terdiam, menyepakati pernyataan Pak Suhail.
"Saya sedih melihat kenyataan bahwa ini sama halnya apayangterjadi pada umat kita saat ini. Mereka berkelompok-kelompok dan ego dengan masing-masing kelompoknya sendiri. Silaturahim pun menjadi longgar. Tak rapat lagi. Tak bersentuhan lagi."
Lie terhenyak dengan kesedihan Pak Suhail. Merinding ia membayangkan metafora tersebut.
"Setelah ini sebaiknya kita diskusikan dengan imam saja tentang hal itu. Namun sekarang saya jadi bingung."
"Kenapa bingung Nak?"
"Apakah saya ikut bershalat dengan mereka atau tidak sekarang?"
Lie bisa saja ikut berjamaah merapatkan barisannya sendiri dengan jamaah terdekat. Namun ia memikirkan Pak Suhail yang tidak mendapatkan shalat berjamaah.
"Bapak tetap tidak shalat dengan mereka?"
"Tidak akan!"
"Kalau begitu saya masbuk dulu ya Pak? Saya coba dorong jamaah di belakang dari arah kanan supaya shaf rapat. Jika tidak berhasil dan bapak tetap tidak mau berjamaah dengan mereka. Tepuk bahu saya saja! Jadi bapak juga dapat bershalat berjamaah saat ini. Daripada shalat sendiri, pahala berjamaah khan lebih banyak." ajak Lie tersenyum lebar hingga gusinya terlihat.
"Iya Nak." jawab Pak Suhail sembari tersenyum pula.
Lainnya (Arsip)
- Jangan Berat Tuk Tersenyum
Gus Ron — Kamis, 25/02/2010 12:28 WIB - Jika Selarasnya Jiwa
Indri S Rozas — Kamis, 25/02/2010 00:17 WIB - Poligami, Sebuah Renungan Buat Kita
Nuperli — Rabu, 24/02/2010 14:09 WIB - Mengukur Dalamnya Keyakinan
M. Arif As-Salman — Rabu, 24/02/2010 05:58 WIB - Kematian Itu Pasti Datang
Mashadi — Selasa, 23/02/2010 14:21 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




