Siapa Yang Berani Sombong?

sombongOleh:  Syaripudin Zuhri

Jika ditanya pada orang pada suatu kesempatan, baik itu secara pribadi atau dalam bentuk kelompok, entah dalam acara diskusi, musyawarah, seminar, pengajian atau pengkajian dan lain sebagainya tentang sebuah pertanyaan sederhana: “Siapa yang sombong di sini?” Atau “Adakah orang sombong di tempat ini? “ . Coba dirubah pertanyaannya” Ayo siapa yang sombong, tunjuk tangan?” Niscaya tak akan mendapat jawaban.

Dapat dipastikan tidak ada yang berani menjawab” Saya di sini yang sombong!” atau” Iya, ada orang sombong di sini, sayalah orangnya!” Dan sudah dapat dipastikan tak ada yang berani unjuk tangan dan berkata dengan lantang” saya yang sombong!”

Mengapa demikian? Karena kesombongan itu seperti, maaf, kentut! Ayo siapa yang berani unjuk tangan di tempat umum, saat kentut? Sudah dapat dipastikan tak akan ada, tapi semua pasti mencium baunya, tapi tak ada yang mengakuinya. Itulah kesombongan! Mari kita lihat berikutnya.

Kamu tidak pernah bisa sombong

Mengapa?

Karena kamu sering kali kalah

Melawan anggota tubuhmu sendiri

Jangankan yang besar-besar

Melawan rasa ngantuk datang, kamu sudah terlena

Bila keinginan buang hadast kecil atau besar

Kamupun kalah, harus dituruti keduanya

 

Dengan penyakit flu atau saki gigi saja

Kamu sudah terampun-ampun

Teriak-teriak sendirian, jengkel dan sebagainya

Itu belum disiksa di neraka!

 

Belum lagi bila nafsu datang

Susah payah kamu melawannya

Dan seringkali kamu kalah, hingga setan tertawa

Para Malaikatpun menangis karenanya

Dan Allah SWT “tersenyum” melihat hambaNya

Yang satu ini yaitu kamu

Yang tersesat di jalanNya.

 

Kamupun kalah dengan anak-anak santri

Dalam pendekatan dirinya kepada Allah SWT

Jangankan dengan para ustadz, ulama atau para kyai

Apa lagi dengan sang sufi sejati

KO kamu.

 

Ya … dalam segala segi kamu selalu dalam keadaan kalah

kalah dan kalah

Kapan kamu bisa menang?

Jawabnya: Bila kamu bisa melawan dan memerangi hawa nafsumu sendiri

Dan nafsu tersebut dikendalikan olehmu.

 

Jadi, selama kamu yang dikendalikan oleh hawa nafsumu

Selama itu pula kamu akan kalah

Dan kekalahan melawan hawa nafsu berakibat

Setan makin tambah temannya yaitu kamu

Malaikat menangis

Dan kamupun di akherat nanti termasuk orang-orang yang merugi

Tempatnya adalah di neraka jahanam.

 

Makanya Nabi bersabda:

Peperangan yang terbesar

Adalah perang melawan hawa nafsumu sendiri

Karena perang melawan nafsu sipatnya abstrak

Musuhnya tidak kelihatan

Jadi, tidak bisa dikalahkan dengan senjata fisik apapun

Pedang, golok, pistol, meriam, bom dan lain sebagainya

Tak berguna untuk melawan hawa nafsu

Yang ada di dalam diri setiap manusia.

 

Nafsumu dapat dikalahkan

Juga bukan dengan imanmu

Karena imanmu pun bahkan seringkali kalah

Akalmu pun tak dapat melawan nafsumu

Sering kali akal bahkan dipermainkan nafsumu.

 

Jadi, apa yang dapat melawan hawan nafsumu?

Tiada lain adalah iradah Allah, hidayah Allah

Kehendak Allah, kemauan Allah, rakhmat Allah

Kasih sayang Allah, ridho Allah, petunjuk Allah dan seterusnya

Mengapa semua itu berasal dari Allah?

Ya, karena hawa nafsu diciptakan oleh Allah

Dan Dialah yang dapat melenyapkannya.

Begitulah nafsu yang ada. dalam diri manusia, jadi kalau ada manusia merasa dirinya paling suci, lantas dengan mudah menyalahkan orang lain, mudah merendahkan orang, mudah mencaci maki orang lain, bahkan mudah mengkafirkan saudaranya sesama muslim, lalu dimana rasa rendah hatinya? Bukankah itu yang namanya sombong? Tapi tak mau mangakuinya.

Bukankah ciri sombong itu ada dua: Pertama, tidak mau menerima kebenaran. Kedua, merendahkan orang lain, atau merasa lebih baik, lebih hebat, lebih beriman, lebih sholeh, lebih berilmu, dan lebih-lebih lainnya dari orang lain. Bahkan yang lebih berbahaya, tapi dirinya tak tahu itu bahaya adalah merasa diri paling suci! Ini lebih berbahaya dari “mbahnya bahaya” yaitu kesombongan.

Mengapa? Gara-gara sombonglah iblis di usir dari syurga, karena merasa dirinya lebih baik ketimbang Nabi Adam AS, karena Iblis diciptakan dari api dan Adam dari tanah. Iblis merasa api itu lebih baik dari tanah. Iblis lupa bahwa Api, Tanah, Udara, dan Air adalah 4 unsur kehidupan yang saling mendukung, bukan saling meniadakan. Atau salah satu dari 4 unsur merasa lebih baik dari yang lainnya. Itulah kesombongan.

Padahal bila salah satu dari 4 unsur tersebut tak ada pada diri manusia, manusia tak bisa hidup, jalan dengan cepat menuju ke kuburan atau sang Malaikat Maut langsung menjeput, mati! Jadi siapa yang berani unjuk tangan, saya duluan? Rasanya tak ada yang akan unjuk tangan, walaupun mungkin sudah tua renta. Karena kematian adalah sesuatu yang nyata dan pasti, tapi yang paling ditakuti manusia kedatangannya. Dan kematian adalah pembunuh paling ampuh untuk kesombongan dalam bentuk apapun.

Orang sombong karena pangkat, jabatan, kekayaan, keturunan, kecantikan bagi wanita atau kegantengan bagi lelaki, semua itu akan lenyap oleh kematian! Maka mengingat kematian adalah senjata yang paling ampuh untuk melawan kesombongan.

Jadi bila ada orang yang masih sombong, orang tersebut jelas lupa pada kematian alias tidak ingat akan mati! Orang sombong biasanya juga lupa, awal kehidupannya yang hanya dari “setetes air hina” dan akhir jasadnya hanya menjadi bangkai dan santapan cacing-cacing tanah. Masih mau sombong atau masih berani sombong? Silahkan tanggung sendiri akibatnya di akherat kelak.

 

Moskow, 20 Jumadil awwal 1436 H/11 Maret 2015