Ukhti Jadilah Barang Berharga, Jangan Jadi Sampah!
Oleh Wulan Purnamasari
Sejak duduk kelas 2 SMP, aku mulai ingin merasakan namanya cinta dan aku pikir cinta itu dalam bentuk jadian atau punya pacar. Akhirnya ketika temen cowokku nyatain cintanya, tanpa berpikir panjang aku terima saja dengan tujuan hanya ingin merasakan yang namanya punya pacar karna saat itu yang namanya pacaran lagi trendy.
Hari demi hari ternyata kehadiran dia makin mengganggu aja, contohnya kalau waktu istirahat aku jadi tidak nyaman tinggal di kelas (dia nyamperin ke kelas). Setelah 2 minggu menjalani hubungan, aku dihasut sama temenku katanya tidak pantas jadian sama dia. Ya sudah tanpa berpikir panjang lagi aku putusin dia. Misiku ngerasain punya pacar sudah berhasil, dan nilainya mengganggu!
Kelas 3 SMP, aku pun jadian lagi dengan cowok kelas 2 SMA. Alasannya, tidak tahu juga sih yang jelas aku kasihan aja. Malam minggu dia apel tapi bukan ke rumahku, tapi ke rumah teman. Rasanya makin hari kok makin tidak nyaman, sembunyi-sembunyi dari orang tua. Aku putusin saja lewat surat.
Suatu hari aku berbincang- bincang dengan guru PPKN, beliau juga punya ilmu psikolog. Tak disangka perbincangan kita walaupun hanya 1 jam, ternyata bisa membuat diriku mempunyai komitmen. Guruku hanya berpesan “JAGA DIRI, JANGAN JADI SAMPAH YANG BISA DIJUMPAI DIMANA-DIMANA, TAPI JADILAH BARANG BERHARGA YANG SULIT DIJUMPAI ORANG”. Maksudnya kita sebagai wanita harus jaga kehormatan, jangan jadi barang murahan/gampangan yang bisa dicicipi oleh semua orang. Melihat gaya pacaran jaman sekarang, astagfirulloh, mengerikan sekali, tidak ada namanya pacaran kalo tdak jalan berduaan, tidak ada pacaran tanpa pegangan tangan, ada yang sampai berciuman, layaknya suami istri.
Aku aneh sama cewek yang mau saja ngasih kehormatannya, alasannya karena cinta. Setan memang membuat sesuatu yang dilarang Alloh menjadi terasa indah dan menyenangkan. Padahal itu hanya sesaat.
Sejak perbincanganku itu, aku berkomitmen pada diriku sendiri kalau aku tidak bakalan punya pacar dan tidak akan pacaran sebelum aku nikah. Sekarang aku sudah besar sebagai wanita yang bukan lagi remaja tapi dewasa (20 tahun), dan belum pernah punya pacar sejak saat itu, dan tidak tahu yang namanya pacaran. Aku pun tidak pernah diapa-apin (masih original, hehe)
Perjalananku tapi tak semulus yang dibayangkan, kadang sakit hati juga tidak punya pacar. Malam minggu temen-teman pada malam mingguan, jalan-jalan. Malam minggu ku Cuma dengan TV, kadang buku ketika ada PR.
Kadang kakakku malah nyuruh aku buat punya punya pacar, mungkin dia kasihan sama aku karena teman-temanku pada punya pacar. Tapi komitmenku kuat. Makin dewasa aku makin tahu apa itu cinta, cinta yang agung adalah cinta pada Alloh. Dan selalu mengharap cintaNya. Kini aku bangga dengan komitmenku, dan sampai hari ini aku berhasil untuk istiqomah menjaga kehormatan. Kadang masih ada kendala juga sih, keluargaku tak terlalu memahami hal ini, sehingga mereka kadang ngolokin aku. Tapi aku selalu yakin Alloh akan memberi cinta, pasangan hidup yang terbaik untukku suatu hari nanti… ^_^
Lainnya (Arsip)
- Saya Merindukan Semangat Perindu
TaQ Shams — Sabtu, 23/01/2010 04:59 WIB - Cermin Sebuah Kehidupan
ummu Shofi — Jumat, 22/01/2010 13:55 WIB - Bersyukur Atas Semua Nikmat
Noverania — Jumat, 22/01/2010 07:51 WIB - Ku Bersyukur padaMu Ya Allah
Agus Baskara — Kamis, 21/01/2010 14:27 WIB - Buat Apa Engkau Dilahirkan di Dunia?
Syaripudin Zuhri — Kamis, 21/01/2010 14:27 WIB
Oase Iman
Terkait
- Buang Satu Rusak Semua
- Di Bradford Sampah Berserakan Komunitas Muslim yang Disalahkan
- Medan Bekerja Tak Semudah Medan Bicara
- Aksi Simpatik Komunitas Muslim Sehabis Perayaan Tahun Baru
- Lagi Sebuah Masjid di Prancis Nyaris Dilalap Api
- Ukhuwah itu mengecewakan katanya
- Maruf Amin MUI akan mengeluarkan fatwa Syiah Sesat
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




