Untuk Wanita Turki dengan Kerudung di Kepala

Oleh Sofiya

“In your country, can you wear your veil in university?” Tanya seorang gadis Turki kepada saya di suatu siang.

Siang itu dia berdiri berdampingan dengan seorang gadis lainnya. Keduanya mengenakan kerudung sutera warna-warni.

“Yes… I can wear this anywhere I want.” Jawab saya

“We couldn’t wear that in university.” Kata dia lagi.

“I know… and for me that’s ridiculous. So you take it off at university?” Tanyaku

“Yes…” Jawabnya pelan

“And after that we wear wigs.” Lanjutnya

Saya pun tersenyum lemah.

Siang itu saya merasa sangat beruntung karena saya tinggal di sebuah negara dimana saya bebas memakai kerudung tanpa harus merasa terganggu atau was was dengan aturan yang ditetapkan pemerintah. Saya bisa merasa nyaman dan aman dalam melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang muslim untuk menutup aurat dengan berkerudung yang insya allah saya yakini benar di dalam hati nurani saya.

Selama ini banyak hal yang sangat biasa dan sehari-hari yang terjadi di kehidupan saya disini yang saya manfaatkan dan saya anggap biasa-biasa saja. Contohnya ya persoalan kerudung itu tadi. Di Indonesia, siapapun bisa memakai kerudung dimanapun dan kapanpun dia mau. Di sekolah, di kampus, di kantor pemerintahan, di pusat perbelanjaan, dimanapun. Tapi di Turki, wanita dilarang memakai kerudung di universitas padahal negara tersebut 98 % penduduknya adalah muslim.

Sungguh peraturan yang miris dan sama sekali tidak menghargai hak asasi manusia (menurut saya pribadi), dimana keinginan dan keyakinan seseorang demi menjalankan secara konsisten agama yang diyakininya dipatahkan begitu saja oleh hukum.

Sejak tahun 1980-an pemerintah Turki melarang warganya untuk mengenakan jilbab di universitas. Walaupun tahun lalu, tepatnya pada tanggal 28 Februari 2008 Presiden Turki Abdullah Gül menyatakan dengan tegas akan merevisi UU yang melarang warganya untuk mengenakan jilbab di universitas swasta maupun negeri, hingga pada akhirnya beberapa waktu selanjutnya UU itu benar-benar ditetapkan. Namun sayang pada bulan Juni Mahkamah Konstitusi Turki akhirnya membatalkan revisi UU tentang penggunaan jilbab ini. Kalangan politik sekuler Turki menuding AKP pimpinan Erdogan ingin menggiring Turki menjadi sebuah negara Islam dengan agenda pertamanya adalah meloloskan UU revisi penggunaan jilbab.

Larangan ini menyebabkan ribuan wanita tidak bisa mengikuti pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan di perguruan tinggi. Saya ingat waktu saya mengadakan presentasi di sebuah tempat kursus bahasa inggris, saya sangat terkejut dengan banyaknya wanita yang mengenakan jilbab di kelas tersebut. Maka dalam sesi perkenalan saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka:

“Apa yang kalian lakukan dengan jilbab itu saat kalian berada di kampus?”

Beberapa menjawab

“Saya mengikuti distant learning, jadi saya tidak perlu ke kampus dan mencopot jilbab saya”

Sedangkan kebanyakan dari mereka menjawab

“Kami tidak melanjutkan pendidikan kami karena pemerintah tidak mengizinkan kami memakai jilbab di kampus.”

Dan kenyataan itu mengiris nurani saya.

Mulai dari sanalah saya tak hentinya bersyukur atas segala kebebasan yang diberikan Allah dan negara ini kepada saya untuk melaksanakan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Saya bersyukur atas kesempatan, atas penghargaan terhadap hak saya sebagai manusia, sebagai wanita dan sebagai seorang muslimah untuk memakai apapun yang saya mau di atas kepala saya, dan bersyukur atas penghargaan terhadap sebuah pilihan yang didasari oleh keyakinan yang kuat dari hati nurani yang paling dalam.

Sebuah hal yang sangat sehari-hari dan seringkali kita manfaatkan keadaannya inilah yang sekarang sedang diperjuangkan oleh wanita-wanita berjilbab di Turki. Sebuah hal yang sering kali kita lupakan dan tidak kita syukuri keberadaannya.

Saat ini, saat saya sedang duduk dan menulis semua ini, saat saya sesekali menyentuh kain yang ada di kepala saya. Saya selalu ingat gadis Turki yang siang itu menyapa saya. Lalu ada sebersit rasa sakit hati saat saya ingat bagaimana dia dan gadis-gadis yang lain harus menahan rasa yang bergemuruh dalam dada mereka saat mereka diharuskan membuka jilbab di pintu masuk kampus.

For all Turkish girls with veil on their heads…

Senin, 21/12/2009 07:50 WIB | email | print | share
 
 
Islamic Banking

Apa itu SISTEM PERBANKAN SYARIAH?

"Sistem perbankan yang saling menguntungkan, dengan keanekaragaman produksi dan skema keuangan yang lebih variatif" Sistem perbankan syariah adalah alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak (nasabah dan bank), yang di dukung oleh keanekaragaman produk dan skema keuangan yang lebih variatif, dan dilakukan secara transparan agar adil bagi kedua belah pihak.

Perjalanan Dari Konvensional ke Syariah

Namaku Siko, lengkapnya Siko Tjikoa, usia 27 tahun, aku tak pernah menulis cerita, sekedar untuk berbagi maka aku ceritakan sebisaku, sebelumnya mohon maaf jika mungkin banyak hal yang tidak sesuai dengan anda para pembaca.

"Connecting People", Strategi Jemput Bola Bank Syariah Pertemukan Kawan Lama

Tak disangka, Islamic Book Fair (IBF) ke-9 yang baru usai 14 Maret lalu menyimpan kenangan bagi saya. Setidaknya, atas izin Allah swt, saya bertemu beberapa kawan saya yang telah terpisah selama tujuh tahun. Dan kami bertemu di stand bank syariah di pameran buku tersebut.

Bank Syariah Bukopin Cetak Laba Rp 831 Juta

Bank Syariah Bukopin (BSB) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp831 juta, artinya total laba tersebut naik sebesar 110,77 persen dari tahun lalu yang rugi sebesar Rp7,71 milyar. Hal ini terungkap saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BSB Selasa (12/3) lalu.

Dengan Perbankan Syariah Transaksi Bisnis Dijamin Halal

Dengan adanya perbankkan syariah pertumbuhan ekonomi akan semakin terjamin dari kehalalnya. Karena produk-produk yang di tawarkan oleh perbankan syariah adalah sebuah produk yang mana berlandaskan dengan hukum-hukum syariah yang telah Allah berikan dan diolah sedemikian mungkin sehingga masyarakat luas menjadi tahu.

 
 
 
 
 
Education Corner

Cara Mengajarkan Sex Edu Kepada Balita

Salah satu contoh dari pertanyaan yang mereka ajukan adalah saat mereka bertanya tentang - bra/bh, mereka bertanya apa fungsinya dan mengapa mereka tidak dipakaikan juga

 
 
 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Banyak DBD, Aksi Fogging di Bojonegoro

Tiga warga Desa Sukorejo, Bojonegoro, terjangkit Demam Berdarah. Tak menunggu lama, tim ACT yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia langsung terjun ke lokasi melakukan fogging.

 
 
 
 
Oase Iman
menggugah dan menyegarkan iman
 
 

PELUANG

 
 
 
Eramuslim Digest Video Mobile Webmail Index Search
Registrasi Login