Ya Allah, Ampuni Kami
Oleh Muhammad Rizqon
Pelanggaran kemanusiaan terbesar terjadi di penghujung tahun 2008, dilakukan oleh Israel terhadap warga Gaza, Palestina. Perlakuan keji Israel ini mengentakkan mata dunia. Namun walau dunia mengutuk keras, aksi demonstrasi dan protes berlangsung dimana-mana, Israel atas dukungan Amerika tetap terus melakukan gempuran kepada negeri yang telah berbulan-bulan mengalami isolasi, baik pangan, sandang, dan kebutuhan pokok lainnya. PBB gagal membuat resolusi yang mengutuk tindakan biadab Israel itu. Luar Biasa. Israel begitu digjaya tanpa dapat ditandingi oleh siapapun. Ia bisa berbuat apa saja yang ia mau, dengan dalih yang dipaksakan untuk membenarkan tindakannya.
Yang memilukan, ternyata serangan Israel tersebut mendapat dukungan dari saudara-saudara “muslim” di negara-negara arab dan dari pihak Palestina sendiri. Sudah diserang, dibombardir, Hamas dan penduduk Gaza masih disalahkan oleh “saudara-saudara”nya pula. Penderitaan begitu bertumpuk-tumpuk menimpa saudara kita di Gaza. Tercatat hingga hari kesebelas penyerangan, sekitar 600 warga Gaza syahid dan lebih dari 2.200 mengalami luka-luka. Masya Allah.
Motif, opini dan reaksi atas penyerangan Israel banyak terungkap di media massa, baik yang on-line maupun yang off-line. Israel boleh saja mengklaim keberhasilan atas makar yang digulirkannya. Namun bagi seorang mukmin, sesungguhnya Allah SWT lah yang paling baik tipu daya-Nya. “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (3:54). Maka cepat atau lambat, Israel akan menuai balasan atas kebiadabannya itu.
Allah SWT membentangkan semua kejadian di muka bumi ini, termasuk tindakan biadab yang dilancarkan Israel terhadap penduduk Gaza, untuk diambil pelajaran bagi orang-orang yang berfikir. Selain berusaha mengambil hikmah positif, agar kita tidak putus asa dari rahmat Allah SWT, kita harus mengambil hikmah negatif agar kita makin menyadari kesalahan-kesalahan kita bahwa boleh jadi selama ini, kita belum maksimal membela saudara kita di Palestina.
Beberapa pelajaran positif yang bisa kita petik, Pertama, Allah SWT hendak menunjukkan betapa wajah asli Yahudi Israel dan Amerika adalah wajah yang mengerikan. Wajah palsu yang selalu ditutup-tutupi dengan kemanisan atas nama penjaga ketertiban dunia, pemersatu dunia dalam satu perdamaian, pelindung dunia dari ancaman teroris, penegak HAM, pejuang demokrasi, dan lain-lain, --lambat laun akan terungkap semakin jelas dan semakin jelas. Dan kesadaran demikian akan semakin meluas dan menyebar ke berbagai penjuru dunia, hingga cap teroris, radikal, rasial, pelanggar HAM, pembangkang, standar ganda, intoleran, anti-demokrasi dan segala macam stereotipe buruk ternyata adalah attribut-attribut yang lebih cocok disematkan kepada mereka. Inilah sebenarnya awal dari kehancuran mereka.
Kedua, Allah SWT hendak memuliakan warga Gaza dengan syahid. Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya yang teruji dengan berbagai kesulitan akibat dari sebuah kedzoliman. Mewafatkan mereka dan menempatkan mereka ke dalam surga-Nya adalah bentuk pemuliaan Allah SWT yang tidak diberikan kepada hamba-hamba di negara lainnya.
Ketiga, peristiwa pembantaian di Gaza adalah ujian iman bagi ummat Islam di seluruh dunia. Parameter keimanan tercermin atas respon yang ditunjukkan atas penderitaan yang dialami oleh mereka. Apakah kita sedih, terpukul, empati, turut merasakan penderitaan mereka, tergerak untuk membela, menginfaqkan sebagian harta yang dipunya, atau menyelipkan sebaris doa ataukah tidak, adalah indikator dari keimanan yang ada pada diri kita. Peristiwa pembantaian ini, sedikit banyak membangkitkan ghirah dan semangat keimanan di hati kaum muslimin.
Atas peristiwa ini kita juga perlu merenung, apakah bentuk pembelaan yang selama ini digelar sudah maksimal atau belum. Boleh jadi, setiap kali terjadi aksi pembantaian terhadap saudara-saudara di Palestina dan setiap kali kita memanjatkan doa agar Allah SWT menolong mereka dalam setiap aksi solidaritas yang kita lakukan, air mata kita tertumpah tak kuasa menahan berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam dada. Ada perasaan sedih dan tak berdaya, perasaan kecewa terhadap perilaku saudara muslim yang tidak mau membantu meski memiliki kemampuan, dan perasaan penuh harap hanya kepada Allah SWT pertolongan kita gantungkan. Namun, betapa banyak dari kita yang kemudian lupa sehingga terjadi aksi penyerangan itu lagi. Padahal pembantaian ini sudah berlangsung bertahun-tahun, dan gerakan intifadhah kini memasuki tahap yang ketiga.
Allah SWT maha mendengar doa dan permintaan hamba-hamba-Nya, terlebih hamba-hamba yang teraniaya, dan doa kita selaku saudara yang berada di kejauhan. Namun jika doa yang kita panjatkan hanya sekali saja untuk mereka, infaq yang kita keluarkan juga sekali saja untuk mereka, maka boleh jadi doa dan permintaan itu belum cukup menjadi wasilah datangnya pertolongan Allah untuk membendung kedholiman yang luar biasa dari Yahudi laknatullah.
Padahal jika kita mengingat, mereka melakukan makar setiap saat. Mereka melakukan penyerangan setiap saat. Oleh karenanya, saudara kita membutuhkan doa kita setiap saat, infaq kita setiap saat, secara rutin, kontinyu, dan tidak bersifat sporadis atau musiman saja.
Terdapat suatu pesan, hendaknya kita merutinkan bentuk-bentuk dukungan kita kepada saudara kita di Palestina. Hendaknya kita menunjukkan komitmen yang jelas, baik berupa infaq dana, doa, atau memboikot produk-produk Yahudi dan sekutu-sekutunya semaksimal mungkin yang kita bisa.
Tatkala suatu ketika kita tidak mendengar berita apapun tentang mereka karena boleh jadi kondisi yang terjadi adalah lebih baik (colling down), yakinlah bahwa mereka tetap berjuang setiap saat sebagaimana Yahudi melakukan makar setiap saat juga. Sepanjang Israel belum hengkang dari bumi Palestina, mereka terus berjuang, berjuang, dan berjuang. Mereka butuh bantuan dari saudara-saudara muslim di seluruh dunia. Berapapun nilai infaq yang terkumpul dan betapa pun singkat doa yang terpanjat, dan meski hanya beberapa produk dari produk Yahudi/sekutunya yang bisa kita boikot, asal hal itu menjadi komitmen harian seorang muslim di seluruh dunia guna membebaskan saudaranya dari kedzaliman Yahudi Israel, maka Insya Allah, Allah SWT akan menunjukkan kekuasaannya dan membuktikan kemenangan bagi orang-orang beriman.
Tidak pernah ada doa yang sia-sia dari kita dan tidak pernah rugi orang yang memanjatkan doa. Kebaikan selalu menyertai mereka para mujahidin Palestina. Jika bukan karena kemenangan dunia, mereka mendapat kemenangan akhirat dengan mati syahid. Dan pembantaian itu tinggal menyisakan sebuah pelajaran bagi kita. Bahwa boleh jadi selama ini, hati kita tidak sepenuhnya memikirkan, terikat jiwa, dan komitmen kepada perjuangan mereka.
Ampuni kami ya Allah. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus. Kuatkan jalinan hati kami terhadap saudara-saudara kami di Palestina dan saudara-saudara kami di penjuru bumi-Mu. Berikan pertolongan-Mu kepada saudara kami yang didzolimi, khususnya kepada mereka di Gaza saat ini. Amin.
Wallahua’lam bishshawaab
[email protected]
Lainnya (Arsip)
- Gaza di Tahun Baru
Astutiati Nurhasanah — Selasa, 06/01/2009 13:48 WIB - Akibat Negatif Chating
M. Arif As-Salman — Selasa, 06/01/2009 07:53 WIB - Hijrah Kedua sang Musashi
Ani Bowolaksono — Senin, 05/01/2009 13:05 WIB - Ujian-Ujian itu: Untukmu Palestina
Febty Febriani — Senin, 05/01/2009 07:54 WIB - Tahun Baru Diatas Tangis Palestina
Haryandi — Sabtu, 03/01/2009 09:54 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




