Yang Pas Pas Aja Deh

Sabtu, 14/04/2007 16:09 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Oleh Bayu Gawtama

Saya masih ingat betul, pengalaman sepuluh tahun lalu ketika masih menjadi pemandu untuk para pendaki gunung pemula. Anak-anak SMP dan SMA, laki-laki dan perempuan, dari sekolah-sekolah tertentu, sering meminta tenaga kami untuk memandu perjalanan pertama mereka ke gunung tertentu juga. Tidak hanya gunung, kadang kami juga harus memenuhi permintaan pemandu untuk ke gua atau tracking ke kawasan Baduy.

Suatu hari, sekelompok anak sekolah dari Tangerang sudah berkumpul di wilayah Cibodas, Jawa Barat, untuk melakukan pendakian ke Gunung Gede-Pangrango. Seperti biasa, setiap anggota harus mengecek perlengkapan dan perbekalan yang ada. Segala yang tidak penting dan memberatkan harus disortir dan diminimalisir. Ada-ada saja anak-anak sekolah itu. Ada yang sengaja membawa selimut, radio tape, alat musik, dan bahkan obat nyamuk! Semua itu harus disingkirkan, selain memberatkan tentu saja tidak perlu dan alat musik dilarang.

Rupanya, hampir semua anak -lebih tepatnya orangtuanya- takut kelaparan di gunung. Jadi, hampir setiap anak membawa serta satu tas daypack khusus berisi makanan ringan dan berat. Makanan-makanan ini, mungkin tidak memberatkan. Hanya saja jumlahnya yang overload sehingga dikhawatirkan akan membuat mereka kerepotan sendiri. Kami hanya mengingatkan agar mereka membawa turun kembali semua sampah yang dibawa dari bawah.

Nah, yang menarik adalah pakaian mereka. Beberapa anak lelaki menggunakan baju gamis (pakaian pria muslim). "Saya kan muslim, ini pakaian yang menunjukkan identitas kemusliman saya, " alasan mereka mengenakannya.

Ya iyalah...

Inilah yang lebih ingin saya ceritakan. Seperti cerita di atas soal pakaian, saya kenal seorang satpam yang baru saja pulang dari tanah suci. Semenjak menyandang titel "haji", satpam itu senang mengenakan peci putih. Sebenarnya wajar dan sah saja seseorang mengenakan peci putih, apalagi buat orang yang merasa sudah menyandang predikat haji. Hanya saja menjadi tidak pas jika ia mengenakannya juga pada saat bertugas di kantornya.

Suatu hari, pimpinan di kantornya bekerja memanggil satpam haji itu. "Kenapa bapak pakai peci putih saat bertugas?"

"Seperti bapak ketahui, saya kan baru pulang haji, " jawabnya.

Kemudian pimpinan tersebut mendekati si satpam dan berkata, "Saya juga sudah pernah ke tanah suci dan bahkan beberapa kali. Tapi saya tidak harus mengenakannya ketika sedang bekerja atau menghadapi klien. Saya hanya mengenakannya pada saat-saat yang memang tepat waktu dan tempatnya, " terang si pimpinan.

Ya. Sama dengan kasus anak SMA yang memakai baju gamis di gunung. Jelas tidak salah jika ia tetap mengenakannya, pun tidak ada larangan akan hal itu. Tetapi untuk naik gunung ada pakaian yang lebih pas dan lebih fleksibel, seperti T-Shirt atau casual. Pertanyaannya, kalau yang naik gunung itu Kyai atau Santri sebuah pesantren, apakah mereka tetap harus mengenakan kain sarung?

Peci putih milik pak Satpam, tentu saja tetap boleh dikenakan. Mungkin dan waktunya saja yang perlu diatur. Saat sedang bertugas, topi seragam satpam -mirip topi polisi- itu lah yang lebih pas dipakai.

Terlebih, identitas kemusliman seseorang bukanlah tempelan. Bukan sekadar simbol-simbol yang diwakilkan oleh baju gamis, peci haji, atau stiker bertuliskan "I'm Muslim." Siapa pun akan mengenali Anda seorang muslim dari tutur kata, sikap dan kepribadian sehari-hari, meski pun Anda tak sedang memakai baju gamis atau peci putih. Insya Allah. (Gaw)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Oase Iman

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang