Cinta Maya: Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
Oleh Zahwa az-Zahra
Kamu bilang, "ini cinta". Ah, sepertinya kamu terlalu cepat menyimpulkan, saudariku. Hanya karena kamu kagum pada kepribadiannya: pintar, shalih, bijaksana, memikatmu dengan tulisan-tulisannya, lalu dengan mudah kamu mengatakan bahwa kamu sedang dimabuk asmara. Ya, sepertinya kamu memang benar-benar mabuk. Dan itu tidak baik sebenarnya untuk tubuhnya, terlebih hatimu.
Tidakkah kamu sadar bahwa pengetahuanmu tentangnya hanya secuil? Dia orang asing yang bahkan belum pernah kamu temui. Bagaimana bisa kamu menghadirkan cinta pada si maya? *meski kamu selalu meyakinkanku, "sosoknya ada, meski aku belum pernah menemuinya"* Hmm.. Atau mungkin kamu terjebak pepatah Jawa: witing tresno jalaran soko kulino? Yasudahlah. Aku pun tak berhak menyalahkan fitrahmu. Hanya, jangan kau pupuk cintamu itu. Karena, belum saatnya taman hatimu bersemi oleh cinta semu.
...
Tak lama setelah itu kamu berkata, "cintaku pudar". Ah, aku sudah menduganya. Cinta yang kamu bangun di luar ikatan pernikahan memang tak akan memberi jaminan kesejatian. Sepertinya aku pun mulai sepakat dengan pepatah jawa itu: witing tresno jalaran soko kulino. Ada cinta karena terbiasa. Pudarnya cintamu pasti karena intensitas yang tak lagi terjalin.
Jika kamu ingin memetik buah hikmah, ambillah dari pohon kehidupanmu. Sesungguhnya, kejadian ini bisa memberikan banyak pelajaran. Jangan lagi kamu terjebak oleh cinta semu. Kurangi intensitasmu dengan lawan jenismu. Meski mungkin hatimu sudah kuat menahan serangan virus merah jambu, kamu tetap tidak dapat menjamin jika dia terkotori oleh penyakit hati.
"terima kasih" katamu, menutup perbincangan kita. Seharusnya kamu tak perlu berterima kasih. Sudah menjadi hakmu untuk mendapatkan nasihat dari saudarimu. Dan seandainya kamu tahu bahwa bukan hanya kamu yang mengalaminya. Saudariku yang lain pun bercerita hal yang serupa. Jatuh cinta dengan teman dunia maya. Bahkan pernah ku dengar kisah nyata seorang pria beristri yang menyatakan cintanya pada seorang gadis yang dikenalnya melalui dunia maya. Astaghfirullah. Kok bisa yaa? Aku sungguh tak menyangka saat mendengarnya.
Kenyamanan yang dibangun selama interaksi, ditambah intensitas yang berlebih, mungkin dua faktor itu yang menumbuhkan benih cinta. Ah, cukuplah. Cukup kejadian ini menjadi pengingat, untukku dan yang lain agar kita senantiasa menjaga hati-hati kita untuk tidak mudah jatuh cinta. Sudah saatnya kita membangun cinta, menebarkan kasih sayang kepada sesama. Bukan atas nafsu belaka, tapi lebih karena kecintaan yang mendalam kepada Sang Pemilik Cinta, Allahu Rabbuna..
Lainnya (Arsip)
- Renungan Sepuluh Tahun
Meti Herawati — Jumat, 19/03/2010 07:42 WIB - Almost 40 (years Old)
LIzsa Anggraeny — Kamis, 18/03/2010 13:56 WIB - Membangun Kesadaran Berpolitik
Rizaldp — Kamis, 18/03/2010 10:21 WIB - Jamaah dan Kader Dakwah
Sholeh Ibnu Munawwir — Rabu, 17/03/2010 16:46 WIB - Ironi di Sebuah Negeri
Muhammad Rizqon — Rabu, 17/03/2010 13:48 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




