Sejuta Kepala Dengan Sejuta Permasalahan

Siapa yang tidak pernah mendapatkan masalah? Rasanya aneh jika setiap orang tidak pernah memiliki masalah. Masalah tetap akan menghampiri kita meski kita berusaha dengan keras untuk menjauhi masalah. Bahkan, jika kita masih berpikir bahwa kita tidak memiliki masalah, kita telah menjadi orang yang bermasalah. Bermasalah karena merasa bahwa kita tidak memiliki masalah.

Setiap orang pasti memiliki masalah. Jika ada satu juta orang, maka terdapat minimal satu juta permasalahan untuk masing-masing orang. Mungkin akan ada permasalahan yang sama yang dialami oleh dua orang yang berbeda. Akan tetapi, pastinya akan ada permasalahan lain yang membedakan keduanya. Ada yang mendapatkan permasalahan kecil, tetapi ada juga permasalahan yang membuat seeorang susah untuk tidur.

Saya sendiri lebih senang memakai kata ujian untuk menggambarkan permasalahan yang sedang kita hadapi. Sepertinya kata itu lebih tepat. Ujian memang akan dihadirkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya. Semuanya telah tercatat dengan baik di Lauh Mahfudzh, bahkan sebelum kita terlahir ke dunia.

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudzh) sebelum Kami Mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid [57] : 22)

Ujian dapat dikatakan sebagai sebuah parameter ketakwaan seorang hamba kepada Rabb-nya. Allah SWT menguji kita dengan banyak hal, seperti kemiskinan, kelaparan, kesusahan, kegelisahan, ketakutan, melalui teman kita, keluarga kita, dan harta benda kita. Bahkan, kebahagiaan pun dapat menjadi sebuah ujian bagi kita. Terlalu bahagia terkadang membuat kita kurang bersyukur. Kita baru mengingat Allah SWT ketika kesulitan menghampiri. Dan ujian hadir untuk menunjukkan sedekat apa kita dengan Sang Pencipta.

Roda kehidupan akan terus berputar. Kadang, kita merasa berada pada kondisi yang sangat nyaman. Namun, tak jarang kita merasa berada pada suatu masa yang benar-benar sulit. Kita akan sering diuji di titik-titik terlemah kita. Ada yang titik terlemahnya berupa rasa cinta kepada lawan jenisnya hingga melebihi rasa cintanya kepada Allah SWT. Ada pula yang selalu dihadirkan ujian berupa hati yang lalai untuk menjalankan amanah yang diberikan kepadanya. Dan sekali lagi, ketakwaan kita diuji melalui sebuah mekanisme bernama ujian.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum Mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah [9] : 16)

Alangkah arifnya jika kita bisa mengambil pelajaran dari setiap ujian yang Allah berikan. Kita pun tak menjadi takut jika ujian datang menghampiri kita. Hal tersebut disebabkan karena kita yakin bahwa ujian tersebut datang dari Allah SWT dan akan menaikkan derajat ketakwaan kita jika kita dapat mengatasinya. Allah SWT menjadi sebaik-baik tempat kembali. pasrahkan segala usaha yang telah kita lakukan kepadaNya.

Dan yakin bahwa “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka, apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhan-mulah engkau berharap.” (QS. al-Insyirah [94] : 6-8)

***
Lenteng Agung,
2 Januari 2010 pk. 02.05 wib
Untuk saudari-saudariku dengan permasalahannya masing-masing
Semoga kalian bersabar dengan ujian dari-Nya. Aamiin.