Surat Terbuka Untuk Anies Baswedan: Pak, Tolong Cabut STRP Untuk Naik Trans-Jakarta
Eramuslim.com - Pak Anies, semoga Bapak dan keluarga selalu berada dalam perlindungan dan kasih sayang-Nya, selalu sehat, aamiin...
Pak, sekarang bus-bus Trans Jakarta hilir mudik di jalanan ibukota nyaris kosong. Sayang kan bahan bakarnya tetap terpakai. Penyebabnya tiada lain dan tiada bukan adalah diwajibkannya Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) bagi siapa pun yang mau naik TiJe ini. Padahal mengurus STRP ini belibet pak, saya dan banyak orang sudah mengalaminya.
Gegara harus ada STRP inilah, banyak orang yang seharusnya bisa berhemat pengeluarannya ke tempat kerja, sekarang harus turun naik angkot atau Ojol untuk bisa mencari nafkah. Ongkosnya berlipat-lipat pak, sangat memberatkan. Padahal kita semua tahu, rakyat lagi susah-susahnya. Dalam bahasa sosiologi, rakyat kita sekarang bagaikan jerami kering pak, yang kalo dipercik api sedikit saja maka akan terbakar dengan hebat. Ngeri, pak.
Saya paham jika pemberlakuan STRP ini adalah bagian dari upaya pembatasan mobilitas warga DKI selama masa PPKM Darurat. Tapi terus terang saja, ini absurd pak. Kami bukannya tidak patuh berada di rumah saja untuk menekan meroketnya Covid-19, tapi kami terpaksa berjibaku keluar rumah agar anak-isteri bisa tetap makan. Kami bukan orang yang mendapat gaji tiap bulan pak. Kami terpaksa keluar rumah di saat gawat seperti ini agar bisa tetap hidup, tentunya dengan tetap memakai masker double, menjaga kebersihan, dan jaga jarak.
Kami juga takut Covid, tapi lebih takut lagi jika anak isteri kelaparan, pak. Agama kami mewajibkan kami sebagai kepala keluarga untuk mencari nafkah demi kehidupan anak isterinya. Mati dalam ikhtiar mencari nafkah adalah syahid, pak.
Kalau pemerintah mau kami di rumah saja, kami sangat senang pak karena bisa aman, asalkan kebutuhan harian kami juga dijamin. Bukan hanya makan setiap hari, tapi juga uang sewa rumah. Kami banyak yang lahir dan besar di Jakarta tapi belum sanggup punya rumah sendiri. Beginilah nasib kami, pak.
Kami juga tahu jika pemerintah sekarang ini kepayahan, walau selalu ngutang dan ngutang. Entah uangnya lari kemana. Sebab itu, kami maklum, walau memaki dalam hati, jika pemerintah selalu menghindari penggunaan istilah ‘lockdown’, karena jika lockdown maka demi tegaknya hukum maka pemerintah WAJIB menjamin kehidupan harian rakyatnya. Ini yang ingin dihindari, bukan?
Sebab itu, tolong pak, cabut kewajiban STRP untuk naik Trans Jakarta (dan KRL). Karena dua wahana transportasi massal itu adalah andalan kami untuk berhemat. Dalam situasi PPKM Darurat ini kami terpaksa harus keluar rumah pak, karena kami bukan karyawan yang terima gaji tiap bulan. Ada banyak sekali cerita menyesakkan dan menyedihkan dalam hal ini, tapi biarlah itu kami simpan dahulu sebagai energi jika momentum sudah tepat.
Permintaan kami itu saja, pak. Coba lihat komentar-komentar para pengguna Bus TiJe di media sosial pak. Mereka berteriak-teriak di sana tapi admin entah kemana.
Tolong ya pak, please, dicabut kewajiban STRP untuk naik Trans Jakarta itu. Kalau pun mau dibatasi, ada banyak cara pak yang tidak menyusahkan rakyat kecil. Salah satunya dengan adanya batas maksimum penumpang tiap bus yang diperketat, ini bisa dilakukan di tiap halte bus. Ini cukup kok. Sebelum pemberlakuan kewajiban SRTP ini sebenarnya kebijakan di Trans Jakarta sudah baik.
Demikian dulu surat saya pak, saya lahir dan besar di Jakarta, sampai usia limapuluh tahun ini tetap di Jakarta. Tapi saya tidak menerima bansos maupun BLT. Tidak terdaftar, katanya. Padahal saya bukan warga gelap. Ya tidak apa-apa. Karena saya tahu yang membutuhkan masih jauh lebih banyak.
Itu saja permintaan saya dan banyak warga DKI, pak. Besar harapan kami agar Bapak Anies bisa mengabulkan permintaan ini. Semoga kita semua senantiasa dipermudah Allah Swt dalam setiap urusannya dan senantiasa diberi kesehatan serta kekuatan. Aamiin ya Rabb al aamiin. Terima kasih sebelumnya, pak. []
Penulis: Rizki Ridyasmara, Wartawan dan Penulis, Penyintas Covid-19.