Mind Control Alat Perampas Kemerdekaan Manusia (2)

Apa Akibatnya Jika Teknik Ini Digunakan Secara Luas?

Sebenarnya tidak ada data apakah saat ini teknik-teknik mind control tersebut belum digunakan secara luas. Sangat boleh jadi sudah. Namun mungkin bisa lebih parah lagi jika kita tidak berusaha menghentikannya.

Sebagaimana disebutkan di atas, mind control dengan subliminal message yang saat ini sebagai primadonanya, telah digunakan oleh beberapa pihak.

  1. Pihak “otoritas” atau pemerintah resmi, dan berarti penggunaanya di jalur politik.
  2. Media massa
  3. Para produsen hiburan
  4. Para pembuat iklan untuk keperluan komersial.
  5. Pribadi-pribadi maupun perusahaan maupun lembaga yang membeli dari produsen konten subliminal.
  6. Intelijen
  7. Siapa lagi?

Pada hakekatnya, sebagaimana semut tertarik pada bau manisnya gula, maka siapapun yang mungkin merasa akan mendapat keuntungan dengan penggunaan teknik-teknik ini, pasti akan berbondong-bondong menggunakannya. Di tengah dunia penghamba materialisme saat ini, semua ukurannya adalah keuntungan materi. Meskipun ada juga pihak yang menginginkan teknik ini untuk pencapaian tujuan mereka yang bersifat non-material, misalnya para penganjur gerakan budaya rusak penghamba setan.

Apa Akibat Yang Mungkin Timbul?

Coba kita lihat dari yang paling ringan, yaitu digunakan secara luas oleh pribadi-pribadi yang memang membeli konten-konten tersebut untuk kebutuhan pribadinya. Misalnya untuk merubah kebiasaan malas menjadi rajin, membuat seseorang yang tak bisa berdagang menjadi mampu berdagang dengan sukses dsb. Menurut hemat kami perubahan diri yang disebabkan oleh sugesti subliminal message bukanlah sebuah perubahan yang benar-benar baik. Pasti cepat atau lambat akan ketahuan apa kelemahan cara ini dalam mengatasi kelemahan-kelemahan seseorang. Yang pasti, karena si orang yang bersangkutan ‘tidak menyadari’ proses perubahan dirinya dari malas menjadi rajin, maka pada hakekatnya ia tak dapat membagi pengalaman tersebut pada orang lain. Juga karena proses ini berjalan instan/segera di alam luar kesadaran, maka jika orang tersebut kembali terkena penyakit malas maka ia tak bisa mengembalikan dirinya kembali menjadi rajin kecuali dengan kembali menggunakan sugesti subliminal message ini. Ya tentu saja, sebab ia tidak dapat mengingat proses perubahan dirinya dari malas menjadi rajin maka ia tak dapat mengulangi proses tersebut dalam kesadaran penuh, alias: ia tergantung pada konten-konten tersebut ketika penyakit lamanya kembali menyerang.

Bukankah itu berarti pada hakekatnya ia belum sembuh atau belum benar-benar menjadi baik?

Bagaimana Jika Digunakan Oleh Media Massa Baik Elektronik Maupun Cetak?

Kita akan melihat orang-orang yang amat mudah dibentuk opininya oleh media. Dan sesungguhnya ini sudah terjadi!

Coba kita lihat betapa cepatnya satu opini menjai opini publik padahal kebenaran belum dibuktikan. Misal dalam ‘buruknya’ Gayus. Memang dia banyak salah, namun apakah masyarakat tidak berpikir bahwa seorang Gayus tak akan menjadi seorang Gayus jika para penerima suap tidak ada! Lantas mengapa hanya Gayus yang harus buruk sendiri? Mengapa segala berita tindak lanjut tentang oknum-oknim yang terlibat dapat di “lupakan” dari agenda pemberitaan?

Bagi media massa, rumusnya sederhana saja: Bad news is good news! Berita buruk adalah “berita baik” bagi media. Artinya: berita buruk adalah berita yang paling menguntungkan bagi media sebab masyarakat pasti ingin tahu soal itu. Maka jika kini Gayus sudah bukan selebriti berita lagi adalah karena sudah ada Nazarudin yang kabur ke Singapura, sebelumnya ada Malinda Dee soal kartu kredit dan sebelumnya dan sebelumnya.

Semua berakhir demikian saja, tak ada pendidikan sosial yang baik bagi masyarakat. Sebab setiap pelaku kejahatan ramai dibicarakan saat kasusnya heboh pertama kali, lengkap dengan detil-detil yang seringkali masih dugaan-dugaan.

Dalam Islam, penyebar luasan perbuatan keji adalah dilarang, meskipun terbukti, namun hukuman atas pelaku harus disiarkan secara terbuka. Silahkan anda simak kasus penyebar-luasan gossip atas Aisyah ra. yang terkenal dengan kasus “hadits ifqy”.

Kini yang ada malah sebaliknya, perbuatan jahat disebar luaskan hingga detil-detilnya (termasuk rekonstruksi kejahatan kriminal) sedangkan pelaksanaan hukumannya tak lagi menjadi berita. Alasannya sederhana: gak seru, ‘gak menjual’!

Kami memandang sisi subliminal message yang lebih berbahaya pada media justru ketika mereka menampilkan para presenter wanita dengan baju-baju seksi. Dan ini dapat anda lihat sudah merupakan trend internasional. Jadi sebenarnya para pembaca berita tersebut diam-diam sedang menyiarkan ‘pesan-pesan’ yang lain kepada pemirsanya, terutama kaum pria! Sebenarnya apa maksud media menampilkan presenter seksi? Bukankah tak ada hubungannya dengan berita? Ya, pertanyaan yang sangat perlu di angkat, sebab sebenarnya boleh jadi tingginya rating acara berita bukan karena beritanya selalu bermutu, namun karena media tersebut berhasil menjadikan syahwat seks (yang merupakan nafsu fitrah) sebagai daya tarik media-media tersebut yang diberikan lewat subliminal message! Anda dapat merujuk kepada tulisan “Wanita Pembawa Berita”.

Ketika digunakan sebagai senjata utama di bidang periklanan, maka masyarakat yang memang sudah menjadi materialis semakin gila materi. Sebab benda-benda di iklankan dengan ‘sihir modern’ secara diam-diam.

Dapatkah anda bayangkan bahwa kepala anda dipenuhi berbagai keinginan kuat yang tak dapat anda jelaskan darimana, misalnya ingin belanja ini dan itu tanpa berpikir kesanggupan membayar tagihan kreditnya?

Budaya konsumerisme saat ini, dimana banyak sekali jenis barang maupun penjualnya, dimana orang (khususnya Amerika sebagai negara contoh) sudah menghamba pada kartu kredit dan meskipun Amerika baru saja mengalami kebangkrutan gara-gara bubble economy, namun masih saja kita dapati banyak orang yang membeli barang-barang yang tidak ia butuhkan. Ya, Amerika baru saja mengalami gelombang kejut ekonomi akibat menggelembungnya tagihan kartu kredit masyarakat yang tak terbayarkan.

Timbulnya istilah shopaholic yaitu kegilaan belanja adalah salah satu bentuk sebab akibatnya. Karena isi kepala yang kosong iman, ada manusia-manusia yang terjebak dalam kegilaan terhadap materi sampai benar-benar dapat dikatagorikan kelainan jiwa.

Jika anda pernah menonton serial “Hoarders” (Biography channel), maka mungkin anda akan segera mengerti maksud saya akan betapa mengerikan akibatnya bagi orang-orang yang sangat terpengaruh dengan budaya konsumerisme sampai-sampai menjadi penimbun (hoarder=penimbun) yang kehilangan akal sehat. Dalam gambar berikut ada cuplikan berita dari Amerika tentang keadaan orang-orang yang seperti itu.

Kerakusan manusia, kerusakan mental karena nafsu memiliki benda dan menimbunnya dan bangkrutnya masyarakat dengan timbunan hutang dan sampah. Itulah gambaran yang akan kita dapati dari masyarakat korban konsumerisme.

Pemenangnya Hanyalah Masyarakat Yahudi Minoritas Yang Menguasai Perbankan dan Perkreditan Ribawi.

Periklanan lagi-lagi juga menggunakan dorongan nafsu seks sebagai ujung tombaknya. Coba anda perhatikan berapa banyak iklan yang menggunakan wanita seksi sebagi bintangnya padahal barang yang diiklankan sama sekali bukan minat wanita? Iklan oli mesin, aki mobil, iklan deodoran pria dan sebagainya. Mudah saja alasannya, yaitu karena sasaran iklan adalah kaum pria.

Dari obrolan di blog-blog yang membicarakan subliminal message di film-film Disney, ada yang berpendapat bahwa penggunaan subliminal message berupa pornografi dan pornoaksi untuk orang dewasa adalah agar para orangtua ‘betah’ ikut nonton bersama anak-anak mereka sehingga semakin mengakrabkan hubungan orangtua dan anak! Anda percara dengan ‘niat baik’ seperti ini? Jelas saya tidak percaya. Sebab, penggunaan subliminal message berupa pornografi dan pornoaksi untuk orang dewasa di film-film tersebut sebenarnya menyasar/mentargetkan agar para bapak bersedia membeli film-film tersebut untuk anaknya, juga sebenarnya ada tujuan-tujuan lebih jauh lagi yaitu merusakkan mental generasi muda. Ini merupakan agenda tersembunyi dari golongan penghamba setan.

Selain akan meledaknya kegilaan belanja dan meledaknya balon ekonomi kartu kredit, maka di bidang politik, masyarakat pemilih jelas-jelas akan memilih pemimpin yang jauh dari kebaikan. Pemimpin baik mana yang dalam rangka memenangkan dirinya justru menggunakan kebohongan, penipuan dan pengendalian pikiran? Dapat kita pastikan bahwa pemenang pemilu hanyalah mereka yang punya uang paling banyak yang sanggup membayar para programer mind control yang paling trampil.

Setiap hari koran media elektronik dan cetak sibuk memberitakan para birokrat koruptor dari berbagai kalangan. Anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif, semua sudah kena. Ya, para ‘komandan barisan demokrasi’ ini sudah menjadi pemangsa rakyat yang katanya ‘berkuasa’ (demokrasi=demos-cratein=kekuasaan di tangan rakyat).

Rakyat hanyalah robot-robot yang dibohongi dengan janji-janji pemilu dan ditambah lagi dengan sihir-sihir modern dari teknologi mind controlling.

Jadi? Akankah ini bermanfaat untuk ummat manusia? Bagaimana rakyat (yang katanya berkuasa atas nama demokrasi itu) akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya? Sebaliknya, setiap politisi yang maju sebenarnya menghendaki rakyat –lah yang akan menjadi robot-robot penghamba dirinya dan akan memenuhi segala syahwat si politisi atau kelompoknya. Sebenarnya, si politisi sendiri awalnya adalah korban mind controllingyang telah membentuk dirinya menjadi gila kekuasaan dan gila materi.

Belum lagi akibat apa yang dapat kita bayangkan jika para pendukung budaya setan memanfatkan teknik-teknik ini untuk tujuan mereka menyesatkan ummat manusia?

Kelompok homesexual adalah kelompok yang sudah terdepan menggunakannya dengan bukti peluncuran serial anak-anak teletubbies! Lihat tulisan-tulisan kami sebelumnya “Tersebarnya Pornografi Adalah Tanda Kecil Kiamat”, “Jangan Biarkan Anak Anda Disihir”dan “AWAS! Dajjal Menyerang Rumah Anda!”. Hanya dalam hitungan kurang dari dua dekade peluncurannya (Maret 1997) kita dapati jumlah penganut gaya hidup kaum Luth ini meningkat drastis! Berbagai aturan yang mengesahkan/melegalkan perbuatan biadab mereka sudah dibuat. Dan masyarakat luas sudah sangat terbiasa dengan kehadiran mereka.

Dengan teknik ini, para penganjur kebatilan, kerusakan, pembangkangan, penyembah setan serasa mendapatkan senjata ampuh. Dan tentu saja semuanya adalah bagian dari Sistem Dajjal yang memang dipersembahkan dan dipersiapkan untuk menyambut sang oknum Dajjal. Lihat tulisan “Mewaspadai Kemunculan Fitnah Dajjal (1)” dan“Mewaspadai Kemunculan Fitnah Dajjal (2)”.

Bagi Para Penghamba Setan, Tujuannya Adalah Mengajak Sebanyak-banyaknya Manusia Untuk Mengikuti Jalan Sesat Mereka Menuju Neraka.

Sebagiamana janji iblis dalam Al Qur’an Surah Al-A’raf ayat 16-18:

016. Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, 017. kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at). 018. Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya".

Ketika penghamba setan semakin banyak, maka segala kerusakan moral dan tindakan biadab semakin tersebar. Tingkat kriminalitas pasti semakin tinggi dan masyarakat semakin kacau. Semoga tidak terjadi. Namun jika terjadi-pun maka kita tahu bahwa itu adalah takdir Allah atas dunia ini di mana puncak fitnah adalah oknum si mata satu Dajjal.

Bolehkah Kita, Para Da’i di Jalan Allah Memanfaatkannya?

Sejenak pertanyaan di atas menggelitik penulis saat mendiskusikan tulisan ini. Ke-efektif-annya yang luar biasa seolah begitu menggiurkan siapa saja untuk menarik manfaat bagi tujuannya sendiri. Menyadari bahwa kami para da’i di jalan Allah juga harus bersaing dengan kebatilan dalam mengedepankan kebenaran, setiap bantuan yang mungkin, akan terasa sangat disyukuri.

Benarkah?

Acuan da’i dalam berdakwah di Jalan Allah tetaplah syari’at Islam itu sendiri. Halal haram tidak berubah meskipun yang menggunakannya adalah demi mengajak manusia ke Jalan Allah.

Di atas penulis coba menjelaskan bahwa mekanisme teknis ini adalah memanipulasi alam bawah sadar manusia. Dengan teknik ini, manusia akan ‘dikendalikan’, ‘disuruh’ atau ‘dilarang’ tanpa kemauannya. Si obyek penderita tidak menggunakan akalnya. Karena justru teknik ini menghambat proses berpikir yang hakiki.

Dalam Islam, segala hal, atau zat yang dapat membahayakan akal, apakah dengan cara menghilangkan akal seseorang, atau membuatnya tidak sadar dalam melakukan sesuatu, atau memperbodohi-nya, maka itu di larang dalam Islam.

Contohnya adalah minuman keras atau khamr, kemudian hari para ulama sepakat mengharamkan rokok dan NAPZA seluruhnya, Insya Allah suatu saat akan keluar fatwa pengharaman semua teknik Mind Control ini.

Penggunaan teknik mind control yang manapun pada hakekatnya bertentangan secara diametral dengan maksud dakwah di Jalan Allah.

Dakwah Islam bertujuan untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesama manusia menjadi peghambaan manusia kepada Allah SWT semata.

Dakwah Islam dimaksudkan untuk membebaskan penghambaan antara sesama manusia menuju hanya kepada penghambaan ke pada Allah semata. Kalimat laa ilaaha illAllah sudah cukup menggambarkan bahwa segala bentuk peribadatan/penghambaan kepada selain Allah harus ditolak. Jadi jika ada sesuatu yang dapat membuat manusia tunduk, patuh, berserah diri, melaksanakan perintah siapapun selain Allah, maka itu batil! Kedudukannya dapat sampai ke derajat syirik sebab keadaannya seperti arbaaban min duuniLlah (tuhan selain Allah) sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 31 sebagai berikut:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Selain itu, Islam tidak menghendaki seseorang ‘dipaksa’ menjadi seorang muslim. Berdakwah dengan subliminal message sama dengan memaksa seseorang menerima keimanan tanpa sadar. Ini tidak mungkin, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 256, (tiada paksaan dalam Dien).

Keimanan harus diterima dengan kesadaran penuh, dipikirkan dengan akal dan diterima dengan hati. Bahkan Allah SWT berfirman: Fa’lam Annahu laa ilaaha illAllah ( Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Yang Haq melainkan Allah) (QS. Muhammad [47] : 19). Artinya perintah mengenal ke Esaan Allah sebagai Illah haruslah di-ilmu-i , dan ini artinya dengan kesadaran penuh.

Oleh karena itu, tak mungkinlah seorang da’i penyeru manusia ke Jalan Allah dapat dibenarkan menggunakan semua teknik pengendali pikiran ini, apakah untuk tujuan-tujuan lain apalagi untuk tujuan dakwah.

Wallahua’lam

Dapatkah Kita Menghindarinya?

Ini pertanyaan yang sangat penting dan perlu dibahas tersendiri. Insya Allah.