Sepenggal Kisah Jihad di Bumi Syam

Redaksi – Selasa, 30 Ramadhan 1434 H / 6 Agustus 2013 12:57 WIB

tentara islamSaat itu, bangsa Romawi secara tiba-tiba menyerang negeri Syam , Lalu berdirilah Ulama Abu Qudamah Asy-Syam berkhutbah di hadapan manusia. Dia memotivasi mereka untuk mengejar kehidupan akhirat serta mengajak meraka untuk bersikap zuhud terhadap dunia. Dia juga memberikan semangat kepada mereka untuk berkorban serta berjihad di jalan Allah.  Dia mengingatkan mereka sebagaimana firman Allah,

9:38

Apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu,” Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit (AS At Taubah-38)

Kemudian dia turun dari mimbar. Pada saat itu seorang wanita memanggilnya seraya berseru kepadanya,” Wahai Abu Qudamah.” Namun dia tidak menoleh,  wanita itu memanggilnya kembali untuk kedua kali, “Wahai Abu Qudamah,” dia belum juga menoleh. Seakan-akan dia takut akan terjadi fitnah pada dirinya.”Pada kali ketiga ia dipanggil,  dia tidak lagi memiliki alasan, diapun menanyakann apa keinginannya. Wanita itu berkata,” Aku mendengar engkau memotivasi orang-orang untuk berjihad di jalan Allah, sedangkan aku tidak memiliki sesuatu kecuali kedua anyaman ini. Oleh karena itu ambilah keduanya. Buatlah dengannya sebagai  tali kekang yang engkau pakai untuk mengendallikan kudamu dalam berjihad di jalan Allah.

Seketika itu menangislah Abu Qudamah atas apa yang dilakukan oleh wanita tersebut dan  perhatiannya terhadap ketaatan kepada Allah , lalu dia mengambil kedua anyaman tersebut. Namun sebelum dia bertolak , tiba-tiba seorang anak kecil memanggilnya . Dia memohon dengan menyebut nama Allah agar Abu Qudamah mau menaikkannya ke atas kudanya untuk memerangi bangsa Romawi . Akan tetapi Abu Qudamah menolaknya karena umurnya masih terbilang sangat muda. Karena ia memaksakan kehendaknya, maka Abu Qudamah mengabulkan permohonannya dengan syarat jika terbunuh di medan pertempuran, dia memberikan syafaat kepadanya dihadapan Allah. Anak itupun menyetujui syarat tersebut.

Tatkala bertemu dengan musuh, anak tersebut meminta tiga buah anak panah kepada Abu Qudamah, tetapi Abu Qudamah menolaknya, karena panah adalah senjata yang sangat mahal. Anak itu mungkin saja tidak dapat menggunakannya dengan baik. Lalu dia memohon kepadanya dengan menyebut nama Allah, maka Abu  Qudamah pun memberikan anak panah kepadanya dan mengulang syarat yang disebutkan sebelumnya. Anak itu pun setuju dan dia mengambil anak panah pertama seraya berkata,” Semoga keselamatan untukmu  wahai  Abu Qudamah, Bismillah. Maka dengan anak panah itu ia dapat membunuh seorang tentara Romawi.

Kemudian dia mengambil anak panah yang kedua dan dan berbuat sebagaimana yang dilakukannya dengan anak panah pertama. tersungkur pula satu tentara Romawi.  Terakhir ia mengambil anak panah ketiga . Pada kali ketiga ini anak panahnya tidak mengenai musuh dan justru ia terkena serangan panah tentara Romawi,  dia pun tersungkur ke bumi . Lalu bergegas  Abu  Qudamah menghampirinya  dan segera mengingatkan syarat yang telah dijanjikannya yaitu untuk memberinya syafaat di akherat kelak.

Sebelum meninggal anak itu memberikan sebuah kantong kepada Abu Qudamah dan berkata kepadanya,” Berikanlah ini kepada ibuku.” Abu Qudamah bertanya,” Siapakah Ibumu?” Dia menjawab,” Pemilik dua anyaman”

Mereka hendak menguburkan anak tersebut, tetapi aneh yang terjadi seakan-akan tanah menolaknya . Mereka akhirnya membiarkannya berada di atas permukaan tanah. Lalu datanglah burung memakan dagingnya dan meninggalkan tulang-tulangnya.

Setelah kejadian itu,  Abu Qudamah mendatangi rumah anak itu. Pada saat itu saudarinya keluar menemui Abu Qudamah dan bertanya kepadanya,” Apakah engkau datang dengan memberi kabar gembira atau memberi kabar belasungkawa?” Dia menjawab ,” Untuk menyampaikan kabar gembira.” Saudarinya berkata,” Alhamdulillah, sesungguhnya ayahku telah terbunuh dan kamipun menyangka bahwanya dia berada disisi Allah. Pada saat ini kami kehilangan saudara bungsu kami dan kami berharap bahwasanya dia berada di sisi Allah.

Kemudian keluar pula ibunya seraya bertanya kepada Abu Qudamah, apakah engkau datang untuk untuk menyampaikan berita gembira atau berita belasungkawa? Dia menjawab,” untuk mengucapkan berita gembira.” lalu dia memberikan kantong kepadanya . Kemudian ibunya mengeluarkan dari kantong itu seutas tali. Setelah itu Abu Qudamah menceritakan kepada Ibu tersebut akan peristiwa yang terjadi pada anaknya.

Kemudian ibunya tersebut menceritakan kepada Abu Qudamah, bahwasanya anaknya senantiasa melakukan Qiyamul Lail (shalat malam). Jika dia merasa letih, dia berpegang pada tali seraya memohon kepada Rabbnya agar dia dibangkitkan olehNya pada hari kiamat dari perut burung. Pada saat itu tahulah Abu Qudamah mengapa bumi tidak mau menerima anak itu ketika mereka ingin menguburnya.  Lalu turunlah burung-burung memakan dagingnya dan meninggalkan tulang-tulangnya. ..Allah telah mengijabah  permohonannya. Inilah merupakan keajaiban perlakuan Allah kepada kekasihnya. Dialah Allah Yang Maha suci yang tidak menyia-nyiakan para wali-Nya.

(Said Abdul Azhim)

Bercermin Pada Salaf Terbaru

blog comments powered by Disqus