Pelajaran dari Kisah Thalut

Mashadi – Kamis, 19 Sya'ban 1429 H / 21 Agustus 2008 16:54 WIB

Ada kisah menarik yang disajikan al-Quran seputar persiapan Thalut dalam menghadapi pasukan Jalut. Persiapan itu berupa ujian Allah yang akhirnya menyeleksi siapa yang bisa terus berjuang, dan siapa yang lemah.

Thalut berkata kepada pasukannya, "Sesungguhnya Allah menguji kalian dengan sungai. Siapa yang meminum airnya, maka ia bukan pengikutku. Kecuali mereka yang meminum dengan seciduk tangan." Itulah di antara isi dari surah al-Baqarah ayat 249.

Kenapa sungai? Buat ukuran masyarakat Timur Tengah yang bergurun pasir dan berudara sangat panas, sungai merupakan sesuatu yang sangat menggiurkan. Dia adalah sumber penghidupan yang kerap menjadi penyebab timbulnya peperangan antar suku, bahkan negara.

Sungaai bagi masyarakat Timur Tengah bisa dianggap sebagai bentuk keindahan duniawi yang begitu menggiurkan.

Perhatikan apa yang dikecualikan Thalut terhadap sungai itu. "Kecuali, meminum dengan seciduk tangan." Seciduk tangan adalah ukuran wajar yang dibutuhkan seorang mu’min yang aktivis, dan juga seorang manusia untuk bisa tetap bertahan hidup. Ukuran yang tidak akan menggiring orientasi perjuangan kearah tempat baru yang melenceng dari cita-cita sejati.

Mungkin, ada banyak angan-angan yang menerawang diangan-angan di benak pasukan Thalut: “Apa salahnya kalau kita nikmati kesejukan air sungai sebanyak-banyaknya, agar daya perlawanan bisa lebih kuat. Apa salahnya memanfaatkan air sungai, agar modal perjuangan bisa lebih mapan. Dan seterusnya”, diangan mereka.

Tapi, logika perjuangan memiliki logika yang lain. Siapa yang hatinya ‘tenggelam’ dengan keindahan sungai, orientasinya perjuangannya akan melenceng. Ketegasan dan kewajaran terhadap keindahan sungai juga bisa membentengi terhadap masuknya langkah-langkah setan.

Dan ini yang akhirnya terbukti. Mereka yang berpuas-puas dengan fasilitas sungai yang begitu menggoda dalam jalan perjuangan, keberaniannya menjadi susut, fisiknya melemah. Karena perutnya kekenyangan. Dan satu hal yang lebih penting:”Kedekatan dan ketawakalannya kepada Allah seolah menguap bersama menguapnya keikhlasan dalam berjuang”.

Ayat lain mengisyaratkan hal yang sama. Dalam surah At-Taubah ayat 34, Allah swt. berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah…."

Para mufasirin mengambil pelajaran. Seruan ‘hai orang-orang beriman’ dalam ayat di atas, menjadi pengingat bahwa perilaku dan karakter para tokoh agama Yahudi dan Nasrani dalam soal keuangan bisa tertular di kalangan tokoh dan aktivis Islam. Karena itu, berhati-hatilah terhadap godaan dan tarikan uang.

Hal inilah yang Allah ajarkan kepada para Nabi dan Rasul dalam menunaikan misi dakwah. Para Nabi dan Rasul mengatakan, "Aku sama sekali tidak meminta upah dari kalian. Upahku hanya kuharapkan dari Allah, pencipta dan pemilik alam raya ini."

Boleh jadi, ujian Allah untuk para aktivis Gerakan Islam saat ini, jauh lebih berat dari apa yang pernah dialami pasukan Thalut. Karena saat ini, ‘sungai’ kemewahan kehidupan tidak hanya satu. Ada di depan, di samping, kanan, kiri, atas dan bawah. Semuanya melambai-lambai untuk menawarkan ‘kerjasama’, ‘sinergi’, ‘partnership’ dalam perjuangan Islam. Wallahu ‘alam

Bercermin Pada Salaf Terbaru

blog comments powered by Disqus