Modal Usaha: Jualan Cendol Senilai Rp 400 juta, Siapa Mau?

Adityanugroho – Rabu, 18 Ramadhan 1432 H / 17 Agustus 2011 07:43 WIB

ilustrasi

Di Bazaar Madinah ada dua orang yang bekerja sama dalam penjualan es cendol, yang satu sebagai pemodal dan yang lain sebagai penjualnya. Modal yang ditanamkan untuk berjualan cendol ini hanya Rp 400,000,- karena mereka tidak perlu menyewa tempat. Mereka hanya butuh untuk membeli bahan-bahan cendol, wadah dan kemasan gelas plastik. Setelah berjalan hampir tiga bulan, saya mencoba menghitung berapa nilai usaha pedagang cendol ini? Anda bisa terkejut dengan hitungan nilai usaha ini –karena nilai usaha mereka bisa mencapai 1.000 kali dari modal yang ditanamkannya– atau bisa mencapai Rp 400 juta!

Dari mana angka sebesar ini muncul? Begini, untuk menilai usaha kita bisa menggunakan pendekatan perhitungan asset yang dimiliki-nya, pendapatan atau potensi pendapatannya, goodwill-nya dlsb. Untuk usaha cendol ini aset tentu sangat kecil nilainya karena mereka hanya punya beberapa peralatan dari plastik dan stok bahan baku. Goodwill-nya boleh dibilang belum muncul sebagai nilai yang berarti karena tidak ada hal yang bersifat unique, temuan baru, perijinan dan sejenisnya—jadi usaha cendol ini boleh dibilang bisa dilakukan oleh siap saja.

Maka satu-satunya yang cukup akurat untuk menghitung nilai usahanya adalah dari (potensi) pendapatannya. Saya lihat dari transaksi di kasir bersama dari account pedagang cendol ini—pendapatan bersih rata-rata mereka sekitar Rp 2,000,000/bulan, atau bila disetahunkan adalah Rp 24,000,000,- !

Dengan mengetahui pendapatan setahunnya kita bisa menghitung nilai suatu usaha yang nyaris tidak memiliki tangible asset ini. Bagaimana caranya? salah satu yang gampang adalah dengan membandingkan—kira-kira dibutuhkan setara modal berapa uang Anda akan memberikan hasil yang sama dengan pendapatan bersih pedagang cendol tersebut, bila diinvestasikan di tempat lain.

Karena yang paling umum bila Anda punya uang lebih adalah ditaruh di bank, maka bandingkan misalnya bila Anda sebagai pegawai, memilik bonus tahunan yang banyak,kemudian bonus ini Anda taruh dalam tabungan Rupiah dengan hasil rata-rata 6% per tahun. Maka untuk dapat memberikan hasil bersih rata-rata Rp 2,000,000 sebulan atau Rp 24,000,000,- setahun, Anda membutuhkan tabungan Rupiah sebesar Rp 400,000,000,-! Kurang lebih setara inilah nilai usaha jualan cendol tersebut diatas.

Lebih senang mana Anda memiliki tabungan di bank sebesar Rp 400 juta dengan bagi hasil bersih rata-rata Rp 2 juta sebulan? atau memiliki usaha nyaris tanpa modal yang memberikan hasil rata-rata yang kurang lebih sama? Pilihan Anda akan tergantung seberapa kuat jiwa entrepreneurship yang ada pada diri Anda? Kebanyakan orang yang cukup puas dengan bekerja sebagai pegawai , tentu akan memilih punya uang Rp 400 juta di bank —bahkan ketika mereka sudah pensiun-pun akan tetap cukup puas menaruh uang pensiunnya di bank dengan diambil hasilnya setiap bulan— meskipun setiap saat daya beli uangnya di bank kalah cepat tumbuhnya dengan inflasi.

Aset yang besar sekalipun (Rp 400 juta) bila dia berupa wealth reducing assets—tidak membuat pemiliknya tambah makmur. Hal ini dapat Anda saksikan di sekitar Anda, banyak sekali pensiunan pegawai yang memiliki dana raturan juta atau bahkan milyaran Rupiah —namun ketika mereka tidak bisa memutar dananya dengan baik— kemakurannya akan terus merosot.

Sebaliknya bagi para entrepreneur, memiliki satu usaha kecil tetapi berjalan baik—akan jauh lebih menggembirakannya ketimbang memiliki uang banyak di bank tetapi tidak bisa diputarnya sendiri. Inilah yang saya sebut wealth producing assets, karena asset yang semula sangat kecil-pun nilainya (Rp 400,000,-) —ketika diputar menjadi usaha yang berjalan dengan baik nilainya menjadi sangat tinggi— 1.000 kalinya atau bahkan lebih, bila mempertimbangkan potensi pertumbuhannya. Pemiliknya makin lama insyaAllah akan semakin makmur.

Fenomena tumbuhnya kemakmuran bagi para pedagang atau para pengusaha ini seperti yang juga dicontohkan oleh salah satu sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dijamin masuk surga yaitu Abdurrahman bin ‘Auf r.a, apakah dia berusaha dengan modal yang besar? tidak sama sekali—dia berangkat ke pasar pada hari pertamanya tanpa modal!

Pelajaran apa yang sesungguhnya bisa kita petik dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a yang kemudian ditiru oleh salah seorang pedagang cendol di Bazaar Madinah tersebut? bahwa modal bukanlah segala-galanya. Keberadaannya kadang diperlukan untuk memulai usaha, tetapi tanpanya—tidak berarti orang tidak bisa berusaha! Wa Allahu A’lam.

Ekonomi Syariah Terbaru

blog comments powered by Disqus