Manajemen Ramadhan Rasulullah (2)

Fathuddin Jafar – Kamis, 25 Ramadhan 1429 H / 25 September 2008 14:07 WIB

Taqwa dan Karekteistik Muttaqin (Orang-Orang Bertaqwa)

Taqwa adalah target utama disyari’atkannya Shaum seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh : 183. Sebab itu, saat kita bicara soal Ramadhan dengan segala aktivitasnya, tema taqwa sangat relevan untuk kita bahas.

Taqwa adalah karakter, sikap dan prilaku dan kebiasaan. Taqwa adalah hasil, bukan proses. Proses menuju taqwa, di antaranya adalah dengan menjalankan Ramadhan berdasarkan manajemen Rasul Saw. seperti yang sudah kita bahas sebelumnya. Taqwa adalah buah dari keimanan yang mendalam yang melahirkan ketaatan, ibadah, harapan dan ketakutan mutlak kepada sanga Pencipta, yakni Allah Ta’ala saat menjalankan kehidupan di dunia yang fana ini.

Sebab itu, taqwa harus dapat dilihat pengaruh dan cirri-cirinya dalam kehidupan. Taqwa harus menjadi tema terpenting setlelah iman. Karena iman yang tidak melahirkan taqwa tidak akan bermanfaat banyak dalam kehidupan dunia dan tidak pula di akhirat kelak.

Saking pentingnya, dalam Al-Qur’an tedapat sekitar 158 ayat yang membahas taqwa dan juga puluhan hadits Rasul Saw. Di antara cakupan makna taqwa adalah takut, beribadah, meninggalkan maksiat, mengesakan dan ikhlas kepada Allah.

Dari ayat dan hadits tersebut kita dapat mengetahui dengan mudah karakteristik muttaqin (orang-orang bertaqwa). Di anataranya seperti yang tercanytum dalam surat Al-Baqoroh : 3 – 5 dan 177 serta surat Ali Imran : 133 – 138. Dari ayat-ayat tersebut dapat simpulkan bahwa di antara sifat muttaqin ialah :

  1. Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup
  2. Memahami konsep keimanan dengan benar
  3. Memiliki tanggung jawab sosial (Berinfaq dalam keadaan lapang dan sempit)
  4. Menegakkan sholat dan zakat (Ahli Ibadah)
  5. Memiliki moralitas yang tinggi (Menepati janji, mampu menahan marah dan pema’af)
  6. Sabar menghadapi berbagai kesulitan hidup
  7. Mampu mengendalikan marah/diri
  8. Memiliki sifat pe’maaf
  9. Banyak berzikir  & Istigfhar (Bertaubat) pada Allah
  10. Selalu memuhasabah diri terhadap aturan Allah

Kunci Sukses Training Manajemen Syahwat Ramadhan

Banyak pertanyaan yang muncul saat kita mejalankan Ramadhan. Di antaranya : Knepa ibadah Ramadhan, shaumnya sebulan penuh dan berulang setiap tahun? Kenapa malamnya disyari’atkan untuk qiyam (menghidupkan malam denganberbagai ibadah dan taqorrub ilallah)? Kenapa Ramadhan menjadi waktu yang termahal dan teristimewa bagi kaum Mukmin? Knepa Lailatul Qadr (malam Qadar) yang nilainya melebihi 1.000 bulan terdapat di malam-malam Ramadhan, khususnya malam-malam sepuluh hari terakhir? Siapkah kita melaksanakan berbagai aktivitas Ramadhan yang dicontohkan Rasul Saw, baik siang maupun malamnya? Sejauh mana kita memahami keistimewaan yang ada dalam bulan tesebut dan sejauh mana kita dapat meraihnya kemudian dapat pula mengimplementasikannya dalam kehidupan keita….

Kalau ada yang bertanya : Kapan waktu termahal, teristimewa dan terindah dalam hidup Anda? Pasti banyak ragam jawaban yang akan kita dengar, tergantung kepada kepahaman dan orientasi hidup masing-masing. Ada yang menjawab, waktu termahal, teristimewa dan terindah dalam hidupnya adalah saat berbulan madu dengan istri/suami yang dicintainya. Ada pula yang menjawab saat ulang tahunnya yang kesekian dan kesekian tahunnya. Ada lagi yang menjawab saat diangkat menjadi pejabat atau meraih target keduduykan atau puncak karir yang dicita-citakannya, atau saat menyambut kelahiran anak yang sudah lama dirindukannya. Tentu ada pula yang menjawab saat meraih nilai kekayaan atau harta yang diimpikannya sejak lama seperti memiliki mobil mahal, rumah mewah, kebun yang luas, dinar dan dirhah (uang) yang menumpuk dan sebagainya.

Semua jawaban tersebut sesungguhnya mencerminkan kekuarangpahaman terhadap keistimewaan yang Allah ciptakan dalam bulan Ramadhan. Atau bisa saja faham, namun belum atau tidak berdaya melawan belenggu hawa nafsun. Sebab itu tidak jarang kita lihat Ramadhan berlalu tanpa ada bekas taqwa yang menghiasi kehidupan sehari. Hawa nagfsu tetap saja sebagai tuhan yang dita’ati. Spirit ibadah dan taqarrub pada Allah tetap saja melemah kendati sudah melewati Ramadhan puluhan kali.

Kalau saja ibadah Ramadhan dijalankan sesuai manajemen Rasul Saw. baik kualitas maupun kuantitas, maka 8,47 % dari umur kita adalah shiam dan qiyam (Training Manajemen Syahwat). Jika ditambah denbgan 6 hari bulan Syawal, maka 9,88 % dari hidup kita adalah Training Mangemen Syahwat. Jika diteruskan dengan Senin, Kamis dan ayyamulbidh, maka 42,93 % dari hidup kita adalah Ttraining Manajemen Syahwat. Apabila kita tambahkan Ramdhan dengan shaum dengan 6 hari di bulan Syawal dan diteruskan dengan shaum nabi Daud, maka 55,08 % dari umur kita adalah mengikuti Taraining Manajemen Syahwat. Alangkah indahnya jika kita mampu melaksanakannya.

Secara kualitas, ada dua hal yang perlu di perhatikan :

  1. Memakna shiam, yakni menahan diri dari berbagai godaan syahwat. Artinya, jka kita benar-benar serius ingin mencapai derajat taqw, syahwat harus dikendalikan, bukan hanya terhadap yang diharamnkan Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi juga terhadap yang halal. Orang-orang bertaqwa, seperti yang dikatakan Arraghib Al-Asfahani : Harus mampu menahan diri dari apa saja yang menyebabkan dosa pada Allah. Yang demikian itu hanya terlaksana dengan meniggalakan apa saja yang dilarang Allah dan meinggalkan sebagian yang dibolehkan jika berimplikasi kepada dosa. Misalnya, dengan mobil mahal, rumah mewah, pakaian bermerek dan sebagainya, jika menimbulkan rasa angkuh, somobng dan merasa lebih hebat dari orang lain yang di bawahnya, maka berarati hal-hal yang dibolehkan tersebut telah menjerumuskannya ke dalam dosa. Orang-orang yang bertaqwa paham betul hal tersebyt akan membahayakannya. Sebab itu dia dengan mudah mampu menghindarinya. Buakan sebaliknya, mencar-cari dalil pembenarannya.
  2. Makna qiyam (berdiri tegak dan penuh spirit beribadah kepada Allah). Qiyam Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini sepenuhnya untuk ibdah dan ketaatan pada Allah, bukan yang lainnya. Orang yang mampu menghambakan dirinya hanya kepada Alllah adalah orang yang beriman kepada-Nya, memiliki ilmu tentang agama / aturan main yang diciptakan-Nya dan mampu memenej syahwat yang ada dalam dirinya. Sebab itu, Manajaemen Ramadhan Rasul Saw. tidak cukup dengan shiam saja atau qiyam saja. Keduanya berjalan seiring dan dilaksakan siang dan malam serta dilandasi iman dan ihtisaban seperti Beliau jelaskan dalam haditsnya. Ramadhan dengan konsep qiyamnya, juga mengajarkan kepada kita bahwa setiap kita harus memiliki ibadah unggulan, di luar ibdah fardhu, yang mungkin kita lakuan dengan intensitas yang tinggi dan kontinyu, sebagaimana para Sahabat Rasul Saw.

Inilah dua kunci utama kesuksesan orang-orang yang menjalankan ibadah Ramadhan, yakni shiyamdan qiyam. Jika kedua hal tersebut dapat terlaksana dengan baik, maksimal dan seimbang di bulan Ramadhan termasuk pada 10 hari terakhir Ramadhan, maka tidak diragukan manfaat Training Manajemen Syahwat selama Ramdhan insyaa Allah efektif dalam pembentukan karakter muttaqin (orang-orang yang bertaqwa). Semoga Ramdhan kita tahun ini benar-benar menajdi titik tolak perubahan manajemen hidup kita sesuai dengan manajemen hidup Rasul Saw. termasuk manajemen Ramadhannya. Amin

Manajemen Ramadhan Rasul Saw

SHIAM (Manajemen Syahwat)

  1. Menahan syahwat telinga dari mendengarkan yang laghwi dan haram
  2. Menahan syahwat telinga dari melihat yang diharamkan
  3. Menhan syahwat lidah dari bicara kotor, berbohong, laghwi dan yang diharamkan
  4. Menahan syahwat perut dari memakan danmeminum yang syubhat dan yang diharamkan, terasuk rokok dan apa saja yang sejenisnya
  5. Menahan syahwat kemaluan dari menyentuh dan penyaluran yang diharamkan
  6. Menahan syahwat keangkuhan, kesombongan, kekuasaan dan ketenaran
  7. Menahan syahwat kecintaan pada pernik-pernik kehidupan duniawi yang dapat melalaikan diri dari zikrullah dan syurga Allah serta bertemu dengan-Nya

QIYAM (Manajemen Ibadah)

  1. Memotivasi diri untuk taat pada Allah dalam segala urusan
  2. Merasakan lezatnya taqarrub ilallah dan ma’yyatullah
  3. Menjalankan semua ajaran agama Allah dengan ikhlas, ilmu dan penuh kecintaan pada Allah, tanpa dibedakan dalam kualitas dankuantitas pelaksanaanya antara yang wajib dan yang sunnah, karena kedua-duanya datang dari Rasulullah
  4. Meningkatkan semua amal ibadah yang Sunnah dibandingkan sebelum Ramadhan
  5. Selalu berupaya menciptakan ibadah unggulan dari ibadah yang sunnah. Kemudian berupaya selalu meningkatkan frekuensi, kualitas dan kuantitas ibadah-ibadah sunnah tersebut agar Allah mencitainya, seprti yang dijelaskan dalam sebuah hadits Qudsi
  6. Melaksanakan I’tikaf dan qiyamullail di 10 hari terakhir Ramadhan

Life Management Terbaru

blog comments powered by Disqus