Non Muslim, Ingin Belajar Islam, Pelajarilah Langsung dari Al Quran !

alquranUntuk mengenal Islam secara lebih dekat, setidaknya ummat non-Muslim dapat menempuh dua cara pada umumnya, pertama adalah dengan memperhatikan bagaimana cara ummat Islam menjalani kehidupan mereka, dan kedua adalah dengan memperhatikan ajaran-ajaran Islam itu sendiri. Dan cara pertama, meskipun mungkin bisa mewakili, namun tampaknya tidak akan sepenuhnya mampu menjelaskan hakikat Islam secara utuh, melainkan justru dalam beberapa keadaan tertentu dapat menyebabkan salah kesimpulan dan penilaian tentang Islam itu sendiri, karena memang kami ummat Islam juga hanyalah manusia normal seperti ummat lainnya yang juga sama-sama memiliki potensi salah dan lupa, yang akan tidak selalu benar. Adapun cara kedua, maka cara inilah yang tampaknya lebih baik dan tepat, yaitu dengan meneliti ajaran-ajaran Islam secara lebih mendalam melalui sumber-sumbernya yang masih murni. Dan sumber utama ajaran Islam yang menjadi panduan ummat Islam dalam menjalani kehidupan mereka adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.

Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diwahyukan kepada utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW, sedangkan as-Sunnah adalah jalan keteladanan hidup Nabi Muhammad SAW tersebut, baik dari ucapan, perbuatan, ketetapan hingga persetujuan beliau, yang sekaligus menjadi penjelas bagi sebagian firman Allah SWT yang masih bersifat umum, seperti perkara shalat yang belum secara terperinci disebutkan tata caranya, atau juga seperti zakat, haji, dan seterusnya, yang mana semua itu akan dijelaskan tata caranya secara lebih terperinci di dalam as-Sunnah. Dan meskipun al-Qur’an dan as-Sunnah memiliki pengertiannya masing-masing yang tampak berbeda, namun pada hakikatnya keduanya tidak bisa dipisahkan, sebagaimana tidak bisa dipisahkannya antara iman dan Islam. Ketika kita mengikuti as-Sunnah, maka kita juga harus mengikuti al-Qur’an; dan begitu juga sebaliknya, ketika kita mengikuti al-Qur’an, maka kita juga harus mengikuti as-Sunnah. Intinya, antara dua sumber kebenaran Islam tersebut tidak akan bisa saling dijauhkan satu sama lain.

Adapun sumber satu-satunya yang tidak tersentuh oleh perubahan tangan manusia, sebagaimana telah dijamin sendiri oleh Allah SWT, maka sumber tersebut adalah al-Qur’an. Sedangkan al-Hadits, yang merupakan istilah yang lebih khusus dari as-Sunnah, maka ia tidak dijamin penjagaannya oleh Allah SWT, sehingga disana terdapat kenyataan tentang hadits-hadits palsu, yang mana akan mengharuskan kita untuk lebih berhati-hati dalam mempergunakan al-Hadits sebagai dalil dengan cara memilih riwayat yang lebih terpercaya. Dan hanya al-Qur’anlah yang telah dijamin selamat dari usaha pemalsuan atas kalimat-kalimatnya. Sekuat apapun manusia ingin menghilangkan satu ayat dari al-Qur’an atau menggantikannya dengan ayat buatan mereka sendiri, tetap saja al-Qur’an akan kembali kepada kemurnian kalimat-kalimatnya. Bahkan ketika seluruh data fisik yang ada tentang al-Qur’an benar-benar telah dihapus dan dihilangkan, kitab al-Qur’an akan tetap dapat tersusun kembali secara utuh, yaitu melalui data batin para penghafalnya dan para penuntut ilmunya yang tersebar di berbagai belahan bumi. Dan itulah satu bentuk cara Allah SWT dalam menjaga kemurnian ayat-ayat al-Qur’an. Dan dalam keyakinan kami ummat Islam, kitab-kitab langit selain al-Qur’an yang juga kami yakini turun dari sumber yang sama, seperti Taurat dan Injil, ataupun mungkin yang lainnya, maka semua kitab tersebut tidak mendapat jaminan penjagaan dari Allah SWT sebagaimana al-Qur’an, sehingga akan wajar jika di sana terdapat banyak perubahan oleh campur tangan manusia, baik pengurangan ayat-ayatnya ataupun rekayasa-rekayasa yang ditambahkan.

Oleh karena itu, jika mungkin ummat non-Muslim bermaksud untuk menggali keterangan-keterangan dasar tentang Islam, setidaknya mereka tidak pernah dilarang untuk mempelajari ayat-ayat al-Qur’an, yang mana di dalamnya terdapat begitu banyak nilai-nilai kebaikan dan hikmah kehidupan. Dan ummat Islam benar-benar meyakini dengan sepenuh hati bahwa al-Qur’an adalah kitab solusi bagi kehidupan manusia seluruhnya, dan bukan hanya bagi ummat Islam atau orang-orang yang telah beriman saja, karena memang al-Qur’an diturunkan untuk menjadi penerang kehidupan bagi ummat manusia di akhir zaman, yang akan mengeluarkan mereka dari kegelapan, baik kegelapan agama mereka ataupun kegelapan masa lalu mereka.

Dan lebih jauh dari itu, bagi kami ummat islam, al-Qur’an merupakan kitab bacaan yang tidak pernah menyimpan kabar merugikan sedikitpun. Dialah bacaan yang selalu aman, yang tidak pernah melukai pembacanya, melainkan justru akan menentramkan hati, memperkuat iman, dan selalu mendamaikan suasana batin. Dia adalah bacaan yang memperteguh ingatan tentang Dzat Pencipta, Allah SWT, dengan segala kekuasaan-Nya, juga tentang janji-janji kebenaran akan hari akhirat yang kekal. Ketika begitu banyak kita dapati bacaan yang kurang sehat dan tidak ramah serta meresahkan di sekitar kita, al-Qur’an menjadi tempat pelarian yang akan melindungi dan menyejukkan hati. Dia menjadi nasehat yang membangun jiwa orang-orang yang bersalah, di saat nasehat yang lain justru tampak menertawakan dan kurang sepenuh hati membantu mereka untuk keluar dari kesalahannya. Dia juga memberi nasehat dengan kisah-kisah nyata yang memerdekakan hati, di saat nasehat yang lain cenderung memilih cerita yang terkesan membelenggu dan menyudutkan, baik cerita dari dongeng, film, atau berita rekayasa para wartawan media. Dan nasehat al-Qur’an tersebut telah memperingatkan kami ummat Islam, yang mana kerap tertarik untuk berlarut-larut mengulang keresahan, agar berhenti dari kecenderungan yang tidak baik semacam itu. Bahkan ia juga melarang ummat Islam dari sekedar banyak berprasangka meskipun prasangka tersebut tak sampai diceritakan.

Dan yang penting selain itu, al-Qur’an selalu berbicara tepat dengan hati kita sendiri, sehingga dia selalu menilai diri kita apa adanya. Ketika kita salah, maka ia akan menyebut kita bersalah; dan ketika kita benar, maka ia pun juga tidak akan mempersalahkan kita. Al-Qur’an selalu menjadi sahabat yang tepat untuk berbagi, yang tak pernah cenderung menuduh, menaruh kecurigaan dan kebencian, menyimpan rasa iri ataupun dendam terhadap diri kita, melainkan justru akan menjaga dan mengarahkan batin kita agar kita mengetahui kekurangan dan kesalahan diri kita sendiri. Dia mengajarkan ilmu bagi kita yang membutuhkan ilmu, di saat orang-orang yang telah berilmu justru menyudutkan kita dengan ilmu mereka. Dan ketika begitu banyak tuduhan yang hanya berdasarkan perasaan dan prasangka datang mengganggu suasana batin ummat Islam, maka ayat-ayat al-Qur’an akan menjadi obat penawar yang menenangkan bagi mereka.

Adapun bagi ummat non-Muslim ataupun para pelaku kesalahan besar yang tampak jauh dari Islam, maka al-Qur’an adalah cahaya kemurahan yang sedemikan lepas membagi-bagikan rahmat Allah SWT, di saat ada pihak lain yang justru berusaha untuk menguasainya sendiri. Dia membantu mereka untuk membuka pintu hidayah dan ampunan Allah SWT selebar-lebarnya, di saat orang-orang yang suci berusaha menyembunyikan kuncinya untuk diri mereka sendiri. Dia melarang mereka dari berputus asa atas hidayah dan ampunan Allah SWT, di saat orang-orang yang baik merasa risih dengan keberadaan mereka. Dan yang pasti, al-Qur’an selalu menyeru mereka kepada surga Allah SWT, di saat orang-orang yang bersih gemar mendoakan mereka dengan balasan neraka yang menyakitkan.

Pada intinya, al-Qur’an adalah anugerah dari Allah Yang Maha Esa, khususnya untuk ummat Islam, dan juga untuk sekalian ummat manusia pada umumnya. Dia adalah petunjuk, obat dan rahmat yang dapat menjadi sebab kesembuhan bagi segala bentuk penyakit ruhani dalam diri kita semua, memulihkan keadaan batin yang sempat terganggu, menukar keresahan yang menular dengan kebahagiaan dan kedamaian yang menular. Allah Yang Maha Esa berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya berikut ini:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi (obat) penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Israa’: 82)

Maka mungkin dari beberapa keterangan tersebut, setidaknya ummat non-Muslim akan dapat mengerti bahwa melalui ayat-ayat al-Qur’anlah mereka dapat lebih dekat mengenal Islam, dan bukan sekedar melalui ummat Islam saja, yang niscaya dengan demikian mereka pun akan dapat menggali lebih banyak hikmah penting tentang kehidupan, yang mana tidak selalu tentang kemanusiaan semata, melainkan terlebih lagi tentang hakikat kehidupan manusia itu sendiri, yaitu hakikat yang dapat menjawab segala pertanyaan tentang mengapa dan untuk apa manusia terlahir di dunia ini sedangkan mereka tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebelumnya.

Dan bagaimanapun juga, perkara hidayah hanyalah menjadi wilayah dan wewenang Allah SWT semata. Kami ummat Islam hanya diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran agama yang lurus ini kepada ummat non-Muslim. Dan mungkin banyak dari sikap kami ummat Islam sendiri yang kurang sesuai dengan aturan Islam sebagaimana yang terdapat di dalam al-Qur’an, karena memang kami bukanlah Islam itu sendiri, melainkan hanya manusia masa lalu yang berusaha mengikuti Islam; karena bagi kami, Islam adalah satu-satunya jalan keselamatan untuk menuju masa depan yang lebih kekal nantinya. Maka semoga Allah SWT semakin banyak membukakan hati ummat non-Muslim untuk dapat menerima agama keselamatan ini. Allah SWT telah menjelaskan bahwa peran dan fungsi dari utusan-Nya di akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad SAW, adalah sebagai penyampai pesan yang hanya berkewajiban menyampaikan ayat-ayat-Nya, dan tidak dibebani tanggung jawab untuk memasukkan hidayah ke dalam hati ummatnya. Dan kurang lebih seperti itulah peran dan fungsi para pengikut beliau, ummat Islam, dalam kehidupan mereka, yang masing-masing menjadi khalifah Allah SWT dalam kapasitasnya masing-masing, untuk menjadi pesan-pesan Islam kepada ummat non-Muslim. Petani Muslim adalah khalifah Allah SWT dalam hal pertanian, pedagang Muslim adalah khalifah Allah SWT dalam hal perdagangan, dan demikianlah untuk seterusnya. Dan ketika pesan-pesan tersebut telah tersampaikan semampunya, maka tiada tanggung jawab hidayah atas para khalifah tersebut. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya berikut ini:

“Dia-lah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di muka bumi.” (Faathir: 39)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah-khalifah di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka sebagai khalifah-khalifah, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nuur: 55)

“Kemudian jika mereka mendebat kamu (Muhammad) (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku’. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang-orang yang buta huruf: ‘Apakah kalian (mau) memeluk Islam?’. Jika mereka memeluk Islam, sesungguhnya mereka telah memperoleh petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Aali ‘Imraan: 20)

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (Yaasiin: 11)

Demikianlah kurang lebih sebagian keterangan yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh ummat non-Muslim dalam usaha mengenal Islam, yang mana tentu selebihnya akan terdapat lebih jelas dan lebih luas lagi di dalam al-Qur’an. Hanya saja, mungkin akan perlu diperhatikan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat sebagian ayat yang hanya dikhususkan untuk kejadian tertentu di masa lalu, sehingga ia tidak dapat diterapkan secara apa adanya sesuai makna kalimatnya untuk saat ini, melainkan hanya dapat dijadikan sebagai mata rantai sejarah yang akan membantu kita dalam menyimpulkan hikmah dari suatu kejadian atau dalam penentuan suatu kaidah, misalnya seperti sebuah ayat yang secara makna kalimatnya masih memperbolehkan ummat Islam untuk meminum minuman keras di luar waktu shalat, yang mana ayat tersebut hanya merupakan anak tangga bawah sebelum ayat tentang buruk dan kejinya dampak minuman keras diturunkan, yang mana merupakan puncak tangga bagi pelarangan minuman keras secara mutlak. Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang mungkin dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan, seperti ayat-ayat tentang hakikat Dzat Allah, dan yang semacamnya, yang mungkin akan lebih baik dan lebih selamat jika kita berlindung kepada Allah Yang Maha Esa dari kerusakan akal kita akibat memikirkan sesuatu yang terlalu berat dan terlalu besar melebihi kapasitas akal kita itu sendiri.

Maka semoga Allah SWT memberi kita kemudahan dalam menerima dan memahami setiap ayat-ayat-Nya di dalam al-Qur’an, karena bagaimanapun juga, kita sendiri pun juga tak akan sanggup memberikan kemudahan kepada diri kita sendiri untuk bisa menerima hidayah, melainkan Allah SWT sajalah yang lebih berkuasa untuk memberi, hingga membolak-balikkan hati kita sesuai hikmah-Nya, yang oleh sebab itulah kita yang tak berdaya harus menyerah dan berserah diri kepada-Nya. Sesungguhnya hanya dari dan milik Allah SWT sajalah segala kebenaran, kekuatan, hidayah dan taufiq.

 

Wallaahu a’lam.