Ramadhan Di Ruwais-Abu Dhabi, Hujan Disaat Summer Memanggang

Al Furqan – Rabu, 20 Ramadhan 1430 H / 9 September 2009 14:03 WIB

Ramadhan memang bulan berkah, rahmah, dan magfirah. Setiap orang berlomba untuk mengisi ramadhan dengan amalan terbaik, sodaqoh terbanyak, ibadah terkhusyu` dan semua aktifitas ukhrawi lainnya, tidak ketinggalan warga Indonesia yang tinggal di Ruwais-Abu Dhabi ini. Ruwais memang kota industri berat, berbagai perusahaan petrokimia, oil and gas berdiri dengan gagah di bumi padang pasir ini, oleh karenanya aktifitas kesehariannyapun bisa jadi membosankan bagi sebagian besar orang, kecuali orang-orang yang kreatif menyiasati waktu.

Tapi hal itu akan berubah drastis manakala ramadhan datang. Setiap tahun kami meyambut ramadhan dengan suka cita, mengisinya dengan berbagai kegiatan keagamaan, setiap orang saling berlomba untuk mencapai derajat tertinggi, taqwa. Tidak hanya di masjid atau mushola, hampir disemua tempat seperti bus station, market, taman publik dengan hamparan rumput hijau nan indah, tepi danau dengan air mancur yang senantiasa tumpah, kita temukan orang-orang yang sedang khusyu` memegang alqur`an saku, membaca ayat-ayat Allah dan larut dalam keindahan kata-kataNya yang penuh hikmah.

Demikian pula dengan kami warga Indonesia, setiap sore ba`da ashar sampai menjelang iftar, kami berkumpul dari rumah warga satu ke rumah warga lainnya, berputar sebulan penuh sampai terkadang ada warga yang merasa sedih karena rumahnya tak kebagian kunjungan, yang berarti tak berkesempatan bersedekah menjamu orang-orang berbuka puasa di rumahnya .

Tadarus alqur`an, tausiyah penuh hikmah dan berbagai diskusi keagamaan senantiasa mengiringi perjalanan ramadhan kami setiap tahunnya. Hal ini tidak saja bisa melupakan hati dan jiwa kami yang jauh dari keluarga besar di negeri tercinta, melainkan bisa menambah kuat tali persaudaraan diantara kami dan menambah khusyu` hati kami dalam menjalankan ramadhan di tengah terik yang memanggang.

Tapi itu dulu, sejak isu-isu teroris melanda berbagai negara, ternyata tidak hanya di Indonesia saja, negeri tempat kami mencari ma`isyahpun (UAE) terkena imbasnya. Adanya peringatan dari pemerintah setempat untuk tidak mengadakan perkumpulan-perkumpulan yang tidak resmi seperti pengajian yang biasa kami lakukan sedikit banyak telah melemahkan kami, surat edaran dari Embassy Indonesia yang menguatkan peringatan itu semakin membuat kami terpuruk, membayangkan ramadhan tanpa bisa silaturahmi dan mendengarkan tausiyah dari sesama warga Indonesia.

Sebenarnya pemerintah UAE membolehkan kami mengadakan tadarusan atau kajian-kajian islam seperti yang kami lakukan minggu dalam setiap tahunnya dan akan lebih intens lagi ketika ramadhan tiba, tapi ustadznya haruslah yang resmi, yang mempunyai sertifikat menjadi muthawa (alim ulama) dari pemerintah. Masalahnya para muthawa disini hanya bisa mengajar dengan bahasa arab yang menjadi kelemahan terbesar hampir semua warga Indonesia yang tinggal di sini, walaupun kami tinggal di jazirah arab, kami tidak bisa berbahasa arab, terlebih bahasa arab amiyah (umum) yang digunakan dihampir semua gulf country, so kami lebih terbiasa berbahasa inggris.

Inna ma`al usri yusro. Begitulah sekelumit ayat Allah yang kami tahu, bersama kesulitan ada kemudahan, yup bersama, bukan setelah. Berbekal sejumput ayat Allah itu, kami mencoba bergerak. Berbagai usahapun mulai dilancarkan ke pihak-pihak yang punya kepentingan, tidak seperti para penghuni senayan yang berlomba meloby untuk mendapatkan proyek atau program study banding, kami hanya meloby untuk dapat ijin mengadakan kajian islam dengan ustadz dari Indonesia. Bukannya tanpa alasan, beberapa bulan sebelum ramadhan, kami telah mengumpulkan uang untuk mendatangkan seorang ustadz dari Indonesia untuk mengisi acara ramadhan kami biar lebih berarti.

Kekuatan pun dibagi, ada yang datang ke Embassy minta dukungan, pak dubes Indonesia untuk UAE, Wahid Supriyadi yang sudah sering silaturahim ke Ruwaispun tidak bisa berbuat banyak, "kita harus menghormati aturan pemerintah UAE" saran beliau. Sebagian lainnya datang ke big boss tempat kami bekerja, "Kami mendukung niat kalian, tapi masalahnya akan repot kalau harus berurusan dengan CID (intel nya UAE), mereka tidak mau tahu, yang penting tangkap dulu, urusan belakangan, kalau kalian ada apa-apa saya yang repot kan?" masukan dari pembesar perusahaan kami yang warga pribumi UAE.

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu, dan akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang syahadah, kemudian akan disampaikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan – Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (QS. At-Taubah : 105)

Kami hanya diperintahkan untuk bekerja, toh Allah, Rosul dan orang-orang beriman yang akan melihatnya. Berbagai usaha telah kami lakukan, banyak jalan telah kami tempuh, tiba giliran kami untuk tawakkal, menyerahkan segala urusan kepada Allah, pemilik segala urusan dan yang maha membolak balikan hati manusia.. Dengan sangat berat akhirnya diumumkan kepada semua warga Indonesia penghuni Ruwais Housing Complex yang jumlahnya ratusan kepala keluarga, karena alasan keamanan, kami tidak jadi mendatangkan ustadz dari Indonesia. Kami tahu banyak diantara kami yang sedih, tapi biarlah Allah yang maha mengetahui niat kami, memberikan jalan keluar dengan caraNya sendiri.

Ramadhanpun datang dan kami tetap menyambutnya dengan suka cita, sama sekali tidak terpengaruh oleh batalnya mendatangnya ustadz dari Indonesia. Dihari kesepuluh ramadhan, langit kota Ruwais cerah, semburat marahari terhampar dengan gagahnya, panas meradang seakan mau melelehkan tubuh manusia yang mencoba berlaku sombong di hadapan sang pencipta, hembusan angin summer mencubit-cubit daun telinga hingga merah jadinya, hujanpun turun di bumi Ruwais, membasahi bumi dan hati-hati gersang buruh padang pasir, kami mendengar kabar kalau pemerintah UAE mengundang 30 orang ustadz dari berbagai negara untuk menjadi pengisi acara-acara ramadhan bagi warga dunia yang memang tumpah ruah di gulf country ini, salah satunya adalah ustadz dari Indonesia. Yup kabar itu tak ubahnya seperti hujan di padang gersang atau oase di tengah gurun pasir.

Seolah tak mau kehilangan moment sedikitpun, sebagian dari kami bergerak ke Embassy mencari informasi keberadaan ustadz itu. Setelah mendapatkan ijin dari pak Dubes, kamipun dapat menculik Habib Hasan Ismail Al Muhdhor untuk kami bawa ke bumi Ruwais. Tiga hari tiga malam Habib Hasan Ismail Al Muhdhor kami sekap, kami maksimalkan keberadaannya untuk menghilangkan dahaga kami akan tausiyah ramadhan. Kuliah subuh, buka bersama+ceramah agama dan talaqi ba`da tarawih kami lakukan selama tiga hari penuh. Para bapak, ibu dan anak-anak tumpah ruah menghadiri setiap acara. Kami seperti musafir tersesat di padang pasir dan menemukan sungai kehidupan. Kami reguk air itu dengan penuh rasa syukur, kami hilangkan dahaga dan kami sambut bahagia. Duhai Allah, tak terhingga nikmat dan karuniamu, jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa bersyukur.

Dan mereka membuat tipu daya, Allahpun membuat tipu daya, dan Allahlah sebaik-baiknya pembuat tipu daya. (QS. Al-Anfal : 30)

Ali Alfarisi

Penulis berasal dari Cilegon-Banten. Lulusan sebuah Madrasah Aliyah ini sedang bekerja di sebuah perusahaan petrokimia milik pemerintah UAE (Uni Arab Emirates) yang tergabung dalam Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) group.

Ramadhan di Mancanegara Terbaru

blog comments powered by Disqus