Dekat Bersama Allah

Adityanugroho – Minggu, 29 Agustus 2010 12:44 WIB

Mendekat kepada Allah jauh lebih mudah daripada mendekat kepada manusia, karena upaya kita mendekati orang lain, harus dengan orang yang sudah mengetahui tentang diri kita. Namun mendekat kepada Allah SWT, Dia sudah mengetahui kita segalanya.

Mendekat dengan orang butuh waktu untuk menjelaskan mengenai niat atau maksudnya. Sedangkan mendekat kepada Allah SWT, Dia sudah jelas melihat keadaan diri kita seutuhnya.

Mendekat kepada orang justru lebih sulit, karena mereka memiliki sifat su’udzon untuk melindungi diri. Namun bagi Allah SWT, diri kita yang selama berkhianat saja, masih senantiasa dicukupi. Orang yang susah dekat dengan Allah SWT, pasti ia tidak sungguh-sungguh ingin mendekat. Tidak ada yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, kecuali Allah SWT sendiri yang akan memperkenalkan diri-Nya dengan berbagai cara.

Mau mendekat dengan seseorang, sedangkan ia memiliki keperluan, maka kita tidak bisa mendekat jika keperluannya terganggu. Sedangkan bagi Allah SWT, Dia tidak membutuhkan sesuatu pun dari diri kita.

Dekatnya kita dengan seseorang, seringkali karena ada keinginan tertentu, sehingga menjadikan pendekatannya itu tidak murni. Bagi Allah SWT, Dia amat menyukai jika diminta dengan memelas, menghiba kepada-Nya.

"Barangsiapa yang sungguh-sungguh mendekat kepada Allah, maka Allah akan membimbingnya."

Orang yang sudah akhil baligh dan ingin dekat dengan Allah, bersiaplah digerinda. Untuk mengikis dosa-dosa yang sudah demikian lama melekat. Namun ia tidak akan terasa berat jika siap meninggalkan dosa-dosanya. Ia akan menikmati tatkala ujian itu datang, karena ia meyakini bahwa Allah, dengan ujian itu, hanya sekadar menyentuhkan ujian, bukan menimpakan. Tanda-tanda dia bertaubat, ia ingin benar-benar dekat dengan Allah, maka akan dijalankannya ibadah dengan sebenar-benarnya, hanya karena Allah. Beda dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh kembali kepada Allah, ibadahnya banyak dilakukan untuk kepentingan dirinya.

Maka orang yang dekat dengan Allah, pada dirinya akan terpancar:

  1. Berperilaku sebagai hamba Allah.
  2. Merasa dirinya seorang yang faqir, tidak mempunyai apapun, Allah-lah yang memiliki segalanya.
  3. Dirinya pun merasa bodoh, Allahlah yang mengkaruniai ilmu dan kemampuan.
  4. Merasa hina berlumur dosa, sehingga dia tidak berkeinginan untuk ujub dan takabur.

Tugas kita adalah sungguh-sungguh mendekat kepada Allah, jaminannya jelas, bahwa Allah yang akan membimbingnya. Orang susah dekat dengan Allah SWT bukan berarti Allah tidak mau dekat, melainkan di dalam hatinya jelas tidak sungguh-sungguh mendekat kepada Allah.

Ada juga orang yang mendekat kepada Allah untuk barang komoditas. Ingin dianggap dirinya sebagai orang ahli mujahadah. Dekat dengan Allah adalah urusan yang sangat pribadi, urusan di dalam hati. Tidak ada urusan dekat dengan Allah dengan urusan untuk diketahui oleh orang lain. Kita khawatir banyak menyebut nama Allah SWT sebenarnya bukan dekat dengan Allah, melainkan kalimat itu digunakan untuk kepentingan diri kita, seperti ingin dihargai.

Ilmu pun bisa menjadi hijab. Hijab ilmu, merasa berilmu, ilmunya tidak membuat dirinya tersungkur tunduk tawadhu kepada Allah, malah dirinya merasa terangkat, merasa lebih berkedudukan. Dekat dengan Allah justru ketika menjadi merasa tidak berilmu. Posisi hamba yang baik itu meyakini bahwa dirinya tidak memiliki apa pun, kecuali sekadar titipan Allah. Merasa bahwa dirinya bodoh tidak tahu apa-apa, kecuali sepercik ilmu yang Allah SWT titipkan. Menyadari ketersesatan dirinya, kecuali Allah SWT yang menyelamatkannya dengan memberi petunjuk. Lemah tidak berdaya, kecuali Allah yang menguatkannya. Mestinyanya dengan bertambahnya ilmu, diri kita merasa bodoh di hadapan Allah. Tidak memiliki keyakinan terhadap janji dan jaminan Allah, karena terhijabnya hati oleh merasa memiliki ilmu.

Posisi yang disukai Allah terhadap diri kita adalah benar-benar menjadi seorang budak/hamba, bukannya kita menjadi tandingan Allah SWT.

Orang yang susah dekat dengan Allah pasti pada dirinya memiliki masalah pribadi dengan Allah SWT, terkait dengan masalah kejujuran dan kemurnian. Atau hanya di mulut saja.

Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya. (QS. Qaaf: 16)

Mendekat kepada Allah lebih mudah, karena Allah SWT lebih dekat dengan kita, tapi kita terhijab oleh hati yang kotor. Maka bersihkanlah hati. Kemakrifatan hati itu sudah ada, tapi masih tertutup. Maka bukalah mata hati kita dengan taubat. Sesungguhnya kehadiran Allah sangat jelas oleh mata hati. Lumuran dosalah yang membuat tidak terasa kehadiran Allah di hati, sehingga membuat kita menjadi sering curiga kepada Allah SWT. Jika mata hati tersingkap, semua akan terasa ringan dalam melakukan amal shaleh.

Tausyiah Terbaru

blog comments powered by Disqus