Menghadang Pluralisme
Akhir-akhir ini, bersamaan dengan wafatnya Gusdur sang “Bapak Pluralisme”, para penganut paham pluralis benar-benar memanfaatkanya untuk menyebarkan ide-ide batilnya. Berbagai media cetak maupun elektronik begitu jor-joran menyajikannya ke tengah-tengah masyarakat. Sebuah paham yang menjadi ancaman serius bagi masyarakat melebihi ancaman bom.
Paham pluralisme adalah paham yang sanagat berbahaya bagi umat bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. Inti dari ajaran pluralisme adalah mengajarkan bahwa semua agama sama.
Bila merujuk dengan fatwa MUI pada tahun 2005, yang dimaksud dengan pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatife; oleh karena itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. (Fatwa MUI Thn. 2005).
Padahal jelas Allah SWT menyatakan bahwa agama yang diridhoi-Nya hanyalah Islam. Allah SWT berfirman:Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam”. (QS.Ali Imran: 19).
Jika di telisik, Proses sipilis (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme) di Indonesia sendiri sebenarnya muncul dengan tidak tiba-tiba, pada tahun 1970an, Nur cholis masjid tampil ke permukaan bagai pahlawan kesiangan dengan semboyan yang lumayan terkenal yakni “Islam yes, partai Islam No”. Pernah ia mengatakan bahwa fundamentalis agama lebih berbahaya dari narkoba.
Dibelakang cak Nur berjajar nama-nama seperti Mukti Ali (menteri agama), Munawir Sadzali, Harun Nasutioan (rector IAIN syarif hidayatullah waktu itu). Para pelajar dari Indonesia dikirim ke Barat kemudian di cuci otaknya, setelah pulang membawa oleh-oleh buah pemikiran asing (sipilis) (Suara Islam, 21/12/07)
Pada dekade ini, proyek sipilis disokong oleh lembaga-lembaga internasional semacam The Asia Foundatioan,Australia Aid, USAid, Yayasan Tifa, dan lembaga lainya. Mereka mengucurkan dana sampai jutaan Dolar AS guna memuluskan proyek liberalisasi ini ( Suara Islam, 21/12/2007).
Bahkan salah seorang tokoh sipilis Ulil Abshar Abdhala pernah mengatakan kepada hidayatullah.com bahwa beberapa ormas Islam juga ketiban gemerincing dolar dari lembaga Internasional The Asia Foundation untuk melancarkan program liberalisasi ini. “Selain kami ada juga ormas Islam yang menerima dana dari TAF program Islam and Civil Society. Mereka itu adalah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Solo, dan Departemen Agama. Dana yang diterima JIL jauh lebih kecil daripada mereka”. Ungkap ulil. (Hidayatullah.com, Desember 2004).
Menurut Dr. Adian Husaini,ada tiga progam pokok liberalisasi yang di usung oleh mereka, yakni Liberalisasi dalam aqidah Islam (Pluralisme agama), liberalisasi konsep wahyu (menggugat otentisitas mushaf utsmani) dan Liberalisasi syariah dan akhlak.(Liberalisasi Islam di Indonesia, 2006).
Untuk itu kita tidak boleh membiarkan hal ini begitu saja. Perang pemikiran harus selalu digalakkan semampunya.Tentu kita tidak rela mereka melakukan inviltrasi ke ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammdiyah dan ormas lainya.
Sikap tidak terus terang dan cenderung menyembunyikan kebenaran hanya akan memperkeruh keadaan dan mengaburkan yang haq. Sebagai contoh, Sikap mendukung penyematan gelar pahlawan kepada tokoh Pluralisme seperti yang dilakukan oleh beberapa parpol Islam seharusnya tidak perlu terjadi. Karena hal ini akan menimbulkan asumsi di masyarakat bahwa orang yang menyebarkan ide pluralisme itu berhak mendapatkan apresiasi positif. Implikasinya masyarakat bisa jadi akan meneladani sikap dan pola pikir tokoh tersebut.
Sikap yang seharusnya diambil adalah mengcounter pemikiran batil yang di opinikan ke tengah-tengah masyarakat ini melalui dakwah secara masif, menjelaskan kebatilan ide pluralisme ke tengah-tengah umat. Tidak ada kompromi dan bersikap tegas menentang terhadap pemikiran yang membahayakan aqidah umat ini.
Demikian seharusnya sikap kaum muslim, yaitu menyampaikan dakwah secara terang-terangan, menentang segala adat, kebiasaan, ide-ide sesat dan persepsi yang salah, bahkan akan menentang opini umum masyarakat kalau memang keliru.
Menjadi sebuah keniscayaan bahwa bentrok antara yang haq dengan bathil akan selalu ada ditengah-tengah kehidupan. Namun yakin, yang bathil pasti lenyap. Allah SWT telah menegaskan:
“Katakanlah : Telah datang yang haq (kebenaran) dan telah lenyap yang batil atau yang palsu. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap. (Al Israa' 81).
Karena itu, siapapun yang di dalam hatinya tertancap kalimat “La ilaha ilallah Muhammad Rasulullah” harus mengingkari paham Pluralisme ini. Wallau a‘lam bi ash-ash-shawab.
Ali Mustofa Akbar
Staf Humas HTI Soloraya
Saran & Kritik : Telp 02719272791, E-Mail: [email protected]
website: mustofa.web.id
Lainnya (Arsip)
- Antara Bally dan Royal Saloon ( Mobil Dinas Pejabat)
Selasa, 12/01/2010 08:00 WIB - Salahnya Yahudi
Minggu, 10/01/2010 08:13 WIB - Kemunafikan: Dasar Berdirinya "Penjara Besar" Gaza-Palestina
Kamis, 07/01/2010 07:55 WIB - Keniscayaan Politik Dakwah
Selasa, 05/01/2010 08:12 WIB - Bingkisan untuk Para Dokter; Barisan Dokter Inspiratif
Sabtu, 02/01/2010 06:31 WIB
Pemuda & Mahasiswa
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




