Komentar : Islam, Antara Teks dan Akal Manusia

Ya, komentar secara singkat oleh syaichu. Itu merupakan ciri dari ahlussunah. Dan yang begitu masuk akal.
Pakfa — Sabtu, 22/11/2008 13:43 WIB
Yang jelas kita diberikan akal oleh ALLOH tidak untuk menjadikan akal segala - galanya, dalam memahami Al Islam akal harus tunduk pada wahyu, dan dalam menafsirkan wahyu telah ada contoh/tauladan yang sangat baik, yaitu RasuluLLOHi SholaLLOHu 'alaihi wasalam dan para Sahabatnya...
Ummu Mahya — Sabtu, 22/11/2008 11:17 WIB
Assalaamu Alaikum

Salam kenal buat penulis artikel ini. saya sepakat dengan pak Syahrir Husain. Kemampuan akal itu benkembang sesuai pengalaman. Karenanya bila terjadi "seolah-olah" akal dan Al-Qur'an berbeda, maka pastilah akal yang belum sampai kepada Al-Qur'an itu. Kalau kita dalam keadaan seperti itu, maka kuncinya ada pada hati. Kita imani saja apa yang ada dalam Al-Qur'an dan berharap hidayah dari Allah, Insya Allah Allah akan menuntun kita (akal kita) untuk memahaminya. tapi kalau hati kita cendrung kepada yang sebaliknya, maka kita akan tertuntun kepada kesesatan. Akibatnya gap antara akal dan Al-Quar'an semakin jauh.


Allah A'lam.

Wassalaam,

Ghalil

Ghalil — Sabtu, 22/11/2008 10:00 WIB
akal harus mengikuti wahyu Alloh @ Rosululloh walaupun wahyu itu tidak masuk akal jangan sekali - kali mentuhankan akal.
syaichu — Jumat, 21/11/2008 12:39 WIB
Akal adalah karunia terbesar untuk manusia, karena dengan akal manusia bisa membedakan mana yg baik dan buruk.
Agama adalah fitrah manusia. Kedua sarana ini yang akan megantarkan manusia kepada kesempurnaan.
Saya sutuju dengan pendapat mas taufiq hidayat.
hans — Jumat, 21/11/2008 10:52 WIB
Menurut saya, akal diperlukan saat menentukan bahwa Islam-lah agama dari Tuhan Yang Maha Esa, agama yang terakhir dan penyempurna agama-agama sebelumnya. Mulai digunakan untuk membenarkan "keberadaan Tuhan", "ke-Esa-anNya", "kerasulan", "hukum agama yg diberikan Tuhan secara bertahap", "Muhammad sebagai Rasul terakhir", dan "Islam-lah agama yg diridhoi."
Saat keyakinan itu sudah tertanam, akal juga diperlukan untuk menentukan Islam mana yang benar. Karena banyak aliran-aliran Islam yang sebenarnya sesat, yang menyimpang dari apa yang diajarkan oleh Muhammad SAW. Karena menurut saya, aliran-aliran ini bukan hanya sekedar beda pemikiran tetapi kalau ditelusuri lebih jauh, banyak kebohongan yang sebenarnya sengaja dilakukan.
Setelah digunakan utk kedua hal itu, akal tidak diperlukan lagi kecuali hanya untuk menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan. Tidak perlu dipikirkan lagi, apakah perintah atau larangan tersebut masuk akal atau tidak.

Semoga Allah SWT (Tuhan Yang Esa) memberikan petunjuk ke kita agar mudah menemukan jalanNya. Amin

Wassalaam
Taufiq Hidayat — Jumat, 21/11/2008 07:51 WIB
ketahuilah qalbu sangat mempengaruhi akal. akan tetapi dalam qalbu ada hijab2 yang akan menutupi kebenaran, hanya kehendak Allah yang dapat membuka hijab2 yang menutupi qalbu manusia,.,., itulah fungsi ibadah yang akan mengantarkan akal dalam mencari kebenaran,.,. akal tercipta dari informasi2 yang masuk sejak kita keluar dari rahim ibu, apabila kita hanya mengandalkan akal maka akan sangat kurang informasi yang kita peroleh untuk berfikir, fungsi teks yang berasal dari pencipta akal (ALLAH SWT) adalah untuk menyempurnakan informasi yang dibutuhkan oleh akal,.,., tetaplah bersatu umat islam Allahu Akbar,.,.,
syahrir husain — Kamis, 20/11/2008 11:39 WIB
Berbahagialah dn brsyukurlah qt sbg makhluk yg mulia terciptkan oleh Illahi...tanamkan terus tauhid dihati qt...
supriyono — Kamis, 20/11/2008 10:37 WIB
Yang sulit adalah menentukan sampai sejauh mana akal boleh digunakan untuk menginterpretasikan sesuatu yang terkait dgn agama. Ini telah lama menjadi perdebatan sengit antara kaum tekstualis dan kontekstualis/rasionalis. Namun saya sih tetap mengambil sikap seperti Cak Nur, kita harus toleran pada apapun pemikiran yang sangat rasionalis maupun yang non, selama tidak mengganggu atau memaksakan kehendak pada kita. Di dunia ini banyak hal baik yang mesti dikerjakan, bukan dgn jalan saling ngotot dan otot2an.
Sasada — Kamis, 20/11/2008 10:24 WIB
Akal itulah wahana bagi kaun liberal untuk ekspoitasi ajaran.

Seberapa akal dapat mencerna dari ilmu Allah adalah sangat sedikit, bagai air yang menetes dari celupan tangan dilautan dibanding air diseluruh lautan, seperti tidak ada artinya itupun tidak semua orang bisa.

Diluar jangkauan akal manuasia melalui sains adalah serba ghaib. Kalo kita katakan yang ghaib itu hanya Allah yang Maha Mengetaui itu bisa menjadi landasan untuk penalaran selanjutnya dan tidak buntu. Akal cenderung bernafsu jadi bisa keluar dari jalur.

Dan lagi manusia tidak hanya dibekali akal namun juga qalbu. Aneh memang kita sejak dulu diajarkan matematika eksak, sudah pasti 1+1=2. Tapi dalam ilmu sosial 1+1= tidak pasti.
Buktinya adam+hawa jadi miliaran penduduk bumi, sumber alam bumi belum habis meskipun dikonsumsi miliaran orang berabad-abad, sedekah seribu diakhir taun nanti malah harta bertambah jadi empat ribu dll.

Pepatah:
Belajar tanpa berpikir, sia-sia
Berpikir tanpa belajar, berbahaya

Wallahu 'Alam
Pakfa — Kamis, 20/11/2008 09:07 WIB

Kirim Komentar

Komentar yang akan dimuat yang santun, argumentatif, dan tidak memancing permusuhan

Nasabah Non-Muslim Bank Islam Inggris Meningkat

London - Jumat sore, nampak kesibukan yang luar biasa di The Islamic Bank of Britain (IBB) cabang London Barat. Para pegawai bank itu melayani pelanggan yang jumlahnya lebih besar dari hari biasanya, termasuk nasaban-nasabah non-Muslim.

PELUANG

NURISLAMI - ERAMUSLIM