Perpaduan Pendidikan Islam dan Sains

Berbicara tentang sumber daya manusia, umat islam harusnya dapat memberikan konstribusi yang besar linier sebanding dengan jumlahnya. Akan tetapi, dengan kuantitas yang besar, ternyata belum sebanding dengan kualitasnya.

Komentar Masuk:

Sasada — Jumat, 19/12/2008 08:55 WIB

Saya kira anda benar, hanya saya kurang setuju jika seolah-olah hampir semua orang Islam kurang peduli dgn keilmuan. Yang kurang peduli biasanya yang fanatik/fundamentalis, kalau yang moderat-liberal saya kira nggak. Ini saya lihat dari pengalaman hidup saya yang hidup di tengah Islam yang moderat. Hanya memang perguruan tinggi di Indonesia kebanyakan kekurangan fasilitas. Ini saya lihat dari tidak adanya fakultas dr universitas di Indonesia, khususnya fakultas teknik/eksakta yang masuk 50 besar universitas di Asia-Pasifik.


wadiyo — Jumat, 19/12/2008 09:12 WIB

Apakah penguasaan ilmu pengetahuan dapat dijadikan
sebagai landasan kebangkitan umat Islam.

Saat ini banyak ilmuwan-ilmuwan moslem yang bekerja
diberbagai bidang di Eropa dan AS.

Bagaimana caranya agar kelebihan yang meraka miliki bisa digunakan untuk membangkitkan umat?


Sasada — Jumat, 19/12/2008 10:42 WIB

Banyak doktor-doktor muslim yg sama temui di luar negaranya menyatakan bahwa di luar masalah ekonomi iklim di negara2 muslim kurang membuat mereka nyaman, terutama masalah kebebasan berpendapat. Artinya semakin demokratis suatu negara para ilmuwan akan cenderung betah di negaranya. Sementara kebanyakan negara islam kurang menghargai demokrasi bahkan ada yg mengharamkan.


Hida — Jumat, 19/12/2008 16:35 WIB

@Sasada
Tidak benar bahwa hanya muslim moderat-liberal yang peduli dg iptek. Saya & suami bukan muslim moderat-liberal. Kami berdua S2 & S3 dari LN. Kami tahu banyak bro/sis ilmuwan yang juga bukan moderat-liberal. Kebanyakan ilmuwan muslim bekerja di Barat bukan soal demokrasi, tetapi karena Barat menawarkan gaji yang jauh lebih tinggi dari negeri2 muslim.


platosku — Jumat, 19/12/2008 16:59 WIB

yang mengatakan bahwa semakin demokratis sebuah negara, maka semakin betah seorang ilmuwan untuk hidup di negara itu, jelas-jelas foolish, parsial dan tidak mengerti makna demokrasi. yang benar adalah semakin sebuah negara dapat menempatkan posisi dalam menghargai sebuah pendapat (dalam konteks ushul-furu), maka ilmu akan semakin berkembang..tapi kalau semakin demokratis sebuah negara (dengan tidak menghormati prinsisp ushul-furu), maka negara itu akan semakin jahil dan sok merasa paling tahu..padahal sudah jelas-jelas pengetahuan yang dikembangkannya merusak masyarakat..itu yang benar bukan demokrasi..


platosku — Jumat, 19/12/2008 17:08 WIB

saudara/i sasada kudu banyak baca buku tentang liberalisme, demokrasi, dan fundamentalisme dulu, baru mengatakan bahwa yang moderat-liberal peduli dengan ilmu dan yang fundamentalis tidak peduli. yang benar bukan dikhotomi fundamentalis-liberal dalam mengukur kepedulian atas ilmu..melainkan apakah lingkungan, negara dan masyarakat memang dirangsang untuk mencari pengetahuan. dan itu tak ada hubungannya dengan fundamentalis-liberal. maka sebaiknya anda menjelaskan dulu apa makna fundamentalis dan apa makna liberal..


Syah Nurul Munthe — Minggu, 21/12/2008 17:25 WIB

saya sangat setuju dgn pendapat saudara bahwa kualitas muslim indonesia tidak sebanding dengan kuantitasnya. ini disebabkan karena tidak menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiran. terkadang kita lihat sebagian orang terlalu berlebihan berbidahnya (bukan artinya salah) hingga kehidupan dunia dilupakan seperti menuntut ilmu (segala bidang terutama ilmu sain) dan amal jariah. sebagian umut islam banyak yang pintar tapi mereka lupa bahwa mereka mempunyai kewajiban membagikan ilmunya kepada orang lain bukan menggunakannya untuk menyerang muslim sendiri. kesimpulannya umat muslim indonesia hanya mau mempelajari secara teori tanpa dipraktekkak dan menyesuaikan terhadap jaman sekarang. mengambil ilmu non muslim bukan berarti kita ikut agamanya (tuntutlah ilmu walau ke negeri cina). teruslah belajar tanpa lelah dan jadikan pola pikir kita "kalau bukan kita siapa lagi yang memajukan umat ini dan kalau bukan sekarang kapan lagi!!!!


aisyah — Minggu, 21/12/2008 18:45 WIB

Benar kita butuh sains dan teknologi yang sekarang dikuasai Barat, namun dari pengalaman saya sbg pengamat pendidikan amatir, tampaknya mode pendidikan yang ada sekarang sudah harus ditata ulang dari dasarnya. Apalagi dari sejarah ketahuan bahwa pendidika model sekarag baru muncul paling 2-3 abad terakhir. Pendidikan model sekarang ternyata telah menimbulkan anak terasing dari budayanya sendiri, apalagi agamanya. Jadi sebaiknya model pendidikan da pengajarannya juga diubah. Ayo generasi muda, mana inovasinya?


sofyansyamil — Minggu, 21/12/2008 20:20 WIB

kok pada bertengkar meributkan siapa yg benar & yg salah sih.Lebih baik tunjukkan kontribusi terbaik kita semua ttg sains tho?
Dan menunjukkan pada dunia luar bahwa umat islam itu cerdas dan berkualitas.
Right bro?


Kirim Komentar

Komentar yang akan dimuat yang santun, argumentatif, dan tidak memancing permusuhan

Nama


Email


Website (opsional)


Komentar



 
 
 
Pemuda & Mahasiswa
Kirimkan pemikiran, ide, serta pandangan Anda via email ke redaksi@eramuslim.com dengan judul "Pemuda-Mahasiswa" sertai profil singkat.
 
   
 
Share
 

PELUANG

 
 
 

Danamon Syariah Akan Kembangkan Produk Franchise
  Prospek pertumbuhan bisnis franchise di Indonesia dinilai sangat bagus sehingga Unit Usaha Syariah PT Bank Danamon akan mengembangkan produk pembiayaan khusus untuk bis...

Syakir Sulla : Syariah Punya Baitul Maal
Sosok Syakir Sulla merupakan sosok yang tidak asing lagi dalam dunia industry syariah. Ia adalah seorang praktisi dan akademisi syariah yang sudah malang melintang dalam berba...

Danamon Syariah Luncurkan Pembiayaan Otomotif dan Haji Khusus Kopkar
  Unit Usaha Syariah PT Bank Danamon meluncurkan pembiayaan otomotif dan layanan haji bagi anggota Koperasi Karyawan (Kopkar) Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha...

Danamon Syariah Agendakan Spin Off 2012
Unit Usaha Syariah PT Bank Danamon mengagendakan spin off pada 2012 mendatang. Agenda menjadi Bank Umum Syariah ini telah dalam perbincangan dengan pihak internal dan segera a...

 
Education Corner

Ada Apa Dengan Anak Remaja Kita

Waduh, bagaimana ini, Rina malas, Anto menolak, apa Ibu liburan berdua saja dengan Ayah, kalau gitu Ibu langsung ke Bali saja naik pesawat, enak gak usah capek-capek lewati Jogja, Ayah saja yang bic...

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Semua Rakyat Berhak Jaminan Sosial

JAKARTA – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa (LKC-DD) menyelenggarakan DIskusi Indonesia Sehat Dompet Dhuafa dengan Topik ; “Ada Apa dengan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nas…

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Tatap Masa Depan di RBA Kampung Muka

Siang itu, ruang baca Rumah Belajar Anak (RBA) Kampung Muka, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, kembali diramaikan  oleh suara riuh riang anak-anak. Ruang baca yang sekaligus berfungsi sebagai …