• Kamis, 22 Ramadhaan 1431/ 2 September 2010
 
 

Menjadikan Pendidikan Sebagai Prioritas Utama Pembangunan

Pendidikan merupakan kebutuhan manusia sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan di manapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya. Sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan terbelakang. Begitu pula suatu bangsa yang tanpa pendidikan. Ia akan menjadi suatu bangsa yang sulit berkembang dan terbelakang.

Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu berdaya saing, di samping pendidikan harus menghasilkan juga manusia yang berakhlak baik.

Pendidikan ini semakin penting kedudukannya karena bangsa Indonesia telah memasuki zaman globalisasi. Bangsa kita akan terus terjajah secara ekonomi, budaya, dan lain sebagainya kalau kualitas sumber daya manusianya tidak dimajukan. Bangsa Indonesia harus mau belajar dari bangsa lain. Kualitas pendidikan yang rendah membuat sebagian negara Afrika dikuasai oleh bangsa lain.

Sebaliknya kalau kita lihat B Jepang yang sangat berkonsentrasi terhadap pendidikan, kini telah memetik hasilnya. Jepang yang miskin sumber daya alam telah menjadi bangsa yang unggul dan disegani karena kualitas sumber daya manusianya.

Usia Indonesia yang telah menganjak 65 tahun ternyata belum menyadarkan para pemangku kepentingan bangsa ini untuk lebih memperhatikan pendidikan. Kondisi Indonesia yang hampir separuh penduduknya hidup miskin bahkan di bawah garis kemiskinan seperti sekarang ini adalah dampak dari pendidikan sumber daya manusia yang belum berhasil. Padahal kita tahu bangsa ini dikaruniai Allah SWT dengan kekayaan alam yang melimpah.

Pendidikan kita gagal menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang tangguh dengan karakter dan mental baja. Karena pendidikan kita hanya sekedar ijazah bukan substansi. Padahal pendidikan yang berkualitas itu bukan sekedar gelar, tetapi kualitas kemandirian. Semua orang maunya serba cepat. Jadinya cenderung mengabaikan proses tapi ingin segera mendapatkan hasil.

Akibatnya budaya instan mulai masuk dalam segenap kehidupan kita. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita lakukan dengan mudah, praktis, dan cepat. Kemajuan teknologi selain menguntungkan kita tetapi juga telah memanjakan kita. Membuat kita malas. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tak mau melewati proses. Berorientasi hanya kepada hasil. Celakanya penyakit ini telah menyebar ke berbagai sendi kehidupan, termasuk ke pendidikan kita.

Apakah pendidikan Indonesia akan mencetak orang-orang seperti ini ? tentu kita semua sepakat tidak rela generasi penerus bangsa ini menjadi generasi yang memble, suka instan dengan menghalalkan berbagai macam cara, tidak mau belajar keras, dan lain sebagainya. Untuk itulah sudah seharusnya pendidikan di Indonesia harus diarahkan untuk membangun karakter individu yang inovatif, kreatif, mandiri dan berdaya saing tinggi. Pendidikan yang dibisniskan, gelar yang diperjualbelikan akan membuat mental bangsa ini hancur dan hanya akan mencetak generasi yang akan menjadi kuli bagi bangsa lain.

Pendidikan kita gagal menghasilkan generasi yang mandiri, yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Setiap tahun pengangguran semakin bertambah. Kalaupun ada yang mendapat pekerjaan banyak yang hanya menjadi pegawai rendahan. Kurangnya inovasi dan jiwa kemandirian akan membuat bangsa ini selalu tergantung kepada bangsa lain.

Sekarang ini bangsa ini telah berhadapan dengan globalisasi. Sumber daya manusia harus kita tingkatkan dan kita jadikan prioritas utama dalam pembangunan suatu bangsa. Karena pendidikan adalah cermin kualitas sebuah bangsa. Pendidikan yang maju dan berkembang menunjukkan karakter bangsa tersebut yang selalu ingin maju dan ingin menjadi bangsa yang mandiri. Berdaulat penuh atas bangsa sendiri dan kekayaan sumber daya alamnya, sehingga kesejahteraan masyarakat Indonesia akan tercapai.

Hidayatus Sufyan; Penulis adalah Mahasiswa Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung
http://hidayatus.wordpress.com

Komentar Anda? ( Komentar Masuk : 15 )

Senin, 29/03/2010 09:32 WIB | email | print | share
 
 
 
 

Pemuda & Mahasiswa Lainnya

(Arsip) (Ke Atas)

Pemuda & Mahasiswa
Kirimkan pemikiran, ide, serta pandangan Anda via email ke redaksi@eramuslim.com dengan judul "Pemuda-Mahasiswa" sertai profil singkat.
 
   
 
 

PELUANG

 
 
 

Realistiskah Target Konversi Bank BUMN Menjadi Syariah?
Realistiskah target untuk mengkonversi salah satu bank BUMN menjadi bank syariah? Menjaab pertanyaan tersebut A. Riawan Amin selaku Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbi...

BI Dorong UUS Percepat Spin Off
Upaya Bank Indonesia (BI) unttuk mendorong penetrasi pasar perbankan syariah Indonesia  dengan menganjurkan kepada Unit Usaha Syariah (UUS) untuk mempercepat spin off menjadi...

3 BPD Syariah Terbaik 2010 Versi Majalah Investor
Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Pembangunan Daerah (BPD) memperoleh penghargaan sebagai UUS Terbaik 2010 dari Majalah Investor. Ketiga BPD Syariah tersebut adalah UUS BPD Aceh d...

Prof Thoby Mutis : Bank Syariah Lebih Banyak Kembangkan Musyarakah Fund!
Prof Thoby Mutis merupakan sosok yang tak bisa dilepaskan dari Universitas Trisakti. Saat ini Prof Thoby Mutis merupakan Rektor Universitas Swasta Ternama di Indonesia. Dibawa...

 
 
 
 
 
 
 
 
 
Education Corner

Anak Pemarah

Saya wanita bekerja dengan 4 anak yg masih kecil-kecil paling besar kelas lima SD, saya membesarkan anak-anak sendiri tanpa didampingi suami karena suami jauh. Karena saya sendiri kadang-kadang dalam mendidik anak saya terlau emosional.

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Dr. Indah SPKK, Rawat Pasien dengan Senyum Indah

Ketika ditanya apa alasannya mau menjadi relawan di LKC, Dokter Indah menjawabnya dengan senyuman. "Motivasinya hanya untuk berbagi dengan sesama."

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Pengungsi Sinabung, Logistik Masih Minim

Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut beberapa hari ini cenderung menurun. Namun, segala kemungkinan bisa saja terjadi, seperti meletusnya gunung ini Minggu (29/8) dini hari yang di luar prediksi para ahli.