Miskonsepsi Prabowonomics

Rabu, 03/06/2009 14:15 WIB | Arsip | Cetak

Kita mahfum, demokrasi banyak cacatnya. Sebuah resiko saat membiarkan ratusan juta orang yang mutlak berbeda, dalam sebuah kesamaan. Ada banyak kekonyolan. Tapi mungkin, kekonyolan terbesar dalam konsep ekonomi yang dibawa oleh para capres-cawapres adalah Prabowonomics. Ekonomi kerakyatan dengan target pertumbuhan ekonomi doubel digit.

Sebuah miskonsepsi, karena mengandalkan ekonomi kerakyatan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi doubel digit, ibarat menargetkan semua orang Indonesia mampu membeli caviar. Tidak perlu, tidak mampu, dan kontradiktif.

Ekonomi kerakyatan menurut Mubyarto (2002), bergerak dalam semangat untuk memenuhi kebutuhan dasar, yang digerakkan oleh orang-orang kecil dalam semangat kemandirian. Ada sebuah kesederhanaan dan pengakuan terhadap keterbatasan di situ, yang hanya dapat dilakukan karena idealisme keberpihakan terhadap rakyat kecil. Target double-digit growth sendiri adalah sesuatu yang sangat berbeda: megah, kuat, dan efisien sehingga tak pelak akan mengorbankan mereka yang lemah dan masih perlu belajar banyak mengenai usaha: para orang kecil.

Secara sederhana, apabila Prabowo diharuskan memilih antara dua pihak, perkebunan besar atau kumpulan petani kecil, untuk diberikan modal, ia tidak akan memilih petani kecil. Mereka lemah, lambat, dan tidak efisien. Perkebunan besar, jelas lebih mampu untuk mencapai doubel digit growth.

Secara teoritis pun, terdapat Kuznets Hipotesis yang terkenal berpostulat “Pada saat investasi masih didominasi oleh modal fisik, meningkatnya angka pertumbuhan akan meningkatkan kesenjangan pendapatan”. Hal ini disebabkan, pihak yang mampu mengelola modal dengan baik, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, adalah mereka yang sudah memiliki kekuatan dan pengetahuan: mereka yang sudah kaya dan berpengalaman memperoleh kekayaan.

Memang, layaknya sebuah teori, terdapat kritik terhadap hipotesis Kuznets. Kritik tersebut mengatakan bahwa pertumbuhan yang tinggi tidak selalu menimbulkan kesenjangan pendapatan yang tinggi, dan pengurangan kemiskinan dapat berjalan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akan tetapi, seperti umumnya perang pemikiran, kritik tersebut didominasi oleh ekonom-ekonom liberal .

Maka tidak mengherankan, untuk mengadvokasi kebijakan-kebijakan pro kapitalis (kemudahan masuk modal asing, insentif-insentif bagi perusahaan besar, pencabutan perlindungan kaum buruh,dll) para ekonom liberal tetap konsisten menggunakan target pertumbuhan ekonomi sebagai indikator kesuksesan pemerintahan mereka. Pertumbuhan ekonomi, yang tadinya hanya salah satu indikator, lambat laun dijadikan tujuan.

Sebaliknya, para ekonom kerakyatan tabu menargetkan pertumbuhan ekonomi, itu bukan tujuan ekonomi kerakyatan. Mereka lebih memilih indikator pengurangan tingkat kemiskinan dan penurunan pengangguran sebagai indikator kesuksesan sebuah pemerintahan. Selaras dengan paradigma ekonomi kerakyatan itu sendiri.

Lalu di mana letak Prabowonomics,ekonomi kerakyatan dengan target double digit growth ? Mungkin di iklan-iklan pro rakyat miskin, dengan anggaran milyaran rupiah.

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Pemuda & Mahasiswa

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang