Masjid Kampus sebagai Miniatur Masyarakat Islam

Rabu, 03/03/2010 08:57 WIB | Arsip | Cetak

Dalam sejarah Islam, masjid memiliki posisi sangat vital. Masjid tidak hanya diposisikan sebagai tempat ibadah semata. Masjid bukan hanya sebuah bangunan tempat dimana umat Islam melakukan shalat, zikir, membaca al Qur’an, i’tikaf. Masjid ternyata lebih difungsikan untuk membangun sebuah peradaban besar dunia.

Di dalam masjid lah umat dibina, strategi dakwah disusun,dan permasalahan umat dipecahkan. Tak ayal, dalam sejarah, Rasul SAW melakukan dua hal besar sesampainya di Madinah dalam hijrahnya: mempersaudarakan Muhajirin dengan Anshar dan mendirikan Masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Nabawi.

Dari sini lah kita semua harus sepakat bahwa masjid adalah pusat seluruh aktivitas umat Islam. Kondisi dimana umat merasa masjid sebagai rumah pertama dan utamanya. Umat akan merasakan kerinduan yang amat sangat tatkala jauh dari masjid. Dari masjid lah umat Islam hidup dan mengabdi hingga akhirnya syahid menemui Sang Khaliq.

Sejentara itu, dalam konteks dakwah kekianian, masjid kampus memiliki posisi dan potensi yang amat besar. Mengapa demikian? Logikanya sangat sederhana. Kampus adalah satu tempat yang sangat unik dan khas. Satu tempat dimana banyak potensi yang sebelumnya berserakan kemudian dikumpulkan.

Di kampus lah semua idealisme, intelektualitas, semangat, mimpi, aksi, dan kontribusi bernaung. Tak ada tempat di muka bumi ini yang seunik kampus dengan segala potensinya. Bukankah tak sedikit peradaban besar dunia lahir dan berkembang dari aktivitas kampus. Inilah yang harus dimanfaatkan oleh dakwah kampus dimana masjid kampus sebagai pusat dakwahnya.

Oleh karena itu, tak ada aksi lain selain benar-benar menjadikan masjid kampus pada posisi dan perannya yang ideal. Pertanyaan yang kemudian seringkali diajukan adalah bagaimana masjid kampus benar-benar berada dalam kondisi idealnya sementara di sisi lain aktivis dakwah kampus seringkali gamang dalam kompleksitas dakwah kampus. Itu yang harus kita selesaikan segera.

Kita sebagai aktivis dakwah harus benar-benar memposisikan masjid kampus pada khittahnya. Yang perlu diingat adalah masjid kampus bukan hanya sebuah bangunan megah nan indah tempat ibadah pada Pencipta semata. Masjid kampus harus benar-benar memposisikan dirinya sebagai miniatur peradaban masyarakat Islami. Masjid kampus lah yang menjadi representasi kehidupan umat Islam. Masjid kampus lah yang menjadi rujukan untuk menggambarkan peradaban Islami.

Berangkat dari kebutuhan untuk menjadikan masjid kampus sebagai miniatur peradaban Islami ini, minimal ada dua kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi: aktivitas dan fasilitas. Oleh karena itu, pembangunan dan pengembangan masjid kampus harus memenuhi dua kebutuhan tersebut,

Pertama, di masjid kampus harus ada aktivitas-aktivitas yang merepresentasikan kehidupan masyarakat Islami. Kita akan memimpikan sebuah masjid kampus dimana ada aktivitas ekonomi Islam yang dikelola umat, aktivitas politik dalam arti luas, aktivitas pendidikan dan pembinaan Islam, aktivitas sosial dan budaya yang menggambarkan luasnya khazanah Islam, dan sebagainya. Semua sektor kehidupan umat Islam dijalankan di dan oleh masjid kampus.

Dalam hal ini, kita akan memimpikan masjid kampus yang makmur sebenar-benarnya dalam konteks yang seluas-luasnya. Seperti yang telah dibahas sebelumnya kita tidak menginginkan masjid kampus yang hanya diramaikan ketika momentum shalat wajib berjamaah saja. Tidak ada satu detik pun di masjid kampus selain ada aktivitas masyarakat Islami di sana.

Kedua, untuk mendukung keberlangsungan semua aktivitas-aktivitas tersebut maka dibutuhkanlah fasilitas-fasilitas memadai. Jika ada aktivitas pendidikan dan pembinaan maka harus ada fasilitas pendidikan dan pembinaan semisal perpustakaan yang representatif, ruang belajar yang cukup, dan sebagainya. Jika ada aktivitas ekonomi maka setidaknya harus ada fasilitasnya semisal BMT atau koperasi syariah. Begitu pun dengan aktivitas-aktivitas lainnya, pasti butuh fasilits. Oleh karena itu, fasilitas-fasilitas di masjid kampus bukan hanya fasilitas ibadah maghdhoh saja.

Kedua hal utama ini harus benar-benar dibungkus dengan manajemen pengelolaan yang profesional. Masjid kampus harus benar-benar dikelola dengan baik sebagaimana negera dan dunia ini dikelola. Jika pengelolaannya buruk maka aktivitas dan fasilitas akan mati di tengah jalan. Oleh karena itu, dibutuhkan pula sumber daya manusia yang fokus dalam pengelolaan kedua hal ini. Masjid kampus butuh SDM yang visioner utnuk menghidupkan dan mengembangkan masjid kampus. Butuh sebuah cetak biru masjid kampus ideal dimana ada rencana-rencana strategisnya dalam mencapai masjid kampus sebagai miniatur masyarakat Islami.

Di sinilah peran aktivis dakwah kampus dituntut. Dengan segala kualitas dan kualitas serta potensi dan peluang yang dimilikinya, aktivis dakwah kampus yang tergabung dalam berbagai wasilah dan wajihah dakwah harus benar-benar fokus. Aktivis dakwah dituntut untuk memainkan perannya sebagai aset utama dakwah kampus karena aktivis dakwah kampus lah yang sejatinya pengelola utama dakwah dan masjid kampus. Aktivis dakwah kampus harus menjadi inisiator dan juga pelaksana dalam membangun dan mengembangkan sebuah masjidmenuju masjid kampus ideal.

Dengan izin Allah SWT, ini semua dapat terealisaskan sebagaimana dapat terealisasikannya pembangunan fisik masjid kampus di mayoritas kampus di Indonesia. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama kembali ke masjid kampus, kembali untuk memasyarakatkan masyarakat Islami.

Sofiet Isa Mashuri Setia Hati
Mahasiswa Teknik Elektro UGM
Kaderisasi LDK Jama'ah Shalahuddin UGM
[email protected] / sofietisa.co.cc

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Pemuda & Mahasiswa

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang