Masih Layakkah LDK Untuk Diharapkan

Senin, 10/08/2009 08:34 WIB | Arsip | Cetak

Lembaga Dakwah Kampus (LDK) adalah harapan umat dan bangsa akan krisis kepemimpinan yang seakan tak berujung. LDK ada untuk meciptakan sejarah berupa solusi. Kebutuhan dan harapanlah yang telah melahirkan LDK. Namun, apa jadinya jika harapan itu disia-siakan oleh LDK.

Saat ini LDK terus berkutat pada permasalah internalnya dan sepertinya akan masih terus berkutat di sana sementara umat sedang pada posisi dimana hampir tertutupnya semua pintu harapan. Banyak kalangan yang menilai saat ini lembaga dakwah kampus semakin kerdil. Perannya baik di pentas nasional maupun lokal dinilai sangat tidak signifikan. Yang lebih pedih adalah ketika keberadaan LDK dinilai sudah tidak akomodatif lagi saat ini. Ada dan tiada sepertinya sama saja. Padahal, tidaklah diciptakan LDK kecuali untuk menjadi besar dan menghasilkan karya-karya besar.

Melihat kondisi saat ini sangat wajar ketika banyak orang semakin memandang skeptis peran lembaga dakwah kampus. Realita problematika umat dan bangsa yang semakin kompleks tidak mampu diimbangi dengan kapaitas lembaga dakwah kampus. Dan inilah sebuah warisan sejarah yang harus dikebiri habis.

Jika dianalisis lebih mendalam, setidaknya ada 3 akar permasalahan yang terjadi dan selalu terjadi pada diri LDK saat ini :

Pertama, mayoritas LDK saat ini (atau bahkan semua) memiliki pandangan yang cenderung pendek. Bahasa sederhananya, LDK saat ini masih belum memiliki rencana stategis (Renstra) yang jelas. Belum ada cetak biru dari sebuah LDK ideal, apalagi langkah-langkah strategis menujunya. Kita sedang membangun sebuah peradaban, Bung. Apa jadinya sebuah peradaban apabila orang-orang yang hendak membangunnya tidak tahu model peradaban yang hendak dibentuk. Tak ayal jika hasil akhirnya adalah peradaban yang gagal karena tujuan yang kabur dan proses yang serabutan. Dan di sinilah LDK memiliki beban sejarah untuk menuntaskan peradaban yang saat ini mengalami stagnasi.

Kedua, Pembinaan yang masih jauh dari ideal. Ada dua segmentasi utama dari pembinaan: organisasi dan manusia. Inilah yang kemudian dinamakan manajemen. Sebuah LDK dituntut untuk mampu memanajemen itu semua secara efektif dan efisien, baik manajemen internal organisasi (baca: sistem) maupun manajemen internal manusia (baca: kader). Dari sini, dibutuhkanlah sebuah pembinaan yang mengarah padanya. Jika ini berhasil maka tidak ada lagi kasus-kasus ketidakprofesionalan kerja, syiar yang tak efektif, kaderisasi yang gagal, dan sebagainya. Ingat, LDK memiliki sebuah proyek besar untuk mencetak manusia-manusia pilihan yang dibingkai dalam koridor jama'ah (baca: organisasi bernama LDK) untuk mengemban amanah dakwah ini.

Ketiga, kultur LDK (termasuk di dalamnya manusia) yang masih buruk. LDK merupakan representasi dari sebuah peradaban dan manusia-manusia beradab yang memiliki sebuah kultur asasinya. Sebaik apapun sebuah sistem dan manusia kultur asasinya adalah kultur yang terbelakang maka tunggu waktunya sistem tersebut akan hancur dengan sendirinya yang diikuti dengan kehancuran manusianya.

Pertanyaan terakhir adalah masih layakkah LDK untuk diharapkan. Hanya ada tiga pilihan saat ini: melakukan transformasi total, atau membubarkan LDK dengan tangan sendiri, atau diam sembari menunggu kehancurannya secara pasti. wallahu a'lam

Profil Penulis :

Sofiet Isa Mashuri Setia Hati (Sofiet), Mahasiswa Universita Gadjah Mada, Jurusan Teknik Elektro, E-Mail : [email protected], website : www.sofietisamashuri.blogspot.com

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Pemuda & Mahasiswa

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang