Banyaknya korupsi di negeri ini berindikasi kuat pada mentalitas para pengambil kebijakan negeri ini (eksekutif, leglislatif, dan yudikatif), mereka berlomba memenuhi kebutuhan hidup masing – masing, filosofi “aji mumpung” menghiasi imajenasi mereka untuk hidup bermewah – mewahan.
Tak asing lagi di telinga kita sebagian besar para pelaku korupsi, mereka memiliki gelar sarjana. Seakan gelar pendidikan yang diraihnya dalam kurun waktu tertentu, serta idealisme yang diasah selama kurun waktu pendidikannya, terlupakan dengan jumlah uang ratusan juta hingga milyaran rupiah, uang sebanyak itu telah membuat mereka buta dan tuli, akan janji yang terucap saat kampanye dulu.
Angkat sumpah yang terucap saat wisuda terlupakan dengan silaunya uang ratusan juta hingga milyaran rupiah, apakah institusi pendidikan tidak memiliki peran yang signifikan untuk membuat jera para pelaku korupsi, disaat hukuman para pelaku korupsi terlalu ringan sehingga masih ada saja yang melakukan korupsi.
Kini saatnya institusi pendidikan melakukan aksi untuk para pelaku korupsi, yang telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Institusi pendidikan dapat mencabut gelar kesarjanaannya. Baik ia bergelar (S1,S2,S3, maupun profesor). Untuk mendapatkan kembali gelar kesarjanaanya, setelah para koruptor selesai menjalani masa hukumannya dan dinyatakan bebas oleh instansi terkait. Para koruptor harus membuat karya ilmiah, yang masa pembuatannya dibatasi 6 bulan – 1 tahun, setelah dinyatakan bebas. Serta mempresentasikannya didepan dosen penguji. Sebagaimna dulu melakukannya. Tanpa harus mengulang perkuliahannya.
Kecuali karya ilmiah tidak dapat diselesaikan dalam kurun waktu tersebut, para pelaku korupsi harus mengulanginya dari awal. Apabila dinyatakan lulus oleh dosen penguji, tahap selanjutnya mengikuti wisuda untuk kembali mengulangi sumpah sarjananya.
Sehingga nilai sebuah gelar sarjana yang diraih dahulu memiliki makna yang mendalam untuk dirinya. dan bertindak hati – hati serta berfikir sekian kali untuk melakukan korupsi. Gelar kesarjanaan memiliki integritas yang tinggi ditengah masyarakat, gelar sarjana bukan hanya tren dan gengsi bagi penyandang gelar tersebut. Tetapi gelar sarjana merupakan perpaduan antara intelektual dan moralitas yang tinggi bagi penyandang gelar tersebut.
Semoga tulisan ini menjadi buah pemikiran untuk para pemegang kebijakan di institusi pendidikan baik tingkat nasional maupun daerah, dan memberikan efek jera bagi para pelaku korupsi, dan yang akan melakukan korupsi.
Achmad Zaimudin Imansyah (zay_ntn@yahoo.com)
Dengan adanya perbankkan syariah pertumbuhan ekonomi akan semakin terjamin dari kehalalnya. Karena produk-produk yang di tawarkan oleh perbankan syariah adalah sebuah produk yang mana berlandaskan dengan hukum-hukum syariah yang telah Allah berikan dan diolah sedemikian mungkin sehingga masyarakat luas menjadi tahu.
Pengamat dan konsultan bisnis syariah terkemuka Indonesia, Adiwarman Karim, berani memproyeksi angka Rp101,1 triliun total aset perbankan syariah di 2010. Perhitungan itu hasil dari pertimbangan modal dan data historis pertumbuhan bank-bank syariah baru di 2010.
Ibarat rumah, perbankan syariah memiliki pondasi, pilar dan atap. Pondasi inilah yang menjadi dasar pembangunan bank syariah. Pembangunan pondasi harus kuat karena pondasi yang rapuh akan membuat bangunan perbankan syariah ikut rapuh.
Pendidikan, mencakup pengajaran, pembentukan moral, penelitian dan pengembangan, serta segala makna yang mungkin dikandung kata pendidikan, adalah isu yang sangat perlu diperhatikan di sektor perbankan syariah. Tidak bisa dipungkiri, teori dan praktek perbankan syariah saat ini banyak berangkat dari teori dan praktek perbankan konvensional.
Karena ingin mengajukan pinjaman untuk membeli kendaraan, akhirnya aku mendatangi bank-bank yang dekat dengan rumahku. Kebetulan di ruko dekat rumahku cukup lengkap banknya mulai dari yang konvensional sampai yang syariah.
Bill menuai sukses di bisnisnya saat menjual program DOS kepada IBM. Ajaibnya saat Bill menawarkan program DOS ke IBM, BIll bersama rekannya, Paul dan Steve sama sekali belum memiliki program itu dan lebih gilanya lagi..
KANGEN sekali saya dengan suasana seperti ini. Rendy, Putri, Shalma Alexa, Ahad Rifaldo dan teman-teman sebayanya tampak duduk lesehan dengan tertib di lantai mushalla. Wajah mereka terlihat ceria.