Eramuslim » Suara Pembaca http://www.eramuslim.com Media Islam Rujukan Sun, 27 Jul 2014 03:51:45 +0000 id-ID hourly 1 http://www.eramuslim.com/ Mudik dan Hakekatnya http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/mudik-dan-hakekatnya.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/mudik-dan-hakekatnya.htm#comments Sun, 27 Jul 2014 03:51:45 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=80698 mudikOleh : Anatasia, Alumni Pendidikan Bahasa Jerman UPI Bandung       

Hari raya idul fitri tentu tidak bisa dipisahkan dari ritual mudik, konon ritual mudik sudah ada turun temurun dari nenek moyang kita terdahulu, mudik ketika hari raya idul fitri terjadi bukan hanya di Indonesia saja, sebagian negara timur tengah semisal Mesir pun melakukan hal yang sama, namun tentu saja mudik secara spirit di Indoneisa lebih kentara dan membahana.

Mudik berasal dari akar kata ‘udik’ yaitu kampung atau desa yang lawan katanya adalah kota. Ini seperti istilah arab ‘badui’ yang artinya lawan dari kata hadhory. Sehingga dengan sederhana kita  bisa menarik kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke kampung halaman. Aktifitas mudik selalu dilaksanankan menjelang Idul fitri dan ternyata keduanya mempunyai hubungan yang jauh lebih bermakna, mudik kita pahami sebagai bentuk perjalanan kembalinya seseorang kepada asul-usulnya, misalnya orang yang jauh merantau ke Jakarta dia akan kembali ke kampung halamannya, kampung di mana terdapat indentitas jati dirinya, bertemu dengan dengan orang tua, sanak keluarga, teman kecil dan kenangan yang akan membangkitkan seseorang rindu kembali ke kampung halamannya, lalu kenapa aktifitas mudik identik dengan Idul fitri?

Mudik, dan hakekat fitrah manusia

Mudik mengingatkan kita pada asul-usul seseorang, begitu pun dengan Idul fitri, sejatinya mengandung pesan dan makna mendalam jauh ketimbang nilai tradisi mudik, namun mudik menjadi kiasan sepenggal kehidupan manusia yang akhirnya dia akan kembali kepada sang pencipta. Bukankah ketika masih berada di alam rahim, Allah SWT telah mengambil perjanjian setia dari tiap ruh manusia untuk menyembah hanya kepada-Nya, sebelum manusia lahir ke muka bumi ini Allah SWT menanyai ruh manusia untuk mengakui Allah SWT sebagai Tuhannya dengan semua konsekuensinya, ruh tersebut menjawab dengan tegas bahwa mereka bersaksi tiada Tuhan selain

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap (ketauhidan) ini” (QS. Al-A’raf: 172).

Lantas Allah pun mempertegas tujuan penciptaan manusia ke muka bumi

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.“ (QS. Az-Dzariyat:56).

Setelah kita sadar bahwa ternyata manusia mempunyai tanggung jawab ketika hidup di dunia, mereka harus menyembah Allah, konteknya luas menyembah berarti kita tunduk dengan segala perintah Allah, tidak boleh menduakan Tuhan selain Dia, karena seseorang bersyahadat bersaksi kepada Allah mengandung ikrar tiada tuhan selain Allah. Ritual Mudik seolah menyiratkan kita pada simpul pertanyaan besar dalam hidup (uqdatul qubro) yang mana pertanyaan tersebut akan muncul pada benak manusia, dari manakah aku berasal? Untuk apakah aku diciptakan ke muka bumi?akan kemanakah setelah aku mati? Tentu saja jawaban ketiganya adalah saya datang dari Allah, diciptakan untuk senantiasa penyembah Allah, dan akan kembali kepada Allah. Ketiga nya mempunyai makna fitrah yang sesungguhnya, inilah pesan idul fitri kepada manusia meningatkan kembali pada Tuhannya, namun sayang ketika manusia itu lalai nilai fitrah menjadi bergeser pada tradisi yang kering akan makna hakiki. Wallahu Alam

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/mudik-dan-hakekatnya.htm/feed 0
Membangun Reputasi Da’i http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/membangun-reputasi-dai.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/membangun-reputasi-dai.htm#comments Sat, 26 Jul 2014 02:26:46 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=80649 alam2Oleh : Mastori, M.A

Dosen STAI PTDII Tanjung Priok-Jakarta Utara

 

Sebagai agen perubahan, seorang Da’i selain dituntut memiliki ilmu yang luas dan tsaqafah Islam yang kuat semestinya da’i memiliki pribadi yang unggul dan Islami dalam segala hal. Adalah naïf jika da’i yang mempunyai misi perubahan yang besar, selalu bicara yang besar-besar tetapi tidak dimuliakan oleh orang-orang terdekatnya atau bahkan keluarganya sendiri  karena memiliki pribadi yang lemah.

Ini penting untuk diperhatikan demi membangun pribadi da’i yang tangguh. Terkadang dai memiliki misi perubahan yang besar dimasyarakat tetapi pribadi dai sendiri sangat lemah. misalnya menolak kritikan yang membangun, tidak  menghargai pendapat orang lain, menyepelekan shalat berjamaah dengan berbagai alasan, menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang mubah bahkan sampai kepada melalaikan shalat atau kebiasaan yang buruk seperti terlalu banyak tidur, kuliah tidak selesai-selesai dengan alasan dakwah, prinsip seperti ini tidak sepenuhnya benar bahkan salah jika dihadapkan kepada masyarakat yang menghormati gelar kesarjanaan sebagai formalitas bahwa da’I benar-benar mempunyai kemampuan atau keahlian, ilmu. Hal ini penting untuk membangun reputasi.

Dai harus berusaha menampilkan sosok pribadi yang unggul dimasyarakat dibanding orang pada umumnya, serta gigih dalam usaha meningkatkan kwalitas pribadi dan keilmuannya. Apalagi masyarakat Indonesia khususnya cenderung lebih  suka ‘mendengarkan’ dan meneladani orang yang difigurkan daripada menerima nasehat baik dari orang yang tidak memiliki reputasi baik dimasyarakat.

Hal ini terbukti di suatu daerah ada seorang kyai yang mempunyai reputasi baik dimasyarakat dimanfaatkan oleh calon Bupati disaat PILKADA untuk memenangkannya. Pak kyai berkampanye “ siapa yang tidak mendukung calon si A kualat, Al-Fatihah!!!’ (ini tentu contoh yang buruk), terbukti calon yang didukung kyai tersebut menang mutlak bahkan hanya ada tiga suara yang tidak memilih calon si A didaerah tersebut! Bayangkan jika pak kyai tersebut mengatakan ‘siapa yang tidak mendukung syariah Islam kaffah, kualat. Al-fatihah!. Begitulah pentingnya reputasi  dimasyarakat. Nasehat yang disampaikan oleh dai yang memiliki reputasi dan pribadi yang baik akan lebih mudah diterima daripada nasehat yang disampaikan oleh da’i yang ‘biasa-biasa’ saja atau bahkan memiliki reputasi yang buruk.

Lebih dari itu, tanpa memberi nasehat dakwah pun dai yang sudah mempunyai reputasi baik dimasyarakat, perbuatannya atau apa yang dilakukannya sadar atau tidak mengandung unsur dakwah yang dijadikan rujukan masyarakat. Oleh sebab itu sikap dan pribadi dai harus benar-benar Islami.

Reputasi dan kredibelitas dai tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus dibina dan dipupuk. Memang, reputasi dan kredibelitas erat kaitannya dengan karisma walau demikian kredibelitas dapat ditingkat sampai batas optimal. Seorang yang kredibelitas tinggi adalah seorang yang mempunyai kompetensi dibidang yang ingin ia sebarkan, mempunyai jiwa yang tulus dan beraktivitas, senang terhadap pesan-pesan yang ia miliki, berbudi luhur serta mempunyai status yang cukup walau tidak harus tinggi. Dari sana berarti seorang dai yang ingin memiliki kredibelitas tinggi harus berupaya membentuk dirinya dengan sungguh-sungguh.[1]

Sementara sifat-sifat yang harus dimiliki seorang dai secara konkrit adalah ada tujuh macam, yaitu:

1.       Hendaklah dakwah itu ditujukan kepada Allah dank arena Allah SWT;

2.      Hendaklah dai (pendakwah) itu beramal shaleh, baik dalam hubungannya dengan Allah, sesame manusia dan alam.

3.      Hendaklah dai menampakan keislamannya, dan berkata “ sesungguhnya aku dari orang-orang Islam”

4.      Hendaklah dakwah dijalan Allah itu disertai dalil-dalil akal (logika) atau kebijaksanaan (hikmah);

5.      Hendaklah dakwah itu peringatan yang baik dan nasehat yang mulia;

6.      Hendaklah da’i mulai memikat pikiran-pikiran mereka pada kenyataan-kenyataan tempat hidup mereka.

7.      Hendaklah dakwah itu dipikul secara berjamaah, dan menjadi tanggung jawab jamaah.[2]

Jelaslah da’i adalah suri tauladan bagi masyarakat objek dakwah. Karena sebagai panutan da’i harus bisa menempatkan dirinya sebagai seorang da’i dan menjaga reputasi dan keunggulan pribadinya baik dalam amal shaleh dan keilmuannya. Keduanya penting untuk ditingkatkan sehingga tujuan dakwah yakni melanjutkan kehidupan Islam dapat tercapai. Amiin. Wallahu a’lam.

[1] Drs. Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, Jakarta : Amzah, 2009, hal. 76

[2] Dr. Samith ‘Athif Az Zain, Sifat dan karakter para Da’i, hal. 8

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/membangun-reputasi-dai.htm/feed 0
Anomali Prabowo dan Ganti Rezim http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/anomali-prabowo-dan-ganti-rezim.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/anomali-prabowo-dan-ganti-rezim.htm#comments Thu, 24 Jul 2014 02:34:59 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=80585 jkOleh : Abu Rasyidah (Aktivis Gerakan Kontemporer Indonesia)

Sikap penolakan Prabowo atas hasil pilpres pasca release resmi hasil riil qount oleh KPU menyisakan beberapa pertanyaan.

Pertama, sebelumnya menjelang penghitungan akhir riil qount 22 Juli, kedua kubu baik Jokowi maupun Prabowo difasilitasi ketemu dengan beberapa tokoh diantaranya Habibie dan SBY. Meski pertemuan itu bersifat tertutup dan tidak jelas agenda apa yang dibicarakan. Namun opini media yang berkembang adalah kedua kubu sepakat untuk bisa menerima hasil pilpres secara damai.

Kedua, langkah Prabowo menolak hasil perhitungan riil qount tidak menggunakan mekanisme gugatan ke Mahkamah Konstitusi, menurut beberapa pakar hukum berpotensi diancam hukuman kurungan penjara 4-6 tahun. Benarkah ini murni sebagai sebuah ekspressi tindakan melawan hukum sebagai wujud ketidakpercayaan terhadap mekanisme hukum dalam konteks pilpres ? Ataukah sebagai trik politik untuk meningkatkan tawar menawar politik ?

Terlalu lugu menafsirkan setiap sikap politik yang ditampilkan oleh para elit politik atau penguasa saat ini murni benar-benar berangkat dari idealisme ideologis. Sebagaimana kita pahami, kultur politik dalam bingkai Demokrasi di negeri ini meniscayakan perilaku politik pragmatis. Apalagi penyampaian sikap politik Prabowo dihadiri oleh para pentolan elit politik seperti Aburizal Bakrie, Akbar Tanjung, Joko Santoso dll. Dan Mahfudz MD menyampaikan di beberapa media bahwa tokoh yang memiliki pengaruh besar mendorong sikap politik Prabowo itu adalah Akbar Tanjung.

Ketiga, jika sikap politik Prabowo itu dimaknai sebagai awal dari sikap oposisi. Maka sistem politik negeri ini tidak mengenal konsep oposan murni. Dan pengalaman oposisi bagi koalisi partai pendukung Prabowo-Hatta tidak memiliki akar historis. Termasuk hampir semua parpol di negeri ini. Semua bisa fleksibel melihat arah angin kepentingan politik yang sarat dengan permainan kompromi politik. Kita melihat juga bahwa dalam proses perjalanan dukungan terhadap capres cawapres, dinamika internal partai pendukung Prabowo-Hatta begitu dinamis. Baik Demokrat, PPP, PAN maupun Golkar suaranya terbelah. Sebagian mendukung Prabowo-Hatta. Sebagian lagi mendukung Jokowi-JK. Mungkin hanya PKS sebagai satu-satunya parpol yang solid mendukung pasangan Prabowo-Hatta. Ini berbeda dengan dinamika parpol pengusung dan pendukung Jokowi-JK. Apalagi sejak awal SBY kelihatan berseberangan dengan Prabowo karena faktor kesejarahan dan visi misi nasionalisasi sumber daya alam.

Alhasil menjelang Idul Fithri 1 Syawal ini penting direnungkan selain problem yang dihadapi dunia islam terutama saudara-saudara kita di Gaza Palestina, negeri ini menghadapi kenyataan politik selain profil parpol yang melahirkan para elit politik dan penguasa seperti di atas. Juga lahirnya presiden dan wakil presiden baru. Dewan perwakilan baru. Kabinet baru. Lembaga tinggi negara baru. Lembaga pemerintah yang baru. Tetapi tetap ditopang oleh sistem politik dan sistem ekonomi sebagai referensi kebijakan negara yang sama. Yakni sistem politik Demokrasi dan sistem ekonomi liberalis. Sebuah sistem yang memberi kerangka jalan mudah bagi intervensi dan penjajahan asing. Apalagi sosok Jokowi sangat dikenal sebagai sosok yang didukung oleh kepentingan asing dan aseng.

Berharap perubahan besar dan mendasar atas problem bangsa yang mendera negeri ini dari sekedar ganti rezim adalah sesuatu yang sangat utopis. Dari waktu ke waktu. Dari pergantian rezim ke rezim. Selalu berujung pada kekecewaan rakyat. Rakyat sebagai obyek eksploitasi aspirasi politik. Sekaligus rakyat sebagai korban dari kebijakan politik para elit. Perlu tidak hanya sekedar pergantian rezim tetapi juga pergantian sistem yang kompatible bagi referensi penyelenggaraan pemerintahan dan pengelolaan negara agar menjadi lebih baik. Pilihannya adalah apakah menggunakan model sistem politik Demokrasi Liberalis, Sosialis Komunis atau Islam. Dan Islam adalah keyakinan mayoritas bangsa ini yang mengatur segala aspek kehidupan. Mulai dari A hingga Z. Mulai dari persoalan individu hinggan negara. Karena Islam yang memuat ajaran syariah, jihad dan khilafah diturunkan untuk kesempurnaan kehidupan manusia dan rahmat alam semesta. Allah Subhanahu Wa Ta’alla berfirman : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3). Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini. Yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram selain apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari’atkannya.” Wallahu a’lam bis shawab.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/anomali-prabowo-dan-ganti-rezim.htm/feed 0
Jokowi dan Keabsahan Pilpres http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/jokowi-dan-keabsahan-pilpres.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/jokowi-dan-keabsahan-pilpres.htm#comments Wed, 23 Jul 2014 01:54:52 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=80545 jkOleh : Abu Fikri (Aktivis Gerakan Revivalis Indonesia)

Kemarin 22 Juli, pengumuman hasil riil count pilpres oleh KPU sudah disampaikan. Hasilnya tidak berbeda jauh dengan prediksi perhitungan quick qount sebelumnya. Misalnya yang dirilis oleh RRI. Selisihnya kurang lebih 0,23 persen. Dan seperti yang sudah diprediksikan sebelumnya pemenangnya adalah Jokowi-JK. Tetapi hasil riil count oleh KPU itu ditolak oleh kubu Prabowo-Hatta. Bahkan disikapi dengan tanpa melalui mekanisme formal yang dikehendaki. Apalagi kalau bukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi sebagaimana yang sering dijadikan dalih oleh KPU. Dan menjadi diktum pidato Prabowo menyikapi hasil riil qount pilpres. Sikap Prabowo ini mengindikasikan bahwa kontestasi pilpres kemarin pada hakekatnya hanya diikuti oleh satu pasangan capres cawapres yakni Jokowi-JK. Atau tidak diakuinya proses kompetisi 2 capres cawapres kemarin. Tak ayal ini mendapatkan respon berbagai pihak. Termasuk kekhawatiran pada bursa saham di negeri ini. Secara khusus juga Wiranto sangat menyayangkan sikap Prabowo yang dianggap kurang bisa legowo sebagai seorang negarawan. Di tengah himbauan seruan damai agar bisa menerima kenyataan hasil riil qount pilpres.

Jika Prabowo tetap keukeuh dengan pendiriannya maka ini menjadi sikap politik yang menarik. Tetapi sebaliknya jika Prabowo merubah sikap politiknya dengan mentolerir berbagai penyimpangan pada prosesi pilpres kemarin justru menjadi sebuah pertanyaan besar. Yakni benar adanya dugaan bahwa setiap friksi kepentingan politik para elite politik maupun elite penguasa akan disudahi dengan kompromi politik. Dalam kondisi seperti ini maka aspirasi rakyat dalam bentuk hak pilih hanya menjadi obyek eksploitasi politik untuk memenangkan bargaining of power (tawar menawar kekuasaan) antar elite. Hal itu bisa diuji dari seberapa jauh jawaban riil policy para penguasa menyikapi berbagai persoalan yang mendera negeri ini. Misalnya tentang kenaikan BBM, upah buruh, kemiskinan, pengangguran, SDA dieksploitasi oleh asing, hutang luar negeri membumbung tinggi, kedaulatan negara dan lain-lain. Sepanjang tidak terjadi perubahan mendasar atas berbagai problem di atas diantaranya maka sesungguhnya pergantian pilpres dari waktu ke waktu hanya menjadi ritual politik tanpa isi. Khususnya, dalam bentuk keberpihakan nyata terhadap kepentingan rakyat. Apalagi berpihak pada kepentingan aspirasi umat islam yang menjadi mayoritas negeri ini. Yakni aspirasi akan penerapan syariat islam di semua aspek kehidupan.

Keberpihakan terhadap kepentingan rakyat ini relevan dipertanyakan karena produk legislasi di negeri ini kebanyakan seperti pisau bermata dua. Pertama, menindas rakyat dan kedua, berpihak pada kepentingan asing. Salah satu indikator berpihak kepentingan asing bisa dilihat dari bagaimana profile hutang luar negeri Indonesia. Ada 3 lembaga dan 3 negara yang rutin memberikan hutang. 3 lembaga itu antara lain IDB, ADB dan World Bank. Sementara 3 negara itu antara lain Perancis, Jerman dan Jepang. Kelihatan seolah-olah AS tidak muncul padahal sejatinya menjadi kekuatan politik di balik lembaga-lembaga donator internasional. Dan kita juga memahami bahwa Jerman, Perancis, dan Jepang adalah sekutu-sekutunya. Mereka bersaing untuk memperebutkan kue jajahan dan jarahan di Indonesia melalui pemberian hutang. Indikator yang lain terbaru adalah kunjungan Clinton yang tidak bisa hanya dimaknai sebagai kunjungan biasa saja. Apalagi juga terdengar kabar bahwa James T Riady yang menjadi bos Lippo Group baru-baru ini mendapatkan visa kembali bisa masuk ke AS. Pasca sebelumnya dilarang karena keterlibatannya pada pilpres jaman Clinton. Dan diduga mengkoneksikan dengan jejaring intelijen China. Hubungan Clinton, James T Riady dan Jokowi sebagaimana banyak analisis menyebut punya kedekatan khusus. Dan inilah salah satu bukti kuat sejak awal terutama melalui rekayasa opini media keseriusan Jokowi diantarkan ke RI 1. Dan semuanya menjadi terbukti bahwa Jokowi akhirnya benar-benar menjadi RI 1. Tinggal menunggu sepak terjang politiknya terutama dalam menyusun kabinet dan menggerakkan roda pemerintahan. Benarkah Jokowi sebagai sosok seperti yang digambarkan selama ini. Yang sulit dipahami justru adalah bagaimana fakta kepentingan politik asing dan aseng akan bermain di balik kekuasaan Jokowi. Yang jelas negeri ini saat ini menghadapi kenyataan politik, dipimpin oleh Jokowi sebagai RI 1. Dan Ahok yang China Nasrani menjadi pimpinan pusat kekuasaan negeri ini DKI 1. Sulit rasanya untuk tidak mengatakan bahwa Jokowi bukan menjadi antek asing dan aseng jika melihat track recordnya selama ini. Diantaranya pertama, pemberian IMB gedung Kedubes AS di Jakarta yang disinyalir sebagai pusat intelijen, spionase dan militer strategis untuk mengendalikan kawasan Asia Pasifik. Kedua,kemungkinan ditutupnya kasus BLBI yang melibatkan banyak Aseng konglomerat hitam. Keberpihakan kepada kepentingan Asing dan Aseng ke depan kemungkinan akan lebih diperkuat melalui pembuatan desain kerangka legislasi sebagai legitimasi formal konstitusional. Dengan dalih sesuai amanah UU dan atas nama amanah rakyat.

Nampaknya keabsahan hasil pilpres ini menyisakan berbagai persoalan tidak saja hasil prosesi pilpres yang ditolak oleh kubu Prabowo Hatta karena dianggap cacat hukum. Melainkan juga landasan yuridis formal karena dikabulkannya uji materiil kelompoknya Efendy Ghozali CS dan Yusril Ihza Mahendra beberapa waktu yang lalu yang mempertanyakan legalisasi pilpres. Dan tetap saja so must go on. Untuk kesekian kalinya dalam pandangan para pembela Demokrasi dan para pengikutnya, Demokrasi dianggap mengalami berbagai ujian di tengah mahalnya biaya yang dihabiskan dari duit rakyat. Sampai kapan kondisi kerusakan sistemik akibat implementasi sistem politik Demokrasi ini berulang terjadi. Sementara sudah jelas disadari oleh mayoritas bangsa yang muslim ini bahwa Demokrasi adalah sistem kufur buatan manusia. Hanya dengan sistem Islam yang memuat ajaran jihad, syariah dan khilafah sesungguhnya semua kemelut persoalan mampu dipecahkan. Berhentilah bermain dengan kesia-siaan dengan menggunakan hukum buatan manusia Wahai Para Penguasa. Bulan Ramadhan penuh dengan kemuliaan ini dimana dunia muslim terus didera oleh berbagai persoalan terutama kaum muslim di Gaza Palestina yang dinvasi oleh Israel laknatulloh, harusnya dipenuhi dengan upaya untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan sebagaimana perintah Allah Subhanahu Wa Ta’alla. Baik ketaqwaan individu, kelompok, masyarakat dan negara. Dengan jalan hanya menggunakan aturan yang datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’alla semata. Ingatlah Firman Allah Subhanahu Wa Ta’alla di dalam QS An Nisa 60 : “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu ? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya”. Wallahu a’lam bis shawab.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/jokowi-dan-keabsahan-pilpres.htm/feed 0
Kenapa Penafsir Ora Mudeng Justru Disiar-siarkan http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/kenapa-penafsir-ora-mudeng-justru-disiar-siarkan.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/kenapa-penafsir-ora-mudeng-justru-disiar-siarkan.htm#comments Tue, 22 Jul 2014 02:49:04 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=80498 shihabSeorang muballigh mengisahkan kisah singkat perjalanannya berkaitan dengan wong ora mudeng (tidak ngeh, tidak konek) di Jawa Tengah.

Dikisahkan, hari sudah sore, bus dari Ampel ke Simo hanya sampai di Papringan, lalu balik dengan alasan tidak ada lagi penumpang. Padahal Simo masih 7 KM lagi. Sedang tempat yang dituju muballigh ini masih 7 KM lagi dari Simo.

Di dalam bus ada satu lagi penumpang yang akan ke Simo. Dia memberitahu agar sang Muballigh memanggil penjemput. “Saya juga sudah memanggil”, kata orang ini dengan menjelaskan, tujuannya masih 2 KM lagi dari Simo.

Sesampai di Papringan, Muballigh dan seseorang itu menunggu orang yang mereka panggil masing-masing. Tahu-tahu yang hadir duluan justru penjemput sang Muballigh. Sedang penjemput seseorang itu yang jaraknya lebih dekat justru belum datang. Sebelum sang Muballigh berangkat bersama penjemput, menunggu dulu untuk berpamitan dengan seseorang itu yang sedang menelepon balik. Ternyata, yang dia panggil via telepon tadi ora mudeng (tidak ngeh). Hingga sampai ditelepon kembali, dia masih ada di rumah.

Ora mudeng kenapa?

Kalimatnya sama. Yang disampaikan sang muballigh dan seseorang itu kepada yang dia panggil sama. Yaitu: “Saya naik bus dari Ampel ke Simo, tapi busnya hanya sampai Papringan.”

Yang dihubungi oleh seseorang itu tidak ngeh (ora mudeng) kalau kalimat itu tadi maksudnya minta dijemput. Dianggapnya itu hanya berita belaka. Akibatnya setelah diteleponi lagi maka gelagapan dan minta maaf, kemudian buru-buru menjemput. Namun sudah telat, dan mereka tidak bisa berbuka puasa di rumah tepat waktunya seperti yang diharapkan.

Kisah pengalaman muballigh itu kemudian disampaikan kepada jamaah di pengajian masjid dikaitkan dengan malam lailatul qadar. Dalam Al-Qur’an dijelaskan di surat Al-Qadar, inna anzalnahu.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS Al-Qadr : 3).

Kata sang muballigh, bagi orang yang mudeng (faham, ngeh) maka  dia berupaya untuk meraih kebaikan itu dengan ibadah, amaliyah yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, ketika sudah ada ayat seperti itu namun dia diam saja, berarti dia itu wong ora mudeng, mirip orang yang disuruh menjemput tadi, tetapi ora mudeng, maka diam saja padahal sudah ditunggu-tunggu.

***

Penafsir ora mudeng tapi malah ditampil-tampilkan

Peristiwa wong ora mudeng itu berlangsung di saat sedang ramai-ramainya penafsir ora mudeng pula, namun kabarnya banyak digemari orang karena ditampil-tampilkan. Lha namanya penafsir atau ahli tafsir, lha kok ora mudeng kalau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu telah mendapatkan jaminan masuk surga. Kata dia (Quraish Shihab Ahli Tafsir): “Tidak benar… saya ulangi, tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan surga.” kata pengarang Tafsir al-Misbah itu. “Heeem..” gumam si pemandu acara. Masih kata pakar tafsir itu, “Surga itu hak prerogatif Allah. Ta toh…”. Kemudian dia menyodorkan sebuah hadits yang berbicara bahwa tidak seorangpun masuk surga karena amalnya (Metro TV 12 Juli 2014 pk 03.49 wib).
Perlu dipertanyakan kepada penafsir yang ora mudeng, apakah ketika “Surga itu hak prerogatif Allah » berarti tidak boleh Allah berikan jaminan kepada siapapun ?

Sedangkan dalam Al-Qur’an, Allah telah berfirman :

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” [QS. Al-Kautsar: 1]

Mengenai tafsir surat al-Kautsar, disebutkan dalam hadits

عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « أُنْزِلَتْ عَلَىَّ آنِفًا سُورَةٌ ». فَقَرَأَ « بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ) ». ثُمَّ قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ ». فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ…

dari Sahabat mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidur sambil tersenyum.

‘Apa yang membuat anda tertawa, wahai Rasulullah?’ tanya kami.

“Baru saja turun kepadaku satu surat.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat al-Kautsar hingga selesai.

“Tahukah kalian, apa itu al-Kautsar?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” Jawab kami.

Kemudian beliau bersabda,

“Itu adalah sungai, Allah janjikan untuk diberikan kepadaku di Surga. Jumlah gayungnya sebanyak bintang..” (HR. Muslim 400, Ahmad 11996, Nasai 904, Abu Daud 784, dan yang lainnya). (lihat Bantahan untuk Pernyataan Kontroversial Bapak Quraish Shihab oleh koepas.org).

Mari kita ulangi sabda Rasul shallalahu ‘alaihi wa sallam:

قَالَ « فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ…”

beliau bersabda,

“ (Al-Kautsar) Itu adalah sungai, Allah janjikan untuk diberikan kepadaku )di Surga…(” (HR Muslim)

Bahwa al-Kautsar itu sungai di surga dijelaskan dalam hadits:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْكَوْثَرُ نَهْرٌ فِى الْجَنَّةِ

Dari Abdillah bin Umar, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Al-Kautsar adalah sungai di surga… (HR At-Tirmidzi, shahih).

Dari kalimat dalam hadits shahih itu, siapapun (selain wong ora mudeng) pasti faham bahwa janji Allah memberikan Al-Kautsar yakni sungai di surga kepada Nabi-Nya itu ya sudah pasti jaminan. Sehingga hanya wong ora mudeng yang tidak malu-malu berkata:

“Tidak benar… saya ulangi, tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan surga.”

Kalau dia itu seorang penafsir, berarti ya penafsir jenis wong ora mudeng.

Di samping itu, seorang dosen di Pasuruan Jatim mencatat: Harap diketahui pembaca, tercatat sudah empat kali pakar tafsir ini mengeluarkan pendapat kontroversial, diantaranya: persoalan hijab tidak wajib bagi muslimah (buku Jilbab, tahun 2004), penggunaan katub jantung babi untuk pengganti katub jantung manusia yang sakit (Tafsir al-Misbah Vol 3, th 2005, hal 16), bolehnya mengucapkan selamat natal (buku 1001 soal keislaman, th 2008), dan titik temu Sunni-Syiah (Lentera Hati, th 2010). Mudah-mudahan kedepannya, pakar tafsir tersebut tidak ceroboh lagi dalam mengeluarkan pendapat yang mana pendapatnya itu bisa menggoyahkan iman orang awam. (Pakar Tafsir Belum Tentu Masuk Surga, SI Online).

Yang perlu dipertanyakan, kenapa penafsir ora mudeng justru disiar-siarkan lewat tv segala bahkan buku-buku atas nama Tafsir al-Misbah dan lainnya diedarkan ke masyarakat? Untuk apa?

Wallahu a’lam bisshawab.

(Hartono Ahmad Jaiz)

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/kenapa-penafsir-ora-mudeng-justru-disiar-siarkan.htm/feed 0
Antara Mesir dan Palestina http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/antara-mesir-dan-palestina.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/antara-mesir-dan-palestina.htm#comments Sun, 20 Jul 2014 06:51:09 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=80439 rafahOleh : Anastasia , Alumni Pendidik Jerman UPI Bandung

Konflik Palestina tengah berkecamuk, konflik yang memang sering terjadi seolah memiliki ritme tersendiri hadir di saat ramadhan dan menjelang pemilihan umum. Palestina secara geografis berdekatan dengan Mesir, bahkan kunci masuk menuju Palestina ada di pintu Rafah, untuk melanjutkan kehidupan orang-orang Palestina tak jarang terowongan digali agar sampai ke Mesir, suatu anugrah besar jika di rumah warga palestina terdapat terowongan yang bisa menembus ke  Mesir, dari sana pasokan gas, kebutuhan makanan diselundupkan, bahkan menjelang iedul adha kambing pun tak masalah diangkut.

Tentu saja keadaan seperti ini ironi besar bagi Mesir, dekat tapi tak mampu berbuat apa-apa, bantuan kemanusian terhambat di pintu Rafah, sewaktu Mursi menjadi penguasa  setidaknya Palestina pernah merasakan angin segar pintu Rafah dibuka, namun itu pun tak gratis, Mursi harus merelakan Israel menjangkau dataran Sinai untuk sementara waktu.

Lain Mursi lain Sisi, Sisi produk sekuler yang dilahirkan dari pemilihan umum kemarin menjadikan penduduk Mesir semakin jumud dari ghiroh jihad, ketika di Palestina disibukan dengan suara ledakan bom, Mesir yang hanya berjarak beberapa ratus kilometer dari Palestina disibukan dengan kebijakan pemerintah Mesir yang menaikan BBM  hingga 200%, tak ayal kondisi tersebut cukup mengalihkan perhatian warganya mengurusi urusan perut, ketimbang memikirkan saudaranya yang tengah teraniaya.

Sisi si tangan besi telah banyak menekan penduduk Mesir untuk menjauhi segala bentuk aktivitas yang bisa menumbuhkan kecintaan terhadap  islam, di Mesjid khutbah sudah di netralisasi untuk tidak menyampaikan ghiroh jihad, dilarang melaksanakan amal maruf terhadap penguasa. Para ulama tak mampu berbuat apa-apa, jika ada dari mereka yang menolak kebijakaan tersebut, yakinlah keberadaan mereka pasti ada di balik  jeruji besi. Mesir benar-benar mengalami masa sulit, generasi yang hadir saat ini mereka dihadapkan dengan keadaan sekulerisme akut. Ketakutan  pemimpinnya sendiri telah membutakan mata, hati dan kaki mereka sampai akhirnya hanya sebagian warga Mesir yang turun ke jalan menentang agresi Israel ke Palestina. Begitulah ironinya antara Mesir dan Palestina…

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/antara-mesir-dan-palestina.htm/feed 0
Antara Pilpres dan Invasi Militer Israel ke Gaza http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/antara-pilpres-dan-invasi-militer-israel-ke-gaza.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/antara-pilpres-dan-invasi-militer-israel-ke-gaza.htm#comments Fri, 18 Jul 2014 03:13:50 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=80316 pilpresOleh : Abu Fikri (Aktivis Gerakan Revivalis Indonesia)

Penghitungan akhir hasil riil count Pilpres 2014 tinggal beberapa hari lagi. KPU menyampaikan bahwa penghitungan resminya pada tanggal 22 Juli 2014. Proses perjalanan rilis hasil riil count itu dilakukan di tengah masifnya opini media memberitakan invasi Israel ke Gaza. Yang menimbulkan reaksi protes dan kecaman keras oleh berbagai negara dari berbagai elemen masyarakat. Khawatir kehilangan momentum para capres cawapres pun juga ikut memberikan kecaman. Bahkan ada diantaranya yang memberi sumbangan. Nampaknya invasi Israel tanpa henti ini senantiasa mengiringi sampai dengan penghitungan akhir suara Pilpres. Di antara alasan secara yuridis formal kenapa sulit memberi sanksi hukum internasional kepada Israel. Di tengah upaya Indonesia melalui Marty Natalegawa yang lagi menghimpun beberapa negara menyeret Israel ke Mahkamah Internasional adalah karena Israel tidak termasuk menjadi anggota International Criminal Court disingkat ICC (Pengadilan Pidana Internasional). Salah satu sub organ PBB berpusat di Denhaag Belanda.  Yakni pengadilan bagi individu atau institusi (negara, badan dll) yang melakukan kejahatan perang, genosida dan ham. Dalam statuta Roma 1998 yang menjadi dasar berdirinya ICC, hanya anggota ICC saja yang bisa diseret. Sementara Israel dan Amerika tidak masuk menjadi anggota. Inilah kerangka legislasi internasional yang dipersiapkan jauh hari sebelumnya sebagai legitimasi kolonialisasi dan imperialisasi AS dan Israel. Termasuk agresi militer ke berbagai negara. Sebuah permainan desain kerangka legislasi yang dipraktekkan juga di level nasional. Dan sejarah tidak bisa diputar. Contoh lain tentang dominasi negara-negara kafir muharibban fi’lan AS, Israel bersama sekutu-sekutunya adalah pemberian hak veto Dewan Keamanan PBB yang jumlahnya terbatas. Hanya pada segelintir negara pasca perang dunia. Pemberian hak veto itu menjadi momentum awal dominasi negara-negara adi daya yang notabene kafir muharibban fi’lan terhadap berbagai negara. Sindikasi abadi AS dan Israel tidak akan pernah bisa dipisahkan kecuali terjadi dengan apa yang disebut di dalam hadits “malhamah kubro”. Sebuah peperangan besar kaum muslimin dari berbagai negara melawan negara-negara kafir muharibban fi’lan.

 

Dominasi oleh AS dan Israel bersama sekutu-sekutunya tidak bisa dipungkiri. Termasuk dalam bentuk intervensi secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Secara politik, adalah Jokowi yang telah merekomendasikan IMB Kedubes AS di Jakarta sebaga pusat operasi intelijen paling strategis. Inilah salah satu prestasi terbesar Jokowi memperkokoh dan memperkuat pintu masuk penjajahan AS di Indonesia. Dari salah satu indikator ini maka logis jika AS sangat berkepentingan mengantarkan Jokowi pada jenjang RI 1. Meski dugaan adanya intervensi asing terhadap pilpres dibantah oleh SBY. “Saya bersumpah dan mengajak warga Indonesia, kalau ada kemelut mari kita selesaikan sendiri, tidak perlu ada pihak lain untuk jadi wasit atau juru damai,” tegas Presiden SBY yang dikutip di Setkab, Selasa (15/7/2014). Statement SBY itu disampaikan di tengah opini media tentang isu kemungkinan kedatangan Bill Clinton ke Indonesia. Dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Clinton memiliki kedekatan dan hubungan khusus dengan James T Riady yang banyak mensupport dana baik pilpres di AS maupun Indonesia. Jika benar-benar datang maka jelas ini bukanlah kunjungan biasa tanpa pretensi politis. Melainkan sangat berkaitan erat dengan kepentingan ikut menentukan bagaimana peta konstelasi politik negeri ini ke depan. Yakni tetap dalam koridor bisa mengamankan bahkan melindungi kepentingan AS dan sekutu-sekutunya di Indonesia. Secara faktual, dibanding dengan Jokowi di mata AS maka sosok Prabowo tidak begitu disukai. Baik karena berkaitan dengan catatan masa lampau. Atau Prabowo relatif sulit dikendalikan secara personal karena sedikit punya integritas visi-misi. Dan Prabowo disinyalir memiliki cukup kedekatan dengan parpol-parpol islam. Walaupun secara prinsipiil keduanya sama yakni tidak akan bisa keluar dari jebakan intervensi asing yang sedemikian menggurita. Baik melalui kerangka legislasi maupun mafia departemen-departemen strategis. Indikasi kemenangan Prabowo atas perhitungan riil count. Di tengah saling klaim kemenangan antara kedua kubu. Dan sebagian besar quick qount yang memenangkan Jokowi-JK menjadi catatan khusus AS. Disinilah barangkali relevansi dan urgensi isu kedatangan Clinton. Maka adanya dugaan intervensi asing sebagaimana juga disinggung oleh Prabowo bukanlah isapan jempol belaka. Tulisan ini tidak sedang untuk membela seraya memojokkan salah satu diantara capres cawapres. Melainkan sekedar menunjukkan bahwa gurita intervensi asing di negeri ini terutama AS begitu masif. Dan pintu masuknya adalah melalui kerangka legislasi yang lahir dari sistem politik yang berlaku di negeri ini. Dengan kata lain penjajahan gaya baru yang berlaku saat ini oleh para penjajah sudah sedemikian canggih. Menggunakan kombinasi kekuatan opini media, intervensi politik ekonomi, invasi militer dan kerangka legislasi.

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini mestinya menjadi momentum kesadaran bagi kaum muslimin untuk mendorong penguasa benar-benar menjadi penguasa yang mampu melindungi kepentingan rakyatnya. Bukan menjadi pecundang yang membebek pada kepentingan asing. Di sisi lain umat islam berbagai elemen/komponen mestinya sadar pentingnya membangun komunikasi dan ukuwah islamiyah menghadapi musuh. Memetakan secara jelas mana lawan dan mana kawan. Ingatlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’alla : [QS At Taubah Ayat : 71] “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Wallahu a’lam bis shawab.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/antara-pilpres-dan-invasi-militer-israel-ke-gaza.htm/feed 0
Masalah Palestina Bukan Hanya Masalah Kemanusiaan, Namun Juga Masalah Agama http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/masalah-palestina-bukan-hanya-masalah-kemanusiaan-namun-juga-masalah-agama.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/masalah-palestina-bukan-hanya-masalah-kemanusiaan-namun-juga-masalah-agama.htm#comments Thu, 17 Jul 2014 05:24:25 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=80275 gaza 2Oleh : Adi Victoria

Penulis Buku Khilafah The Answer

It’s not about religion..it’s about humanity” (ini bukan masalah agama, ini adalah masalah kemanusiaan). Kalimat ini banyak tertulis pada beberapa poster peserta aksi solidaritas untuk bangsa Palestina. Pesan yang ingin disampaikan bahwa apa yang terjadi di tanah yang diberkahi tersebut bukanlah masalah masalah agama antara Islam dan Yahudi, namun yang terjadi adalah hanya sebatas tragedi kemanusiaan yang menimpa bangsa Palestina atas tindakan Zionist Yahudi yang membunuh dan membantai masyarakat di sana.

Pernyataan diatas seolah mengamini daripada apa yang disampaikan oleh Harun Syaifullah selaku Kepala Seksi Politik dan Keamanan Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam diskusi yang bertajuk “Mendorong Perdamaian di Gaza melalui Two State Solution” di kantor Kontras, Jalan Borobudur, Jakarta, Rabu (16/7).

Pada kesempatan tersebut, Harun Syaifullah mengatakan “Harus dipahami juga bahwa konflik ini adalah persoalan kemanusiaan dan masalah penjajahan. Ini bukan masalah agama,”. Karena menurutnya pula buktinya warga negara di Amerika maupun Eropa juga turut mengecam keras konflik kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Dubes Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi juga mengatakan bahwa konflik antara Palestina-israel bukan berdasarkan konflik agama. Melaikan soal keadilan dan ketidakadilan. “Kami tak sendiri di sini. Kami mendapat dukungan saudara kami di Arab, Afrika, Asia, Uni Eropa, dan Amerika, bahkan juga Israel. Ada beberapa warga Israel yang membela Palestina. Konflik ini juga bukan berdasarkan konflik agama. Ini soal keadilan dan ketidakadilan.” Jelasnya kepada wartawan Republika (Republika/14/07/15)

Sampai tulisan dibuat, sudah tercatat lebih dari 200 warga Palestina yang meninggal (insya Allah syahid), dan korban terbanyak adalah wanita dan anak-anak, serta ribuan yang lain mengungsi. Israel pun terus menggempur Palestina sekitar 5 menit sekali dengan meluncurkan serangan roket. Dan korban pasti akan terus berjatuhan jika apa Israel tidak menghentikan serangannya terhadap pemukiman warga Palestina. Inilah yang kemudian oleh Fariz Mehdawi menyatakan bahwa tak ada perang di Gaza, yang ada pembantaian (Kompas/2014/07/16/).

This is not just about humanity but also about religion

Apa yang terjadi di Palestina bukan hanya masalah kemanusiaan saja, melainkan juga masalah yang berkaitan dengan persoalan agama, yakni secara aqidah dan syariah.

Secara aqidah, tanah Palestina adalah tanah yang suci dan diberkahi. Rasulullah saw. bersabda, “Kalian tidak boleh mempersiapkan untuk melakukan perjalanan ziarah, kecuali pada tiga masjid; Al-Masjid Al-Haram, Masjid Rasul saw. dan Al-Masjid Al-Aqsa.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Masjid al-Aqsha juga merupakan kiblat pertama umat Islam saat melakukan ibadah sholat, sebelum turun wahyu untuk memalingkan kiblat ka’bah. Tanah Palestina juga merupakan tempat nabi melakukan mi’raj menuju ke Sidratul Muntaha saat nabi Muhammad saw melakukan Isra’ Mi’raj.

Secara syariah, tanah Palestina adalah tanah wakaf bagi kaum Muslimin semenjak ia dibebaskan oleh Khalifah Sayyidina Umar ibnul Khaththab. r.a. pada 15 H (636 M) melalui perundingan damai. Sehingga sampai hari kiamat, tanah tersebut secara status kepemilikan adalah milik kaum muslimin sebagai tanah wakaf atau tanah kharajiah. Sehingga solusi dua negara (two state solution) adalah solusi bathil. Jika solusi itu dilakukan, maka sama artinya memberikan sebagian tanah wakaf tersebut kepada Israel untuk di duduki, serta mengkhianati isi perjanjian yang dibuat oleh Khalifah Umar dengan penduduk Illiya.

isi perjanjian antara Umar bin Khattab dengan Penduduk ‘Iliyâ yang dikenal dengan perjanjian ‘Umariyah atau ‘Iliyâ adalah:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ini adalah apa yang diberikan oleh hamba Allah, Umar, amirul mukminin kepada penduduk Iliyâ di Ammân. Saya memberikan keamanan atas jiwa dan harta mereka, gereja-gereja mereka, salib-salib mereka, orang-orang yang sakit dan yang tidak bersalah dan seluruh agama mereka. Gereja mereka tidak boleh ditempati dan dihancurkan, tidak boleh diambil bagiannya ataupun isinya, demikian pula dengan salib-salib dan harta mereka. Mereka tidak boleh dipaksa untuk meninggalkan agama mereka. Dan seorang pun dari mereka tidak boleh dimudharatkan. Dan tidak seorangpun dari orang Yahudi boleh tinggal di Iliyâ. Penduduk Iliyâ harus membayar jizyah sebagaimana halnya dengan penduduk kota lain. Mereka harus mengeluarkan orang-orang Romawi dan Lashut. Barangsiapa yang keluar dari mereka maka jiwa dan harta mereka aman serta perniagaan dan salib-salib mereka dibiarkan. Dan barangsiapa di antara mereka yang menetap maka mereka aman. Dan mereka harus membayar jizyah sebagaimana halnya penduduk Iliyâ. Dan siapa saja dari penduduk Iliyâ yang pergi dengan hartanya ke Romawi dan dan membawa perniagaan dan salib mereka maka mereka aman hingga mereka tiba ditempat mereka. Dan penduduk al-Ardh yang berada di Iliyâ sebelum terbunuhnya Fulan maka mereka boleh menetap namun mereka wajib memberikan jizyah sebagaimana penduduk Iliyâ. Dan siapa yang mau maka mereka boleh pergi dengan orang-orang Romawi. Dan siapa saja yang mau kembali kepada kelurganya maka tidak diambil apapun dari mereka hingga mereka memanen hasil pertanian mereka. Dan apa yang ada di dalam tulisan ini merupakan janji Allah, jaminan Rasul-Nya, jaminan para Khalifah dan kaum muslimin jika mereka memberikan jizyah. (Perjanjian) ini disaksikan oleh Khalid bin Walid, ‘Amru bin ‘Ash, Abdurrahman bin Auf dan Mu’awiyah bin Abu Sofyan (Tarikh ar-Rusul wal-Muluk: II/307).

Dalam klausul perjanjian tersebut ada tertulis Dan tidak seorangpun dari orang Yahudi boleh tinggal di Iliyâ. Ketentuan ini berlaku hingga hari kiamat. Berdasarkan klausul tersebut, kaum Yahudi tidak boleh tinggal di Palestina. Terlebih dengan cara merampas dari pemiliknya, mengusir penduduknya, dan mendirikan negara yang berkuasa di atasnya.

Dukungan yang diberikan oleh penguasa-penguasa negeri Islam eksistensi negara Israel dan dukungan berdirinya negara Palestina jelas merupakan tindakan yang dzalim sekaligus merupakan pengkhiatan terhadap kaum muslimin. Mereka tanpa malu meridhai eksistensi negara yang berdiri di atas tanah yang dirampas dari kaum muslim. Sikap ini sekaligus menunjukkan bahwa tidak lain adalah agen-agen Barat (’umalâ) yang terus mendukung berbagai strategi negara-negara penjajah untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin.

Solusi : Jihad & Khilafah

Penderitaan bangsa Palestina dimulai ketika Negara Zionis Israel berdiri pada tahun 1948 melalui dukungan Amerika dan PBB. Israel kemudian membangun pemukiman untuk penduduk Yahudi di atas tanah kaum muslimin Palestina. Pengusiran besar-besaran dilakukan, yang disertai dengan pembunuhan dan pembantaian, dan itu terus terjadi sampai sekarang. Ini artinya sudah lebih dari 66 tahun penderitaan ini dialami oleh bangsa Palestina sampai sekarang.

Dunia international melalui PBB, Liga Arab, OKI dan negara lainnya selalu menyerukan solusi melalui jalur diplomasi, bukan dengan solusi militer. Karena menurut mereka, solusi diplomasi adalah solusi yang beradab. Padahal, solusi yang beradab, hanya untuk negara yang memang memiliki adab, bukan negara yang tidak memiliki adab namun juga biadab seperti Israel. Fakta lain juga menunjukan bahwa solusi-solusi tersebut tidak berhasil, termasuk resolusi dari PBB yang selalu diindahkan oleh Israel, juga Amerika yang selalu menggunakan hak veto nya untuk membela anak emasnya (Israel,red) tersebut.

Jika kemudian cara-cara yang sama tersebut masih digunakan untuk menyelasaikan masalah Israel, maka,coba renungkan apa yang pernah disampaikan oleh seorang ilmuan bernama Albert Einstein Kegilaan: Melakukan hal yang sama secara terus-menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda.

Maka, tidak ada solusi tuntas atas masalah Palestina selain daripada jihad itu sendiri. Mengerahkan aksi militer untuk menghentikan kebiadaban Israel, serta mengusirnya keluar dari tanah wakaf milik kaum muslimin tersebut.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan datang Hari Kiamat hingga kaum muslim memerangi Yahudi. Maka kaum muslim memerangi mereka hingga mereka bersembunyi di balik batu dan pepohonan. Namun batu atau pohon itu berkata: Ya muslim, ya Abdullah ini Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia kecuali pohon gharqad karena ia adalah pohonnya orang Yahudi” (HR. Muslim dan Ahmad).

Dan itu bisa dilakukan dengan adanya persatuan kaum muslimin di seluruh dunia dibawah panji kemuliaan Islam, dibawah system Khilafah Islamiyyah. Khalifah akan menyeru seluruh kaum muslim untuk berjihad membebaskan tanah Palestina dari pendudukan Yahudi la’natullah tesebut.

Sebagaimana gambaran dari al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani ketika menggambarkan Khilafah ini dengan gambaran yang sangat akurat, seraya mengatakan, “Khilafah adalah arus utama Islam, dan apa yang selalu dikelilingi, Dengannya, agama akan terjaga, dan Islam pun akan terlindungi. Hudud akan bisa ditegakkan. Berbagai kejahatan akan bisa dicegah. Dengannya perbatasan akan bisa dijaga. Wilayah yang dilindungi akan tetap terjaga, dan tidak akan dilanggar. Wallahu a’lam bishowab.[]

Referensi Tulisan :

http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/14/07/15/n8qoo43-fariz-mehdawi-duta-besar-palestina-untuk-indonesia-mereka-melakukan-pembersihan-etnis

http://nasional.kompas.com/read/2014/07/16/23571061/Gaza.Bukan.Konflik.Agama.GAMKI.Temui.Dubes.Palestina

http://internasional.kompas.com/read/2014/07/16/16541771/Dubes.Palestina.Tak.Ada.Perang.di.Gaza.yang.Ada.Pembantaian

http://news.detik.com/read/2014/07/16/190743/2639387/10/kemlu-konflik-palestina-israel-bukan-masalah-agama

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/masalah-palestina-bukan-hanya-masalah-kemanusiaan-namun-juga-masalah-agama.htm/feed 0
Kenapa Yahudi Membenci Palestina? http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/kenapa-yahudi-membenci-palestina.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/kenapa-yahudi-membenci-palestina.htm#comments Thu, 17 Jul 2014 01:53:52 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=80263 yahudi-palestinaOleh : Anastasia - Alumni Pendidikan Bahasa Jerman  UPI Bandung

Jangan terkecoh dengan permasalahan palestina yang akhirnya bergeser dari konflik agama menjadi konfilk kemanusiaan, karena kalau diteliti sejarah periwayatan siroh nabawiyah, akan mengerti mengapa yahudi ahkrinya menyerang orang palestina dan ingin menlenyapkannya.

Berawal dari sang kakek para nabi Ibrahim AS, ketika itu dia menikahi Sarah seorang perempuan cantik asal Mesir, namun di uisa pernikahannnya Ibrahim belum dikarunia keturunan sampai akhirnya diambillah seorang budak bernama Hajar yang dinikahi Ibrahim, tak disangka-sangka Hajar hamil dan melahirkan anak laki-laki, Sarah hanyalah wanita biasa dan dia merasa cemburu , dan akhirnya Ibrahim membawa Hajar jauh dari pandangan Sarah ke sebuah gurun pasir tandus tak berpenduduk  (Mekkah),  Hajar kala itu dalam kondisi kepayahan hanya berbekal segengam kurma pemberian Ibrahim, sesampainya di gurun Hajar ditinggalkan begitu saja, Hajar mengejar Ibrahim dan berkata “ Apakah ini perintah Allah? ”.

Ibrahim seolah menggunakan bahasa tubuhnya  untuk menjawab hajar, bahwa ini memang perintah Allah. Lantas sejarah kemunculan bangsa arab dimulai dari lahirnya Ismail. Selepas Hajar melahirkan, Sarah rupanya mampu memberikan keturunan yaitu Ishak yang menjadi cikal bakal keturunan bangsa yahudi. Kita melihat memang banyak para Rosul yang Allah utus dari kalangan yahudi, inilah yang menyebabkan  bangsa yahudi merasa bangga menjadi keturunan terpilih,  namun sayang karena pribadinya yang tamak banyak dari para nabi yang akhirnya dibunuh karena tidak sejalan dengan hawa nafsu mereka, yahudi merupakan bangsa yang senang berdiaspora ke berbagai belahan dunia, tapi mereka tidak bisa diatur seperti peristiwa Musa yang membawa bani Israel keluar  dari Mesir bukannya bersyukur atas keselamtan mereka, tiba-tiba malah menyembah sapi. Keyakinan mereka akan nabi terakhir yang akan diutus memang digambarkan jelas dalam kitab taurat, mereka sangat begitu menunggu, bahkan banyak dari keturunan yahudi eksodus ke Mekkah mencari petunjuk tanda-tanda kenabian, yang diyakini berasal dari keturunan mereka. Di Mekkah,  mereka menjadi pedagang kaya namun licik, selama di arab mereka senatiasa mengancam kepada orang yang tidak sejalan dengan keinginannya, “ Awas jika datang Rosul dari keturunan kami, aku akan membalas kalian”.

Tanda-tanda cikal bakal lahirnya seorang rosul , Allah terangkan dalam Al-Quran seolah-oleh (orang yahudi) mengenalinya seperti anak sendiri, tapi apa boleh dikata ternyata nabi yang selama ini mereka tunggu-tunggu berasal dari keturunan bangsa arab, garis keturunan ibu tirinya, kaget bukan kepayang yahudi kecewa , mereka malah cenderung merubah isi kitab suci dan mengaburkannya dengan keinginan sendiri, hanya sedikit dari mereka yang beriman.  Yahudi begitu membenci baginda Rosulallah, seiring dengan kepimpinan islam menguasai dunia , wilayah islam mengalami perluasaan besar-besaran, salah satunya wilayah Syam Palestina yang dibebaskan oleh Umar bin Khattob dari penjajahan Romawi, maka dari itu kunci Palestina telah diamanahkan kepada orang-orang beriman.

Salah satu seperti yang kita ketahui sekarang penduduk Palestina merupakan bangsa keturunan arab yang hijrah seiring dengan penaklukan islam, kenapa kita yakin bahwa Palestina lebih  berhak orang-orang Palestina karena Allah menganugrahkannya kepada orang shaleh yang meluruskan agamanya, sedangkan yahudi,  mereka malah bertindak sebaliknya mendurhakai Allah dengan keinginannya, kita bisa tahu sekarang mengapa orang yahudi senantiasa tertolak keberadaannya, mereka bertindak rasis karena merasa sebagai bangsa yang dipilih tuhan untuk menguasai dunia, keberadaan  yahudi akhirnya bercerai-berai sebagai bangsa yang tidak punya tanah, dan akhirnya mereka ingin kembali ke Palestina, berkat kegigihan dan kelicikan seorang Theodore Herzl akhirnya mereka menjarah tanah Palestina.

Inilah mengapa sampai detik ini kebencian yang diakibatkan permasalahan perseteruan aqidah , mereka begitu nyata ingin membumi hanguskan bangsa keturunan arab yaitu orang Palestina. Walahu’Alam

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/kenapa-yahudi-membenci-palestina.htm/feed 0
Belajar dari Kelvin, Islam Sebagai “Alat Ukur” http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/belajar-dari-kelvin-islam-sebagai-alat-ukur.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/belajar-dari-kelvin-islam-sebagai-alat-ukur.htm#comments Fri, 11 Jul 2014 03:19:58 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=79922 kelvinSeratusan tahun lalu, hiduplah seorang fisikawan berkebangsaan Inggris, William Thomson Kelvin namanya. Dunia lebih mengenalnya dengan panggilan Lord Kelvin. Beliau menggunakan nama belakangnya sebagai satuan temperatur yang ia temukan. Satuan yang pada akhirnya ditetapkan sebagai standar satuan internasional (SI) untuk mengukur suhu, pada tahun 1950. Kita ingat setidaknya ada 4 macam jenis termometer dengan satuannya masing-masing. Ada Celcius, Reamur, Fahrenheit, dan yang terakhir Kelvin.

Kenapa termometer harus bermacam-macam? Kenapa tidak satu jenis saja? Ternyata perbedaannya terletak pada masalah ketelitian. Termometer kelvin diakui memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi. Selain itu, ada penemuan berharga kelvin yang diabadikan dalam termometernya. Kelvin menemukan bahwa titik -273,15 derajat celcius adalah suhu terendah yang mungkin terjadi. Pada suhu normal mereka dinamis, jika dipertemukan molekul satu dengan yang lain, dapat dengan mudah terjadi reaksi. Namun pada suhu nol mutlak tersebut mereka diam saja. Pada suhu tersebut seluruh molekul atom tidak dapat bergerak. Titik ini kemudian diberi nama nol mutlak atau nol absolut (absolute zero). Kelvin meletakkan -273,15 derajat celcius pada titik 0 skala termometernya. Otomatis titik 0 derajat celcius berada pada titik 273,15 derajat kelvin, dan titik 100 derajat celcius ada di titik 373,15 derajat kelvin.

 

kelvin 2Nah, apa yang dikatakan Kelvin? Kelvin pernah mengucapkan kalimat monumental yang tercetak di banyak handbook fisika, di sekolah-sekolah kita:

Anda dikatakan telah memahami sesuatu, hanya bila anda dapat mengukurnya, dan mengekspresikannya dalam angka. Bila tidak berarti pengetahuan anda belum lengkap.”

Kelvin mengatakan kita dikatakan belum memiliki ilmu tentang sesuatu, sampai kita sudah bisa mengukurnya. Lebih jauh lagi ucapan Kelvin juga bisa ditafsirkan, kalau kita, dan bangsa kita ingin unggul dalam satu bidang, maka kita harus pintar melakukan pengukuran dalam bidang tersebut. Apa yang diukur? Ya, apa saja.

Segala benda dan materi yang kita lihat di alam semesta ini tak lepas dari ukuran-ukuran. Celcius adalah ukuran untuk mengukur temperatur ruangan. Meter, digunakan untuk mengukur lebar rumah dan luas halaman. Liter (dm3) untuk mengukur volume cairan. Kilogram untuk mengukur berat. Dan jika kita perhatikan, semua memiliki alat ukurnya masing-masing. Untuk mengukur tinggi lemari, digunakan meteran kayu yang bisa diselipkan di pinggang. Namun bagaimana jika yang ingin diukur adalah tinggi gunung? Perlukah kita mengukur tinggi gunung, dengan cara apa mengukurnya? Apa bisa dengan meteran kayu?

Ketinggian gunung perlu diukur. Kita bisa bayangkan, bagaimana jika pesawat yang sedang melintasi wilyah sekitar Gunung Merapi namun si pilot tidak mengetahui tinggi gunung Merapi secara pasti? Pastinya sangat beresiko. Pesawat bisa menabrak gunung seperti yang terjadi di Gunung Salak beberapa tahun lalu. Sementara ketika berada diatas, sudah tidak mungkin lagi melihat ke bawah. Gunung memiliki ukuran ketinggian, dan konsep cara mengukurnya berbeda dengan cara mengukur tinggi lemari.

Tanpa satuan desibel kita tidak bisa mendengarkan suara dari speaker seperti sekarang. Tanpa satuan volt, ampere, watt, ohm, dan tesla, kita mungkin masih terselimut gelap karena tiadanya listrik yang menyalakan lampu-lampu. Tanpa satuan Hertz, kita tidak bisa menikmati siaran TV dan Radio. Tanpa satuan informasi : byte, kilobyte, megabyte, gigabyte, terrabyte, jelas kita tak akan berada pada era komputer dan internet seperti hari ini.

Pertanyaannya, siapakah yang mengukur dan membuat istilah-istilah ukuran tadi? Apakah orang Jawa? Apakah orang Sunda? Apa ia Indonesia? Jelas bukan. Mereka orang-orang yang jauh tinggal di Jepang, Eropa, Amerika, dan negara-negara yang sekarang kita gelari “maju”. Benarlah yang dikatakan Kelvin. Ia yang maju dalam satu bidang, adalah ia yang pandai membuat pengukuran pada bidang itu.

ISLAM SEBAGAI ALAT UKUR

Sahabat sekalian, semua yang penulis utarakan diatas terkait dengan sains dan iptek. Dan jika kita bicara tentang Islam, maka Islam juga punya ukuran-ukuran. Ukuran yang menjamin bahwa Islam adalah agama yang dibutuhkan manusia akhir zaman. Ukuran yang menjamin ketentraman dan kebahagiaan manusia. Ukuran tersebut adalah ukuran tentang amal perbuatan kita.

Seluruh perbuatan manusia termasuk status benda, bisa ditimbang dengan timbangan Islam. Kita mengenal hukum yang lima (ahkamul khomsah), “wajib, sunah, mubah, makruh, haram”. Islam bisa mengukur, apa hukumnya makan? Apa hukumnya tidak makan? Apa hukumnya makan nasi? Apa hukumnya makan nasi milik tetangga? Apa hukumnya makan nasi milik sendiri jam 12 siang di bulan Ramadhan? Pasti bisa diukur.

Ternyata segala perbuatan secara mendetil dapat diukur dengan Islam. Begitu juga dengan benda. Bedanya, jika hukum perbuatan ada lima, maka hukum benda hanya ada dua, yakni halal, dan haram.

Ukuran-ukuran inilah yang disebut hukum syara’. Inilah ukuran yang menjadi keunggulan umat Islam yang tidak dimiliki bangsa, dan umat lain di seluruh dunia. Bangsa-bangsa lain di dunia, paling banter hanya memiliki ukuran baik dan buruk untuk perbuatan. Masing-masing dari bangsa tadi juga memiliki padanan kata yang berbeda dalam bahasanya. “Baik” dalam Bahasa Indonesia, adalah good, fine, well, nice, dalam Bahasa Inggris. Apik, sae, becik, dalam Bahasa Jawa. Khoir, atau hasan, dalam Bahasa Arabnya. Sedangkan buruk dalam bahasa Indonesia, sepadan dengan bad (Inggris), elek/olo (Jawa), syarr/qobih (Arab). Ukuran dan istilah baik-buruk, dimiliki banyak bangsa, dengan definisinya masing-masing.

Berbeda dengan istilah Islam untuk kata “haram”. Apa bahasa Jawanya “haram”? Haram. Bahasa Inggrisnya, China-nya, Koreanya? Haram juga. Sama dengan kata halal. Tidak kita temukan, kecuali pasti kembali ke istilah asalnya dalam Bahasa Arab, halal.

Selain itu, ukuran hukum syara’ (lima hukum perbuatan + dua hukum benda) juga terbukti unggul dibanding standar baik buruknya buatan bangsa-bangsa. Jika syara’ mengatakan satu hal itu buruk, maka pasti ia akan buruk selamanya. Jika syara’ mengatakan sesuatu itu baik, niscaya ia baik selamanya. Tidak seperti ukuran-ukuran nisbi yang dibuat manusia. “Esuk dele, sore tempe”, adagium bagi orang karena sering berpindah pendirian, karena sadar, apa yang ia anggap baik pada suatu saat, ternyata buruk pada waktu berikutnya. Hukum syara’ menjamin ketentraman seorang mukmin bahwa, pilihan ia dalam berbuat adalah pilihan yang baik bagi dunianya sekaligus akhiratnya.

Keunggulan inilah yang tidak banyak disadari dan dipahami kaum muslimin. Alih-alih dipandang sebagai keunggulan, hukum syara’ justru dipandang sebagai sesuatu yang mengekang dan memasung kebebasan. Sering kita dengar celetukan,

kalau lagi bisnis ngga usah bicara halal dan haram deh. Cari yang haram aja susah, apalagi yang haram. Tau gak? Sekarang itu udah ga ada lagi halal-haram, yang ada ‘HALAM’.” (:

Kalau lagi ngomongin politik, ga usah bawa-bawa agama bro, emangnya Indonesia negara Islam? Ngomong Islam itu di masjid aja kali.

Orang-orang risih kalau kita bicara dikaitkan dengan Islam. Tidak masalah jika mereka bukan muslim. Nyesek itu kalau kita tahu ia muslim, bahkan pernah nyantri atau kuliah di kampus Islam. Gelarnya LC, ustadz, atau kiai haji, tapi bicaranya sekulerisasi. Na’udzubillah min dzalik.

***

Umat Islam jauh dari standar dan ukuran yang harusnya mereka pegang dan emban. Padahal inilah yang membuat mereka mundur dan jatuh di neraka krisis ekonomi, tidak berwibawa, terbelakang di segala bidang, dan berpuas dengan title ‘negara berkembang’. Kaum muslimin juga tertindas dan terjajah dimana-mana, di Pattani dan Rohingya, Damaskus hingga Jalur Gaza. Disadari atau tidak, semua ini adalah akibat ulah mereka sendiri yang mengabaikan ukuran-ukuran dalam akidahnya.

Dengan ukuran apa para penguasa kita menentukan, gunung emas di Papua harus dikelola mandiri atau diserahkan hak kelolanya pada Freeport McMoran? Apakah ukuran halal dan haram? Mereka mengatakan keran investasi harus dibuka selebarnya. Swasta dan asing diperkenankan bermain sebebasnya. Hingga yang pribumi tetap sengsara, mengais residu berton-ton bijih emas yang mereka produksi tiap harinya.

Dengan ukuran apa, sistem ekonomi ribawi hingga hari ini terus kita pertahankan? Apakah halal dan haram? Hingga kita harus menanggung krisis finansial yang datang secara berkala, dan kesenjangan kaya dan miskin yang makin menganga, akibat diterapkannya sistem riba?

Dengan ukuran apa, sistem politik demokrasi ujug-ujug dikatakan wajib untuk diterapkan di negeri mayoritas muslim ini? Halal dan haramkah? Alih-alih mencari kebenaran, sejak lama kita telah dididik mencari pembenaran dan pembenaran atas kesalahan memilih sistem yang kita lakukan sejak awal.

Saat ini pemilu tengah berlangsung, dan pakar ekonomi telah sejak lama membuat hitung-hitungan. Jika Indonesia ingin ekonominya maju dan berkembang, kata mereka, siapapun pemimpin ke depan, subsidi harus terus dikurangi sampai benar-benar tercabut. Naiknya harga dasar listrik, BBM, dan harga-harga barang adalah konsekuensi dari pencabutan subsidi ini. Rakyat bukan lagi dipandang sebagai gembalaan yang dipelihara urusan-urusannya, sebagaimana Islam memandang mereka. Mereka justru dipandang sebagai konsumen dari perusahaan besar bernama negara.

Sahabat yang mulia, Umar Ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu, pernah berpesan kepada kita:

Sesungguhnya, dulu kita adalah kaum yang terhina. Lalu Allah meninggikan kemuliaan kita dengan Islam. Demi Allah, andai saja kita mencari kemuliaan selain darinya (Islam), pastilah Allah akan kembali menghinakan kita.

Masihkah kita mencari kemuliaan dengan ukuran yang kita buat-buat dengan hawa nafsu sendiri? Atau bahkan ukuran yang ditentukan kaum kuffar di barat yang terbukti gagal mengatur dunia ini? Sesungguhnya kemuliaan dan ketinggian hanya ada pada Islam, maka tidak pantas seorang muslim merasa rendah diri dengan ukuran yang datang dari Rabbnya, seraya berbangga diri dan mengambil ukuran-ukuran selain darinya.

Allah SWT berfirman:

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)

Wallahu a’lam bishowab

 

Ridwan Taufik Kurniawan

Penulis adalah Mahasiswa & Aktivis Islam | Pengasuh ceramahideologis.wordpress.com

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/belajar-dari-kelvin-islam-sebagai-alat-ukur.htm/feed 0