Eramuslim » Suara Pembaca http://www.eramuslim.com Media Islam Rujukan Mon, 25 Aug 2014 03:39:37 +0000 id-ID hourly 1 http://www.eramuslim.com/ Benarkah ISIS Identik #Keras ? Dialog Imajiner http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/benarkah-isis-identik-keras-dialog-imajiner.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/benarkah-isis-identik-keras-dialog-imajiner.htm#comments Mon, 25 Aug 2014 02:48:30 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=82276 isi anak

Oleh : Afandi Satya .K

Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiim

 

Dialog Imajiner Dengan Bang Akmal Syafril.

Tulisan ini saya buat bukan sebagai bantahan, namun sebagai penguat dan ajakan untuk berlaku adil dan objektif terhadap suatu permasalahan. Pada masalah ini, khususnya tentang ISIS. Salah satu ustadz dan saudara seiman saya yang saya muliakan, Bang Akmal Syafril, salah satu tokoh penggerak ITJ atau Indonesia tanpa JIL tempo hari pada tanggal 4 Agustus mengeluarkan sebuah kultwit mengenai gerakan radikal bernama ISIS dengan hastag #keras. Pada beberapa twit tersebut saya merasa ada beberapa hal yang saya rasa janggal, tidak cukup adil dan mampu membentuk opini yang lebih buruk terhadap ISIS secara emosional, bukan melalui data ataupun dalil. Oleh sebab itu, ijinkan saya mengimbangi twit beliau dengan posisi retorik.

Mari kita bersikap Adil dan Objektif sesuai data dan dalil sesuai kewajiban kita pada perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [al Hujurot ayat 6]

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)

Saya sarankan membacanya dengan senyum yah, kita sama-sama belajar.

01. Belakangan ini banyak pertanyaan ttg suatu gerakan yg dianggap radikal diantara gerakan2 Islam lainnya. #Keras

Jawab : Setuju

isi anak

Mantan Rapper terkenal Jerman, Desso Dog atau Abu Thalha al Almani, Berislam, Berhijrah dan Berjihad. Nampak, ia dikelilingi anak-anak kecil Suriah dengan penuh kegembiraan.

02. Gerakan ini dikenal dgn nama ISIS. Walaupun sebagian mengatakan ISIS sebenarnya sdh bubar, menjelma negara. #Keras

Jawab : Setuju, ISIS bubar pada tanggal 1 Ramadhan 1435 H atau 29 Juni 2014 dan berubah menjadi Khilafah seiring deklarasi resmi yang diumumkan oleh Jubir ISIS, Syaikh Muhammad al Adnani. Tidak setuju jika ISIS menjelma menjadi negara karena sebelum menjadi Khilafah, ISIS sendiri adalah sebuah negara dengan singkatan Islamic State of Iraq and Shaam. Bukan organisasi atau kelompok.

03. Sejujurnya, jawaban paling tepat yg dapat saya berikan seputar ISIS adalah: tidak tahu. #Keras

Jawab : Setuju. Mari kita mencari tahu.

04. Artinya, terlalu sulit bagi saya utk memilah mana informasi yg shahih dan tdk shahih dlm masalah ini. #Keras

Jawab : Setuju. Namun ISIS selalu mengeluarkan keterangan rilisan operasi militer, aktivitas sosial dan kegiatan dakwah. Sehingga mendahulukan data dari pihak pertama (ISIS) lebih utama daripada mendahulukan berita dari pihak kedua (media massa).

05. Ini memang fenomena akhir jaman. Begitu bebasnya informasi membuat kita kebingungan menilai keshahihan. #Keras 

            Jawab : Setuju.

06. Tapi tdk mengetahui bukan berarti tak bisa bersikap. Sebab ada para ahli yg bisa diikuti pendapatnya. #Keras 

07. Sama seperti kita tdk memahami penyakit, namun sdh semestinya mengikuti saran dokter, meski tak paham diagnosanya. #Keras

Jawab : Setuju.

08. Di akhir jaman ini, tradisi menerima info berdasarkan ketsiqahan pembawa info pd akhirnya menjadi satu2nya jalan keluar. #Keras

Jawab : Setuju. Namun, apa parameter ke-tsiqahan tersebut ?

09. Dalam masalah ISIS, saya mengikuti pendapat Syaikh Yusuf al-Qaradhawi.  http://www.dakwatuna.com/2014/07/05/54134/syaikh-qaradhawi-khilafah-ala-isis-tak-sah-secara-syariah … #Keras

Jawab : Setuju, karena hak pribadi. Namun apakah Syaikh kita yang tercinta itu cukup tsiqah ? Beliau menyatakan bahwa riba adalah halal. (Tanpa mengurangi hormat dan cinta saya pada beliau hafidzahullah)    Silahkan cek milis

https://www.mail-archive.com/islamcity@yahoogroups.com/msg03894.html atau kutipan dalam jurnal berikut

http://www.isdb.org/irj/go/km/docs/documents/IDBDevelopments/Internet/English/IRTI/CM/downloads/Distance_Learning_Files/B4.4b%20The%20Nature%20of%20Riba%20in%20Islam.pdf

Sedangkan disebutkan dalam hadist bahwa,

Dosa riba memiliki 72 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (Shahih, Silsilah Shahihah no.1871).

10. Dari link di atas, kita bisa membaca pendapat beliau. Walaupun tsiqah kpd beliau, tentu kita perlu membaca penjelasannya. #Keras 

             Jawab : Setuju. Hak prerogatif setiap muslim.

11. Banyak yg terkejut ketika ISIS mendeklarasikan pendirian khilafah. Keterkejutan ini tdk mesti dipandang buruk. #Keras

12. Dulu, Abu Bakar ra diangkat sbg Khalifah setelah Nabi saw wafat. Tak ada yg protes, sebab semua tahu siapa beliau. #Keras 

13. Demikian jg ‘Umar ra, ‘Utsman ra, Ali ra, tak ada yg meragukan mereka. Aneh kalau ada yg protes. #Keras

14. Tentu akan sangat lain kiranya jika yg menjadi khalifah adalah org tak dikenal atau yg baru ‘kemarin sore’ masuk Islam. #Keras 

Jawab : Setuju.

15. Tapi sayangnya, ISIS menuntut pengakuan dari seluruh umat Muslim secara tiba2. Padahal org msh mempelajari situasi. #Keras 

  Jawab : Setuju. Ini buktinya berikut dalil dari para ulama salaf  http://www.youtube.com/watch?v=INii-4HKm8Y 

16. Banyak yg tak kenal siapa org yg diangkat oleh ISIS sbg khalifah. Salahkah jika mereka bertanya2? #Keras 

Jawab : Setuju.

17. Kembali pada poin simpang siurnya informasi; justru pada saat inilah ketsiqahan menjadi begitu bernilai! #Keras

18. Oleh krn itu, umat butuh penjelasan yg gamblang perihal ISIS dan tokoh2nya. #Keras

Jawab : Setuju. Wajib malah.

20. Tapi jangankan di Irak dan Suriah, di Indonesia pun perdebatan soal ISIS begitu panas. Mengapa harus dibikin panas? #Keras

Jawab : Siapa pihak pertama yang mulai membuat panas ? Media Islam atau media umumkah ? Media pro Isis atau Media anti ISIS-kah ? Padahal ISIS itu harusnya adem. Kalau panas, namanya bukan isis, tapi gerah. *ini bercanda

21. Tidaklah logis jika cita2 mempersatukan umat mesti diemban o/ mereka yg ‘mudah panas’. #Keras

22. Cita2 sebesar ini sesungguhnya hanya bisa dipikul o/ mrk yg mudah memaafkan saudara2nya. Bukan yg malah bersikap #Keras

23. Di tengah2 simpang siurnya informasi spt sekarang ini, memang tdk mudah utk menelan bulat2 informasi dari tanah seberang. #Keras

24. Ada yg mengatakan bhw info2 miring soal ISIS itu fitnah. Bisa jadi. Tapi bgmn membuat org lain percaya? #Keras 

Jawab : Sangat Setuju sekali. Kewajiban untuk memberitakan berita hasil tabayyun secara apa adanya. Berita yang memiliki data, dapat diverifikasi dan bukan data kosong (opini) semata.

 

25. Jika tak bisa memberi jaminan bhw info di tangannya 100% benar, bukankah lbh baik memaklumi keraguan org lain? #Keras

Jawab : Setuju.

26. Ada penjelasan lain yg saya temukan di Youtube, menurut saya ini wajib disimak:  http://www.youtube.com/watch?v=6j-cYIUSbpA … #Keras

Jawab : Sebagai pembanding, ini mohon juga wajib disimak http://www.youtube.com/watch?v=SMlyS_jyqr0

27. Dari sekian banyak poin yg dikemukakan dlm video tsb, ada satu yg saya anggap sangat penting. #Keras

28. Menurut beliau (Syaikh Abdullah Musthafa Rahhal), sebagian yg direkrut o/ ISIS adalah anak2 muda yg tak pandai bhs Arab. #Keras

29. Krn tak pandai bhs setempat, maka mrk pun bisa dikelabui dgn info2 menyesatkan. #Keras

Jawab : Adakah bukti yang bisa diverifikasi bahwa yang direkrut adalah anak-anak muda yan tak pandai bahasa Arab hingga mampu dikelabui dengan info menyesatkan ? Dengan bahasa apakah ISIS merekrut anak-anak muda itu ? Manakah yang lebih menyesatkan info-infonya daripada media massa ? Mereka datang bukan karena kebodohan. Melainkan dengan kesadaran iman.

Bukti : Prajurit ISIS yang telah berumur dan cukup tua, bantahan bahwa ISIS hanya merekrut anak-anak muda yang tidak memiliki pengetahuan http://www.youtube.com/watch?v=nnwRryF8jPw

Bukti II : Anak muda yang datang bukan karena kebodohan, melainkan karena kesadaran Iman :

Abu Muslim dari Kanada : http://www.youtube.com/watch?v=9_ezgopFtWA

Desso Dog, mantan rapper terkenal asal Jerman : http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2014/02/deso-dogg-germany-salafists-syria-jihad.html

Yahya Al Bahrumi, seorang terpelajar yang menguasai ilmu agama (termasuk bahasa Arab) : http://www.ghuraba.info/en/author/ybahrumi/

Termasuk ratusan doktor yang cukup berumur yang menjadi muhajirin dan tidak bisa disampaikan satu persatu.

30. Di Indonesia mungkin kasusnya tdk persis sama, tapi ada benang merahnya, yaitu soal minimnya ilmu. #Keras

31. Sejak Ramadhan lalu, saya mengamati bbrp akun yg sangat vokal membela ISIS. Diantaranya ada anak2 remaja. #Keras

Jawab: Anak muda memiliki ghirah yang tinggi. Sayang seringkali tidak diimbangi dengan adab dan ilmu. Hampir semua gerakan revolusioner digawangi oleh anak muda. ITJ termasuk juga bukan ?

32. Bicaranya keras sekali mengkafirkan demokrasi, tp sayang ia tak malu bicara di TL-nya soal lawan jenis, bahkan (maaf) soal onani. #Keras

Jawab : Sangat menyayangkan jika benar ada yang seperti itu. Sejauh saya berteman dengan banyak kawan-kawan berhalauan anti-demokrasi, saya belum menemukan satupun aktivis Islam yang berbicara masalah (maaf) itu. Bisakah Abang menampilkan sumbernya, takut sekali jika ternyata memang benar adanya atau hanya kesalahpahaman. Toh, sejatinya kejahilan dan perlakuan para pendukung (yang bukan anggota resmi ISIS) apakah mampu mengubah status ISIS ? Seperti jika ada akun yang mendukung aksi ITJ  dan bukan anggota resmi ITJ (lalu melakukan hal-hal yang tidak berakhlak) apakah kesalahan dari orang yang tak berhubungan kecuali sebatas dukungan itu mampu menjatuhkan ITJ secara resmi ? Tidak bisa bukan 

33. Jauh sebelum ada ISIS, saya sdh menemukan fenomena yg sama. Anak2 muda bersemangat tinggi, sayang belajar agamanya tdk ‘pas’. #Keras

Jawab : Setuju. Termasuk juga ada di pihak yang kontra terhadap ISIS. Ini masalah bersama.

34. Di antara mrk ada yg suka bicara kasar. Ketika ditegur, jawabannya “ini masalah aqidah, lbh penting daripada akhlaq!” #Keras

35. Ini jawaban yg sangat absurd. Sebab, akhlaq yg baik adalah bukti dari aqidah yg lurus. Ini pengetahuan umum. #Keras

36. Jika beriman kpd Allah SWT, pastilah menyadari posisinya sbg khalifah Allah di muka bumi. #Keras

37. Jika menyadari posisi sbg khalifah (wakil) Allah, apakah kita biarkan saja akhlaq kita berantakan? #Keras 

 38. Jelaslah bhw aqidah dan akhlaq memiliki keterkaitan yg tdk mungkin diabaikan. #Keras

39. Yang tadi itu adalah contoh ekstrem. Tidak semua seperti itu, tentu saja. #Keras

40. Bagaimana pun, ini adalah catatan tersendiri yg harus diperhatikan bagi ISIS dan para pendukungnya. Mudah2an mrk cuma oknum. #Keras

Jawab : Setuju. Termasuk juga ada di pihak yang kontra terhadap ISIS. Ini masalah bersama.

41. Sudah banyak video kekejaman yg saya lihat, konon dokumentasi perbuatan ISIS. Tapi siapa yg bisa memastikan? #Keras

Jawab : ISIS memiliki media resmi untuk rilisan video bernama Mu’asasah al Furqan. Video yang Abang lihat video dari siapa? Mengapa tidak merujuk ke sumber utama ISIS sendiri yang dapat dijadikan bukti verifikasi? Kata “mengindikasikan” keraguan. Sayangnya, Abang lebih mendahulukan kata “konon” daripada kata “faktanya”. Mengapa hak sesama saudara muslim untuk diberikan husnudzan diakhirkan setelah dilakukan Su’udzan terlebih dahulu?

42. ISIS atau bukan, yg jelas video2 tsb menunjukkan sikap #Keras yg tdk pada tempatnya, jauh dari syari’at.

Jawab : Maka dari itu, hendaknya Abang menshare link atau bukti sumber videonya agar kita bisa mengecek bersama. Jika hanya perkataan, bagaimana para pembaca memahami maksud yang Abang sampaikan secara ilmiah? Implikasi hal ini, banyak yang kemudian melakukan kebencian dengan asas emosi, bukan dalil dan bukti ilmiah.

43. Ada, misalnya, yg memenggal orang kemudian menenteng kepalanya kemana-mana, seolah bangga. #Keras

Jawab : Menenteng bukan selamanya bangga. Bagaimana hukum untuk  Shahabat yang Mulia Ibn Mas’ud ketika memenggal kepala Abu Jahal dan dengan bangga membawa ke hadapan Rasulullah ? Apakah dihukumi sama juga ? Mari kita adil.

44. Ada juga yg membariskan kepala2 org yg dieksekusi dan berfoto di belakangnya. Inikah org yg paham syari’at? #Keras

Jawab : Ketika para mujahid di Bosnia atau Chechnya, para mujahid di Afghan sering melakukan hal yang sama, bahkan Hamas maupun Hizbullah ? Status yang Abang sematkan ke ISIS berlaku juga untuk mereka, terutama Hamas ? Lalu bagaimana tentang penyembelihan dan mutilasi yang dilakukan oleh Syi’ah terhadap Ahlusunnah ? Bagaimana Abang berpendapat ? Mengapa satu keburukan ISIS  yang ahlu kiblat (saudara semuslim) lebih Abang serang dengan tendensi daripada kekerasan Syi’ah ?

45. Ada jg video yg memperlihatkan org2 yg ditembak di kepala dari jarak dekat kemudian diceburkan ke laut. #Keras

Jawab : Di masa Rasulullah salallahu alaihi wa salam, ketika menghukumi tawanan Bani Quraidzah, Sa’ad bin Mu’adz menentukan bahwa mereka semuanya (sekitar 600-700 yahudi yang dibunuh, dan caranya dahulu pasti dipenggal karena tidak ada senjata yang lebih praktis). 700 kepala terpisah dari badan. Ini ngeri loh kalau seumpama ada dokumentasinya. Padahal kalau mau jujur, kasus Yahudi Quraidzah hanya mengkhianati perjanjian dengan Kaum Muslimin. Lalu bagaimana dengan hukum mereka yang turun memerangi Kaum muslimin, seperti tentara Maliki pada permisalan ini? Mengapa kita jadi berstatus ganda dalam menghukumi masalah. Apa ini juga #Keras ?

46. Sekali lagi, pelakunya ISIS atau bukan, entahlah. Tapi yg jelas, video2 tsb menunjukkan ketidaktahuan akan syari’at. #Keras 

             Jawab : Syari’at pembunuhan sesuai syari’at  dalam peperangan itu bagaimanakah ?  

47. Islam memang mengenal hukuman mati, namun tdk dilakukan dgn sembrono. #Keras

Jawab : Setuju. Apakah pemenggalan yang dilakukan oleh sahabat terhadap Yahudi Bani Quraidzah diatas sembrono ?

48. Ketika hukuman mati diberlakukan, tidaklah wajar jika kita bersenang2, apalagi berfoto2 bersama jenazah. #Keras

            Jawab : Setuju.

main isis

Prajurit Khilafah berkumpul dan bermain dengan anak-anak kecil Raqqa di hari Ied 1435 H.

49. Jika hal itu dilakukan, apa bedanya kita dengan kaum zionis?  http://www.theguardian.com/commentisfree/2014/jul/21/sharing-pictures-corpses-social-media-ceasefire … #Keras

50. Nabi Muhammad saw pun berperang dan melawan musuh, namun tdk ‘menikmati pembunuhan’ spt itu. #Keras

Jawab : Setuju. Namun ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengucapkan hamdalah dan takbir melihat kepala Abu Jahal yang dipenggal oleh Ibn Mas’ud dan dibawa kehadapan beliau, bagaimana pendapat Abang ? Bukankah hamdalah merupakan ucapan syukur atas nikmat ? Menikmati adalah perkara hati, bagaimana Abang tahu para mujahid itu menikmati pembunuhan yang dilakukan ?

51. Kembali pd masalah ketidaktahuan saya, krn ketidaktahuan itulah maka saya harus mengikuti pendapat ulama yg sy percayai. #Keras

Jawab : Setuju. Hak prerogatif setiap kaum muslimin mengikuti ulama panutannya. Namun, Abang dalam ketidaktahuan dan kebelumjelasan yang Abang sebutkan, Abang sudah berani menunjukkan opini terhadap mujahid itu, apakah ini tawwaquf ? Jika tawwaquf mengapa Abang mengangkat segala berita buruk daripada mendahulukan husnudzan agar umat tidak semakin terpecah dan ukhuwah mampu terjaga ?

52. Saya, bersama-sama mayoritas umat Muslim lainnya, masih bertanya-tanya ttg hakikat ISIS dan profil para pendukungnya. #Keras

Jawab : Setuju. Mari menjadi akademisi yang terbebas dari kebencian terhadap suatu kaum hingga menjauhkan kita dari bersikap adil.

53. Satu hal yg pasti, kita harus menghindari sikap berlebihan dlm agama. #Keras

54. Segala hal yg berlebihan tidaklah disukai, termasuk dlm mempraktekkan ajaran2 agama. #Keras

55. Terlalu lembek itu tidak baik, namun terlalu #Keras pun sama tidak baiknya.

56. Terlalu bersemangat dlm melakukan ibadah2 pada akhirnya membuat manusia futur. Krn itu, beribadahlah secara bertahap. #Keras

57. Sudah berulang kali saya melihat anak muda yg berdakwah dgn ‘berapi-api’, namun tak lama kemudian jadi ‘mantan da’i’. #Keras

Jawab : Sangat Setuju.

58. Semangat mempelajari Islam semestinya membuat perilaku kita menjadi lemah lembut, makin mudah memaafkan. #Keras

59. Jika sikap kita makin #Keras, maka mulailah bertanya-tanya: apa yang salah? Jika proses belajarnya benar, tidak akan demikian.

60. Sikap #Keras justru menjadi fitnah yg membuat orang sulit menerima seruan dakwah Islam.

61. Selain itu, orang2 yg bersikap #Keras jg paling mudah dimanfaatkan dan diadu domba.

Jawab : Setuju. Orang yang sikapnya lembut nyatanya bisa diadu domba, apalagi yang sikapnya keras.

62. Tantangan dakwah di jaman skrg sangatlah kompleks. Tak ada masalah yg bisa diselesaikan dgn sikap #Keras.

Jawab : Setuju. Tak ada masalah juga yang bisa diselesaikan hanya dengan sikap lembut. Keras pada tempatnya, lembut pada tempatnya. Merujuk kembali ke Sunnah.

63. Nabi Muhammad saw pun berjihad, dan jihad adalah bagian dari ajaran agama. Namun tak semuanya diselesaikan dgn jihad. #Keras

Jawab : Setuju. Oleh karena itu, mari kita melihat apa kondisi di Iraq dan Suriah ? Apakah terjadi peperangan dengan kaum kuffar atau tidak? Jika iya apakah jihad tidak pantas dilakukan dan tidak diperlukan disana? Lalu apa hukum jihad di Palestina? Mengapa  diperbolehkan ? Padahal masing-masing tempat itu melawan musuh umat Islam. Mari bersikap Adil.

64. Menang di Perang Badar, seri di Perang Uhud, sukses di Perang Ahzab, tp toh Mekkah ditaklukkan dgn hati, bukan pedang. #Keras

65. Bagaimana Rasulullah saw memasuki Mekkah? Sebagai pemenang! Tapi pedangnya saat itu tak diayunkan. #Keras

Jawab : Setuju. Teladan untuk semua umat.

66. Beliau memasuki Mekkah dgn kepala tertunduk, janggut beliau hampir menyentuh pelana. Bacalah kisahnya dlm Sirah Nabawiyah. #Keras

67. Pada titik itulah rakyat Mekkah, yg sudah lama memerangi beliau, akhirnya menyadari hakikat dakwah Islam. #Keras

68. Nabi saw memerangi kaum Quraisy krn dulu tak ada lagi jalan lain, bukan krn beliau gila perang. #Keras

Jawab : Setuju. Teladan untuk semua umat.

69. Jika ada jalan lain, maka tak perlu lagi menumpahkan darah. Tak ada pembantaian di hari Fathu Makkah. #Keras

Jawab : Setuju. Teladan untuk semua umat. Tidak ada pembantaian, tapi ada pembunuhan. Dari 10 orang daftar hitam yang Rasulullah keluarkan agar dibunuh meski berlindung pada kain Ka’bah, ada diantaranya yang bernama Huwairitz ibn Nuqaiz, Miqyaz bin Shubabah, (dibunuh oleh Ali ibn Abi Thalib dan Numailah ibn Abdullah Radhiallahu ‘anhu). Sementara itu, Abdullah ibn Khaththal dibunuh atas perintah Rasulullah meski telah dilaporkan bahwa ia berlindung dibawah kain Ka’bah.

70. Setelah itu, berbondong-bondonglah warga Mekkah memeluk Islam. #Keras

71. Dan selanjutnya, berbondong-bondong pulalah warga Jazirah Arab memeluk Islam. #Keras

72. Rasulullah saw adalah pemenang di medan jihad, namun yg lebih penting lagi, beliau adalah pemenang di hati umat manusia. #Keras

73. Kita harus menempatkan segala sesuatunya secara adil; segalanya harus seimbang. #Keras

Jawab : Setuju. Mari kita menimbang dan menempatkan secara adil.

74. Mrk yg mengatakan jihad tak diperlukan lagi jelas keliru, tapi yg berpikiran bhw jihad adalah segala2nya jg tdk teliti. #Keras

75. Jihad dibutuhkan utk mengamankan dakwah. Jika dakwah tdk terancam, apa salahnya kita bertukar pikiran dgn lisan? #Keras

76. Jika demikian halnya dgn org2 kafir, bukankah dgn sesama Muslim kaidah ini lebih wajar lagi utk diberlakukan? #Keras

77. Mengapa kita harus disibukkan dgn permusuhan sesama Muslim, padahal musuh2 Islam sudah sangat jelas? #Keras

Jawab : Setuju. Oleh karena itulah Jubir resmi ISIS mengatakan kepada ummat muslim dalam satu kesempatan, “”Lebih baik kami dibunuh dan leher kami dipotong satu persatu, daripada kami membunuh seorang Muslim dengan sengaja. Demi Allah, karena kaum Musliminlah kami keluar berjihad, untuk menjaga darah, harta dan kehormatan mereka. Kami akan selalu mencintai mereka sekalipun mereka membenci kami. Dan kami akan selalu memberikan pertolongan kepada mereka, sekalipun mereka menjatuhkan kami. Pun kami ingin mereka tetap hidup, meski mereka menginginkan kami mati.”

http://www.youtube.com/watch?v=mr6RWlz25sc

78. Mengapa hati begitu sempit sehingga tak ada lagi tempat lapang utk memaafkan saudara2 kita yg seiman? #Keras

79. Jika begitu sulit bagimu utk bersikap lembut kpd hamba2 Allah, apakah engkau berharap Allah akan bersikap lembut kepadamu? #Keras

Jawab : Sepertinya kita harus terus memohon, bukan satu orang saja. Kata “Mu” alangkah indahnya diganti dengan “kita”. Mari bersama-sama kita simak kata pempimpin IS, Abu Bakr al Baghdadi berikut. Agar kita tahu siapa yang lebih keras hatinya.

“Bersabarlah atas apa-apa yang mereka lakukan pada kalian, terimalah mereka dengan segala kekurangan mereka, rangkullah mereka meski berbuat salah pada kalian, minumlah air yang mereka berikan pada kalian tak peduli seberapa keruh air itu, hadapilah kejahatan mereka dengan pemberian ampunan dari kalian, biarkan kekurangan mereka seolah telah pergi dan rasa bersalah mereka seakan tak pernah terjadi.”

“Janganlah kalian berkhianat, jangan berbuat dzolim. Aku wasiatkan kepada kalian untuk bisa menahan diri terhadap siapa saja yang menahan dirinya, yakni mereka yang bertemu dengan kalian dan tidak menodongkan senjatanya terhadap kalian dari beberapa katibah/ faksi yang menyerang kalian, seberapapun kejahatannya dan seberapapun besar dosanya pada kalian.”

“Saya pesan kepada kalian agar baik-baiklah kepada kaum muslimin dan suku-suku ahlus sunnah, begadanglah kalian dalam menjaga keamanan dan kenyamanan mereka, dan jadilah kalian orang-orang yang membantu mereka, balaslah keburukan mereka dengan kebaikan, lemah-lembutlah kepada mereka, kedepankanlah sikap pemberian ampunan dan maaf, bersabarlah, tabahlah dan ribathlah, dan ketahuilah bahwa kalian hari ini adalah penjaga dien dan pelindung barisan Islam, dan bahwa di hadapan kalian akan ada banyak pertempuran dan perang besar, dan sesungguhnya kondisi paling utama yang mana darah kalian ditumpahkan di dalamnya adalah; dalam membebaskan tawanan-tawanan kaum muslimin, di bawah benteng-benteng penjara para thaghut, maka persiapkanlah perlengkapan kalian, bekalilah diri dengan taqwa, serta selalulah kalian membaca Al Qur’an, mentadabburinya serta mengamalkannya.”

Berikut sumbernya : http://al-mustaqbal.net/bersabarlah-atas-apa-apa-yang-mereka-lakukan-pada-kalian/

Mohon maaf jika kali ini saya mengambil data dari pihak pro daripada pihak kontra seperti Guardian atau Detik. Hak husnudzan harus tetap diberikan kepada kaum muslimin terlebih dahulu.

80. Di jaman penuh fitnah dan kebohongan ini, sepantasnyalah kita saling membangun kepercayaan, bukan saling menuntut. #Keras

81. Semoga kita dijadikan Muslim yg membuat saudara2 kita merasa aman dgn kehadiran kita. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin… #Keras

Jawab : Setuju. Amiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin…

 

Rangkaian tulisan di atas bukan ditulis dengan nada amarah sedikitpun, saya merindukan ummat Islam terutama ummat di negeri ini mampu berbuat adil dan bersatu kembali, mendahulukan upaya persatuan daripada perpecahan. Semoga kedamaian yang pernah ada dan kini sedang terusik, segera kembali. ISIS bukan kumpulan malaikat hingga terbebas dari kesalahan sebagaimana kita salah. Agama adalah nasihat, maka mari kita bersama-sama saling menasihati dan menjaga persatuan ummat. Kesalahan bukanlah perusak amal, bahkan ia adalah pintu menuju kesempurnaan amal apabila kita mau memperbaikinya. Cukuplah perkataan al Imam Ali ibn Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,

“Jika Engkau ingin mengetahui di arah manakah muslim yang paling tinggi menjunjung Al Haqq, maka lihatlah ke arah mana pandangan musuh musuh Allah tertuju”

Syi’ah, kaum Liberal, dan orang-orang musyrik maupun orang yang memerangi syari’at dengan akal dan mulutnya tak henti-hentinya menyerang ummat Islam kini telah bersatu menggunakan isu ini. Lalu apakah kita masih berpecah belah ?

Sekali lagi, sebagai penutup, mari selalu kita renungkan dan kita amalkan ayat Allah yang kita cintai ini,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [al Hujurot ayat 6]

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)

Allahu A’lam Bis Showwab.

 

Salam persaudaraan,

Dari Saudaramu yang paling junior dan paling jahil ilmunya.

 

Di Bumi Allah yang merindu ketenangan,

 

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/benarkah-isis-identik-keras-dialog-imajiner.htm/feed 0
Kyainya Ditelikung, Umat Islamnya Dipasung http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/kyainya-ditelikung-umat-islamnya-dipasung.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/kyainya-ditelikung-umat-islamnya-dipasung.htm#comments Fri, 22 Aug 2014 01:31:11 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=82117 25ulamaTidak lama menjelang wafatnya, seorang kyai kharismatik di Tebet Jakarta bertutur kepada penulis yang sedang bertamu di rumahnya. Pak Kyai yang belakangan dikenal menandatangani fatwa 1981 yang menghebohkan di Indonesia karena mangharamkan Umat Islam mengucapi selamat natal kepada pihak Nasrani ini secara singkat menuturkan kegelisahannya hingga tidak dapat tidur.

Kenapa?

Karena mendapatkan telepon (saat itu belum beredar hp –telepon genggam, jadi telepon di rumah atau kantor) bertubi-tubi. Rata-rata berupa hujatan dan protes, kenapa Pak Kyai berdoa di Tanah Abang tempat yang sejatinya adalah markas pihak-pihak yang mengatur rekayasa memusuhi Islam.

Bagaimana Kyai ini akan memejamkan mata, lha dirinya merasa ditelikung orang, diminta berdoa ( ya memang secara husnuddhan orang mengundang agar seorang Kyai berdoa di suatu acara itu baik-baik saja) tetapi bagaimana pula bila benar-benar memang tempat itu untuk sarang merekayasa permusuhan terhadap Islam?

Satu sisi, Pak Kyai ini menyesali atas salah langkahnya. Sisi lainnya, beliau mendapatkan aneka suara dari dering telepon yang menyayangkannya bahkan mungkin menghujatnya.

Kyai lugu yang sehari-harinya bercelana setengah betis atau cingkrang (walau dari kalangan tradisional atau NU, ya memang di kitab-kitab kan memang dilarang isybal alias dilarang memanjangkan kain atau celana sampai bawah mata kaki) ini soal ilmu Islam tidak diragukan, bahkan orang menyebutnya, dia itu hafal halaman-halaman kitab bila menguraikan sesuatu. Namun ilmu tentang bagaimana cara menghadapi tipu-tipu dari penjahat apalagi penjahat yang arahnya merekayasa dan menyengsarakan umat Islam; maka Pak Kyai belum tentu memiliki ilmunya. Boleh jadi justru masih tetap mengedepankan husnuddhan (baik sangka) belaka. Maka mudahlah pihak tertentu menelikungnya.

Secara gampangnya bicara, kyainya ditelikung, umat Islamnya dipasung. Itulah kerja yang dilaksanakan dengan seksama sebagaimana akan diuraikan berikut ini.

Seorang wartawan senior menulis tentang Umat Islam Dipasung Lagi, yang dalam uraiannya, pemasungan itu adalah hasil dari rekayasa lembaga tink-tank CSIS (Centre for Strategic And International Studies) yang sangat dipercaya Soeharto. Pemrakarsa inti CSIS adalah Pater Beek seorang pastur radikal keturunan Belanda.

Berikut ini sebagian dari uraiannya.

***

Kenapa Soeharto tiba-tiba dalam waktu singkat berubah memusuhi kalangan Islam?

Pertanyaan besar itu dalam waktu singkat terkuak dengan gamblang tatkala Presiden Soeharto melalui hasil Pemilu 1971 itu membentuk kabinet dengan menempatkan–makin meneguhkan posisinya sejak 1967– orang-orang Nasrani untuk menguasai pos vital di bidang ekonomi-perdagangan juga pertahanan. Tokoh-tokoh Nasrani dan sekuler kemudian secara tetap menguasai kabinet pada pos-pos vital itu sejak awal kekuasaan Soeharto pada 1967 dan baru berakhir pada 1987, ketika Soeharto menyadari kekeliruan fatal yang dilakukan sepanjang dua dasawarsa. Di balik penempatan tokoh-tokoh Nasrani dan sekuler itu tak lain karena rekayasa lembaga tink-tank CSIS (Centre for Strategic And International Studies) yang sangat dipercaya Soeharto. Pemrakarsa inti CSIS adalah Pater Beek seorang pastur radikal keturunan Belanda yang belakangan jatidirinya justru dibongkar oleh aktifis CSIS sendiri yakni George Junus Aditjondro. Pater Beek meyakini pasca hancurnya PKI pada 1965 musuh besar Katolik di Indonesia adalah apa yang dia yakini sebagai Lesser evil theory (Teori Setan Kecil) dan setan besar. Dua-dua setan itu sama-sama hijaunya, yakni tentara (ABRI) dan Islam. ABRI hanyalah setan kecil tetapi Islam merupakan Setan Besar. Beek pun meyakinkan kepada para kadernya untuk mengadu kedua setan itu. Inilah maknanya sepanjang dua puluh tahun Orde Baru, ABRI selalu memusuhi dan berusaha menghancurkan kekuatan Islam. George Aditjondro pun membeberkan peranan berbagai tokoh yang “menukangi” CSIS, setelah Pater Beek antara lain Ali Moertopo sampai Benny Moerdani, Harry Tjan Silalahi, Soedjati Djiwandono, Hadi Soesastro, Liem Bian Koen dan kakaknya Liem Bian Kie, Daoed Josoef dan serenceng nama lainnya. Pos strategis pada empat kali kabinet yang disusun Soeharto (1967—pra Pemilu I–1971, 1977, 1982 telah menempatkan tokoh-tokoh sekuler dan Nasrani mulai Frans Seda, Sumarlin, Radius Prawiro, Ali Wardhana sampai Wijoyo Nitisastro, hingga Adrianus Mooy, dan Soedradjad Djiwandono, dan Cosmas Batubara. Di tubuh ABRI pun dicengkeram panjang oleh ABRI Nasrani sejak dikuasai Mareden Panggabean, Sudomo sampai Benny Moerdani. Sementara di tubuh Golkar yang menguasai mutlak politik di Indonesia, duduklah tokoh Nasrani dan sekuler yang berseberangan dengan Islam, seperti Jacob Tobing, Midian Sirait, David Napitupulu, hingga Rachmat Witoelar.

Sepanjang penguasaan rezim Soeharto oleh rekayasa tink-tank CSIS itu, posisi umat Islam betul-betul dilecehkan habis-habisan bahkan diperhinakan sepanjang 20 tahun (1967-1987). Umat Islam selalu dicurigai tidak setia kepada Dasar Negara Pancasila, dan difitnah selalu merencanakan hendak menegakkan Negara Islam, seraya membongkar-bongkar isu lama yakni masalah Piagam Jakarta yang dianggap dosa besar kelompok Islam di awal Proklamasi. “Buldozer” Ali Moertopo pun toh terus menggilas apa yang tersisa dari kekuatan politik Islam. Partai-partai Islam pun dipaksa berfusi menjadi satu nama Partai Persatuan  Pembangunan (PPP), tapi dilarang memakai gambar Ka’bah yang tetap menakutkan rezim Soeharto dan diyakini akan menjadi alat pemersatu ampuh umat Islam.

Belum cukup, secara menyakitkan sepanjang waktu, umat Islam selalu dituduh sebagai tidak mempunyai Wawasan Kebangsaan, Anti Pancasila, tidak memiliki toleransi dan selalu menindas kalangan minoritas. Belum lagi produk-produk undang-undang di DPR yang didominasi Golkar selalu diterbitkan UU yang selalu berlawanan dengan aspirasi Islam. Ingat saja berbagai sikap pemerintah yang anti jilbab pada 1980, UU Perkawinan 1974, lalu sengaja membuat peraturan anak-anak sekolah untuk Hormat Bendera ketika memasuki kelas yang sengaja dipakai alat untuk mengejek dan melecehkan umat Islam karena bagi umat Islam, kegiatan Hormat Bendera bagai kegiatan Penjajah Jepang dengan Sekere-nya tiap pagi memaksa rakyat Indonesia menghadap matahari dan memberi hormat matahari. Pada 1975 pegawai negeri saat itu tidak berani terang-terangan shalat Jumat di jeda istirahat kantor, ingat pula pada masa itu mubaligh tidak leluasa berkhutbah jika mereka tidak memiliki SIM (bukan SIM motor tapi Surat Ijin Mubaligh). Ingat pula AM Fatwa sepulang khutbah Idul Fitri dilukai senjata tajam oleh oknum militer mencederai pipinya. Protes-protes Sjafruddin Prawiranegara dalam khutbah dan ceramahnya yang berani tidak digubris rezim Soeharto. Inilah fakta ketertindasan umat Islam dalam sejarah Orde Baru.

Ketika Pasung Dilepas

Kabarnya pasca Peristiwa Tanjung Priok September 1984, Soeharto diberi informasi kalangan ABRI sendiri bahwa laporan Pangab Jendral Benny Moerdani tentang latar belakang kasus Tanjung Priok dimanipulasi, dan merugikan presiden, khususnya dengan opsi membantai umat Islam. Soeharto pun marah besar dan konon menyadarkan kebijakan politik yang ditempuh dua puluh tahun terakhir sejak 1967 sungguh-sungguh meleset. Konon Soeharto segera memutuskan mengubah drastis kebijakan politiknya. Dengan dalih memenuhi asas proporsional, ia mengoreksi anggota Golkar, khususnya yang duduk di DPR-MPR RI yang di dominasi kalangan non-Islam. Mulai Pemilu 1987 Soeharto menempatkan politisi Islam khususnya dari kader HMI. Begitu halnya jajaran kabinet diganti ekonom Islam. Dan menjelang Sidang Umum MPR 1-11 Maret 1988 yang anggotanya hasil Pemilu April 1987, Presiden Soeharto tiba-tiba akhir Februari 1988 memberhentikan Panglima ABRI Jendral Benny Moerdany—yang konon saat itu ada di luar negeri dan membuatnya marah besar—walau pada susunan kabinet yang diumumkan bulan berikutnya Benny diangkat sebagai Menhankam.

Dengan kebijakan politiknya yang sangat drastis dan kontroversial itu, umat Islam merasa Soeharto menebus dosanya kepada umat Islam. Apalagi kemudian komitmen dukungannya kepada aspirasi Islam ditunjukkan Soeharto lagi dengan inisiatif mengajukan RUUPA (Rancangan Undang-Undang Peradilan Agama) setelah ia menugaskan pakar hukum Islam melakukan kodifikasi hukum Islam. Ketika UU Peradilan agama disahkan DPR 1989, maka pengadilan agama di Indonesia pun disahkan pula sebagai hukum positif di negeri ini mendampingi sistem peradilan yang ada, yakni : Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan Peradilan Militer. Derajat atau sistem kepangkatan hakim agama pun dinaikkan sejajar dengan hakim di pengadilan negeri.  Keberpihakan Soeharto kepada Islam lebih jauh lagi ketika ia segera meresmikan Bank Muamalat di halaman Istana Bogor pada 1989, disusul ia mendorong berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), juga pada 1989. Dan tahun berikutnya 1990, Presiden Soeharto dengan keluarga besarnya ramai-ramai menunaikan ibadah haji.

Umat Islam merasa semakin nyaman dengan kebijakan politik Soeharto yang cenderung  berbalik pro-Islam. Tapi sebaliknya kalangan Nasrani dan sekuler yang disingkirkan sejak 1987 itu, tidak bisa menahan diri berketerusan. Sikap perlawanan pun segera dilancarkan menjelang Pemilu 1992. Ketika hasil Pemilu 1992 makin menegaskan keberpihakan Soeharto kepada Islam, maka kalangan Nasrani dan sekuler nekat “menuduh” pemerintahan-ABRI-DPR sudah menjadi Ijo-Royo-Royo, dan disinisi harian Kompas sebagai “Ijo Loyo-Loyo “ jika diucapkan oleh seorang yang cadel. Konsolidasi kalangan Nasrani dan sekuler pun sejak 1992 digencarkan dan diarahkan untuk menumbangkan rejim Soeharto. Kerja keras mereka membuahkan hasil sehingga Soeharto pun tumbang pada Mei 1998. Kalangan Nasrani dan sekuler tetap memanipulasi kekuatan Islam untuk meruntuhkan Soeharto. Sehingga rezim reformasi yang lahir pun perlu direkayasa dengan tekun sepanjang 14 tahun terakhir untuk menyingkirkan Setan Besar : Islam.

(Umat Islam Kembali Dipasung, HM Aru Syeif Assadullah
Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Islam).

***

 

Perlu Eling lan Waspada

Semua itu semoga jadi I’tibar (pelajaran) bagi Umat Islam. Pihak yang memusuhi Islam siang malam bekerja tanpa henti dengan aneka cara, bahkan sampai menelikung kyai, petinggi negeri, dan kemudian memasung Umat Islam secara terus menerus berpuluh tahun.

Kadang-kadang Umat Islam hanya sekadar terhibur sedikit atau tersadarkan ketika ada tokoh yang mengaku Islam tetapi sangat erat hubungannya dengan musuh-musuh Islam; lalu suatu ketika dia terjungkal. Entah dipecat, terlorot jabatannya, tercokok kasus ini dan itu dan sebagainya.

Umat Islam sudah lama jadi pelengkap penderita, masih pula diintai oleh pihak-pihak yang memurtadkan, menyeret ke aliran sesat seperti syiah, LDII, Ahmadiyah, Liberal, pluralism agama dan toleransi kebablasan serta berkasih-kasihan dengan musuh Islam tapi sebaliknya justru sangat sengit terhadap Umat Islam yang menegakkan Islam secara istiqamah.
Yang jadi Kyai, Tokoh Islam, Ustadz, Muballigh maupun Umat Islam pada umumnya sebenarnya perlu eling lan waspada (ingat dan takut kepada Allah Ta’ala serta waspada terhadap aneka bahaya yang mengintainya). Termasuk perlu waspada pula bila seorang kyai atau alim agama ujug-ujug (tiba-tiba) mendapatkan undangan ke hotel mewah dan sebagainya walau covernya adalah bersih murni suci. Hanya undangan untuk berdoa. Tetapi kalau ternyata muatannya membahayakan bagi dirinya, paling kurang menjadikan tidak bisa tidur seperti itu tadi. Dan banyak rangkaiannya terhadap Umat Islam di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim namun tampaknya makin banyak hal yang mengganggu kehidupan Umat Islam pada umumnya ini.

Kawulane Allah asal Jawa Tengah

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/kyainya-ditelikung-umat-islamnya-dipasung.htm/feed 0
S.M. Kartoesoewirjo, Korban Pendzaliman Sejarah http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/s-m-kartoesoewirjo-korban-pendzaliman-sejarah.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/s-m-kartoesoewirjo-korban-pendzaliman-sejarah.htm#comments Thu, 21 Aug 2014 00:24:20 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=82066 36kartoOleh : Muhammad Yusron Mufd

PROKLAMASI BERDIRINYA NEGARA ISLAM INDONESIA

Bismillahirrohmanirrohim

Dengan nama Alloh yang Maha Pemurah dan yang Maha Asih

Asyhadu anlaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna Muhammadan Rosulululloh

Kami ummat Islam bangsa Indonesia menyatakan BERDIRINYA NEGARA ISLAM INDONESIA maka hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu ialah HUKUM ISLAM.

Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar!

Atas nama ummat Islam bangsa Indonesia

Imam Negara Islam Indonesia

S.M. Kartosuwiryo

Madinah – Indonesia, 12 Syawal 1368/ 7 Agustus 1949

Sejarah Singkat

Namanya barangkali tak setenar Mohammad Natsir, Isa Anshari, Buya Hamka atau politisi muslim lainnya.  Ketika kita membaca buku sejarah yang biasa diajarkan kepada siswa SMP ataupun SMA biasanya kita akan mendapati namanya identik dengan sebuah pemberontakan yang mengancam kesatuan NKRI sehingga namanya menjadi tabu untuk diperbincangkan.  Pandangan politik yang berseberangan dengan Soekarno-lah yang membuat nama beliau menjadi tercoreng di kebanyakan masyarakat NKRI. Namun jika kita melihat kembali sejarah secara jujur, jasa beliau terhadap kemerdekaan Indonesia bukanlah hal yang remeh. Dia-lah Sekarmadji Maridjan Kartoesowirjo pendiri gerakan Darul Islam atau yang lebih dikenal dengan Negara Islam Indonesia. Sebuah gerakan politik yang menentang penjajahan Belanda atas umat Islam Indonesia.

S.M. Kartosoewirjo lahir di kota Cepu, Jawa Tengah pada tahun 1905 dan meninggal pada tahun 1962 ditangan eksekutor TNI. Beliau adalah salah satu murid H.O.S Tjokroaminoto bersama dengan Soekarno dan Semaun. Menariknya meskipun 1 guru, 3 murid Tjokroaminoto ini mengambil pilihan hidup yang berlainan sekaligus bertentangan yang dikemudian hari akan mewarnai perjalanan sejarah Indonesia. Dari Soekarno yang berpaham nasionalis sekuler lahirlah Proklamasi negara Pancasila pada tahun 1945, berawal dari Semaun yang berpaham komunis lahirlah proklamasi Negara Soviet Indonesia di Madiun pada tahun 1948 dan dari S.M Kartoesoewirjo lahirlah proklamasi Negara Islam Indonesia pada tahun 1949.

Kartoesoewirjo adalah anak seorang mantri candu yang mempunyai kedudukan tinggi dikalangan masyarakat pribumi. Tahun 1901 belanda memberlakukan politik etis untuk kalangan pribumi dengan menyediakan fasilitas pendidikan yang layak. Berkat kedudukannya yang terhormat di mata masyarakat, Kartoesoewirjo melanjutkan pendidikan di Sekolah Kedokteran Belanda di Surabaya. Tetapi dikemudian hari Kartoesoewirjo dikeluarkan dari sekolah tersebut karena dituduh komunis. Kartoesoewirjo bekerja di harian Fadjar Asia sebagai pimpinan redaksi, beliau sering menulis tulisan tentang penentangan terhadap penjajahan belanda termasuk terhadap raja dan bangsawan jawa yang bekerjasama dengan pihak kolonial. Karir politiknya teruji ketika beliau bergabung dengan Jong Java, namun keberpihakannya kepada ideologi Islam membuatnya bergabung dengan Jong Islamieten Bond (JIB). Berkat bergabung dengan organisasi inilah beliau menjadi salah satu pelaku sejarah monumental yaitu Sumpah Pemuda.

Karir politik beliau semakin melejit ketika menjadi pengurus Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Ketika banyak organisasi-organisasi di Indonesia bekerjasama dengan pihak kolonial. Di PSII, Kartoesowirjo dipercaya untuk menyusun brosur sikap hijrah yang akan menjadi haluan politik PSII. Oleh karena itu beliau disebut juga sebagai konseptor politik “Hijrah” bagi PSII dengan tidak mau berkompromi dengan penjajah. Haluan politik ini tetap beliau pegang meskipun dikemudian hari banyak anggota PSII yang tidak setuju. Bahkan karena keteguhan haluan politik hijrahnya membawa konsekuensi beliau bergerilya di hutan-hutan menghindari kejaran TNI.
Sejarah yang perlu diluruskan

Pepatah mengatakan bahwa “sejarah ditulis oleh mereka yang menang”. Mencermati sejarah gerakan beliau yaitu Darul Islam dari sudut pandang kurikulum sejarah kita akan menemukan bahwa gerakan beliau adalah sebuah pemberontakan yang merongrong kesatuan NKR dan mendirikan Negara dalam Negara. Padahal sejarah berbicara tidak demikian, gerakan yang beliau pimpin diproklamasikan di daerah Jawa Barat yang sedang berada dalam kondisi kosong kekuasaan (Vaacum of Power) akibat ditinggalkan TNI tepatnya divisi Siliwangi dan perangkat pemerintahan Republik Indonesia yang eksodus ke Yogyakarta akibat konsekuensi perjanjian Renville yang ditanda-tangani pada tahun 1948. Pada awalnya beliau tak memberontak kepada proklamasi 1945. Namun kekecewaan demi kekecewaan beliau alami hingga puncaknya pada tahun 1948 ketika terjadi perjanjian Renville. Beliau menganggap Republik sebagai para tentara yang kabur dari medan perang dan telah menjual kedaulatan bangsanya. Sebelum renville, perjanjian Linggarjati juga telah merugikan bagi Indonesia. Perjanjian Renville membuat teritorial RI hanya berkisar Yogyakarta dan sekitarnya sedangkan proklamasi Darul Islam dikumandangkan di Jawa Barat tepatnya di daerah Tasikmalaya. Sehingga secara nalar hubungan antara NII dan RI bukanlah negara dalam negara tetapi negara dengan negara dikarenakan memilki wilayah kekuasaan yang berbeda. Tentara Republik memilih meninggalkan Jawa Barat sedangkan Laskar Hizbullah yang dipimpin oleh Kartoesoewirjo memilih mempertahankannya bersama rakyat Jawa Barat dari cengkraman kolonialisme.

Ketika daerah Jawa Barat mengalami kosong kekuasaan, berkumpullah para ulama-ulama untuk bermusyawarah yang menghasilkan Konferensi Cisayong, Qanun Asasi/UU Dasar, dan peleburan laskar Hizbullah dan Sabilillah menjadi Tentara Islam Indonesia (TII). Terkait konferensi Cisayong, sebagai gambaran singkat, konferensi cisayong berisi 7 butir tahapan perjuangan Islam yang memiliki tujuan akhir pan Islamisme yaitu penegakan Khilafatul Islam di muka bumi. Jadi tidak benar jika ada anggapan NII hanyalah gerakan lokal. jika kita mencermati hasil konferensi cisayong kita akan melihat bahwa NII adalah salah satu tahap untuk menuju tujuan akhir sebenarnya yaitu tegaknya Khilafatul Islam di muka bumi.

Ditengah kekosongan kekuasaan atas wilayah Jawa Barat, Kartoesowirjo akhirnya memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949. Dikemudian hari, Belanda dengan sifat munafiknya melanggar perjanjian Renville dengan menyerang teritorial RI di Yogyakarta hingga Yogya dikuasai dan pemerintahan republik mengibarkan bendera putih sbg tanda menyerah kepada belanda. Atas dasar itu maka diinstruksikan Tentara Republik untuk kembali ke pos yang telah ditinggalkannya di Jawa Barat. Setelah itu maka bertemulah divisi siliwangi TNI dan TII di Jawa Barat, pihak TII menjelaskan bahwa selama Jawa Barat ditinggalkan oleh mereka, merekalah yang mempertahankan Jawa Barat dan telah diproklamasikan NII di wilayahnya. Namun sayang sekali pihak TNI tidak menerima sehingga terjadilah perseteruan berlarut-larut antara TII dan TNI yang berakhir dengan tertangkapnya SM Kartoesoewirjo pada tahun 1962. Namun, sejarah yang diajarkan kepada para pelajar bertahun-tahun secara Dzalim mencap beliau dan gerakannya sebagai sebuah pemberontakan.

Pemikiran Beliau

Meskipun tak pernah mengenyam pendidikan Islam secara formal, melihat tulisan Kartoesowirjo terasa kental sekali corak ideologi Islamnya. Beliau adalah seorang pemikir Islam yang menyusun konsep politik “Hijrah” lewat brosurnya sekaligus seorang Negarawan. Lewat beliau-lah cita-cita Pan Islamisme Tjokroaminoto dilanjutkan setelah 2 murid lainnya yaitu Soekarno dan Semaun memilih pedoman hidup selain Islam untuk masa depan bangsanya. Secara konsep, jika kita membaca karya pemikir Islam terkemuka lainya seperti ideolog Ikhwanul Muslimin Sayyid Quthb dan Abul A’laa Al Maududi pendiri Jemaat Al Islami Pakistan terasa sekali kesamaan corak pergerakan beliau dengan mereka. Padahal beliau tak tercatat pernah berinteraksi dengan mereka. Apakah karena kesatuan sumber pikiran ? Bahkan Kartoesowirjo seperti telah merealisasikan buah pikiran mereka dalam bentuk praktis yaitu tegaknya sebuah tatanan kehidupan Islam selama 13 Tahun meskipun akhirnya dikalahkan oleh tentara Soekarno.

Dengan tulisan ini, penulis hanya tidak ingin kedzaliman sejarah ini terus menerus ditanamkan kepada generasi bangsa, adalah sebuah kekhawatiran dicabutnya keberkahan oleh Allah S.W.T kepada negeri Indonesia akibat dibangun diatas kebohongan dan pembunuhan karakter terhadap tokoh yang seharusnya dihormati. Seorang pejuang kemerdekaan. Sungguh upaya pelurusan sejarah bagi mereka yang mengetahui adalah sangat penting untuk generasi bangsa agar mereka mengetahui kebenaran sejarah bangsanya. Terlepas dari pihak pro atau kontra, bukankah Allah telah membimbing kita agar jangan sampai kebencianmu terhadap suatu kaum menghalangimu untuk berlaku adil ?

Haluan politik hijrahnya-lah yang membuat perbincangan tentang Kartoesowirjo penulis rasa berbeda dengan Negarawan Muslim yang lain seperti tokoh partai Masyumi yang cenderung mengekor dan toleran terhadap pemerintahan Nasionalis Sekuler pimpinan Soekarno. Keteguhan atas sikap hijrahnya ini-lah yang membuat beliau rela bergerilya belasan tahun dan akhirnya membawa beliau di tiang eksekusi Rezim Orde Lama pada tanggal 16 Agustus 1962. Beliau menghembuskan nafas terakhir sebelum cita-citanya benar-benar tercapai. Beliau sebenarnya mendapatkan amnesti pengampunan dari Soekarno, tapi dengan tegas beliau mengatakan “Haram hukumnya saya meminta ampun kepada manusia bernama Soekarno, cepat laksanakan hukuman yang telah hakim terhormat putuskan, saya ingin melihat hasil Ijtihad saya dihadapan Allah S.W.T.”

Menurut sebuah tulisan tentang dirinya, barangkali jasad beliau telah tiada dan ketiadaanya dibarengi dengan tuduhan propaganda negatif terhadapnya, namun jiwa perjuangannya akan tetap abadi sepanjang masa terutama bagi kaum muslimin yang sadar tugasnya sebagai Khalifah dan hamba Allah di muka bumi. Firman Allah :

’Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya’’  (2:154)

Wallahua’lam

Nb : Diolah dari berbagai sumber

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/s-m-kartoesoewirjo-korban-pendzaliman-sejarah.htm/feed 0
Merdeka atau Menderita ? http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/merdeka-atau-menderita.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/merdeka-atau-menderita.htm#comments Mon, 18 Aug 2014 02:03:27 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=81862 merdeka1Oleh : Muhammad Dahrum, M. Pd

Sejatinya kemerdekaan adalah terbebas dari berbagai bentuk penjajahan. Penjajahan yang menerpa kehidupan rakyat maupun bangsa besar, Nusantara. Bila dahulu para pahlawan berjuang membebaskan Negeri dari penjajahan fisik dan rela berkorban nyawa demi merdeka. Maka sudah seharusnya generasi sekarang tidak membiarkan Negerinya dirundung nestapa, terjajah secara ekonomi.

Negeri ini dihuni jutaan manusia dari berbagai suku dan bahasa, memenuhi gedung-gedung besar nan kokoh, sementara disudut lain terdapat pemukiman kumuh yang terancam roboh. Kesenjangan yang mencolok, antara pusat dan pinggiran kota. Saban hari nyaris tak ada berita indah, apa yang dikabarkan media penuh dengan keresahan. Penjarahan kekayaan alam terus berlangsung, tak pernah sepi bahkan semakin menggurita.

Perangkap Hutang

Negeri zamrud khatulistiwa dianugerahi kekayaan alam besar, tetapi kondisi rakyat belum beranjak dari sebelumnya, sebagian diterpa kemiskinan. Meskipun klaim rezim berkuasa bahwa penduduk miskin telah berkurang. Nyatanya Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka menyatakan berbeda, “Kalau menggunakan patokan yang benar, maka bisa dipastikan angka kemiskinan tidak seperti sekarang. Lebih banyak, sekitar 120 juta”. (Tribunews,2014). Artinya setengah penduduk Indonesia berada dalam kemiskinan.

Akan tetapi penderitaan tersebab kemiskinan bukanlah kata akhir, hari-hari pilu akan tetap dilewati. Rakyat masih menuai penderitaan lain, menanggung beban hutang yang menggunung. Derita itu menjadi warisan ‘abadi’ untuk anak cucu, mereka ikut menanggung beban hutang pendahulunya. Beban itu kian membesar dan semakin sulit untuk dilunasi. Lebih jauh, hutang memiliki konsekuensi berbahaya bagi Negara.

Ketua Koalisi Anti Utang (Dani Setiawan) mengatakan, “konsekuensi politik dari utang-utang luar Negeri mendorong dilakukannya liberalisasi ekonomi. Contohnya adalah UU minyak dan gas, UU sumber daya air, UU energi, banyak sekali. Ia juga mengatakan, melalui UU Penanaman Modal, pihak asing dapat menguasai sektor-sektor strategis di Indonesia hingga 95 persen”. (detik.com,2013). Para pahlawan kita berhasil mengusir penjajah, tetapi parahnya saat ini UU yang menjajah dibiarkan bercokol karena diamini oleh anak Negeri.

Bank Indonesia mencatat, hingga Mei 2014 hutang luar Negeri tembus angka Rp. 3.321 triliun. Hutang ini meningkat tajam dibanding tahun 2013 lalu. Tantangan ekonomi kedepan nampaknya semakin berat, karena menanggung beban hutang yang menumpuk plus bunganya. Hal ini diperparah dengan ketergantungan pemerintah terhadap bantuan (utang) luar Negeri bagi pembiayaan pembangunan dan berjalannya roda pemerintahan.

Biasanya, pemberiaan bantuan hutang diikuti konsesi sumber ekonomi strategis sebagai tumbal. Beralihnya kepemilikan sumber ekonomi dari pemerintah ke swasta (liberalisasi) semakin kentara. Akhirnya sumber pembiayaan dari sektor SDA tidak bisa lagi diharapkan. Melihat besar sumber kekayaan yang dikandung, standar kehidupan rakyat mestinya bisa lebih makmur.

Cengkeraman Korporasi

Memiliki laut yang luas dengan potensi kekayaan luar biasa, semuanya tersedia. Menteri kelautan dan perikanan Sharif Cicip Sutarjo mengatakan, potensi kekayaan sumber daya alam tersebut meliputi perikanan, pariwisata bahari, energi terbarukan, mineral di dasar laut, minyak dan gas bumi, pelayaran, industri maritim dan jasa kelautan. Potensi kekayaan laut RI mencapai Rp 1.710 triliun/tahun. (detikFinance,2014).

Anugerah lain berupa keberadaan posisi Indonesia dengan iklim tropis, memiliki hutan lebat dan termasuk luas, tanahnya subur dan alamnya yang indah. Kayu-kayu tingi besar mampu memenuhi kebutuhan konsumen dalam dan luar Negeri, asalkan dikelola dengan benar. Pemberian izin HGU yang selama ini banyak terjadi sengketa, harus ditinjau kembali. Ada tanah HGU yang izinnya masih berlaku tapi tidak dikerjakan semuanya, sehingga terlantar.  Kondisi ini tentu saja mengurangi nilai produktif tanah dan lebih jauh akan mengurangi produksi secara Nasional.

Sejak era orba cengkeraman korporasi semakin kuat dan kokoh terhadap berbagai sumber ekonomi. Sumber mineral tak luput dari bancakan, sektor pertambangan migas lebih banyak dikuasai pihak asing. Kontrol Negara yang tampak dari penguasaan BUMN oleh pertamina dan swasta nasionaltidak sebanding, sangat kecil.

Sekedar contoh, sektor migas dikuasai oleh Chevron sedangkan emas dibawah kendali PT Freeport Indonesia (PT FI). PT FI menguras sumber mineral di bumi ‘merdeka’ sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya. PT FI berupaya maksimal agar pemerintah Indonesia kembali memperpanjang kegiatan usahanya. Bila tidak, maka PT FI mengancam untuk ‘menghabiskan’ cadangan yang besar itu secepatnya. Berdasarkan pengalaman, pemerintah Indonesia tampak tidak terlalu berkutik melawan perusahaan raksasa Amerika itu.

Kandungan mineral berupa tembaga, perak dan emas di bumi papua termasuk paling besar di dunia. Makanya PT FI berani membenamkan investasi besar dan terus berupaya meminta re-skedul kontrak kerja. Presdir PT FI, Rozik B. Soetjipto telah meminta perpanjangan kontrak kerja kepada pemerintah sampai tahun 2041. Besarnya cadangan bijih yang diperkirakan oleh PT FI mencukupi hingga 40 tahun lagi.

Aneka kekayaan alam membuat takjub, karena berpotensi bagi kemakmuran rakyat. Tetapi apa hendak dikata, yang terjadi justru sebaliknya. Laksana ayam mati di tengah hamparan padi, sangat menyedihkan. Ungkapan kemakmuran dan berdikari yang dibisikkan oleh calon penguasa saat kempanye tiba terkesan hanya ‘tempelan judul’ tanpa realita.

Tingkat kemiskinan dan pengangguran bukannya berkurang, padahal warisan tanah leluhurtelah dieksploitasi secara brutal. Memang mendapat tambahan pendapatan pajak untuk Negara, tapi jumlahnya sangat kecil dibanding jika dikelola sepenuhnya. Menuding anak Negeri tak mampu tidaklah bijak, karena teknologi yang canggih dapat dibeli dan SDM yang handal bisa diberikan gaji yang tinggi.

Penerapan Politik ekonomi Islam dalam konteks penguatan teknologi cangggih dan modal sangat mendesak. Bila teknologi yang dimiliki masih ketinggalan zaman dan jumlah modal terbatas, tidak mungkin sanggup mengelola area konsesi. Kondisi ini mengakibatkan  pemerintah tidak ada pilihan lain, kecuali mengundang konglomerat asing untuk mencoba. Akibatnya, jadilah SDA dikuasai pihak asing.

Seluruh sumber ekonomi strategis akan mendatangkan hasil maksimal jika dikelola secara profesional dan amanah. Kerugian yang selama ini dialami usaha milik Negara adalah akibat praktik inefesiensi sangat tinggi, menjadi dalih untuk privatisasi.

Paradigma Pengelolaan

Paradigma pengelolaan SDA yang berbasis privatisasi harus dirubah menjadi pengelolaan yang berbasis Negara dan tetap memperhatikan kelestarian. Sumber daya strategis berupa hutan dan barang tambang harus dikelola oleh Negara dan hasilnya diserahkan kembali pada rakyat dalam bentuk barang dengan harga murah atau subsidi untuk kebutuhan primer, seperti pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum.

Pengelolaan SDA oleh Negara dapat memberikan dua keuntungan sekaligus. Pendapatan yang sangat besar mampu menutupi pembiayaan Negara dan terbebas dari ketergantungan beban hutang. Sumber pemasukan dari sektor kepemilikan umum berasal dari barang tambang dapat digunakan untuk biaya eksplorasi dan eksploitasi. Mulai dari biaya tenaga kerja, pembangunan  infrastruktur, penyediaan perlengkapan dan segala hal yang berhubungan dengan dua kegiatan itu.

Sangat jelas bahwa pemerintah harus menguasai seluruh SDA yang ada, jangan sampai dikuasai konglomerat hitam yang menjarah kekayaan alam dan menyisakan bencana bagi rakyat. Pengelolaan berbasis privatisasi memang mendapat tambahan pajak, namun angkanya jauh lebih kecil dari hasil yang ada. Andai itu dikelola sepenuhnya, pendapatan akan lebih besar sehingga terbebas dari perangkap hutang yang menjajah. Allahu’alam.

 

*PNS Pemkab Abdya.

Email: Dahrum@pnsmail.go.id

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/merdeka-atau-menderita.htm/feed 0
Renungan Kemerdekaan : Kemusyrikan dan Amoral Justru Digalakkan Secara Nasional http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/renungan-kemerdekaan-kemusyrikan-dan-amoral-justru-digalakkan-secara-nasional.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/renungan-kemerdekaan-kemusyrikan-dan-amoral-justru-digalakkan-secara-nasional.htm#comments Sun, 17 Aug 2014 01:23:16 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=81806 bendera indonesiaOleh Hartono Ahmad Jaiz - Wartawan dan Penulis Buku-buku Islam

KATANYA bangsa Indonesia sudah merdeka 61 tahun, dan biasanya di bulan Agustus ada perayaan kemerdekaan dengan hingar bingar di sana-sini. Perwakilan Indonesia di luar negeri pun merayakannya.

Di balik perayaan dan hingar bingar itu, apakah sebenarnya bangsa Indonesia ini sudah merdeka? Merdeka yang mana? Penjajahan secara serempak justru berlangsung dengan biaya yang sangat besar. Biaya penjajahan itupun dipikul oleh rakyat yang dijajah itu sendiri. Ini yang berlangsung. Aneh.

Untuk dijajah saja harus mengeluarkan dana kepada penjajahnya. Apakah di dunia ini sudah tidak ada penjajah yang “tulus ikhlas” menjajah dengan dana dari penjajah itu sendiri, kok harus didanai oleh manusia-manusia yang dijajah?

Dan kalau sebenarnya masih ada penjajah yang “tulus ikhlas” dengan modalnya sendiri, tapi yang menjajah bangsa Indonesia itu justru mendapat dana dari orang yang dijajah, itu berarti penjajahnya sangat canggih. Penjajah di atas penjajah. Menang dalam bersaing.

Belum tentu juga. Belum tentu, karena menang bersaing atau karena sangat canggih. Mungkin karena pihak yang dijajah sudah terlalu lelah, atau terlalu lengah, atau bahkan tidak merasa kalau dijajah. Bahkan penjajahnya pun mungkin tidak merasa kalau menjajah. Karena terlalu asyiknya dalam menikmati hasil jajahannya.

Atau terlalu asyik dalam berebut jajahan.Kok bisa begitu? Ya. Karena, sebagaimana dijelaskan Allah swt, ada orang-orang yang kerjanya merusak, namun ngakunya membangun, dan tidak sadar kalau mereka sebenarnya merusak. Ayatnya:

011 وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

012 أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ

013 وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لا يَعْلَمُونَ

014 وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

015 اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.”

Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS Al-baqarah/ 2: 11, 12, 13, 14, 15).

Orang-orang jenis itu senantiasa berkelit. Kerjanya merusak, baik secara fisik maupun secara rohani. Lebih canggih dari itu, ketika sikap munafik yang sudah sangat dibenci oleh Alloh swt ini justru menjadi sistem disuatu komunitas besar yang disebut negara, dan dioperasikan secara nasional oleh pemerintahan.

Berarti merupakan pemerintahan munafik. Pada hakekatnya merusak secara fisik dan secara rohani, namun alasannya adalah membangun. Aset-aset negara dijual, hutan-hutan digunduli, pajak ditinggikan, tetapi bagaimana caranya kalau untuk pabrik kelompoknya maka agar tidak terkena pajak, misalnya.

Malah pernah ada menteri Orde Baru yang memasyarakatkan kondom (alat kontrasepsi) dari pabrik anak pejabat, upacaranya di departemen dan tenaga-tenaganya adalah pegawai negeri tetapi urusannya adalah kepentingan pabrik perorangan.

Lalu menteri itu saya desak, kenapa dilakukan begini; lalu dia jawab, karena saya disuruh Pak Harto! Pasar-pasar yang untuk masyarakat kecil dikikis agar diganti oleh pemodal-pemodal besar hingga pedagang kecil meringis; perkampungan-perkampungan yang masyarakatnya muslim taat lalu digusur dengan aneka cara, diganti dengan perkantoran-perkantoran pemodal besar yang di sana tidak ada lagi peribadahan.

Kalau masih ada tempat sholatnya, maka ditaruh di ruang sempit dekat kakus di ujung tempat parkir. Ini penggusuran secara fisik sekaligus menghabisi Islam.Dengan aneka cara, madrasah-madrasah yang mengajari anak bangsa agar kenal Islam dibunuhi.

Digalakkan lah SD-SD Inpres, dan punggawa desa lalu menakut-nakuti rakyat, supaya masuk ke SD-SD Inpres itu, maksudnya agar madrasah-madrasah mati. Ketika madrasah-madrasah masih bisa berlangsung di sore hari, maka diadakanlah aturan untuk mematikan madrasah sore, dengan cara jam pelajaran diperpanjang sampai agak sore, atau diadakan les-les sore; agar murid-murid tidak bisa lagi sekolah madrasah sore.

Masih ada yang sekolah madrasah sore lagi, maka dipepetkan lagi, dengan cara tidak diadakan lagi guru-guru madrasah, dengan alasan, sekolah swasta harus mandiri. Jadi guru negeri hanya untuk sekolah negeri.

Maka akhirnya sekian ribu madrasah swasta tidak ada gurunya, matilah madrasah-madrasah swasta se-Indonesia, kecuali yang hidup segan mati tak hendak. Sempurnalah perusakan bangsa secara fisik dan rohani dengan sistematis.

Dan itu dengan biaya dari rakyat atau bangsa itu sendiri. Itulah penyelenggaraan sistem munafik yang slogannya seakan agamis, dengan dasar sila pertamanya, Ketuhanan Yang Maha Esa, namun pada dasarnya membunuhi Islam.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 11-15 itu digambarkan lakon orang, tetapi di bumi ini diujudkan melalui sistem. Itulah penjajahan yang sangat canggih: secara fisik dan rohani, masih pula atas biaya pihak yang djajah.

Merdeka yang mana?

Anak-anak yang sudah dikekang agar tidak bisa masuk madrasah itu dengan serempak secara nasional dimusyrikkan, dan memakai biaya dari para orang tuanya, lewat pendidikan nasional. Anggaran pendidikan nasional itu paling besar di antara anggaran APBN.

Dan itu untuk pemusyrikan umum secara nasional. Padahal musyrik saja, secara perorangan, itu sudah merupakan dosa tertinggi, tidak diampuni oleh Allah, apabila mati dalam keadaan musyrik dan belum bertobat.

Tetapi di negeri yang telah merdeka 61 tahun ini justru dilangsungkan pemusyrikan umum, lewat pendidikan nasional, di samping lewat pemerintahan daerah yang kini dengan otonomi daerah, mereka secara resmi mengadakan pemusyrikan umum.

Bahkan digalakkan pemusyrikan umum, seperti sedekah bumi, pesta laut, larung laut; dengan aneka sesaji untuk syetan. Alasannya adalah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di sini lafal Tuhan Yang Maha Esa (dari sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa) telah menjadi simbol syetan, karena yang dimintai berkah adalah apa yang mereka anggap sebagai penjaga laut, misalanya kepercayaan legende/ mitos, Nyai Roro Kidul, yaitu kepercayaan terhadap syetan.

Bukan hanya Pemerintah-pemerintah daerah yang menggalakkan kemusyrikan dengan aneka upacara model animisme primitif yang sudah diberantas oleh para ulama. Bahkan DPRD yakni wakil-wakil rakyat di daerah, bahkan dari partai Islam sekalipun, seperti PKS, PAN, PPP (walau tidak mengaku partai Islam tetapi dari basis umat Islam), mereka mengadakan upacara kemusyrikan pula.

Contohnya, DPRD Bantul (selatan Jogjakarta), begitu mereka diresmikan sebagai DPRD hasil pemilu 2004, maka mereka mengadakan upacara kemusyrikan yang dinamakan Larung Buto ke laut selatan.

Dengan demikian, tatkala kemudian Allah swt menimpakan gempa di Bantul bulan Mei tahun 2006, seharusnya manusia-manusia yang telah mengadakan upacara resmi kemusyrikan yang menentang Allah swt ini mestinya sadar dan bertobat.

Tetapi justru bertambah-tambah lagi meratanya kemusyrikan. Bukannya sadar dan kembali kepada Allah swt, namun justru lebih kental kemusyrikannya secara lebih merata. Kabarnya ada yang pasang janur (pucuk daun kelapa yang masih muda), ada yang menanam duit krincing 100 rupiah bergambar gunung, dipendam sebagai tumbal.

Astaghfirulloh… kemusyrikan dilanjutkan dengan kemusyrikan lagi secara memasyarakat.
Anak-anak Sekolah Dididik Musyrik

Bagaimana mereka bisa sembuh dari kemusyrikan, karena justru sistemnya ini sendiri yang membentuk ke arah itu. Bahkan lebih dari itu, lewat jalur pendidikan nasional, anak-anak kita dibentuk untuk jadi orang-orang musyrik secara nasional, dan dibiayai oleh bangsa ini sendiri, dengan biaya tinggi.

Buktinya, coba kita baca sejenak, buku pelajaran berjudul Buku PPKN 6a, karangan Drs Enco Sartono dan Drs R Suharsanto, diterbitkan oleh Yudhistira, Jakarta, untuk kelas 6 SD semester pertama:

Masih banyak seni dan budaya tradisional yang berkembang di Indonesia.

Misalnya, para petani mempunyai kebiasaan untuk melakukan upacara panen padi. Upacara tersebut sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hasil panennya baik.

Pesta adat lainnya yang berkembang di pesisir, misalnya pesta laut yang diselenggarakan oleh para nelayan. Dalam melaksanakan upacara tersebut pelaku upacara mengenakan pakaian adat. Begitu pula berbagai sesaji khas yang ada dalam upacara tersebut.

Keragaman pakaian adat dan pesta tradisional juga merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia. .Kita mempunyai kewajiban untuk memupuk dan melestarikan budaya daerah.

Itulah bukti nyata pemusyrikan umum secara nasional.

Upacara-upacara adat pakai sesaji itu jelas kemusyrikan. Para ulama telah memberantasnya, karena upacara-upacara adat dengan sesaji itu adalah ritual penyembahan syetan, ya itulah kemusyrikan yang nyata.

Tetapi di Indonesia ini, sejak anak-anak duduk di bangku sekolah dasar sudah diajari bahkan diwajibkan untuk menjadi orang musyrik, dengan cara diberi pelajaran tentang kemusyrikan itu, lalu diwajibkan untuk memupuk dan melestarikannya.

Pencopotan Tauhid secara nasional ini, lebih dahsyat dibanding sekadar penjajahan fisik oleh Belanda dan lainnya selama 350 tahun. Ini penjajahan yang sangat memporak-porandakan masyarakat, baik di dunia maupun apalagi di akherat.

Di dunia, mereka menjajah dengan mengadakan sistem yang sifatnya seperti dikecam dalam surat Al-Baqoroh ayat 11-15 tersebut, dan itu atas biaya masyarakat atau rakyat. Sedang biaya tinggi itu hanya untuk memasukkan anak-anak kita ke neraka di akherat.

Betapa mengerikannya ini.Anak-anak sekolah digarap untuk menjadi generasi musyrik yang sangat dimurkai Allah swt seperti itu.

Di masyarakat, para punggawa daerah, bahkan DPRD juga, mereka menggalakkan upacara-upacara adat kemusyrikan. Lewat dinas pariwisata dan atas nama otonomi daerah, dengan alasan untuk menggalakkan wisata, maka upacara-upacara adat yang jelas-jelas syirik (menyekutukan Allah swt dengan lainnya) digalakkan dan diada-adakan.

Bahkan kemungkinan sampai menekan masyarakat. Misalnya, konon sebagian daerah ada yang mengancam, bila ada nelayan yang tidak mau ikut upacara laut (yang tentu saja penuh kemusyrikan) maka dikenai ancaman.

Mungkin bisa-bisa dikucilkan, dipersulit, atau bahkan kapalnya diancam untuk dibakar, misalnya. Ini berarti kemusyrikan bukan sekadar tumbuh, tetapi disemarakkan, bahkan dipaksakan.

Padahal, seharusnya kemusyrikan itu harus diberantas sampai tuntas, agar murka Alloh swt tidak ditimpakan, dan kelak tidak masuk neraka selama-lamanya di akherat.

Kalau anak sekolahnya sudah dimusyrikkan dan itu pakai biaya dari para orang tua itu sendiri, sedang masyarakat juga dimusyrikkan bahkan kadang dipaksa untuk ikut upacara kemusyrikan, maka penjajahan model ini nilai jahatnya lebih jauh tinggi dibanding penjajahan fisik.

Kalimat ini sama sekali bukan menyanjung adanya penjajahan fisik. Tetapi kejahatan penjajahan yang amat tinggi ini kenapa diatas-namakan sebagai mengisi kemerdekaan, dan atas nama membangun masyarakat.

Itu masalahnya. Sadarlah wahai para penjajah, dan sadarlah para orang yang dijajah. Hidup ini, manusia hanyalah ditugaskan untuk menghamba, mengabdi, beribadah kepada Allah swt.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
(QS Adz-dzariyat/51 :56).

Bila kita punya kuasa, maka arahkanlah manusia agar penyembahannya kepada Allah swt itu benar.

Sehingga kita mendapat pahala dari apa yang kita perbuat, dan mendapatkan pahala pula dari orang yang berbuat baik lantaran petunjuk kita, tanpa mengurangi pahala mereka. Itu terdapat dalam hadits yang shohih. Sebaliknya, sadarlah.

Bila kita menjerumuskan manusia ini ke penyembahan syetan, atau kemusyrikan, atau kejahatan lainnya, maka kita sendiri sudah mendapatkan dosa, masih pula mendapatkan tambahan dosa dari orang-orang yang kita jerumuskan itu, tanpa mengurangi dosa mereka. Betapa beratnya.

Maka ma’qul alias masuk akal lah kalau penghuni-penghuni neraka itu tidak sedikit yang kekal di dalamnya. Karena memang tingkat kejahatannya tidak bisa kita hitung lagi. Bayangkan kalau memusyrikkan jutaan orang secara sistematis.

Nanti yang dimusyrikkan itu kemudian beranak pinak lagi, mereka musyrik lagi dan seterusnya, dan itu atas upaya dari kita asalnya, betapa dahsyatnya. Tidak bisa dihitung lagi kejahatannya secara bersambung-sambung.

Sadarlah. Enaknya di dunia ini hanya seberapa, tetapi siksanya di akherat kelak tidak ada habis-habisnya. Menyesal dahulu pendapatan, menyesal kemudian tak berguna, kata pepatah. Inilah ungkapan yang bisa diungkapkan secara sederhana, yaitu: Merdeka yang mana?

Orang sampai berlindung didalam kamar-kamar terkunci pun masih diburu dan dijajah, untuk dicopot imannya dan dilepas akhlaq, moral, dan etikanya.

Dari dada yang berisi keimanan Tauhid, digerayangi untuk diganti menjadi syirik. Dari akhlaq yang fitri insani, berakhlaq mulia dan terpuji, digerayangi di kamar-kamar dengan aneka tayangan yang mencopotnya dengan menggantinya pakai moral binatang yang tak tahu malu.

Imannya sudah dicopoti, akhlaqnya sudah dilucuti, tinggallah manusia-manusia yang dijajah ini sebagai sosok-sosok yang jauh dari iman, dan bermoral binatang.

Terkutuknya orang Yahudi Bani Israel karena penentangannya terhadap aturan Allah swt hingga diubah menjadi babi dan kera, masih tersurat nyata dalam Kitab Suci Al-Qur’an sebagai peringatan.

Namun kini upaya untuk menjadikan manusia ini jadi babi dan kera justru digalakkan secara seksama, atas biaya kita semua. Majalah atau bacaan porno pun terbit di sini dan beredar di mana-mana.

Akankah pencopotan iman dan pelucutan akhlaq ini kita lanjutkan bersama? Hingga para orangtua yang masih ada imannya di dada sangat sesak nafas, karena keluarga, anak-anak dan cucunya walau berada di dalam rumah pun digarap secara sistematis oleh tayangan-tayangan yang mencopot iman dan akhlaq setiap saat.

Lantas, merdeka yang mana, bila hanya untuk bernafas lega saja sudah tidak ada tempatnya lagi, wahai saudara-saudaraku?

Jakarta, Rabu 15 Rajab 1427H/ 9 Agustus 2006.
Hartono Ahmad Jaiz

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/renungan-kemerdekaan-kemusyrikan-dan-amoral-justru-digalakkan-secara-nasional.htm/feed 0
Isu ISIS Momentum Kriminalisasi Islam http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/isu-isis-momentum-kriminalisasi-islam.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/isu-isis-momentum-kriminalisasi-islam.htm#comments Sat, 16 Aug 2014 05:28:17 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=81784 isis1Oleh : Umu Fikri (Pemerhati Media)

Menarik mencermati program acara Gesture, TV One, 13 Agustus 2014, jam 19.00 tentang ISIS dan Khilafah bersama Cholil Nafis (MUI Pusat), Nasir Abbas (Pengamat Terorisme, Veteran Mujahidin Afghanistan mitra BNPT) dan Jubir HTI, Ismail Yusanto.

Logika yang dibangun baik Cholil Nafis maupun Nasir Abbas saling terkait dan membangun sebuah justifikasi diantaranya :

Pertama, bahwa ideologi ISIS adalah ideologi penuh dengan kekerasan (baca Jihad).

Kedua, ideologi ISIS sengaja ditujukan kepada pemerintah status quo baik yang ada di Irak dan Suriah khususnya maupun status quo di berbagai negara yang ada pengikut dan simpatisannya.

Ketiga, karena alasan pertama dan kedua itulah maka ISIS bersama seluruh pengikut simpatisannya bermaksud mengganti atau bahkan menumbangkan ideologi dan penguasa negara yang berkuasa di berbagai negara saat ini.

Apalagi Nasir Abbas secara historis kemudian menjelaskan tentang NII. Beserta keterkaitannya dengan Ust Afif yang disinyalir sebagai pentolan ISIS Indonesia. Yang ditangkap di Jatiasih mirip dengan modus infotainment penangkapan teroris sebelum ISIS marak. Sementara Cholil Nafis begitu semangat membenturkan konsep khilafah dengan NKRI dengan mengambil momentum isu ISIS ini. Dan menegaskan berulang ulang bahwa NKRI harga mati. Sebaliknya khilafah tidak sesuai atau bertentangan dengan pilar-pilar negara. Walaupun Nafis juga menganggap bahwa jika hanya wacana saja maka itu dianggap tidak berbahaya. Jubir HTI yang diberikan kesempatan pada bagian akhir menyampaikan bahwa khilafah ala ISIS dianggap tidak sah secara syar’i karena tidak mencukupi syarat-syaratnya. Seraya menjelaskan bahwa khilafah adalah ajaran islam yang memuat substansi syariah, dakwah dan ukhuwah. Sambil menegaskan kenapa harus menolak ajaran islam sendiri yang menjadi keyakinan mayoritas bangsa di negeri ini. Ismail Yusanto juga menjelaskan pentingnya proporsional menanggapi ISIS karena rawan dengan adu domba, kriminalisasi dan monsterisasi ajaran islam khususnya tentang khilafah. Pada akhir penjelasan, Ismail menjelaskan bahwa kemunculan ISIS tidak bisa dipisahkan dengan problem dunia atas hegemoni negara-negara adi daya AS terhadap dunia islam. Tinggal bagaimana islam menjawab tantangan ini.

Sebagaimana layaknya sebuah konsep acara talkshow dalam sebuah tayangan program acara televisi maka di awal selalu dirumuskan script tentang isi dan alur materi talk show. Dan jika kita perhatikan maka konten materi talk show itu memuat pokok-pokok pikiran antara lain :

Pertama, ISIS adalah organisasi teroris yang berhasil mendirikan khilafah.

Kedua, ide khilafah yang diusung ISIS adalah ideologi teroris maka dianggap berbahaya.

Ketiga, ide khilafah bertentangan dengan NKRI.

Keempat, maka siapapun atau kelompok manapun yang mengusung ide khilafah baik ISIS maupun non ISIS dianggap berbahaya dan mengancam NKRI. Dengan konstruksi seperti itu maka isu ISIS bisa diluaskan spektrum sasarannya ke obyek sasaran lebih luas. Untuk konteks talkshow itu maka jelas bahwa isu ISIS akan disasarkan bukan hanya kepada para pengikut dan simpatisan ISIS melainkan juga kepada semua yang berkeinginan memperjuangkan tegaknya syareah dan khilafah di negeri ini.

Sebuah konstruksi mirip dengan logika yang dibangun atas proyek “war on terrorism”. Hanya momentumnya yang berbeda. Jika awalnya menggunakan momentum 9/11 WTC dengan mengaitkan kelompok Al Qaeda pimpinan Usamah bin Laden. Di tengah kejanggalan di seputar persoalan pengeboman itu sebagai sebuah rekayasa alat legitimasi saja. Agak berbeda dengan momentum WTC dengan sasaran Al Qaeda yang dijadikan legitimasi invasi militer AS ke Irak dan Afghanistan. Maka momentum ISIS lebih seksi dimainkan karena lebih berakar dari konflik internal para mujahidin yang diciptakan. Dan seolah-olah lebih rasional untuk menjelaskan bahwa dukungan atas ISIS memang benar-benar sebagai ancaman nasional. Persis dengan pernyataan Ansyaad Mbai di sebuah stasiun TV yang menyampaikan beda antara Al Qaeda dengan ISIS. Jika Al Qaeda sasarannya negara-negara besar seperti AS dan Rusia. Kalau ISIS sasarannya adalah negara-negara manapun tempat keberadaan ISIS termasuk simpatisan dan anggotanya. Yang sudah dianggap sebagai warga negara IS (Islamic State) atau Khilafah ala ISIS. Nampaknya akan selalu ada judul baru dan jangka panjang untuk mempertahankan eksistensi proyek “war on terrorisme” baik di tingkat global maupun nasional.

Hal ini nampak dari temuan kasus beberapa peristiwa penangkapan dan penembakan mati terduga teroris yang disinyalis sebagai bagian dari ISIS. Seperti penangkapan di Jatiasih, Banyumas dan Surabaya. Tuduhan atas terduga teroris di tiga tempat itu masih terkait dengan kasus dugaan terorisme lama namun dibangun dengan setting opini bersindikasi dengan ISIS. Pertanyaan kemudian adalah sampai kapan IS ala ISIS dijadikan momentum pembenaran untuk mengkriminalisasi dan memonsterisasi islam atas nama war on terrorism ? Maka berpulang kepada yang punya proyek.

Tetapi ingatlah Firman Allah Subhanahu Wa Ta’alla : “Mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.” (Ali Imran : 54). “Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir itu) merencanakan tipu daya yang jahat dengan scbenar-be-narnya. Dan Aku pun merencanakan tipu daya pula, dengan sebenar-benarnya.” (Ath-Thariq : 15-16). “Dan Dia-lah Dzat Yang Maha keras tipu daya-Nya.” (Ar-Ra’d : 13). Wallahu a’lam bis shawab.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/isu-isis-momentum-kriminalisasi-islam.htm/feed 0
Proyek Patung-patung di Indonesia : Penghamburan Dana demi Menabung Dosa http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/proyek-patung-patung-di-indonesia-penghamburan-dana-demi-menabung-dosa.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/proyek-patung-patung-di-indonesia-penghamburan-dana-demi-menabung-dosa.htm#comments Fri, 15 Aug 2014 01:47:11 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=81703 patungOleh Hartono Ahmad Jaiz

Patung-patung dalam riwayatnya sudah jadi alat untuk mengubah agama Tauhid menjadi kemusyrikan. Amru bin Luhayyi telah mengubah Agama Nabi Ibrahim dan Isma’il alaihimas salam dari Tauhid kepada penyembahan patung-patung yang dipasang di sekitar Ka’bah. Semula patung yang dia bawa ke Makkah itu adalah sisa-sisa patung orang musyrikin zaman Nabi Nuh alaihis salam yang para penyembahnya telah musnah diadzab Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kemusyrikannya.

Ketika patung-patung itu masih tersisa, walau para penyembahnya sudah musnah diadzab Allah dengan banjir besar ribuan tahun lalu, namun kemudian sisa-sisa berhala-berhala itu dibawa orang yaitu Amru bin Luhayyi ke Makkah, lalu ditumbuhkan lagi penyembahan terhadap berhala-berhala. Sehingga di sekitar Ka’bah terdapat 360 berhala. Ini benar-benar pelajaran yang nyata tentang betapa bahayanya sisa-sisa kemusyrikan itu. Pusat agama Tauhid, bisa diubah menjadi pusat kemusyrikan. Sedangkan yang berusaha membawa patung itu tadi semula hanya satu orang.

Bayangkan kalau di Indonesia ini, patung-patung justru jadi proyek, dibuat dengan dana dari hasil (pajak dan sebagainya dari) penduduk yang mayoritasnya Muslim. Sedang patung-patung itu bukan hanya di satu tempat, namun di berbagai tempat, bahkan mungkin tiap daerah dan tiap periode kepemimpinan ada saja yang mengadakan proyek pembuatan patung.

Hendaknya umat Islam sangat berhati-hati, lebih-lebih para penguasa yang di masa buku ini ditulis (2007M/ 1428H), menurut pendapat umum, para penguasa memakai aji mumpung yaitu mumpung berkuasa. Maka biasanya mereka membuat proyek-proyek, yang menurut rahasia umum, dari proyek-proyek itu sebagian dananya bisa masuk kantong. Jadi makin banyak proyek yang mereka ciptakan maka kemungkinan kantong mereka makin tebal. Sebaliknya, kondisi negeri ini diketahui umum bahwa hutangnya sangat besar.

Di antara proyek-proyek itu ada juga yang berupa pembuatan patung-patung dipasang di mana-mana. Bahkan ada tokoh Islam di Karanganyar Solo Jawa Tengah yang mengeluh kepada saya, bahwa bupatinya (kepala daerah tingkat dua di bawah propinsi), seorang perempuan, membuat proyek berupa membawa arca-arca dari Bali (tempat orang-orang Hindu Bali) ke daerahnya, maka dikhawatirkan adanya orang yang menyembah berhala gara-gara pejabat di daerahnya memasang patung-patung yang didatangkan dari Bali entah untuk apa yang disebut pariwisata atau apa itu. Ini walaupun pembuat proyek pemasangan patung yang didatangkan dari Bali itu masih mengaku dirinya Muslimah, namun telah mengakibatkan adanya penyembahan berhala.

Patung-patung yang dipasang di mana-mana, di saat patung itu belum disembah, sering membuat risih. Contoh, ketika zaman Presiden Soeharto dengan Menteri Agama Munawir Syadzali, Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) KH Hasan Basri dengan Ketua Komisi Fatwa MUI Ibrahim Hosen, para ulama dari dunia Islam berdatangan ke Indonesia untuk membahas Kalender Hijriyah Internasional (sebagaimana setiap sekian tahun diadakan musyawarah di negeri lain dengan berpindah-pindah). Para ulama dari berbagai negeri Islam itu nampak keheranan. Kenapa Indonesia dikenal negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, tetapi pemandangan yang dilihat para ulama dari berbagai negeri itu begitu mereka menginjakkan kaki di Bandara Cengkareng Jakarta (internasional) sampai di hotel yang ditempati untuk membahas Kalender Hijriyah ternyata banyak patung-patung alias berhala. Apakah tidak ada ulamanya, Indonesia ini?

Mungkin para ulama dari berbagai negeri itu akan lebih heran lagi, seandainya (saat itu) ada yang membawa para ulama itu ke calon kuburan pemimpin Indonesia (Soeharto) di perbukitan Mangadeg Matesih, timur Solo Jawa Tengah. Di sepanjang jalan yang naik ke perbukitan itu, kiri dan kanan dipasangi patung-patung wadyabala kera dalam legende Ramayana (bukan dari Islam). Ada Hanoman, Subali, Sugriwa dan sebagainya, yang rata-rata berwajah kera menganga. Jadi kalau kita berjalan kaki menuju ke perbukitan itu seakan disambut oleh patung-patung kera itu yang berdiri di sepanjang pagar kanan kiri jalan.

Dengan adanya contoh seperti itu, maka para penguasa dari pusat sampai daerah-daerah ada saja yang membuat proyek pembuatan patung. Demikian pula pengusaha dan lainnya.

Seorang da’I yang kini menjadi salah satu ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) pernah mengeluh, dia berkhutbah di suatu hotel di Jakarta. Di sisi mimbar itu ada sesuatu yang dibungkus kain di hadapan para jama’ah Jum’at itu. Ternyata yang dibungkus kain itu adalah berhala.

Hadits tentang Nabi Palsu dan Penyembahan Berhala

Berhati-hatilah wahai umat Islam, terutama pejabat dan pengusaha. Meskipun sekarang patung-patung itu belum disembah, tetapi apa yang telah diadakan itu, mungkin sekali nantinya disembah. Atau mungkin dipindahkan ke lain tempat seperti yang dilakukan oleh bupati perempuan di Karanganyar Solo Jawa Tengah itu, yang ternyata kemudian patungnya disembah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan:

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ حَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى الأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى كَذَّابُونَ ثَلاَثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى وَلاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ».

Dan Qiyamat tidak terjadi sebelum ada kabilah-kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik sehingga kelompok-kelompok dari umatku menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada di antara umatku tiga puluh pendusta yang semuanya mengaku sebagai nabi. Padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku. Dan (tetapi) akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapat pertolongan (dari Allah), mereka tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menyelisihi (dan menghinakan) mereka, sampai datang keputusan Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang Qiyamat dengan datangnya angin yang mengakibatkan matinya setiap mukmin). (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Tsauban, ditakhrij oleh Imam As-Suyuthi, dishahihkan oleh Al-Albani).

Pendusta-pendusta yang mengaku nabi sudah bermunculan di Indonesia seperti Lia Eden dengan Agama Salamullah yang kemudian dinamakan Kerajaan Eden, mengaku dirinya salah satu dari Tuhan-tuhan dan juga pasangan Jibril dan mendirikan agama seperti nabi. Dan di tahun 2007 ada juga Ahmad Moshaddeq dari suku Betawi (Jakarta) mengaku nabi, Al-Masih al-Maw’ud, sehingga syahadatnya diganti, bukan

وأشهد أن محمدا رسول الله

Tetapi

وأشهد أن المسيح الموعود رسول الله

Dan aku bersaksi bahwa Al-Masih al-Maw’ud adalah rasul Allah.

 

Unsur-unsur berikut ini perlu diperhatikan.

  1. Penyembah berhala padahal tadinya beragama Islam, sudah ada.
  2. Pendusta-pendusta yang mengaku nabi sudah bermunculan.
  3. Patung-patung makin banyak jumlahnya (karena sebagai proyek oleh penguasa dan pengusaha) hingga negerinya berpenduduk mayoritas Muslim, namun di mana-mana banyak patung-patung.
  4. Ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang dikhawatirkan sekali dalam sabdanya bahwa akan ada kelompok-kelompok yang menyembah berhala dari umat beliau.
  5. Yang akan mengikuti musyrikin untuk menyembah berhala itu bukan hanya satu kelompok, tetapi qabail, kabilah-kabilah, berbagai kelompok dari umat Islam, maka renungkanlah.

Apakah aman, bila patung-patung itu tetap ada? Apakah patung-patung yang kini belum disembah itu nantinya tidak akan disembah ketika mereka sudah menyembah patung? Dan apakah sekarang juga patung-patung itu belum disembah? Mungkin sudah diberi sesaji, entah kembang atau apa, itulah penyembahannya, dan itulah kemusyrikan, dosa tertinggi. Pelakunya tak diampuni bila ketika hidup belum taubat total. Sedang pembuatnya beserta orang-orang yang terlibat (pembuat proyek dengan aneka jajaran dan rangkaiannya) tentu saja mendapatkan dosanya, padahal dosa penyembahan patung itu dosa tertinggi, kemusyrikan.

Patung Reco Gladak

Sekadar untuk mengamati perkembangan dan penyebaran patung, coba kita simak.Mulai berkembangnya patung ke mana-mana, mari kita ambil contoh satu jenis patung namanya reco gladak. Ini adalah patung gendut pendek, tangannya mengempit pentungan, nama tempatnya Gladak, maka disebut reco gladak artinya arca gladak, semula hanyalah ada di pojokan jalan protocol dekat alun-alun Keraton Solo (Surakarta) Jawa Tengah, Indonesia. Begitu ada kampanye pemilu (pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat untuk duduk di DPR -Dewan Perwakilan Rakyat-) tahun 1971, patung dengan sebutan reco gladak itu kepalanya ditudungi kukusan (alat menanak nasi, anyaman bambu berbentuk segi tiga bulat) berlambangkan partai tertentu. Maka media massa memberitakannya secara nasional maupun lokal, dengan foto reco gladak yang bertudung kukusan berlambang partai tertentu.

Setelah itu tahu-tahu di Jakarta (dan mungkin di tempat-tempat lainnya) mulai bermunculan reco-reco gladak terutama di hotel-hotel. Betapa cepatnya arca gladak ituberanak pinak. Bukan sekadar seperti Amru bin Luhayyi membawa patung-patung sisa zaman Nabi Nuh as dari satu tempat ke Makkah lalu disembah ramai-ramai. Tetapi reco gladakini induknya masih tetap ada, sedang anak cucunya bertebaran di mana-mana dibuat orang.

Setelah reco gladak itu beranak pinak bertebaran di mana-mana, di tempatnya yang asli, Gladak Solo Jawa Tengah, dibangun patung lebih besar lagi, membangunnya saja sampai sekitar 6 bulan, namanya Patung Slamet Riyadi. Patung itu diresmikan Selasa 13 November 2007M kabarnya dielu-elukan (disambut dengan meriah) oleh para tokoh di sana. Patung itu di ujung atau pangkal dari jalan protocol kota Solo itu yang memang namanya Jl Raya Slamet Riyadi.

Dengan dibuatnya patung Slamet Riyadi itu maka komplitlah Kota Solo itu dengan sarana kemusyrikannya: Yang satu sudah lama ada, namanya Kyai Slamet, dan yang baru menyusul namanya Patung Slamet.

Kyai Slamet itu kerbau milik Keraton Solo yang dikeramatkan, dialap berkahnya(disikapi dengan tabarruk, mencari berkahnya). Setiap malam satu Suro (tanggal 1 Muharram, tahun baru Hijriyah), kerbau-kerbau yang dipercayai membawa berkah itu dilepas tengah malam. Manusia berjajar berderet-deret di pinggir jalan untuk menyaksikan atau bahkan mencari berkahnya, yaitu di antaranya adalah tainya (maaf). Mereka menunggu tai kerbau itu untuk dijadikan seperti jimat, sesuatu yang dianggap memberi manfaat bahkan berkah. Itulah kemusyrikan yang nyata.

Kemudian disusul Patung Slamet, yang dari zaman Nabi Nuh as pun sudah dikenal bahwa patung itu adalah berhala yang kemudian mereka sembah. Kalau sekarang belum disembah, pembuatannya itu sendiri sudah mengakibatkan siksa yang amat sangat dahsyat di Hari Qiyamat.

Berikut ini keterangan Ibnu Qudamah dalam Kitabnya, Al-Mughni, juz 7:

ج 7:( 5674 )فَصْلٌ : وَصَنْعَةُ التَّصَاوِيرِ مُحَرَّمَةٌ عَلَى فَاعِلِهَا ; لِمَا رَوَى ابْنُ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : { الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ , يُقَالُ لَهُمْ : أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ } . وَعَنْ { مَسْرُوقٍ قَالَ : دَخَلْنَا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بَيْتًا فِيهِ تَمَاثِيلُ , فَقَالَ لَتِمْثَالٍ مِنْهَا : تِمْثَالُ مَنْ هَذَا ؟ قَالُوا : تِمْثَالُ مَرْيَمَ , قَالَ عَبْدُ اللَّهِ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : إنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ } . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا , وَالْأَمْرُ بِعَمَلِهِ مُحَرَّمٌ . كَعَمَلِهِ .

Fasal: Pembuatan gambar-gambar/ patung-patung (bernyawa –manusia atau binatang) diharamkan atas pembuatnya, karena berdasarkan apa yang diriwayatkan Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

{ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ , يُقَالُ لَهُمْ : أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ }

Orang-orang yang membuat gambar-gambar/ patung-patung ini mereka disiksa di Hari Qiyamat, dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang telah kamu ciptakan. (Muttafaq ‘alaih).

Dan riwayat dari Masruq, dia berkata: Kami bersama Abdullah masuk ke rumah yang di dalamnya ada patung-patung, maka dia berkata mengenai patung di antaranya: Patung siapa ini?

Mereka menjawab: Patung Mariam.

Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

: إنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Sesungguhnya manusia paling keras siksanya di Hari Qiyamat adalah pelukis-pelukis/ pematung-pematung. (Muttafaq ‘alaih).

Dan perintah untuk mengerjakannya diharamkan (pula) sebagaimana (keharaman) mengerjakannya. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 7, fasal 5674).

Jadi bukan hanya pembuat patung-patung itu yang diancam adzab paling dahsyat di Hari Qiyamat, namuntermasuk pula yang memerintahkannya beserta orang-orang yang terlibat dalam urusan itu.

Demikianlah,pembuatan patung itu sendiri sangat diancam oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pelakunya (termasuk pimpro –pemimpin proyek—dan anak buahnya) dengan ancaman siksa paling keras di Hari Qiyamat. Kalau patung-patung itu disembah, maka akan lebih-lebih lagi siksanya di Akherat kelak.

 

Patung Inul Diprotes

Terbukti, bukan hanya penguasa dan pengusaha yang suka membuat proyek pembangunan patung. Dan bukan hanya orang yang sudah mati yang dipatungkan. Tetapi orang masih hidup pun dipatungkan, dan pemesannya serta yang mau memajangnya di jalan depan rumahnya adalah dia yang masih hidup tapi minta dipatungkan itu sendiri. Itulah Inul dan patungnya.

Pada hari yang sama antara diresmikannya Patung Slamet Riyadi di Solo dan patung Inul di Jakarta, seorang penjoget ngebor (pamer pantat, maaf) dengan sebutan Ratu Goyang Ngebor Inul Daratista mau meresmikan patung “Inul” yang berpose nyanyi joget dengan pakaian ketat sebatas dada (jadi dada tampak) dan menonjolkan maaf pantatnya.Patung itu mau diresmikan Inul di jalan depan rumahnya, . di Pondok Indah Jakarta, 12 November 2007, tetapi diancam orang untuk dirusak massa. Maka patung yang sudah terpasang itu tinggal tembok penyangganya, dan dipasangi kertas dari sebuah Organisasi Massa yang bertulisan: “Gua bukan pahlawan, gua nggak pantes dipajang di sini, pantesnya gua dipajang di kamar mandi.”

Rupanya Inul rela mengeluarkan duit untuk membuat patung dirinya (atau dimiripkan dirinya sebagai penyanyi joget) dan untuk dipajang di depan rumahnya. Harga patung itu Rp12 juta (seharga 60-an gram emas murni), melebihi patung-patung yang sudah ada di jalan itu, yang rata-rata menurut ketua RT-nya tiap satu patung seharga Rp4 juta.

Anehnya, Inul mau mengadakan konferensi pers atas gagalnya peresmian patungnya itu. Kemudian acara itupun gagal, walau wartawan sudah berdatangan, maka Inul kirim sms (pesan singkat lewat telepon genggam) kepada wartawan: “Saya hanya bersabar, mungkin ini cobaan sebelum saya berangkat ibadah haji,” tulis Inul seraya mengaku dirinya masih berada di kawasan Kelapa Gading Jakarta Utara. (lihat Warta Kota, Selasa, 13 November 2007, halaman 1 dan 20).

Begitulah adanya. Ancaman orang yang akan merusak patung erotis dan tak pantas itu, malah dianggap oleh Inul sebagai ujian, dan dikaitkan dengan akan berangkatnya ke Tanah Suci untuk ibadah haji. Lha nanti kalau jadi syari’at baru, bahwa orang yang akan berangkat ibadah haji maka perlu memajang patung di jalan depan rumahnya, bagaimana? Sedangkan sekarang saja sudah ada adat yang entah darimana, dan sejak kapan, wallahu a’lam, setiap orang mau ibadah haji, terutama orang Betawi Jakarta, mengharuskan diri mereka mengadakan upacara Ratiban, pakai baca-bacaan, mengumpulkan orang. Bahkan ketika jama’ah haji itu masih berada di Tanah Suci Makkah ataupun Madinah, di rumah mereka pun tiap malam Jum’at diadakan Ratiban pula. Nanti ketika mereka meninggal, baik meninggalnya di Tanah Suci maupun meninggal di kampungnya atau di mana saja, maka diadakan upacara tahlilan dengan baca-bacaan dan mengumpulkan orang. Bid’ah-bid’ah itu nanti kalau ditambah dengan bid’ah yang lebih dahsyat lagi yaitu pemasangan patung, maka apa jadinya.

Di saat nanti patung-patung itu disembah orang, walau pembuat dan pemodal serta pengada proyeknya sudah di dalam kubur, namun dosanya akan tetap mengalir. Padahal itu adalah dosa kemusyrikan, yang tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bila pelakunya tidak bertaubat ketika masih hidup. Lha yang mewariskan patung-patung itu sudah di dalam kubur, sedang warisannya itu kemudian disembah orang, bagaimana mereka yang sudah mati itu akan bertaubat? Tinggallah dosa terbesar yang akan senantiasa mengalir. Na’udzubillahi min dzalik, kami berlindung kepada Allah dari yang demikian. Betapa berbahayanya, menabung dosa model ini. Berhati-hatilah wahai para manusia. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2008).

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/proyek-patung-patung-di-indonesia-penghamburan-dana-demi-menabung-dosa.htm/feed 0
Ada yang Pontang-Panting Memperjuangkan Agama Kafir dan Aliran Sesat Syiah http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/ada-yang-pontang-panting-memperjuangkan-agama-kafir-dan-aliran-sesat-syiah.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/ada-yang-pontang-panting-memperjuangkan-agama-kafir-dan-aliran-sesat-syiah.htm#comments Thu, 14 Aug 2014 03:37:04 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=81652 syiah ahmadiyahMengherankan sekali. Bukan karena salah makan obat, tapi tingkahnya mirip. Hingga pontang-panting memperjuangkan agama kafir, agar resmi diakui.

Tidak peduli urusan yang seharusnya dia urusi. Misalnya, begitu wilayah DKI Jakarta dipimpin oleh orang kafir, atau wilayah-wilayah lain yang penguasanya orang kafir, sudah berapa masjid (rumah Allah) yang digusur dan dirobohkan.

Berapa masjid yang seharusnya dibangun namun tetap dihalangi oleh penguasa kafir seperti di Bali. Berapa pekuburan Muslim yang seharusnya diadakan namun tetap tidak dibolehkan oleh penguasa kafir seperti di Bali.

Berapa kepala sekolah yang Muslim yang dipelorot jabatannya diganti dengan yang lain. Berapa punggawa tingkat kampong dan seterusnya yang telah digeser hanya gara-gara tampak rajin mengamalkan Islamnya. Berapa wakaf tanah untuk kepentingan Islam yang telah diserobot orang. Sudah berapa jumlahnya, tidak diperdulikan. Padahal itu menjadi urusan utamanya. Namun justru yang bukan jadi urusannya diurusi. Hingga dia pontang-panting demi mengupayakan agar agama kafir diakui untuk urutan ke sekian di negeri ini.

Bertungkus lumus (berpayah-payah) seperti itu masih pula ditambah untuk cari muka kepada orang kafir dalam membela aliran sesat syiah yang memusuhi dan membunuhi umat Islam di dunia ini dari dulu sampai sekarang. Hingga berani melabrak tokoh-tokoh Islam Madura yang telah disakiti dan dikhinati syiah. Tidak perduli syiah itu merusak aqidah Islam dan menyakiti umat Islam atau tidak. Pokoknya aliran sesat syiah harus diperjuangkan.

Benarlah firman Allah Ta’ala:

فَلَمَّازَاغُواأَزَاغَاللَّهُقُلُوبَهُمْوَاللَّهُلَايَهْدِيالْقَوْمَالْفَاسِقِينَ [الصف : 5]

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS Asshaf/61: 5).

Maksudnya karena mereka berpaling dari kebenaran, maka Allah membiarkan mereka sesat dan bertambah jauh dari kebenaran.

Para pembela kafir sadarlah

Wahai para pembela kafir, yang kini mengaku Muslim sadarlah. Sejarah telah membuktikan, tokoh pejuang yang namanya Ahmad Lussy Pattimura dan dibunuh oleh penjajah kafir Belanda di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 saja kemudian diganti namanya dengan pakai Thomas segala, dan dianggap beragama Kristen. (Masa’ sih, orang Kristen memberontak penjajah Belanda hingga digantung oleh Penjajah Belanda yang Kristen itu).

Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

Menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah. Ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Wong Fei Hung di Cina. Pemerintah nasionalis-komunis Cina berusaha menutupi keislaman Wong Fei Hung, seorang Muslim yang penuh izzah (harga diri) sehingga tidak menerima hinaan dari orang Barat.

Tokoh Muslim ini (Pattimura) sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi di zaman ini dia lebih dikenal dengan nama Thomas Mattulessy yang identik Kristen.Asal nama Thomas Mattulessy dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sebenarnya Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy (Mat Lussy). Dan nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku (yang ada adalah Mat Lussy).

Sekali lagi, menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah. (lihat Artikel Pattimura Dikristenkan Paksa, agung pribadi http://islamthis.wordpress.com/2011/09/15/pattimura-dikristenkan-paksa-oleh-ambon/

Setelah kita renungkan upaya pengkristenan pahlawan yang sudah meninggal, coba kita pikirkan. Lebih layak mana untuk dianggp bukan Islam, nantinya. Apakah kalian yang jadi pembela kafir penjajah masa kini dan senantiasa berupaya menyakiti Umat Islam untuk cari muka kepada bos dan cukong kalian yang kafir, baik di dalam negeri maupun luar negeri, ataukah pejuang yang namanya saja Ahmad dan mati digantung oleh penjajah kafir Belanda?

Rugi sekali. Hidup satu kali saja kini menjadi pembela kafir bahkan berupaya untuk diakui sebagai benar-benar pembela kafir, hingga pontang-panting untuk berusaha meresmikan agama kafir dengan berbagai cara agar diakui. Kasihan!

Ingatlah ancaman Allah Ta’ala:

إِنَّاللَّهَجَامِعُالْمُنَافِقِينَوَالْكَافِرِينَفِيجَهَنَّمَجَمِيعًا   [النساء : 140]

Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam (neraka) Jahannam, (An-Nisaa’: 140).

Hamba Allah di Jakarta

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/ada-yang-pontang-panting-memperjuangkan-agama-kafir-dan-aliran-sesat-syiah.htm/feed 0
Silang Pendapat Sah-Tidaknya Kekhalifahan Daulah islam http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/silang-pendapat-sah-tidaknya-kekhalifahan-daulah-islam.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/silang-pendapat-sah-tidaknya-kekhalifahan-daulah-islam.htm#comments Mon, 11 Aug 2014 02:35:50 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=81511 ISIS irakOleh : Afandi Satya .K

Entah musibah apa lagi yang lebih besar daripada musibah yang dialami oleh umat Islam semenjak terkuburnya kekhilafahan Ustmani pada tahun 1924 M oleh tangan para musuh-musuh Islam. Sejak saat itu, kaum muslimin yang dahulunya memiliki satu tanah, satu identitas, satu persaudaraan mulai dihancurkan secara sistemik dengan pemisahan-pemisahan yang mengubur kemuliaan umat yang pernah mulia dengan kesatuan yang tidak mampu ditandingi peradaban manapun sepanjang sejarah kehidupan manusia. Ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Sykes-Piccot pada tahun 1916 oleh pemerintah Perancis, Britania Raya dan persetujuan Kerajaan Rusia, mulailah pengkavlingan tanah kaum muslimin dilakukan secara merata melalui semangat penjajahan para milisi yang juga penyebar injil yang memunculkan emosi rakyat untuk memerdekakan diri.

Kekhilafahan tak mampu berbuat banyak ketika semangat memerdekakan diri dari para salibis diikuti dan dimanfaatkan oleh kaum nasionalis yang tidak sependapat dengan sistem kekhilafahan guna mendirikan negara yang benar-benar merdeka dan berdiri sendiri. Merdeka dari sistem agama manapun, dan berdiri sendiri atas asas nasionalisme material. Mulailah kaum muslimin kehilangan induknya, setelah itu  mereka hidup sendiri-sendiri. Ikatan persaudaraan agama hanya tinggal ikatan emosional. Tangis, dan uluran tangan dibatasi oleh garis-garis batas halauan negara dan warna bendera. Ketika saudara mereka berada dibelahan bumi lain dan dizalimi, maka mereka hanya mampu berkirim simpati, menangis, meratap atau mengutuk saja. Empati yang terjadi pada zaman Mu’tashim yang memberangkatkan ribuan tentaranya karena mendengar kabar seorang muslimah telah dilecehkan, hanya seorang muslimah, kini tertinggal dikusamnya buku-buku sejarah yang hanya menjadi pengantar tidur umat yang sedang tertidur. Agar selamanya tidur dan tak pernah bangun mewujudkan keajaiban-keajaiban persatuan yang pernah terjadi pada masa lalu, ketika umat ini berada dalam naungan persatuan bernama Khilafah. Begitupun ratusan kisah penaklukan, kepatriotan dan ketinggian harga diri seorang muslim dalam kekhilafahan seperti hal mustahil yang tidak mungkin atau tidak pernah terjadi, atau tidak tahu bagaimana mewujudkannya sekarang.

Cukup lama umat ini dibekap matanya agar tidak terbangun. Sembilan puluh tahun diombang-ambing dan dijadikan operan layaknya bola dan ombak yang tak bisa mempertahankan ketetapan posisi dirinya sendiri. Setelah waktu yang lama itu, dengan pembantaian-pembantaian, dan penuhnya sejarah kaum muslimin kelam dengan pembiaran dan penelantaran dunia. Tertumpahnya seratus ribu darah muslim tidak lebih mahal daripada lecetnya kulit satu orang musuh Islam. Pada masa tanpa naungan kekhilafahan itu,  1.200.000 nyawa kaum muslimin melayang akibat pembantaian yang dilakukan Amerika dengan kedok War On Terrorism sejak invasi yang dilakukan pada tahun, 100.000 nyawa kaum muslimin hilang sia-sia dibantai para salibis di Bosnia,  di Chechnya, lebih dari 400.000 kaum muslimin dibantai. Jumlah itu sangat tidak kecil, belum lagi jumlah mereka yang dibantai di Moro, Afrika Tengah, Nigeria, Afghanistan hingga Suriah maupun Palestina. Umat hanya diam. Ketika pembelaan yang dilakukan oleh para mujahidin dilakukan, saudara-saudara muslim sendiri menyebut mereka dengan sebutan yang sangat menyakitkan, “Ghuluw”, “Takfiri”, “Khawarij”, “Anjing-anjing neraka”, dan “Teroris”. Sejatinya, pembunuhan ratusan ribu umat Islam tidak lebih berat daripada pembunuhan satu musuh-Nya yang memerangi kaum muslimin.

Entah karena apa, umat ini menjadi sangat terhina. Umat ini kemudian nyaman untuk menyelesaikan dengan jalan diplomasi yang selalu hasil akhirnya tak pernah sesuai dengan permintaan umat Islam. Selalu dipecundangi, terjatuh dilubang yang sama berkali-kali. Tanpa kepemimpinan umat ini hilang kendali. Menjadi kambing dan ayam yang ditakdirkan sebagai tumbal bagi pemuas kesenangan. Sudah hilang masanya singa-singa seperti Al Qa’qa, Bara ibn Malik ataupun ksatria semisal Khalid ibn Walid Radhiallahu ‘anhu. Ketika telah terlena dan kakinya tak lagi kuat berpijak, munculah tragedi Suriah yang dengannya membuka banyak tabir yang masih misteri. Hakikat Syi’ah diketahui setelah Suriah bergejolak, umat Islam mulai tersadar dan bangun. Gegap gempita dan hingar bingar dunia sejenak mampu terlupakan oleh mereka yang memiliki iman dan rasa persaudaraan. Dengan Suriah pula, terlihat mana kelompok yang berada dalam barisan kebathilan dan mana yang berada pada pihak al-Haq. Namun, euforia kebangkitan itu tidak selamanya mulus. Terjadilah fitnah antara sesama pejuang di Syam hingga mereka terpaksa harus bertempur.

Ketika perseteruan telah mereda, persatuan antara kabilah dan faksi-faksi mujahidin terjadi, munculah pendeklarasian Khilafah Islam oleh Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) pada tanggal 1 Ramadhan 1435 H. Pendeklarasian ini menandakan telah berhenti sejarah ISIS sejak tanggal tersebut 29 Juni 2014 sehingga seharusnya, keriuhan media saat ini bukan tentang ISIS, tapi tentang Khilafah. Namun, mengapa mereka kehilangan logika dan pikiran yang jernih untuk objektif menyebut inti permasalahan. Tentu, jika kita bicara tentang ISIS, maka tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan kecuali sejarah-sejarah yang telah berlalu. Media di Indonesia mengaburkan masalah dengan menyembunyikan siapa yang harus dibahas dan mengancam kepentingan-kepentingan masa depan? Harusnya Kekhilafahan yang baru berdiri inilah yang diangkat. Jika khilafah berdiri, kabar gembira atau kabar dukakah ? Bagaimana menyikapi masalah tersebut? Namun, terlepas dari masalah itu, banyak kaum muslimin yang termakan kabar media secara mentah-mentah, tanpa tabayyun, tanpa cover both sides, dan seringkali kebencian terhadap suatu kaum menjauhkan dari bersikap adil sehingga seringkali mendzalimi satu pihak secara berlebihan. Oleh karena itu, untuk tulisan ini penulis merasa tertarik khusus untuk mengkaji keabsahan Khilafah yang baru sebulan berdiri tersebut. Apakah ia sah secara ilmiah, atau merupakan sebuah Klaim yang tidak memiliki dasar. Penulis mengembangkan tulisan dari diskusi keabsahan Khilafah Ibrahim ini oleh seorang Da’i asal Inggris, Abu Barra. Kepada Allah sajalah kita memohon pertolongan.

Perdebatan Khilafah Ibrahim

Sebelum kita sampai pada pembahasan sah-tidaknya Khilafah Ibrahim yang baru berdiri ini, alangkah baiknya kita lebih dahulu mengetahui hukum mendirikan Khilafah apakah wajib atau tidak.

Sebenarnya banyak perdebatan antara dalil-dalil yang dibawa oleh ulama kontemporer dengan ulama salaf. Hal ini tidak dipungkiri juga bermasalah dengan kondisi dimana mereka hidup. Namun, secara garis besar ijma’ ulama baik yang kontemporer menunjukkan bahwa Kekhilafahan adalah hal yang wajib kembali dan diusahakan oleh cara yang benar sesuai tuntunan syari’at. Seluruh imam mazhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat akan wajibnya Khilafah bagi kaum muslimin. Syaikh Abdurrahman Al Jaziri menegaskan hal ini dalam kitabnya Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hal. 362 yang berbunyi,

“Para imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) rahimahumullah telah sepakat bahawa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya, dan bahawa umat Islam wajib mempunyai seorang imam (khalifah) yang akan meninggikan syiar-syiar agama serta menolong orang-orang yang tertindas dari yang menindasnya…”. Bahkan jika kita membaca ulang kitab-kitab hukum Islam, kewajiban mendirikan Khilafah ini tidak saja diamini oleh Ahlu Sunnah semata. Syi’ah, Murji’ah, maupun Khawarij melandaskan kewajiban Khilafah sebagaimana Ahlu sunnah yang mendasari pada kaidah fiqh, “Ma laa yatimu waajibun illa bihi, fahuwa wajibun“. Apa-apa yang wajib dan tidak bisa sempurna/diraih kecuali melalui sebuah sarana, maka sarana itu adalah wajib”.

Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar jilid 8 hal. 265 menyatakan: “Menurut golongan Syiah, minoriti Mu’tazilah, dan Asy A’riyah, (Khilafah) adalah wajib menurut syara’.” Ibnu Hazm dalam Al Fashl fil Milal Wal Ahwa’ Wan Nihal juz 4 hal. 87 mengatakan: “Telah sepakat seluruh Ahlus Sunnah, seluruh Murji`ah, seluruh Syi’ah, dan seluruh Khawarij, mengenai wajibnya Imamah (Khilafah).” Ulama-ulama lain pun seperti Imam Al Mawardi, Abu Ya’la Al Farraa’, Ibnu Taimiyah, Imam Al Ghazali, Ibnu Khaldun, Imam Al Qurthubi, Ibnu Hajar Al Haitsami, Ibnu Hajar Al Atsqolani, dan masih banyak ulama lain menyebutkan dalam kitab mereka bahwa mendirikan Khilafah adalah wajib, terlebih untuk menjaga dan menyempurnakan urusan agama Allah.

Sampai saat ini, kekhilafahan pada zaman kita ini diperdebatkan hanya secara teorinya saja. Hal pertama yang harus diketahui adalah bahwa metode pengangkatan khilafah dalam islam ada bermacam-macam cara. Syaikh Anwar al Awlaki rahimahullah berkata,”dalam cara untuk mengangkat khalifah, kita menemui cara yang berbeda-beda dari Abu Bakr, Umar, Ustman, hingga Ali radhiallahu ‘anhum ajmain. Cara untuk mengangkat setiap khalifah ini berbeda-beda. Oleh karena itu, metode pengangkatan ini adalah cara yang beragam. Pada masa Abu Bakr radhiallahu ‘anhu, beliau hanya menerima bai’at dari sekelompok kecil dari kalangan sahabat, lalu disahkan menjadi khalifah. Pada kasus Umar, dia ditunjuk oleh Abu Bakr radhiallahu anhu. Pada kasus Ustman ibn affan, dari enam orang pilihan yang diajukan oleh umar, lalu dipilih salah satu dari mereka. Maka kita dapat melihat dari cara pemilihan khalifah yang dapat berbeda, maka inilah macam-macamnya. Cara pemilihan itu tetap konsisten mengikuti panduan umum (syari’at), tapi dengan sedikit perbedaan pada detailnya saja.

Pada 29 Juli 2014 (1 Ramadhan 1435 H), ISIS melalui pesan audio Jubir Resminya Syaikh Muhammad al Adnani mengabarkan bahwa bersama itu dideklarasikannya pendirian Khilafah setelah sekian lama runtuh. Diangkatlah bersama dengan itu seorang khalifah yang dikenal dengan nama : Abu Dua, atau Ibrahim ibn Awwad, atau Abu Bakr al Baghdadi, seorang Doktor di bidang Fiqh, dan seorang suku Quraiys yang nasabnya sah dan terbukti menyambung sampai ke Hussein bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu.

Pendirian Khilafah tersebut merupakan sebuah hal yang baru pertama kali terjadi pada zaman modern ini, sehingga wajar hal tersebut memicu perdebatan dan diskusi pada sekitar hukum dan keabsahan deklarasi khilafah tersebut. Kita bersama-sama akan menganalisa perdebatan yang muncul diantara ummat, karena pengumuman deklarasi yang dilakukan secara tiba-tiba ini. Pada proses pengkajian masalah ini, kita akan mempelajari opini-opini dari kedua belah pihak yang ada sekarang, dari mereka yang anti deklarasi khilafah maupun mereka yang pro dengan deklarasi khilafah dengan catatan bahwasanya pada pembahasan ini kita tidak akan memperhitungkan dari “banyaknya jumlah ulama” dan kita tidak akan taqlid kepada ulama manapun, walau kita sangat mencintai ulama tersebut. Kita akan melihat argumen dan bukti-bukti yang dihadirkan, apakah itu dari para ulama, pelajar-pelajar yang berilmu, atau para penyeru Islam, selama apa yang dihadirkan itu memiliki dasar dan bukan emosional dan kebencian semata. Kita akan menghadirkan pendapat dari kedua belah pihak, In syaa Allah dengan harapan agar para pembaca yang pada akhirnya menentukan sikapnya sendiri. Allahu a’lam.

***

Pihak Anti deklarasi :

a.    Masalah ahlul halli wal aqdi yang tidak diajak musyawarah

Istilah ahlul halli wal aqdi (kira-kira yang dimaksud adalah orang-orang yang diberi otoritas dan pembuat keputusan) mengacu kepada mereka yang memiliki kekuasaan dan berpengaruh dalam membuat keputusan di dalam sebuah daulah Islam. Istilah ini dirumuskan oleh ulama fiqih untuk sebutan bagi orang-orang yang berhak sebagai wakil umat untuk menyuarakan hati nurani mereka. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa dalam kitab al-Minhaj, yang dimaksud dengan pengertian ahlul halli wal aqdi adalah para ulama, para kepala, para pemuka masyarakat sebagai unsur-unsur masyarakat yang berusaha mewujudkan kemaslahatan rakyat.

Syaikh Ibn Taimiyah rahimahullah dalam kitab Al-Hisbah fil Islam menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang memiliki pengaruh yang dapat memotivasi dan mengarahkan masa. Mereka terbagi menjadi dua kategori:

1.    Mereka yang memiliki kekuasaan dan otoritas.

2.    Mereka yang memiliki ilmu pengetahuan (ulama).

Dalam permasalahan ini terdapat sebuah riwayat dari Umar bin Khattab yang berbunyi, “Siapapun yang diminta untuk menjadi khalifah tanpa syura dari kaum muslimin, tidak halal baginya untuk menerimanya”. Syaikh Anwar al Awlaki mengatakan syura yang dimaksud disini adalah ahlul halli wal aqdi bukan setiap muslim yang hidup di bumi. Oleh karena itulah kemudian Syaikh Husein ibn Mahmud (seorang ulama jihad) mengatakan, “ ahlul halli wal aqdi hari ini adalah para ulama dan pemimpin jihad di Khurasan, Kaukasus, Jazirah, Maghrib, Somalia dan front-front yang lainnya yang mana mereka berperang dibawah bendera Islam yang jelas. Dan yang diatas mereka semua adalah Mullah Umar dan Zawahiri. Jika mereka memberikan bai’atnya maka tidak ada celah untuk ijtihad an perselisihan setelahnya.”

Beliau meyakini bahwa berdasarkan apa yang telah sampai kepadanya mengenai al-Baghdadi bahwa beliau cocok untuk posisi Khalifah dan tidak ada penghalang baginya, kecuali kekurangannya hanyalah pada masalah syura dengan ahlul halli wal aqdi. Meskipun begitu, dia mengakui ISIS memiliki kekuatan dan tamkin. Beliau berkata, siapapun yang memilih untuk memberikan bai’atnya kepada al-Baghdadi, maka itu hanyalah ijtihadnya sendiri.

b.    Argumen “Kaum muslimin belum diajak musyawarah”

Ada beberapa alasan dari tokoh-tokoh Islam mengenai penolakan mereka terhadap Khilafah Ibrahim, sebagaimana dengan alasan yang mereka condong kepadanya. Syaikh ‘Aiman Adz-Dzawahiri hafidzahullah mengatakan, “kami menginginkan khilafah Islamiyah yang mana ummatlah yang memilih khalifahnya dengan keinginan dan kebebasan mereka. Al Qaidah menginginkan ummat yang memilih khalifahnya dengan ridha, kesepakatan dan persetujuan seluruh ummat”.

Sementara itu, Asosiasi Ulama Islam Suriah menentukan posisi dan sikapnya pada masalah ini, “deklarasi Khilafah ini tidaklah sah tanpa musyawarah dengan para ulama atau kaum muslimin secara umum, disebabkan oleh kelompok al Baghdady meyakini bahwa mereka adalah syura yang eksklusif. Tindakan seperti ini sangat mengabaikan dan merendahkan otoritas seluruh ummat.”

 

c.    Argumen “Deklarasi berada di tangan ISIS yang mana telah memecah barisan kaum muslimin”.

Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi, pada tanggal 13 Ramadhan 1435 H menyampaikan pendapatnya tentang deklarasi Khilafah tersebut. Beliau berkata, “Tindakan yang paling berbahaya yang sudah dilakukan daulah Islam sejauh ini adalah menyeru perpecahan kaum muslimin dan berusaha untuk memisahkan barisan tandzim-tandzim dakwah dan jihad, setelah mereka telah membagi kaum muslimin secara umum menjadi dua, “mereka yang bersama daulah”, dan “mereka yang anti daulah”. Khilafah bukannya posisi yang berfungsi untuk menggugurkan jihad para mujahidin atau memecah belah mereka”.

Sementara itu, Syaikh Abdul ‘Aziz al Tarifi dari Saudi mengatakan, “Haram hukumnya bagi siapapun untuk menjadikan kelompoknya sebagai tumpuan al wala wal bara’, keyakinan bahwa bai’at dan kepemimpinan hanya menjadi milik kelompok tersebut secara eksklusif. Atasnya berlaku firman Allah, “Sesungguhnay orang-orang yang memecah belah agamanya, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.” (al an’am:159),

d.    Argumen “Deklarasi Khilafah itu bathil karena ISIS adalah “penjahat”, “khawarij”, “teroris”, “takfiri” dan lain-lain.

Syaikh Abdul ‘Aziz al Fauzan, dalam suatu acara televisi menjawab pertanyaan presenter mengenai deklarasi ini. Beliau berkata,

“Khilafah? Khilafah yang mana? Daulah memerangi kaum muslimin dan ulama. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah memperingatkan kita terhadap orang-orang semacam itu, mereka adalah khawarij dan penjahat. Bagi kami, mereka hanyalah agen susupan kuffar barat dan Khawarij, mereka memiliki mental khawarij, bughot dan takfiri. Mereka adalah ghulat (ekstrimis) dan mujrimin. Demi Allah mereka adalah musuh Islam. Demi Allah mereka menyerukan perang dengan dalih menolong Islam.”

e. Argumen ISIS tidak memiliki sebongkah wilayah pun

Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir atas pertanyaan di akun Facebook mengenai deklarasi Khilafah.

“Sementara itu, organisasi yang memproklamirkan al-Khilafah tersebut, tidak memiliki kekuasaan atas Suriah dan tidak pula atas Irak. Organisasi itu juga tidak merealisasi keamanan dan rasa aman di dalam negeri dan tidak pula di luar negeri, hingga orang yang dibaiat sebagai khalifah saja tidak bisa muncul di sana secara terbuka, akan tetapi keadaannya tetap tersembunyi seperti keadaannya sebelum proklamasi daulah!.

Begitulah, proklamasi organisasi itu atas al-Khilafah adalah ucapan sia-sia (laghwun) tanpa isi. Itu sama saja dengan yang sebelumnya dalam hal proklamasi al-Khilafah, tanpa realita riil di lapangan dan tidak memiliki pilar-pilar. Semua itu hanya untuk memuaskan apa yang ada di dalam diri mereka.”

 

f. Khilafah Majhul (Tidak diketahui)

“Atas semua yang diperbuat musuh-musuh jahat itu, kita tegaskan kepada musuh-musuh Islam dari Timur dan Barat, antek-antek dan para pengikutnya, serta orang-orang bodoh mereka, bahwa al-Khilafah yang telah memimpin dunia berabad-abad adalah sudah diketahui dan tidak majhul, kuat menghadapi distorsi bagaimanapun tipu daya dan konspirasi dilakukan.”

Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir atas pertanyaan di akun Facebook mengenai deklarasi Khilafah.

 

Pihak Pro Deklarasi Khilafah

a.    Argumen : Ahlul hal wal ‘aqd sudah bermusyawarah

Ahlul halli wal aqdi adalah orang penting yang menentukan keputusan. Imam Ahmad bin Hambal berkata, ” jika kesaksian telah diberikan oleh ahlul halli wal aqdi dari ulama kaum muslimin dan orang kepercayaan mereka, atau imam mengambil posisi itu untuk dirinya dan kemudian sekelompok kaum muslimin setuju dengannya, maka ini juga berlaku”.

Ketika mengomentari perkataan Imam Ahmad tersebut, Yahya al bahrumi, seorang pelajar yang berilmu dan kemudian berhijrah serta berjihad di Syam berkata, “ Ahlul halli wal aqdi adalah istilah teknis yang tidak disebutkan dalam al-qur’an maupun hadist. Namun, ini memiliki makna: 6 orang yang ditunjuk oleh Umar ra menjelang kematiannya, maka mereka dapat menyepakati seorang khalifah diantara mereka. Maka dasarsnya adalah dari ijtihad Umar, dan selama ini tidak bertentangan dengan syari’ah: ini hukumnya mubah (boleh) bukan suatu kewajiban.”

Pada kutipan audio pernyataan deklarasi Khilafah oleh jubir Syaikh Muhammad al Adnani yang berbunyi,

“Maka daulah Islamiyah memutuskan melalui Ahlul halli wal aqdi yang ada di dalamnya yang terdiri dari para tokoh, para panglima, para umara dan majelis syuro: “Mendeklarasikan tegaknya Khilafah Islamiyah”.

Abu Baraa, berpendapat tentang masalah Ahlul halli wal aqdi bahwa mereka adalah yang memegang otoritas di wilayah tersebut. Mereka yang dipatuhi oleh masyarakat dan disana hanya ada satu pemerintahan di wilayah daulah Islam yaitu daulah itu sendiri. Daulah-lah yang satu-satunya mengamankan perbatasan, satu-satunya yang menjaga stabilitas keamanan, daulah yang mendirikan mahkamah syari’ah dan menyelesaikan perselisihan. Satu-satunya yang mengurusi keperluan masyarakat.

“Maka mereka sendirilah ahlul hal wal ‘aqd itu, meskipun mereka bukan ulama. Dan bai’at pertama dari ahlul hal wal aqd pada zaman rasulullah shalallahu alaihi wa salam tidak terdiri dari para ulama. Bahkan beberapa dari mereka adalah orang-orang yang baru masuk Islam. Benar-benar baru masuk Islam, tapi mereka yang memberikan bai’at karena mereka memiliki kekuatan, mereka yang mengendalikan pasukan. Rasulullah shalallahu alaihi wa salam tidak mengajak para muhajirin bersamanya untuk membai’atnya. Pada bai’at aqabah yang kedua, meskipun para muhajirin adalah orang-orang yang jauh lebih dulu beriman, selama 10 tahun menjadi muslim. Mereka adalah orang-orang yang paling memenuhi syarat. Sampai hari ini kita mengatakan bahwa merekalah yang paling mulia dan tinggi statusnya. Tetap saja bukan mereka yang memberikan bai’atnya dalam bai’at aqobah yang kedua. Tapi malah orang-orang Anshar, Kabilah ‘Aus dan Khazraj. Karena merekalah yang memiliki kendali kekuasaan di Yatsrib, mereka mengendalikan kekuatan di Yatsrib. Itulah yang disebut sebagai Ahlul halli wal aqdi meskipun bukan ulama. Ketika khilafah sudah ditegakkan, tentu saja pasukan daulah Islam akan mengikuti para ulama. Dan ulama yang mereka ikuti, bukan Syaikh Adnani atau Syaikh al Baghdadi, tapi para Ahlul halli wal aqdi. Anda tidak bisa menentukannya sendiri, anda tidak bisa bilang “kita harus mengikuti syaikh kami, jika bukan syaikh kami, maka saya tidak akan mengikutinya”. Tidak, kalian tidak bisa bilang seperti itu.”

Oleh sebab itulah Syaikh Abdullah al Faishal, seorang ahli ilmu dari Jamaica menyatakan bahwa mereka yang awalnya memberikan bai’at kepada Khalifah Ibrahim mereka adalah mujahidin yang sama yang memerangi salibis di Provinsi Anbar. Dan mereka adalah bibit terbaik, muslim yang terbaik. Jadi jika mereka memilih Khalifah Ibrahim sebagai khalifah mereka, mereka dianggap sebagai orang-orang yang memberi keputusan (ahlu tsugur).

Syaikh Abu Muhammad al Maqdisi, Syaikh Abu Qatadah, Syaikh Sulaiman al Ulwan, Syaikh Aiman adz Dzawahiri, hafidzahumullah bukanlah Ahlul halli wal aqdi bagi daulah yang ada di Iraq dan Syam (ISIS). Jadi mereka tidak memiliki otoritas di daerah tersebut. Adalah sebuah kesalahan jika seseorang berkata, “saya dapat memilih siapa yang menjadi ahlul halli wal aqdi, siapapun yang saya rekomendasikan maka merekalah ahlul halli wal aqdi.”

Ahlul halli wal aqdi adalah mereka yang memiliki otoritas dalam kekuasaan mereka terhadap seluruh masyarakat di wilayah itu. Merekalah yang mengontrol otoritas dalam sebuah provinsi, di dalam perbatasan, yang mana masyarakat patuh kepadanya. Bagi mereka yang tidak memiliki kekuasaan di manapun, bahkan mereka menjadi buronan di setiap tempat (semisal Syaikh Aiman Hafidzahullah), pihak yang memiliki otoritas di tempat mereka tinggal, malah memenjarakan mereka (seperti Syaikh Al Maqdisi fakallahu asrah), memburu mereka atau mencari-cari mereka. Mereka tidak memiliki otoritas. Tetapi daulah dan Syura-nya, mereka memiliki otoritas di dalam wilayah daulah. Dan ini sudah jelas dan nyata bahwa masyarakat mematuhi mereka. Yang berarti bahwa daulah-lah yang merupakan ahlul halli wal aqdi yang sah untuknya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata : “merupakan ijma’ para ulama bahwa demi sah-nya bai’at tidak diperlukan bai’at dari semua orang atau semua ahlul halli wal aqdi. untuk membai’atnya. Sebenarnya, jika bai’at diberikan kepada ulama dan orang yang berkedudukan yang hadir saja, itu sudah cukup. Bukanlah suatu kewajiban bagi setiap orang untuk datang kepada khalifah dan menjabat tangan untuk memberi bai’at kepadanya. Sebaliknya, apa yang diperlukan dari setiap individu hanyalah untuk tunduk kepadanya.” (sharah sahih muslim (12/77)).

Jadi kebanyakan orang mengira bahwa untuk sahnya khalifah diperlukan jutaan orang yang harus memberikan bai’at guna mengangkat seorang khalifah. Beberapa ulama dari umat yang memiliki kedudukan misalnya 7 atau 9 orang saja, lalu memberikan bai’atnya maka orang-orang lain tidak boleh memberontak kepadanya karena dia merupakan seorang khalifah yang resmi.

b. Argumen : Khilafah hanya untuk Quraisy dan Abu Bakr al Baghdadi adalah orang Quraisy

“Urusan ini (kekuasaan) akan tetap menjadi milik Quraisy, dan jika ada yang memberontak kepada mereka, maka Allah akan menghempaskan wajahnya ke tanah, selama Quraisy itu menjaga agama ini.” (shahih bukhari 9/62: 7139).

Syaikh Ibn Hazm berkata, “Khalifah tidak diperbolehkan kecuali dari laki-laki Quraisy”. Sedangkan Imam Ahmad berkata: “Tidak ada khalifah dari selain Quraisy”.

Sementara itu jika terdapat anggapan yang menyatakan bahwa Abu Bakr al Baghdady sebagai Imam al Mutaghalib (imam yang merebut kekuasaan secara paksa), maka ini juga tidak bisa menggugurkan khilafahnya. Imam al Mutaghalib adalah seseorang yang merebut khilafah dengan paksa, tidak melalui syura. (contoh: Khilafah Abbasiyyah merebut kekuasaan dengan paksa dari Khalifah Umayyah).

Imam al Nawawi berkata, “opini mengeani imamah sehubungan dengan imam yang berkuasa secara pakas (dengan pedang) adalah sah, selama dia menerapkan syari’at bahkan walaupun dirinya itu fasiq ataupun jahil.”

Syaikh Muhammad ibn Shalih al Utsaimin berkata, “jika seseorang memberontak dan mengambil alih kekuasaan, maka masyarakat harus tunduk dan patuh kepadanya, meskipun dia mengambil kekuasaan itu dengan pedang dan tanpa persetujuan mereka, karena dia telah berkuasa. Alasannya adalah jika kekuasaannya digugat, maka akan mengarahkan kepada kerusakan yang lebih besar dan inilah yang terjadi ketika periode bani umayah ketika beberapa dari mereka mengambil alih kekuasaan dengan pedang dan memperoleh kursi khalifah dan masyarakat tunduk kepada mereka sebagai ketundukan pada perintah Allah. (Syarah Aqidah al safariniyyah hal. 688)

c. Argumen : tuduhan terhadap kedzoliman atau pelanggaran yang dilakukan daulah tidaklah dapat menggugurkan deklarasi khilafah

Respon bantahan kepada para ulama yang menolak khilafah, oleh Yahya Al Bahrumi

“Kedzoliman yang terjadi pada masa kepemimpinan Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali tidaklah membatalkan khilafahnya. Saya secara pribadi menyaksikan kedzoliman yang dilakukan oleh anggota-anggota ISIS dan saya sudah mempersiapkan beberapa kasus terhadap para pelaku. Tetapi saya menyadari bahwa saya tidak dapat menyatakan bahwa masalah ini dapat menggugurkan kepemimpinan khalifah Ibrahim. Dengan perkataan diatas maka menjadi jelas sekali lagi, dengan saksi semata dan  bukti-bukti bahwa banyak tuduhan-tuduhan yang diarahkan ke ISIS terbukti bahwa itu palsu”.

Sementara itu Abu Barra mengatakan, “Dari beberapa individu yang melakukan bid’ah, lalu kita melihat dari kenyataannya dan dari video tentang mahkamah syari’ah, mereka dihukum oleh daulah. Menunjukkan bahwa amirnya tidak hanya diam saja melihat kesalahan bawahannya. Khalid ibn walid, dia membunuh beberapa tawanan (yang seharusnya tidak dibunuh) dan Nabi Muhammad saw mengkritiknya karena itu dan mengatakan bahwa tindakan itu salah, tetapi beliau tetap mengirimnya sebagai komandan perang. Lalu apakah karena kesalahan tadi berarti bahwa pasukan, jihad dan daulah milik rasulullah menjadi bathil? Jawabannya tidak.

Siapa yang dapat memberikan bukti untuk mengatakan jika beberapa pasukan tertuduh, bahkan terbukti bersalah karena membunuh muslim pada masa fitnah ini? Lalu khilafahnya menjadi bathil, apa dalilnya?

Tanyakan dalilnya. Kalian akan mencarinya. Masalahnya adalah bagaimana kalian mengeluarkan fatwa, lalu baru mencari dalilnya setelah fatwa itu keluar.”

d. Argumen : Daulah telah berhasil mengontrol sebuah wilayah dimana mereka menerapkan syari’at Allah, dan memenuhi syarat utama dari sebuah khilafah.

Syaikh Al Adnani, “kita mengumumkannya, dikarenakan kita ini dengan karunia Allah telah memiliki pilar-pilarnya, dan dengan izin Allah kita mampu terhadapnya. Maka kitapun merealisasikan perintah Allah tabaraka wa ta’ala dan kita diudzur in syaa Allah, dan setelah itu kita tidak peduli apapun yang terjadi walaupun ia (khilafah) itu hanya bertahan satu hari atau satu jam, dan hanya milik Allah saja segala urusan itu sebelum dan sesudahnya.”

Luas wilayah kekuasaan Daulah Islam yang dikuasainya di Suriah saja yang mencakup Raqqah, al-Khoyr (Deir Zour), dan reef Aleppo Timur itu saja mencapai 62.000 km². Itu belum terhitung dengan wilayah kekuasaanya di Irak yang mencakup Nineveh, beberapa bagian dari Sholahuddin, Anbar, Diyala, selatan Baghdad dan Kirkuk.

Sedang khusus untuk wilayah Aleppo, Daulah Islam menjaga keamanan 60% di dalam wilayah Aleppo, dalam melawan Rezim Nushairiyah lengkap dengan atribut pemerintahan seperti berikut :

Divisi Kerja Daulah Islam Wilayah Aleppo:

  • 5 buah Pengadilan, 2 diantaranya Pengadilan Pusat dan sisanya cabang. Di dalamnya ditegakkan hukum Syari’at Allah, ditegakkan hukum Had, dikembalikannya hak-hak orang yang terdzolimi, menegakkan keadilan, per hari=nya puluhan orang mengadukan peristiwa yang di alami kepada Kantor Administrasi Syar’i.
  • 10 Markas Hisbah, menegakkan kewajiban Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, mencegah kejahatan, kemaksiatan dan kemunkaran, memfokuskan Dakwah kepada kaum muslimin mengajak kepada kebaikan.
  • 11 Kantor Dakwah, menjalankan program Dakwah Ilallah lewat penyebaran Booklet Dakwah, menggelar even Tenda Dakwah dll.
  • 10 Pos Kepolisian, menjaga keamanan dalam wilayah, memudahkan kontrol operasi, menjaga jiwa, kehormatan dan harta.
  • 5 Kantor Pelayanan, melayani manusia di berbagai bidang kehidupan, semisal air, listrik, pabrik roti atau gandum, perkotaan dan kantor pengaduan.
  • 22 Ma’had (Sekolah) Syar’i, mengajari kaum muslimin di dalam Ma’had-ma’had yang ada dalam hal urusan Dien mereka, baik Aqidah,Fiqh dan al Qur’an.
  • Bendungan Sungai Eufrat, bekerja menghidupkan listrik di tiap wilayah dan membangkitkan 2 stasiun Pembangkit Tenaga Listrik. Wilayah ini juga meliputi Gudang Air, dari sungai Eufrat untuk kebutuhan minum dan hidup kaum muslimin

e. Argumen : tidak ada dalil syar’i yang dapat menggugurkan deklarasi khilafah yang mana adalah “seruan persatuan”. Argumen-argumen yang menentang khilafah lebih kearah “emosional” daripada ke arah syar’i

Syaikh Al Adnani mengatakan, “mereka itu (kelompok islam, militer, dll) tidak pernah sepakat terhadap suatu urusan pun pada suatu hari pun. Dan mereka tidak akan sepakat terhadap suatu urusan selamanya. Kecuali orang yang dirahmati Allah, kemudian sesungguhnya Daulah itu mengumpulkan orang-orang yang mau berkumpul. (Untuk merumuskan kekhilafahan)”

“Lihatlah bagaimana Abu Muhammad Al Maqdisi mengatakan bahwa seruan untuk bersatu dibawah satu kepemimpinan adalah seruan perpecahan, konspirasi, memecah barisan kaum muslimin.” Padahal seruan dari daulah ini pada nyatanya bermakna untuk menyelamatkan dari perpecahan dan menyatukan barisan dalam satu shaf”. (Syaikh Abu Umar al Hanbali).

“Kendati kecintaan saya terhadap Al Qaidah, para petingginya tetap tidak bisa membantah fakta di lapangan. ISIS telah berhasil membela diri mereka dan waktu telah tiba untuk menghimpun persatuan dan kerjasama. Apa yang telah menghalangi kalian untuk mendukung daulah bukanlah karena maslahat jihad, ini hanyalah karena kalian tidak ingin kehilangan posisi kepemimpinan.” Syaikh abdul majid al hatari, yaman.

Abu Baraa berkata, “Pada masalah ini, masalahnya adalah, argumen-argumen orang-orang yang mengikuti al maqdisi hukum mereka melindungi dirinya dan menghilangkan tekanan dari para tiran, pada nyatanya mereka tidak mengeluarkan argumen yang realistis dengan bukti-bukti yang ada. Pada diskusi mengenai persoalan khilafah hari ini, saya tidak melihat orang-orang itu membawa dalil yang sesuai dengan waqi’ yang terjadi untuk menggugurkan khilafah ini. Kalian tidak bisa mengatakan, “ulama ini berkata begini…dan begini” kalian harus mendatangkan bukti, dalil, bukan emosi semata.”

f. Argumen : Persoalan khilafah sudah mendesak karena khilafah absen selama 90 tahun lebih, oleh karena itu harus segera di deklarasikan ketika syarat-syarat sudah terpenuhi

Syaikh Al Adnani, “Dan bila mereka mengatakan kepada kalian: kalian telah lancang terhadap mereka! Kenapa kalian tidak meminta pendapat mereka sehingga kalian memberika alasan kepada mereka dan kalian menarik hati mereka ? maka katakanlah kepada mereka: sesungguhnya urusan ini lebih mendesak daripada itu. Dan katakanlah kepada mereka: karenanya kami telah menumpahkan sungai-sungai dari darah-darah kami, kami menyirami tanamannya, kami rintis pindasi-pondasinya dengan tengkorak-tengkorak kami, kami bangun pilar-pilarnya dia atas serpihan-serpihan badan kami. Dan kami bersabar terhadap pembunuhan, pemenjaraan, penyiksaan, pemotongan anggota badan selama bertahun-tahun, dan kami juga mengecap rasa pahit dalam memimpikan hari ini, maka apakah kamiaharus menangguhkannya sejenak padahal kami sudah sampai kepadanya?

***

Demikian sebagian kecil berbagai argumen yang diangkat oleh kedua belah pihak. Perbedaan tidak lantas harus dihadapi dengan perpecahan karena sejatinya Umat Islam adalah sebuah kesatuan. Perpecahan tidaklah membawa kepada suatu masalah selain keterpurukan. Saatnya umat ini melihat masalah secara proporsional, adil, mendahulukan hak husnudzan terhadap saudara seagama dan bersikap tabayyun terhadap segala informasi yang dibawa oleh pihak manapun. Semoga mimpi persatuan dan perdamaian ummat di negeri ini segera terkabul.

Allahu A’lam Bi Showwab.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/silang-pendapat-sah-tidaknya-kekhalifahan-daulah-islam.htm/feed 0
Akankah Dunia Menunggu Khilafah? http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/akankah-dunia-menunggu-khilafah.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/akankah-dunia-menunggu-khilafah.htm#comments Sat, 09 Aug 2014 14:04:07 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=81393 masjid isisOleh: Anastasia - Alumni Pendidikan Bahasa Jerman UPI Bandung

Sedari dulu sebenarnya AS memusuhi islam, walaupun islam belum diemban oleh sebuah negara, namun ideologi islam dipercaya mampu mengancam eksistensi AS. AS tidak pernah menyerah membuat proyek skala besar untuk mehancurkan islam, peledakan gedung menara kembar WTC pada 11 September 2001 silam menjadi pertanda secara terbuka AS menyatakan perangannya terhadap islam, AS membabi-buta mengklaim, bahwa otak peledakan bom tersebut Osama bin Laden, melalui alibinya AS menyusun skenario pembajakan pesawat komersil yang dihantamkan ke gedung tersebut.

Akan tetapi kebenaran dan fakta ilmiah menggenai hal tersebut bermunculan, menurut Profesor Steven E. Jones dari Brigham Young University, Utah, yang melakukan penelitian dari sudut teori fisika mengatakan bahwa kehancuran dahsyat seperti yang dialami Twin Tower serta gedung WTC 7 hanya mungkin terjadi karena bom-bom yang sudah dipasang pada bangunan-bangunan tersebut.

Inilah start awal AS mengkampanyekan war of terrorist terhadap islam padahal betapa banyak jumlah manusia, rakyatnya sendiri yang telah dikorban demi keserakannya. Sesuai dengan janji Allah dalm surat As Shaf yang berbunyi “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci, perlahan tapi pasti pasca runtuhkan gedung WTC fajar kebangkitan islam mulai menggelia , setitik cahaya islam mulai terbit di ufuk Amerika, masyarakat Amerika berbodong-bondong mencari islam dan akhirnya bersyahadat memeluk islam.

WTC saja tak cukup untuk memenuhi instink predator AS, 2003 kedua kalinya AS membual bahwa Irak mempunyai senjata massal yang mampu menggancam kehidupan manusia, atas dasar itulah AS menginvansi Irak walaupun sampai detik ini keberadaan senjata missal menjadi mitos sejarah kelam AS. Keberadaan AS di Irak telah berhasil memecah belat islam saat AS menduduki Irak pada Maret 2003, awalnya Amerika Serikat menempatkan Letjen Jay Gardner sebagai gubernur jenderal di sana. Namun, karena tidak “cakap” Gardner ditendang, Amerika menggantikan dia dengan Paul Bremer. Dialah yang ditugasi melakukan ‘penjarahan’ besar-besaran terhadap Irak.

Langkahnya yang paling mendasar adalah menetapkan konstitusi yang isinya mengandung benih perpecahan Irak. Bersama Peter Galbraith, milyarder yang menulis buku The End of Iraq, terbitan 2006. Amerika Serikat menjaga Irak dengan mendudukkan seorang diktator sektarian tulen, Nuri al-Maliki. Secara sengaja pemerintahan-nya melakukan penindasan di wilayah-wilayah yang secara etnis minoritas di utara dan barat Irak. Jadilah eskalasi berbasiskan sektarian terus meningkat dengan hadirnya berbagai milisi bersenjata Syiah bentukan dari al-Maliki yang juga memiliki latar belakang Syiah yang kuat. Maliki adalah tokoh sentral perdana mentri bengis berdarah dingin, melakukan berbagi kebiadaban melalui operesi intelejennya. Atas kondisi politik yang terbujung, hampir setengah rakyat Irak mengangkat senjata, perpecahan di tubuh kaum muslim semakin memperuncing permasalahan konflik, awalnya mereka mempunyai satu musuh yang harus dilawan yaitu AS, hal ini diperperah dengan diberlakukannya UUD baru Irak, pemerintahan daerah termasuk di dalamnya Kurdistan, berhak mendirikan angkatan bersenjatanya sendiri; berhak sepenuhnya atas kepemilikan bumi, air, minyak dan mineral yang terkandung di wilayah Kurdistan. Bahkan Kurdistan berhak untuk mengelola ladang minyak yang ada wilayah kekuasaannya, termasuk dalam mengelola pendapatan hasil minyak mereka meski pemerintahan pusat Baghdad tetap berwenang mengelola produksi komersial ladang minyak tersebut. Konstitusi permanen ini memberikan legitimasi terhadap semua proses invasi Amerika Serikat terhadap Irak.

Dari benih pertikaian inilah sinilah kita tidak heran mengapa kemudian ISIS berdiri kokoh memproklamirkan kekuasaannya, logikanya ISIS tidak mungkin ada seandainya AS tidak menginvansi Irak. Mengenai ISIS memang masih menjadi berdebatan panjang dikalangan kaum muslim, namun point penting dibalik adanya ISIS, kita tidak menyangka ide khilafah ternyata laku dijual dan menjadi hot topic dunia, rupanya antara di barat dan timur keduanya menunggu detik-detik berdirinya khilafah, namun jika di barat khususnya AS khilafah menjadi momok menakutkan yang mampu merontokkan imprealisme, sedangkan bagi orang islam khilafah menjadi titik tolak persatuan dan kekuatan baru.

Akankah kemunculan ISIS akan sama seperti runtuhkan gedung WTC di mana lautan masyarakat AS berbondong-bondong mencari islam? Atau akankah akhirnya segenap jiwa manusia akan semakin tertarik mencari dan memperjungan ide khilafah yang sesungguhnya seperti janji Allah Swt. Walluhu’Alam

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/akankah-dunia-menunggu-khilafah.htm/feed 0