Eramuslim » Suara Pembaca http://www.eramuslim.com Media Islam Rujukan Thu, 29 Jan 2015 08:10:19 +0000 id-ID hourly 1 http://www.eramuslim.com/ Relawan Jokowi: “Saya Akan Copot Menko Polhukam Tedjo…” http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/saya-akan-copot-menko-polhukam-tedjo-edy-purdijatno.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/saya-akan-copot-menko-polhukam-tedjo-edy-purdijatno.htm#comments Mon, 26 Jan 2015 01:30:13 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=94788 tedjo-edhy-menkopolhukamEramuslim.com – Ucapan yang bermuatan provokasi seringkali bisa menimbulkan masalah, terlebih bila ucapan tersebut diungkapkan seorang pejabat negara seperti Menko Polhukam Tedjo Edy Purdijatno menyebut pendukung KPK sebagai rakyat yang tidak jelas.

Presiden Gerakan Aku Geram dan Anti Koruptor, Safrizal Elbatubara mempertanyakan sebanyak apa Tedjo telah berbagi kepada nusa dan bangsa.

“Saya haqqul yakin yang tidak jelas dia sendiri (Menkopolhukam Tedjo). Apa saja rupanya yang telah didedikasikannya terhadap perbaikan kehidupan bernegara, jadi ketua kompolnas saja, dia nyodorin nama perwira tinggi polri yang bermasalah kepada pak Jokowi. Menurut catatan saya dia hanya pandai mengatakan `Kompolnas percaya pada keterangan kepolisian yang menyatakan rekening Budi Gunawan wajar`” kata Safrizal melalui pernyataan tertulisnya, Senin (26/1/2015).

Menurut Safrizal, meskipun Tedjo paham bagaimana aspirasi masyarakat bisa tumbuh karena ingin menyuarakan hal-hal yang janggal, diduga lantaran ketidaktulusannya mengabdi pada NKRI ini, dia akan alergi terhadap gaya anak negeri ini berdemonstrasi, berorasi, dan berpanas-panasan menyampaikan aspirasi.

Gerakan yang berlandaskan kepedulian terhadap upaya penggembosan terhadap institusi KPK yang berani menindak beberapa menteri dan bahkan memanggil wapres Boediono sebagai saksi pada Jumat (23/1) lalu berawal dari penangkapan dan penetapan status tersangka atas Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto.

Sikap asal bunyi ‘ASBUN’ Tedjo yang merupakan politikus NasDem itu sangat disesalkan banyak pihak. Padahal, rata-rata dari segenap pendukung KPK itu yang saat kampanye lalu adalah pendukung Jokowi, dan jelas status mereka sebagai WNI yang baik (anti korupsi dan koruptor), bahkan hadir juga mantan wamenkumham yang terbawa-bawa sebagai sosok yang tidak jelas sebgaimana dikatakan Tedjo.

“Saya akan copot Menko Polhukam Tedjo Edy Purdijatno, seandainya saat dia jadi menkopolhukam ini, yang jadi presidennya bukan pak Jokowi, tapi saya,” pungkas Presiden GAGAK yang aktif mendukung Jokowi-JK sampai akhir masa jabatan mereka berdua sebagai koordinator nasional Relawan Bersama Rakyat Bantu Harimau Nasional (BeRTuHAN).

Sudah sering cuap-cuap Menko Tedjo dianggap blunder. Safrizal wewanti-wanti bila Tedjo hanya jadi beban berat dalam kabinet Presiden Joko Widodo.

“Saya meragukan integritas Tedjo di kabinet pak Jokowi, kita kawal terus dia, jika dia terindikasi sebagai rombongan liar dalam pemerintahan, juga seorang yang kurang bermanfaat  di kabinet Jokowi,” ujar Safrizal.

Diberitakan sebelumnya, Sabtu, 24/01/2015 18:41 WIB
Menkopolhukam Tedjo Sebut Pendukung KPK sebagai Rakyat Nggak Jelas.

Para Komisioner KPK mengajak rakyat untuk terus menjaga lembaga itu dari upaya krimininalisasi. Menko Polhukam Tedjo Edhy pun menyebut pendukung KPK tidak mewakili rakyat Indonesia.

“Jangan membakar massa, mengajak rakyat, membakar rakyat. Ayo kita ini, tidak boleh seperti itu, itu suatu sikap pernyataan yang kekanak kanakan. Berdiri sendiri, kuat dia. Konstitusi yang akan dukung, bukan dukungan rakyat yang nggak jelas itu,” sindir Tedjo keras di Istana Kepresidenan, Sabtu (24/1/2015).

Tedjo mengaku kecewa dengan sikap para pimpinan KPK. Dia menilai para pimpinan KPK tidak berusaha untuk menenangkan situasi.

“Harus menjernihkan suasana, tetapi kelihatannya tidak ditaati sehinga semalam masih ada pergerakan-pergerakan dari KPK, sebenarnya tidak boleh ada pergerakan massa,” lanjut Tedjo.

“Jangan membuat statemen yang membuat panas, tetapi pergerakan massa masih ada, tetapi ternyata tadi malam masih ada, ini yang kita sesalkan,” tutupnya.

‘Kalau Tedjo Sebut Mereka kekanak-kanakan, Saya sebut Tedjo Kerasukan Bak Peserta Uji Nyali’

Cuap-cuap Tedjo yang diduga bermuatan propokasi, hinaan, menduga komisioner KPK mengerahkan masa tanpa alasan yang kuat, jelas, masa datang karena geram mengikuti perkembangan informasi merebaknya korupsi di tengah-tengah perwira tinggi polri yang tentunya meredupkan sinar bintang sebagai simbol kebesaran para perwira tinggi.

Semua itu kembali dengan sendirinya kepada watak aslinya, sosok petinggi yang tempramental sangat berbahaya di era reformasi.

“Akhlak seseorang, kata Nabi, akan terlihat jelas saat dia menjadi pemimpin. Terkait petinggi negara Tedjo yang di mata saya sangat rendah ini, kalau Tedjo sebut mereka kekanak-kanakan, saya sebut Tedjo kerasukan Bak Peserta Uji Nyali,” tutupnya.

RelawanBertuhan

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/saya-akan-copot-menko-polhukam-tedjo-edy-purdijatno.htm/feed 0
Mengapa Harus Anti Jihad? Indonesia Merdeka Karena Resolusi Jihad! http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/mengapa-harus-anti-jihad-indonesia-merdeka-saja-karena-resolusi-jihad.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/mengapa-harus-anti-jihad-indonesia-merdeka-saja-karena-resolusi-jihad.htm#comments Wed, 21 Jan 2015 07:06:55 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=94253 jihadOleh: Ust. Abu Husein At-Thuwailibi.

Sebuah fenomena, ada sekelompok jama’ah kaum muslimin yang mengklaim bahwa dakwah itu mesti sesuai dengan cara mereka, kalau tidak ikut cara mereka maka seolah-olah tidak disebut dakwah atau tidak sempurna, dengan melakukan “khuruj” sekian dan sekian lama, dengan waktu tertentu yang dibatasi tanpa dalil syar’i.

Dengan menjadikan India, Pakistan dan Bangladeh sebagai marja’ dan sumber cahaya, karena ideologi “khuruj” itu muncul dari mimpi sang pendirinya. Berangkat dari situ tumbuhlah sebuah “budaya kepercayaan” di tengah mereka bahwa kalau yang sudah “khuruj” sekian dan sekian bulan atau sekian tahun maka sudah afdhol, sudah hebat, sudah maasya’ Allah, layak disebut Ustadz, dan seterusnya. Padahal tak jarang didapati di lapangan realita tidak sedikit di antara mereka yang sudah “Khuruj” sekian bulan atau sekian tahun bahkan sudah sampai ke India Pakistan Bangladesh namun rukun Syahadat dan ushul aqidah tak tahu sama sekali, rukun dan syarat sah shalat pun tak tau, apalagi manasik haji dan umroh, lebih tidak tahu lagi, sebab kalau ada rizqi dari Allah, kebanyakan diantara mereka (walau tidak semua) bukan Haji atau Umroh yang mereka lakukan, tapi “Khuruj” ke India Pakistan Banglades (mumpung ada tiket promo).

Alasannya karena Haji dan Umroh untuk amal sendiri, sedangkan “dakwah” versi mereka adalah untuk ummat, padahal Haji itu adalah rukun Islam ke lima dan umroh adalah ibadah suci yang diperuntukkan Allah Ta’ala. demikianlah fakta yang saya alami semasa masih berpelukan dengan Jama’ah ini.

Bersamaan dengan itu, jama’ah ini hampir dan hampir tidak pernah berbicara dan membahas masalah Jihad dengan segala konsepnya. Mereka tak pernah akrab dengan bahasan seputar jihad dalam  arti qital. Seolah Jihad itu adalah sesuatu yang tabu di antara mereka. Padahal kehidupan Rasulullah dan para Sahabat Radhiyallahu’anhu jamii’an yang terukir dalam sejarah kental diwarnai dengan Jihad Fii Sabiilillah. Jihad adalah bagian dari dakwah dan merupakan puncak keislaman sesorang.

Namun begitu, didapati di lapangan bagi yang berhadapan dengan realita bahwa disana ada individu-individu atau oknum-oknum dari kelompok ini yang bersikap moderat, netral, tidak Jumud dan tidak terbelenggu sikap ‘ashobiyah hizbiyah (fanatik kekelompokan), diantara mereka ada yang mencari Ilmu, bersikap lapang dada, dan legowo terhadap saudara-saudaranya yang tidak berjalan bersama mereka.

Ya, walau tidak sedikit pula yang terbelenggu dengan sikap jumud dan berkubang pada kejahilan yang berkepanjangan. Bahkan berangkat dari kejahilan itu, tidak jarang mereka memicu konflik di sejumlah tempat dan mengedepankan emosi dengan main fisik, wal-‘iyaadzu billah.

Demikianlah realita. Namun, mereka adalah saudara-saudara kita dalam konteks lebih umum, kita disatukan oleh mereka dalam satu kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, walau kebanyakan dari kelompok ini tak tahu atau bisa dibilang TIDAK MAU TAHU akan konsekuensi (syarat-syarat) dari kalimat “Laa Ilaaha Illallah” itu. Allahu A’lam.

Ada lagi sekelompok jama’ah, yang mengaku paling “Ahlus Sunnah”, mengklaim paling “Salafiyah”, namun seakan phobia (antipati) bila bicara mengenai Jihad. Kalau ada pembahasan Jihad serta merta mereka antipati dan mengidentifikasi bahwa itu adalah “teroris”, “khawarij”, “jihadi irhabi”, dan tuduhan-tuduhan kotor lainnya yang menyesakkan dada dan terlalu berlebihan. Bahkan anggapan mereka, kalau bisa buru-buru dilaporkan ke Densus 88, lalu densus 88 pun menangkap muslim TERDUGA “teroris” dengan menjadikan Mushaf Al-Qur’an, Jilbab dan cadar sebagai bukti ke-terorisan-nya. Na’udzubillah.

Saking semangatnya memburu “teroris”, orang tak bersalah pun ditangkap bahkan ditembak mati. Pelanggaran Hak Asasi Manusia pun terjadi, namun tak satu pun di antara mereka yang meneriaki. Sampai-sampai para aktivis islam dan anak-anak ROHIS di SMA-SMA yang aktif mengaji pun dicurigai sebagai bibit-bibit “teroris”. Demikianlah keterpurukan ilmu dan peranan yang melanda negeri ini. Ya, semua itu bermuara dari kejahilan dan bencana rohani.

Setiap pembahasan mengenai jihad secara terpaksa mesti dikaitkan dengan aksi teror, membom tempat maksiat mislanya. Padahal membom tempat-tempat maksiat atau tempat kekufuran di negeri ini tanpa qawa’id syar’i itu juga bukan bagian dari Jihad, namun justru mencoreng kesucian syari’at Jihad, walau hal itu mereka lakukan berangkat dari semangat Jihad itu sendiri meski keliru dalam prakteknya. Semangat itu perlu dihargai dan kesalahan aplikasinya perlu diluruskan. Ingat, diluruskan! bukan disudut-sudutkan demi kepentingan-kepentingan para “juragan”.

Na’am, pada intinya, mesti diketahui, Jihad sebagai satu amalan besar dan penting dalam Islam dengan keutamaannya yang sangat banyak sekali yang tentunya menjadi harapan dan cita-cita seorang muslim. Oleh karena itu, sangat penting sekali setiap muslim mengetahui pengertian, ketentuan dan hukum-hukum serta syarat-syarat jihad yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta atsar para Salaful Ummah.

Perhatikan ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an yang memerintahkan Jihad Fii Sabiilillah, Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

(QS. At-Taubah ayat 36)

Dalam ayat ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Allah memerintahkan kita untuk memerangi orang-orang musyrik, sebagaimana mereka telah memerangi orang-orang yang beriman.

Allah berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah ayat 216)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa perang adalah hal yang dibenci oleh umat muslim, akan tetapi karena hal tersebut merupakan perintah wajib dari Allah untuk berperang maka wajib pula kita lakukan. Dijelaskan pula bahwa bisa jadi itu (perang) adalah hal yang sangat kita benci tapi itu adalah baik bagi kita dalam pandangan Allah.

Jika kita implikasikan pada realitas kehidupan kita saat ini, bisa jadi saat ini kita tidak berperang mengangkat senjata, akan tetapi perang pemikiran dan politik terus berlangsung setiap saat. Dan musuh-musuh Islam senantiasa mengarahkan amunisinya kepada kita. Tentu kita merasa lebih nyaman berdakwah sekedar amar ma’ruf, masyarakat mempersilakan dengan wajah manis, tanpa memusuhi. Tapi tidak begitu sejarah Nabi.

Tersebab dakwahnya mengguncang sendi-sendi ekonomi, politik dan kekuasaan kaum jahiliyah, mereka pun memusuhi dakwah. Perang tak terhindarkan. Dan umat Islam harus siap jihad, meski ia tidak disukai. Tapi yakinlah, dalam ketidaksukaan itu ada banyak kebaikan. Jihad fi sabilillah hanya melahirkan dua hal; menang dengan membawa ghanimah dan kekuasaan atau mati sebagai syahid beroleh surga.

Allah berfirman:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

(QS. At-Taubah ayat 41)

Dalam ayat ini dikuatkan kepada kita bahwa dalam keadaan apapun; berat-ringan, mudah-susah, ada dana-atau tidak, jihad harus tetap berlanjut dengan harta dan jiwa kita. Kata-kata ini bukan perintah dari orang tua kita atau perintah dari bos kita atau perintah dari manusia yang serba kekurangan tapi ini adalah perintah dari Zat Yang Menggenggam jiwa-jiwa kita, Yaitu Allah Jalla Wa ‘Ala, lalu apalagi yang kita tunggu…??

Dan tahukah anda bahwa kemerdekaan negara Indonesia ini pun juga diraih diantaranya dengan JIHAD ??

Pada tanggal 17 Agustus 1945 pasca kemerdekaan, indonesia mengalami cobaan berat, tentara sekutu yang didalamnya ada tentara Kafir belanda mendarat di Jakarta,mereka hendak melakukan penjajahan ulang terhadap rakyat indonesia dan mengganggu kemerdekaan indonesia.

Lalu, atas saran Jendral Sudirman, Bung Karno diminta mengirim utusan khusus kepada Ra’isul ‘Aam Nahdhatul Ulama (NU) Hadratusy Syaikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari di pondok pesantren tebu ireng Jombang Jawa timur dengan tujuan meminta fatwa KH.Hasyim Asy’ari tentang hukumnya berjihad membela negara yang notaben-nya bukan negara islam seperti Indonesia. KH.Hasyim Asy’ari lantas memanggil KH.Wahab Hasbullah dari jombang, Kyai Wahab diminta mengumpulkan ketua-ketua NU se-jawa dan se-madura untuk membahas persoalan ini dan shalat istikhoroh.

Setelah melalui diskusi yang cukup panjang dan mendengarkan hasil istikhoroh para Kyai NU, esok siangnya tanggal 22 oktober 1945 pertemuan menghasilkan 3 rumusan penting yang kemudian dikenal dengan istilah “RESOLUSI JIHAD NU” yang isinya:

1. Setiap muslim baik tua maupun muda dan miskin sekalipun, wajib memerangi orang-orang kafir yang merintangi kemerdekaan indonesia.

2. Pejuang yang mati dalam perang melawan kafir penjajah demi kemerdekaan indonesia layak disebut Syuhada.

3. Warga indonesia yang memihak pada kafir belanda dan penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional, dan oleh karena itu ia harus dihukum mati.

Lalu, dokumen resolusi jihad ini ditulis dalam huruf Arab Jawa, dan ditandatangani oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari, lalu disebarluaskan ke jaringan pesantren, tak terkecuali kepada komandan-komandan laskar Hizbullah dan Sabilillah di seuruh penjuru Jawa dan Madura. Hanya berselang tiga hari pasca resolusi jihad dicetuskan, 6.000 tentara sekutu mendarat di Tanjung Perak Surabaya dengan persenjataan lengkap.

Mendengar kedatangan pasukan kafir penjajah ribuan santri dan kyai dari penjuru jawa timur bergerak menuju surabaya, situasi pun memanas dan cenderung tak terkendali. Resolusi Jihad NU telah memompa semangat perlawanan rakyat dan memicu pertempuran hebat selama 3 hari di surabaya tanggal 27,28,29 oktober 1945.

Tentara kafir inggris kewalahan menghadapi perlawanan rakyat Jawa Timur. Sampai pasca terjadi gencatan senjata insiden berdarah pun terjadi; kafir penjajah kehilangan dua jendral terbaiknya yang tewas ditangan para pejuang kemerdekaan. Sampai jatuh korban di fihak indonesia 60.000 tentara, para santri, laskar, sukarelawan, dan rakyat Surabaya, gugur sebagai Syuhada. Tanpa resolusi jihad NU tidak akan ada peristiwa heroik 10 November 1945.

Pasukan terdepan yang bertempur di Surabaya:

1. Laskar Hizbullah, dipimpin Kyai Haji Zainul Arifin.

2. Laskar Sabilillah, dipimpin Kyai Haji Masykur.

3. Barisan Mujahidin, dipimpin Kyai Haji Wahab Hazbullah.

4. PETA, separoh batalionnya dipimpin para Kyai NU.

5. Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Namun, cukup disayangkan, Resolusi Jihad NU 22 oktober 1945 kurang mendapat tempat dalam sejarah resmi Indonesia. Ada upaya untuk menghilangkan jejak peran para santri dan kyai dalam perjuangan kemerdekaan. Hal ini diduga terkait dengan kebijakan rasionalisasi dan modernisasi TKR yang mengakibatkan para milisi terdepak dari TKR.

Meski kecewa, tapi para pejuang NU tetap setia dengan resolusi jihad membela kemerdekaan Indonesia.

Demikianlah fakta yang terukir dalam sejarah kemerdekaan indonesia. Kemerdekaan itu di raih dengan RESOLUSI JIHAD. Meski dalam konteks ini Jihad membela tanah air. Namun yang dilawan adalah kaum kafir yang menjajah.!

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ, تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?” (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

(QS. Ash-Shaff ayat 11)

Muncul pertanyaan; lah mengapa anda sendiri tidak berjihad ? Mengapa masih disini bahkan asyik internetan ?

Jawabannya; ya jelas saya masih disini, jihad lewat tulisan selama Allah beri kemapuan dan kesempatan. gimana mau jihad, lah wong kalau mau Jihad saja langsung di anggap “teroris”. Mau jihad bareng Ulil Amri lah Ulil Amrinya sendiri anti Jihad, bahkan menganggap Jihad itu bagian dari ideologi teroris. Gimana dong ? Jangankan mau pergi Jihad, dakwah tentang Jihad saja langsung diawasi densus 88, gimana mau jihad? padahal dakwah kesesatan, pemurtadan, kristenisasi, seminar-seminar organisasi gereja dan missionaris tak dianggap teroris,meski hakikatnya itu adalah TERORIS SEJATI. Dan tak ada Densus 88 yang mengawasi, malah justru perayaan-perayaan kafir di gereja dijaga dan diamankan oleh “Ulil Amri” !!??

Allahu A’lam.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/mengapa-harus-anti-jihad-indonesia-merdeka-saja-karena-resolusi-jihad.htm/feed 0
Dibalik Laju Perusakan Islam di Indonesia http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/dibalik-laju-perusakan-islam-di-indonesia.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/dibalik-laju-perusakan-islam-di-indonesia.htm#comments Tue, 13 Jan 2015 02:01:03 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=93333 busuk islamUmat Islam Indonesia Sangat Perlu Para Da’i Penyelamat Aqidah.

Laju kerusakan aqidah di Indonesia lebih cepat dibanding perbaikannya. Di antara faktornya ada dua:

  1. Cara memahami Islam di pesantren-pesantren dan masyarakat umum dipotong di tengah jalan, agar tidak sampai pada merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Caranya, agar cukup dilihat para tokoh agama melakukan atau tidak. Ketika mereka melakukan, berarti itulah agama. Padahal, aneka bid’ah, bahkan kesesatan, yang kemungkinan sampai tingkat syirk akbar dilakukan oleh para tokoh agama. Akibatnya, laju kesesatan lebih cepat dan berkembang dibanding da’wah shahihah, apalagi da’wah yang membendung kesesatan.
  2. Cara memahami Islam di tingkat perguruan tinggi yang berlabel Islam dialihkan dari merujuk kepada dalil menjadi merujuk kepada fenomena sosial. Pemahaman ini mengikuti Kristen dengan memahami agama pakai metode sosiologi agama. Padahal sosiologi agama itu sendiri pelopornya yang terkemuka Émile Durkheim (Paris, France April 15, 1858 – November 15, 1917) menganggap agama itu hanya gejala sosial, dan yang namanya Tuhan itu hanya ada bagi yang menganggapnya ada. Sehingga, dari metode itu, apapun yang menggejala di masyarakat itulah agama, dan semuanya sah-sah saja. Sehingga antara yang kafir dengan yang mu’min tidak ada bedanya. Hingga arah Pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk menghasilkan manusia-manusia yang pemahaman Islamnya terbalik. Seharusnya makin dididik itu makin mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil, namun sebaliknya justru menyamakan antara yang mukmin dengan yang kafir. Lebih dari itu justru menjadi pembelaIa orang kafir yang merusak Islam. Contohnya Azyumardi Azra dari UIN Jakarta sangat membela Ahmadiyah ciptaan nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad. Dia tidak sayang terhadap Umat Islam yang dimurtadkan oleh Ahmadiyah, tapi justru lebih sayang kepada Ahmadiyah yang merusak itu. Itulah perusakan Islam yang sebenar-benarnya, bahkan lebih dahsyat dibanding pembunuhan fisik, karena yang dibunuh adalah imannya diganti dengan kemusyrikan baru yang disebut pluralisme agama dan ditingkatkan jadi multikulturalisme. Itulah yang sejatinya pemurtadan, bahkan secara sistematis lewat pendididkan tinggi Islam. Makanya sampai ditulis buku “Ada Pemurtadan di IAIN” (Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta), maksudnya adalah perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Pemurtadan itu menurut Al-Qur’an adalah lebih dahsyat bahayanya dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga. Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari Tauhid diganti dengan kemusyrikan atau kekafiran, maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan/ kekafiran; maka masuk neraka selama lamanya. Hingga ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ  [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).

Itulah betapa dahsyatnya pemusyrikan yang kini justru digalakkan secara intensip dan sistematis, masih pula ditemani secara mesra oleh mereka yang tidak menyayangi iman Umat Islam. Relakah generasi Muslim yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia bahkan merupakan penduduk yang jumlah Muslimnya terbesar di dunia ini dibunuhi imannya secara sistematis?

Dengan digalakkannya dua metode pemahaman Islam yang sebenarnya sangat merusak Islam lewat jalur masyarakat umum di satu sisi, dan jalur perguruan tinggi Islam di sisi yang lain, berarti perusakan aqidah Islam dilakukan secara sistematis dan menyeluruh.

Di samping itu masih pula ditambah dengan pengaruh gencarnya propaganda syiah dari Iran ke Indonesia, juga aneka faham liberal yang tidak sesuai dengan Islam. Sehingga, aqidah Umat Islam Indonesia benar-benar perlu diselamatkan.

Dari sinilah kita menyadari betapa pentingnya untuk mempersiapkan kader-kader mahasiswa yang lurus ilmunya dan teguh agamanya untuk menjadi barisan terdepan dalam menghadapi bahaya perusakan aqidah yang dilancarkan secara massif di Indonesia.

Jakarta, 13 Rabi’ul Awwal 1436H/ 4 Januari 2015

 

Penulis buku-buku Islam di Jakarta

 

Hartono Ahmad Jaiz    

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/dibalik-laju-perusakan-islam-di-indonesia.htm/feed 0
Apa Sepantasnya Hukuman Bagi Penghina Nabi SAW http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/apa-sepantasnya-hukuman-bagi-penghina-nabi-saw.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/apa-sepantasnya-hukuman-bagi-penghina-nabi-saw.htm#comments Fri, 09 Jan 2015 08:14:54 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=92948 charlie1Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Dibunuh karena pendapatnya merusak Islam
Orang yang menciptakan dan menyebarkan pendapat yang merusak/ menghina, mengingkari ataupun menyelewengkan Islam ternyata dalam sejarah Islam pun dibunuh.

Jahm bin Shofwan As-Samarkandi adalah orang yang sesat, pembuat bid’ah, pemimpin aliran sesat Jahmiyah. Ia mati (dibunuh) pada masa tabi’in kecil (belakangan). Ibnu Hajar Al-‘Asqolani mengatakan dalam kitabnya, Lisanul Mizan, “Saya tidak mengetahui dia (Jahm) meriwayatkan sesuatu tetapi dia menanam keburukan yang besar, titik.” Jahm bin Shofwan telah dibunuh pada tahun 128H .[1]Ibnu Abi Hatim mengeluarkan riwayat dari jalan Muhammad bin Shalih maula (bekas budak) Bani Hasyim, ia berkata, Salm (bin Ahwaz) berkata ketika menangkap Jahm, “Wahai Jahm, sesungguhnya aku tidak membunuhmu karena kamu memerangiku (memberontakku). Kamu bagiku lebih sepele dari itu, tetapi aku telah mendengar kamu berkata dengan perkataan yang kamu telah memberikan janji kepada Allah agar aku tidak memilikimu kecuali membunuhmu”. Maka ia (Salm bin Ahwaz) membunuhnya.Dan riwayat dari jalan Mu’tamir bin Sulaiman dari Halad At-Thafawi, bahwa telah sampai khabar kepada Salm bin Ahwaz sedangkan ia (Salim) di atas kepolisian Khurasan, (beritanya adalah): Jahm bin Shofwan mengingkari bahwa Allah telah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya bicara, maka ia (Salm bin Ahwaz) membunuhnya (Jahm bin Shofwan)..Riwayat dari jalan Bakir bin Ma’ruf, ia berkata, Saya melihat Salm bin Ahwaz ketika memukul leher (membunuh) Jahm maka menghitamlah wajah Jahm.[2]

Hadits-hadits tentang suruhan membunuh orang yang menghina Islam, menghalalkan dibunuhnya orang yang menghina Islam, dan disertai praktek yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jelas. Praktek itu dilakukan pula oleh kalangan tabi’in. Generasi selanjutnya pun mempraktekkannya, hingga Al-Hallaj, tokoh tasawuf sesat dibunuh di Baghdad tahun 309H/ 922M atas keputusan para ulama, karena Al-Hallaj mengatakan anal haqq (aku adalah al-haq/ Allah). Lontaran pendapat Al-Hallaj itu merusak Islam, maka dihukumi dengan hukum bunuh. Maka walaupun ada orang-orang yang mengingkari semua itu, namun kebenaran hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , praktek para sahabat, tabi’in dan para ulama berikutnya telah membuktikannya.

Hukum Bunuh atas Orang yang Menghina Islam, Allah, dan Rasul-Nya.

Ka’b bin Al-Asyraf dibunuh karena ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya,

1069 حَدِيثُ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الْأَشْرَفِ فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُحِبُّ أَنْ أَقْتُلَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ ائْذَنْ لِي فَلْأَقُلْ قَالَ قُلْ فَأَتَاهُ فَقَالَ لَهُ وَذَكَرَ مَا بَيْنَهُمَا وَقَالَ إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ قَدْ أَرَادَ صَدَقَةً وَقَدْ عَنَّانَا فَلَمَّا سَمِعَهُ قَالَ وَأَيْضًا وَاللَّهِ لَتَمَلُّنَّهُ قَالَ إِنَّا قَدِ اتَّبَعْنَاهُ الْآنَ وَنَكْرَهُ أَنْ نَدَعَهُ حَتَّى نَنْظُرَ إِلَى أَيِّ شَيْءٍ يَصِيرُ أَمْرُهُ قَالَ وَقَدْ أَرَدْتُ أَنْ تُسْلِفَنِي سَلَفًا قَالَ فَمَا تَرْهَنُنِي قَالَ مَا تُرِيدُ قَالَ تَرْهَنُنِي نِسَاءَكُمْ قَالَ أَنْتَ أَجْمَلُ الْعَرَبِ أَنَرْهَنُكَ نِسَاءَنَا قَالَ لَهُ تَرْهَنُونِي أَوْلَادَكُمْ قَالَ يُسَبُّ ابْنُ أَحَدِنَا فَيُقَالُ رُهِنَ فِي وَسْقَيْنِ مِنْ تَمْرٍ وَلَكِنْ نَرْهَنُكَ اللَّأْمَةَ يَعْنِي السِّلَاحَ قَالَ فَنَعَمْ وَوَاعَدَهُ أَنْ يَأْتِيَهُ بِالْحَارِثِ وَأَبِي عَبْسِ بْنِ جَبْرٍ وَعَبَّادِ بْنِ بِشْرٍ قَالَ فَجَاءُوا فَدَعَوْهُ لَيْلًا فَنَزَلَ إِلَيْهِمْ قَالَ سُفْيَانُ قَالَ غَيْرُ عَمْرٍو قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ إِنِّي لَأَسْمَعُ صَوْتًا كَأَنَّهُ صَوْتُ دَمٍ قَالَ إِنَّمَا هَذَا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ وَرَضِيعُهُ وَأَبُو نَائِلَةَ إِنَّ الْكَرِيمَ لَوْ دُعِيَ إِلَى طَعْنَةٍ لَيْلًا لَأَجَابَ قَالَ مُحَمَّدٌ إِنِّي إِذَا جَاءَ فَسَوْفَ أَمُدُّ يَدِي إِلَى رَأْسِهِ فَإِذَا اسْتَمْكَنْتُ مِنْهُ فَدُونَكُمْ قَالَ فَلَمَّا نَزَلَ نَزَلَ وَهُوَ مُتَوَشِّحٌ فَقَالُوا نَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الطِّيبِ قَالَ نَعَمْ تَحْتِي فُلَانَةُ هِيَ أَعْطَرُ نِسَاءِ الْعَرَبِ قَالَ فَتَأْذَنُ لِي أَنْ أَشُمَّ مِنْهُ قَالَ نَعَمْ فَشُمَّ فَتَنَاوَلَ فَشَمَّ ثُمَّ قَالَ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أَعُودَ قَالَ فَاسْتَمْكَنَ مِنْ رَأْسِهِ ثُمَّ قَالَ دُونَكُمْ قَالَ فَقَتَلُوهُ *.

Dari Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Siapakah yang akan (mencari) Ka’b bin Al-Asyraf. Sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya ”. Muhammad bin Maslamah pun segera bangkit berdiri dan berkata : “Wahai Rasulullah, apakah engkau suka jika aku membunuhnya ?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Benar”. Maka Muhammad bin Maslamah berkata : “Ijinkanlah aku membuat satu strategi (tipu muslihat)”. Beliau menjawab : “Lakukanlah !”.Kemudian Muhammad bin Maslamah mendatangi Ka’b bin Al-Asyraf dan berkata kepadanya : “Sesungguhnya laki-laki ini (maksudnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) meminta kepada kita shadaqah. Sungguh, ia telah menyulitkan kita. Dan aku (sekarang) mendatangimu untuk meminjam kepadamu”. Maka Ka’b menjawab : “Aku pun juga demikian ! Demi Allah, sungguh engkau akan merasa jemu kepadanya”.

Ibnu Maslamah berkata : “Sesungguhnya kamu telah mengikutinya dan kami tidak akan meninggalkannya hingga kami melihat bagaimana keadaan yang ia alami kelak. Dan sesungguhnya kami berkeinginan agar engkau sudi meminjami kami satu atau dua wasaq makanan”. Ka’b berkata : “Ya, tapi hendaknya engkau menggadaikan sesuatu kepadaku”. Ibnu Maslamah dan kawan-kawannya bertanya : “Jaminan apa yang engkau inginkan ?”. Ka’b menjawab : “Hendaknya engkau menggadaikan wanita-wanita kalian”. Mereka berkata : “Bagaimana kami bisa menggadaikan wanita-wanita kami kepadamu sementara engkau adalah laki-laki ‘Arab yang paling tampan”. Ka’b berkata : (Kalau begitu), gadaikanlah anak-anak kalian”. Mereka berkata : “Bagaimana kami bisa menggadaikan anak-anak kami, lantas akan dicaci salah seorang di antara mereka dengan mengatakan : ‘ia digadaikan dengan satu wasaq atau dua wasaq makanan’ ? Yang demikian itu akan membuat kami cemar. Akan tetapi kami akan menggadaikan senjata kami”.

Maka Ka’b membuat perjanjian dengan Ibnu Maslamah agar ia (Ibnu Maslamah) mendatanginya (pada hari yang ditentukan). Maka Ibnu Maslamah pun mendatanginya pada suatu malam bersama Abu Naailah – ia adalah saudara sepersusuan Ka’b. Mereka berdua pun memanggil Ka’b untuk datang ke tempat senjata yang digadaikan. Ka’b pun memenuhi panggilan mereka. Istri Ka’b bertanya kepada Ka’b : “Mau pergi kemana malam-malam begini ?”. Ka’b menjawab : “Ia hanyalah Muhammad bin Maslamah dan saudaraku Abu Naailah”. Istrinya berkata : “Sungguh aku mendengar suara bagaikan tetesan darah”. Ka’b berkata : “Dia itu saudaraku Muhammad bin Maslamah dan saudara sepersusuanku Abu Naailah. Sesungguhnya seorang dermawan jika ia dipanggil di malam hari meskipun untuk ditikam, ia akan tetap memenuhinya”. Muhammad bin Maslamah masuk ke tempat yang telah ditentukan bersama dua orang laki-laki. Ia (Ibnu Maslamah) berkata kepada mereka berdua : “Jika Ka’b datang, maka aku akan mengucapkan sya’ir kepadanya, dan menciumnya. Jika kalian melihat aku sudah menyentuh kepalanya, maka pukullah ia”. Muhammad bin Maslamah juga berkata : “Kemudin aku juga akan menyilakan kalian menciumnya pula”. Ka’b pun datang kepada mereka dengan pakaian yang indah dan bau yang harum semerbak. Muhammad bin Maslamah berkata : “Aku belum pernah mencium bau yang lebih harum dibandingkan hari ini”. Ia menjawab : “Aku memang mempunyai istri yang paham dengan minyak wangi yang paling unggul, dan ia adalah orang Arab yang paling baik”. Muhammad bin Maslamah berkata : “Apakah engkau mengijinkan aku untuk mencium kepalamu ?”. Ka’b menjawab : “Ya, silakan”. Maka ia pun mencium kepala Ka’b, yang kemudian diikuti dua orang temannya yang ikut mencium kepalanya pula. Muhammad bin Maslamah kembali berkata : “Apakah engkau mengijinkan aku untuk mencium kepalamu lagi ?”. Ka’b menjawab : “Ya”. Ketika ia memegang kepala Ka’b, ia pun berkata kepada dua orang temannya : “Bunuhlah ia !”. Maka mereka pun membunuhnya. Setelah itu, mereka mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengkhabarkan perihal Ka’b bin Al-Asyraf” (Muttafaq ‘alaih/ HR. Al-Bukhari no. 4037. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 1801].

Orang yang jelas-jelas menghina Islam hukumannya adalah hukum bunuh.
Dalam kitab Bulughul Maram dan syarahnya, Subulus Salam pada bab qitalul jani wa qotlul murtad dikemukakan hadits riwayat Abu Dawud dan An-Nasaai, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no 3665,

3795 حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مُوسَى الْخُتَّلِيُّ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَنِيُّ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ عُثْمَانَ الشَّحَّامِ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَيَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ جَعَلَتْ تَقَعُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَشْتُمُهُ فَأَخَذَ الْمِغْوَلَ فَوَضَعَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ عَلَيْهَا فَقَتَلَهَا فَوَقَعَ بَيْنَ رِجْلَيْهَا طِفْلٌ فَلَطَّخَتْ مَا هُنَاكَ بِالدَّمِ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ فَقَامَ الْأَعْمَى يَتَخَطَّى النَّاسَ وَهُوَ يَتَزَلْزَلُ حَتَّى قَعَدَ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا كَانَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَأَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ وَلِي مِنْهَا ابْنَانِ مِثْلُ اللُّؤْلُؤَتَيْنِ وَكَانَتْ بِي رَفِيقَةً فَلَمَّا كَانَ الْبَارِحَةَ جَعَلَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَخَذْتُ الْمِغْوَلَ فَوَضَعْتُهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأْتُ عَلَيْهَا حَتَّى قَتَلْتُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ *. (أبو داود).

Dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya ada seorang laki-laki buta yang mempunyai ummu walad (budak wanita yang melahirkan anak dari tuannya) yang biasa mencaci Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan merendahkannya. Laki-laki tersebut telah mencegahnya, namun ia (ummu walad) tidak mau berhenti. Laki-laki itu juga telah melarangnya, namun tetap saja tidak mau. Hingga pada satu malam, ummu walad itu kembali mencaci dan merendahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Laki-laki itu lalu mengambil pedang dan meletakkan di perut budaknya, dan kemudian ia menekannya hingga membunuhnya. Akibatnya, keluarlah dua orang janin dari antara kedua kakinya. Darahnya menodai tempat tidurnya. Di pagi harinya, peristiwa itu disebutkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan orang-orang dan bersabda : “Aku bersumpah dengan nama Allah agar laki-laki yang melakukan perbuatan itu berdiri sekarang juga di hadapanku”. Lalu, laki-laki buta itu berdiri dan berjalan melewati orang-orang dengan gemetar hingga kemudian duduk di hadapan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata : “Wahai Rasulullah, akulah pembunuhnya. Wanita itu biasa mencaci dan merendahkanmu. Aku sudah mencegahnya, namun ia tidak mau berhenti. Dan aku pun telah melarangnya, namun tetap saja tidak mau. Aku mempunyai anak darinya yang sangat cantik laksana dua buah mutiara. Wanita itu adalah teman hidupku. Namun kemarin, ia kembali mencaci dan merendahkanmu. Kemudian aku pun mengambil pedang lalu aku letakkan di perutnya dan aku tekan hingga aku membunuhnya”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Saksikanlah bahwa darah wanita itu hadar / sia-sia” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4361, An-Nasaa’iy no. 4070, dan yang lainnya; shahih].Darahnya itu hadar, maksudnya darah perempuan yang mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sia-sia, tak boleh ada balasan atas pembunuhnya dan tak boleh dikenakan diyat/ tebusan darah. Jadi darahnya halal alias halal dibunuh.Juga ada hadits,

3796 حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْجَرَّاحِ عَنْ جَرِيرٍ عَنْ مُغِيرَةَ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا *. (أبو داود).

Diriwayatkan dari As-Sya’bi dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang wanita Yahudi telah memaki/ menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencelanya, maka seorang lelaki mencekiknya hingga mati, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membatalkan darahnya. (HR Abu Dawud, menurut Al-Albani dalam Irwaul Ghalil hadits no 1251 ini isnadnya shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim).Itu artinya halal dibunuh.

Sejarah tahapan menyikapi orang kafir
Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan suruhan memerangi orang kafir, bersikap keras, dan membenci mereka telah jelas nashnya (teksnya). Meskipun demikian, orang JIL seperti Ulil Abshar Abdalla sengaja ingin menyembunyikannya. Di samping jelasnya ayat-ayat tersebut, para ulama telah menjelaskan pula tentang sejarah tahapan sikap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta sahabatnya dalam menghadapi orang-orang kafir. Di antaranya Ibnul Qayyim menjelaskan, yang intinya sebagai berikut:Pasal : Urutan petunjuk dalam melawan kuffar dan munafik sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibangkitkan sampai meninggal dunia.“Pertama kali yang diwahyukan Allah kepadanya ialah supaya beliau membaca,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)

dengan atas nama rabb yang telah menciptakan. Itulah awal nubuwwahnya. Dia memerintah supaya beliau membaca dengan nama diri-Nya dan belum diperintahkan pada saat itu untuk bertabligh (menyampaikan).Kemudian turun ayat,

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ(1) قُمْ فَأَنْذِرْ(2)

Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan ! (QS Al-Muddattsir: 1-2).Beliau diangkat menjadi Nabi dengan firman-Nya اقرأ dan menjadi Rasul dengan firman-Nya ياايهاالمدثر.Kemudian perintah memberi peringatan kepada kaum kerabatnya yang dekat, kemudian kepada kaumnya, lalu lingkungan sekelilingnya dari bangsa Arab, kemudian kepada Arab Qatibah, kemudian kepada seluruh alam dunia.Beliau menjalankan da’wah setelah pengangkatnnya sebagai Nabi dan Rasul selama kurang lebih sepuluh tahun tanpa peperangan, dan diperintahkan untuk menahan, sabar, dan memaafkan. Kemudian baru diizinkan untuk berhijrah dan diizinkan pula untuk menyerang, kemudian diperintahkan berperang melawan orang yang menyerangnya. Kemudian diperintahkan untuk berperang melawan musyrikiin sehingga dien ini semua milik Allah.

Kaum kafir yang hidup berdampingan dengan beliau setelah turunnya perintah jihad ini menjadi tiga golongan:

1. Ahlus Sulhi (perdamaian) dan Hudnah (gencatan senjata).
2. Ahlul Harbi (yang harus diperangi)
3. Ahludz Dzimmah (yang di bawah kekuasaan pemerintah Islam).

Dan memerintah kepada Ahlus Sulhi untuk menyempurnakan perjanjiannya. Beliaupun diperintahkan untuk menepatinya selama mereka istiqamah/ konsisten atas perjanjian. Jika ditakutkan di antara mereka ada yang berkhianat, maka perjanjian ditinggalkan. Dan tidak memerangi mereka sampai mereka melanggar perjanjian. Dan memang beliau diperintah untuk memerangi orang yang melanggar perjanjian…”.[3]

(Dikutip dari buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Menangkal Bahaya JIL dan FLA terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2004).
===[1] Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, Lisanul Mizan, juz 2, halaman 142.[2] Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Fat-hul Bari, juz 13, halaman 346.[3] Lihat Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’aad fii Hudaa Khairil ‘Ibaad, 2/81 seperti dikutip Dr Sayyid Muhammad Nuh, Manhaj Rassulullah, terjemahan Abu Miqdad Muhammad, Majlis Ta’lim Radio Dakta Bekasi, cetakan pertama, 1998, hal 138-139.
Walahu a’lam bisshawaab.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/apa-sepantasnya-hukuman-bagi-penghina-nabi-saw.htm/feed 0
Jatuhnya Air Asia Pintu Kapitalisasi Penerbangan http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/jatuhnya-air-asia-pintu-kapitalisasi-penerbangan.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/jatuhnya-air-asia-pintu-kapitalisasi-penerbangan.htm#comments Thu, 08 Jan 2015 02:47:18 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=92779 INDONESIA-MALAYSIA-AVIATION-AIR ASIAOleh : Abdus Salam (Lajnah SIyasiyah HTI DPD Sulselbar)

Tidak ada satu persoalanpun di negeri ini yang bukan persoalan sistemik. Begitulah juga kesan yang terjadi dengan kasus jatuhnya Air Asia QZ8501. Dan rekomendasi kebijakan yang diprediksikan muncul adalah liberalisasi dan kapitalisasi sektor perhubungan udara.

Perbincangan tentang kemungkinan revisi terhadap UU 1 tahun 2009 tentang penerbangan beserta perangkat peraturan yang ada di bawahnya mengambil momentum Air Asia cukup bisa menangkap aroma ke arah itu. Di tengah keprihatinan nasional yang mendalam terhadap para korban yang direspon dengan kompak oleh berbagai unsur di bawah komando Basarnas.

Sebuah pemandangan umum menutupi genocide Israel biadab terhadap warga Gaza Palestina bertahun tahun lamanya hingga kini. Nampaknya menuntut kejelian dan sikap seksama kita untuk melihat bagaimana strategi penggiringan opini media untuk tujuan tertentu. Termasuk titik tekan alasan pembekuan Air Asia untuk route penerbangan Surabaya-Singapura.

Yang disampaikan sendiri oleh Plt Dirjen Perhubungan Udara, Djoko Muratmodjo  bahwa Air Asia telah melakukan pelanggaran regulasi. Beberapa yang dimaksud diantaranya : pertama, tidak memiliki ijin terbang “ekstra flight” Surabaya-Singapura hari minggu. Kedua, tidak memperhatikan amar prosedur sosialisasi cuaca oleh BMKG. Meski menyisakan berbagai pertanyaan tentang kemungkinan pelanggaran yang sama oleh maskapai penerbangan lainnya dan belum dikenai sanksi. Serta pengawasan segala bentuk pelanggaran atas aturan penerbangan melibatkan banyak pihak. Mulai dari internal kementrian perhubungan hingga otoritas bandara. Sudah ada sekitar 5 orang yang dinon aktifkan atau dimutasikan.

Opini media kemudian mengerucut kepada satu titik bahwa ujung dari standart pengelolaan perhubungan udara haruslah “berbasis dan berorientasi pada safety”. Yakni pemenuhan keamanan dan kenyamanan penerbangan kepada para penumpang. Untuk bisa merealisasikan hal itu diperlukan payung regulasi yang mendorong terbangunnya infrastruktur penerbangan mencakup semua aspek. Antara lain standarisasi fisik bandara, ketersediaan pilot qualified, tehnisi dll, kesiapan tekhnologi penerbangan, manejemen pengelolaan bandara,  manajemen pengelolaan maskapai penerbangan, pengelolaan informasi BMKG untuk kepentingan penerbangan dan lain-lain. Menurut info, Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki traffic penerbangan nomer 2 di dunia.

Artinya Indonesia adalah potensial dan riil market bagi industri penerbangan di dunia. Jika para investor asing saat ini cukup puas hanya diberikan ruang untuk bermain di pengelolaan maskapai penerbangan. Bukan mustahil dengan alasan klasik yang biasa disampaikan. Yakni tidak tersedianya dana dari sumber APBN yang cukup untuk membiayai pembangunan penerbangan, maka ke depan investor asing diberikan ruang lebar-lebar untuk bermain juga di pembangunan infrastruktur penerbangan.

Apa implikasi dari keterlibatan swasta asing pada pembangunan infrastruktur penerbangan negeri ini. Bisa ditebak pada akhirnya bahwa safety penerbangan hanya akan dienyam oleh para konsumen penerbangan yang berani membayar mahal. Karena pelayanan safety penerbangan meniscayakan investasi yang mahal pula. Hal itu ditunjukkan salah satunya oleh keluarnya Permenhub baru-baru ini sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Udara

Kementerian Perhubungan, Muhammad Alwi kepada detikFinance, Rabu (7/1/2015) tentang penetapan batas bawah 40 persen dari batas atas tarif penerbangan. Misalnya tarif batas atas untuk rute Jakarta-Surabaya ialah Rp 2.000.000, maka tarif batas bawahnya Rp 800.0000. Ke depan, maskapai sudah tidak boleh menjual tiket di bawah tarif batas bawah.

Menurut Staf Khusus Menteri Perhubungan, Hadi M Djuraid menerangkan, keputusan baru ini hanya mengatur tarif yang tidak rasional. Kemenhub tidak menghapus maskapai berbiaya murah atau Low Cost Carrier (LCC).  Ini indikasi awal atas nama safety. Jika investor asing merambah tidak saja pengelolaan maskapai penerbangan namun juga pengelolaan infrastrukturnya maka akan lebih fantastis lagi tarifnya.

Akhirnya cukup bagi kita melihat bahwa kasus jatuhnya Air Asia dengan begitu dramatisnya prosesi evakuasi korban sesungguhnya menggambarkan begitu kompleks dan sistemiknya persoalan pengelolaan sektor penerbangan kita. Dan memantik kesadaran mendalam kita untuk merenungkan faktor sebab hakiki bagaimana mewujudkan iklim penerbangan yang kondusif dan safety. Yang selalu dijawab dengan alternatif solusi satu-satunya yakni liberalisasi dan kapitalisasi.

Dengan mencoba mengembalikan pemahaman kita semua terhadap pilihan lain solusi alternatif bagaimana sesungguhnya desain pengelolaan safety penerbangan yang dibuat oleh Tuhan Pencipta Manusia. Yang telah menurunkan segala aturan untuk memecahkan seluruh kompleksitas problematika kehidupan manusia termasuk sektor perhubungan udara.

Wallahu a’lam bis showab.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/jatuhnya-air-asia-pintu-kapitalisasi-penerbangan.htm/feed 0
Upaya Penghapusan Agama Pemerintahan Jokowi Lebih Hina dari Upaya Badui Cibeo http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/upaya-penghapusan-agama-pemerintahan-jokowi-lebih-hina-dari-upaya-badui-cibeo.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/upaya-penghapusan-agama-pemerintahan-jokowi-lebih-hina-dari-upaya-badui-cibeo.htm#comments Wed, 07 Jan 2015 03:39:15 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=92685 kabinet jokowiOleh Hartono Ahmad Jaiz

Upaya penghapusan agama di pemerintahan Jokowi sederajat atau bahkan lebih rendah level (hina)nya dibanding upaya “pemerintahan“ Badui Dalam di Cibeo Banten Selatan sana.

Kalau di “pemerintahan” Badui Dalam Cibeo tidak pernah mereka mengutik-utik kolom agama di KTP agar dihapus. Tetapi di pemerintahan Jokowi, upaya penghapusan kolom agama itu disuarakan dengan lantang, bahkan dengan menipu tanpa malu-malu. Penipu ulungnya, yang semula hanya jadi wakil gubernur DKI Jakarta, kemudian secara gigih diangkat sejadi-jadinya untuk jadi gubernur DKI Jakarta, walau diprotes oleh Umat Islam Jakarta karena berbagai persoalan yang dinilai tidak layak untuk memimpin DKI Jakarta. Namun atas jasa tipuan ulung dengan mengatakan KTP Malaysia juga tidak pakai kolom agama (padahal jelas-jelas ada kolom agama di KTP Malaysia), maka Ahok orang Nasrani (Kafir Kitabi menurut istilah Islam) itu didukung penuh untuk disahkan dan dilantik jadi gubernur DKI di pemerintahah Jokowi. Padahal penduduk mayoritas hampir 90 persen adalah Muslim, sedang Ahok telah terbukti pembohong dan banyak berkata-kata yang sangat menyakiti Umat Islam demi membela hal yang sangat menentang agama. Misalnya demi membela pelacuran bahkan akan mengadakan tempat pelacuran, yang hal itu jelas bertentangan dengan agama bahkan merusak masyarakat, namun justru pihak penolaknya yakni Umat Islam dicibir dengan sebutan munafik. Siapa yang tidak marah ketika seorang pejabat berkata setidak sopan itu dan bahkan demi merusak agama dan masyarakat? Tetapi rupanya justru di situlah nilai tinggi dia, di pemerintahan Jokowi.

Dari situ rupanya menjadi “pelajaran berharga” bagi pihak-pihak yang haus jabatan ingin meraih jabatan ataupun naik jabatan dengan cara-cara yang dianggap ampuh seperti itu. Arah penghapusan agama dengan aneka tipu daya itulah yang punya nilai kredit poin tinggi.

Bermunculan lah kucing garong-kucing garong yang mengharapkan dapat kucuran dan kicritan ini dan itu. Mereka yang jadi tokoh Islam bahkan kyai haji bahkan memimpin ormas atau lembaga agama (Islam) seakan berlomba untuk melepas “jubah” apa yang mungkin akan menjadikan risih bila dianggap fanatik Islam. Ketua umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) Din Syamsuddin pun terang-terangan melawan fatwa MUI tentang haramnya Umat Islam ikut perayaan natal bersama (Kristen-Katolik) dan haramnya mengucapkan selamat Natal kepada pihak yang merayakannya. Fatwa yang dikeluarkan MUI pimpinan Buya Hamka 1981 itu pun di tahun 2014 seakan diingkari substansinya oleh Din Syamsuddin dengan terang-terangan mengaku dirinya tiap tahun mengucapkan selamat natal.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin mengatakan ucapan selamat Natal tidak secara spesifik diatur dalam fatwa mereka. Din bahkan mengatakan ucapan selamat Natal boleh saja dilakukan oleh muslim.

“Selama itu tidak memengaruhi akidah muslim, maka (ucapan selamat Natal) dapat dilakukan,” ujar Din saat menghadiri acara di Kompleks MPR/DPR RI, Jakarta, Selasa (23/12 2014).

Di situ Din Syamsuddin sedang menyembunyikan sesuatu yang besar. Justru adanya fatwa itu karena kaitannya dengan akidah Muslim. Maka perkataan Din: “Selama itu tidak memengaruhi akidah muslim, maka (ucapan selamat Natal) dapat dilakukan,” itu adalah perkataan menyembunyikan makna. Karena inti fatwa bahkan ucapan selamat kaitannya dengan agama lain adalah persoalan akidah.

Orang-orang yang selama ini masih merasa “menyandang jubah” kefanatikan Islam pun ikut ramai-ramai membolehkan ucapan selamat natal, dengan aneka dalih yang dibuat-buat sekenanya. Bahkan sampai menanyakan dalil haramnya segala, seolah mereka itu ahli dan peduli tentang dalil. Sedang Islam itu sendiri sudah mereka singkiri tetapi mulutnya menanyakan dalil. Untuk apa?

Padahal, kalau mereka mau menghafal satu potongan dari ayat saja, maka akan tahu.

Keridhaan terhadap kekufuran adalah kekufuran juga. Ucapan selamat itu menunjukkan keridhoan. Sedangkan Allah Ta’ala tidak ridha kepada kekufuran:

{وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ } [الزمر: 7]

dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; (QS Az-Zumar/39: 7).
Keyakinan tersebut telah membuat Allah Ta’ala murka.

تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا ٩٠ أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٗا ٩١  وَمَا يَنۢبَغِي لِلرَّحۡمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ٩٢

  1. hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh
  2. karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak
  3. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak (QS Maryam: 90-92).

Sebegitu beraninya pemimpin MUI yang baru itu berkata “Selama itu tidak memengaruhi akidah muslim, maka (ucapan selamat Natal) dapat dilakukan,”. Na’udzubillahi min dzalik.

Ketika kolom agama di KTP agar dihapus, sedang pelontar dengan menipu bahwa KTP Malaysia tanpa kolom agama tersebut justru diangkat jadi gubernur di Ibukota negara, maka pelontar berikutnya dengan seolah lebih ma’qul (masuk akal). Yaitu kolom agama di KTP dapat dikosongi (tidak usah diisi). Seolah ini amunisi baru yang “pas” dalam upaya menghapus agama (Islam) namun formulanya tampak seakan rapi jali.

Seandainya yang melontarkan itu orang lewat di jalan yang tidak usah digubris perkataannya, maka anggap saja itu angin lalu. Tetapi ketika justru pejabat dan petinggi negara, maka sejatinya menunjukkan ketidak profesionalannya. Karena, pemimpin yang baik adalah menciptakan sistem yang efektif, tidak banyak timbul problem. Lha dengan membolehkan kolom agama di KTP dikosongi, maka justru menimbulkan masalah. Orang pun mudah faham, kalau seorang meninggal di jalan, ternyata KTPnya kosong agama, bagaimana merawatnya? Tidak jelas. Mau dikubur atau dibakar. Kalau mau dikubur, di kuburan mana, karena tak ada kuburan khusus bagi yang tak beragama. Juga tak dapat dicampurkan dengan kuburan Islam tentunya.

Lontaran itu arahnya untuk menghapus agama (Islam) tapi sekaligus pembodohan total dan menunjukkan para pelontarnya… mutunya ya seperti itu.

Untuk menghapus Islam pun diupayakan lewat pendidikan. Tidak mau-malu orang yang ketiban sampur memimpin pendidikan di negeri ini dari kalangan sekuler pro aliran sesat syiah mempersoalkan doa cara Islam di sekolah. Baru kali ini doa cara Islam diusik-usik oleh seorang menterinya Jokowi dengan dalih yang dibuat-buat. Kalau caranya seperti itu, nantinya guru atau siapapun masuk ruang mengucapkan assalamu’alaikum bisa dia larang, karena kemungkinan di ruangan ada yang bukan Islam, sedang assalamu’alaikum itu mengandung doa Islam.

Setelah mendapatkan protes dari Umat Islam, bahkan ada yang menyebut Menteri Anis Baswedan dari Parahmadina (seharusnya Paramadina), maka tampaknya dia surut.

Lain lagi dengan lontaran Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang ingin menjadikan Candi Borobudur jadi pusat kunjungan ritual orang budha sedunia pertahun, sebagaimana Ka’bah di Makkah yang jadi pusat ibadah haji Umat Islam sedunia tiap tahun. Alasan Ganjar, karena jumlah orang Budha di dunia ini 300 juta. Jadi kalau Borobudur jadi pusat ziarah ritual mereka tiap tahun, maka akan ini dan itu, kaitannya dengan pendapatan.

Bagi Ummat Islam yang faham akan tarikh Islam, maka ide itu telah didahului Abrahah. Ide Abrahah yang ingin mengadakan keramaian di negerinya sebagaimana Ka’bah di Makkah dengan membangun gedung Quailis di Yaman, bahkan dengan jalan ingin menyerang Ka’bah, ternyata berakhir dengan azab. Hingga Abrahah dan bala tentaranya hancur. Itulah yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Fiil.

Anehnya, ide yang mengakibatkan bencana besar berupa azab itu kini ada yang menirunya, bahkan sampai dipidatokan di depan para kyai.

Candi Borobudur nantinya akan dijadikan tempat ritual religi setiap tahun bagi pemeluk Buddha di seluruh dunia yang saat ini berjumlah 300 juta orang. Bahkan saking semangatnya, Ganjar Pranowo yang pernah bersekolah di SMA Katolik De Britto Jogjakarta itu sampai menegaskan ide gilanya itu di hadapan para kyai dan santri Ponpes API di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah pada Khotbah Kebudayaaan beberapa waktu lalu.

Di zaman pemerintahan Jokowi ini tampaknya semakin bermunculan aneka keganjilan dari para pejabatnya yang mengandung bahaya. Itupun menyangkut bahaya yang dapat merusak keimanan masyarakat Muslimin. Itulahnya musibah agama namanya. Artinya, bukan hanya menimpa materi, namun mengancam keimanan (Islam).

Aneh tenan! Menutup kuburan Gunung Kemukus yang jadi sarang pelacuran dan sudah memalukan bangsa Indonesia ke tingkat dunia saja tidak dilakukan, padahal wilayah di bawah kekuasaan sang gubernur; tapi malah akan mewujudkan ide Abrahah yang sudah jelas kena azab hingga hancur lebur. Dia kira itu ide cemerlang ya? Tak tahunya justru sudah didahului Abrahah, dan sampai mengorbankan diri dan wadyabalanya dengan kematian yang sagat mengenaskan. (Na’udzubillaah… Gubernur Jawa Tengah Menirukan Ide Abrahah, By nahimunkar.com on 5 December 2014).

Upaya penghapusan agama (Islam) digariskan pula di pemerintahan Jokowi dengan level yang setarap atau bahkan lebih hina dibanding “pemerintahan” Badui Dalam Cibeo. Dusun yang dihuni 40-an keluarga Badui Dalam di Cibeo Banten Selatan dipimpin seorang kepala “pemerintahan” disebut Po’on. Sang Po’on itu (ketika saya dan teman-teman menginap di sana tahun 1980-an) punya kebijakan-kebijakan yang diterapkan. Di antaranya, hanya dia dan keluarganya yang boleh berak di bagian atas sungai (yang airnya diambil untuk keperluan sehari-hari). Yang lain harus di kali bagian bawah.

Orang Badui Dalam tidak mandi-mandi hingga kumal-kumal, walau di pelataran rumahnya ada gentong air untuk cuci kaki kalau mau naik ke rumah. Wanitanya telanjang dada walau sudah dewasa bahkan setengah tua ataupun tua. Mereka memiliki keyakinan, tuhan adalah roh kokolot (roh leluhur yang dituakan). Itulah kepercayaan animisme, kemusyrikan. Konon mereka mengasingkan diri ke dusun terpencil itu karena menyingkir dari Islam yang mulai berkembang zaman lalu. Demi melestarikan penyingkirannya dari Islam itu, ketika kami tanyakan saat itu, maka garis kebijakan “pemerintahan” Badui Dalam adalah melarang warganya untuk sekolah atau belajar. Karena kalau sekolah atau belajar maka akan jadi penipu. Jadi haram belajar. Titik.

Coba bandingkan, dengan salah satu kebijakan di pemerintahan Jokowi sekarang ini. Ada menteri yang melarang siapapun tenaga asing maka dilarang mengajar agama dan teologi. Karena dikhawatirkan akan ada radikalisme.

“Pemerintahan” Badui Dalam melarang belajar, karena khawatir kalau belajar nantinya jadi penipu. Itu tentu ada yang sejatinya disingkiri, yaitu jangan sampai belajar, apalagi belajar agama. Karena kalau belajar agama seperti yang dilakukan oleh Badui Luar, maka kemudian mereka masuk Islam. Sedang dari awalnya sampai mereka menyingkir ke daerah sangat terpencil (kami tahun 1980-an harus jalan kaki naik turun bukit dari jam 07 pagi sampai jam 17 sore untuk sampai ke lokasi Badui Dalam) itu karena mereka menyingkiri Islam. Bukan karena menyingkiri penipuan. Karena untuk jadi tukang tipu, tanpa belajar pun bisa.

Memalukan, ide yang cukup hina itu ternyata kini justru diadopsi oleh orang-orang sekelas menteri di zaman pemerintahan Jokowi hanya untuk menyingkiri Islam dengan aneka dalih.

Allahul Musta’an.

Jakarta, Selasa 15 Rabi’ul Awwal 1436H/ 6 Januari 2015.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/upaya-penghapusan-agama-pemerintahan-jokowi-lebih-hina-dari-upaya-badui-cibeo.htm/feed 0
Memahami Syiah dengan Perspektif Persia http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/memahami-syiah-dengan-perspektif-persia.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/memahami-syiah-dengan-perspektif-persia.htm#comments Wed, 07 Jan 2015 00:51:02 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=92649 syiah syiahSyiah, fenomena agama yang tumbuh besar di Iran, selama ini kita kenal dalam perspektif sejarah versi Islam, bahwasanya ia lahir tak terlepas dari kontribusi Abdullah bin Saba. Perspektif Saba yang diidentifikasi sebagai Yahudi yang menyamar sebagai muslim kemudian membuat kekacauan dari dalam, umum kita dengar dalam ceramah-artikel tentang sejarah lahirnya Syiah.

Sementara hampir semua kita terlupakan atau tidak memahami keterkaitan Persia yang begitu intensif terlibat dalam lahirnya beragam pemikiran dan doktrin di dalam syiah itu sendiri. Sebelum memperbincangkan syiah, marilah kita kenal lebih dulu tentang Persia, sebuah imperium digdaya yang telah berusia 1000 tahun namun runtuh dan lenyap dari muka bumi hanya dalam 10 tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Semasa hidup Nabi Saw, telah disampaikan surat seruan pada tiga raja untuk masuk Islam. Pertama raja Mesir merespon dengan mengirim hadiah pada Nabi. Kedua raja Romawi Timur, Bizantium yang beribukota Konstantinopel, merespon sekedarnya. Adapun surat ketiga pada kaisar Persia, ia merobok-robek surat Nabi karena merasa terhina, Islam-Arab yang baru lahir dengan wilayah kecil namun lancang memaksa pemimpin negara adidaya Persia untuk masuk Islam. Mendengar surat tercabik, Nabi Saw lantas berujar, kerajaan Persia juga akan tercabik-cabik sebagaimana ia merobek suratku.

Sepeninggal Nabi Saw, Abu Bakar ashShidiq ra memimpin selama 2 tahun, Persia mulai mengganggu wilayah perbatasan kedaulatan muslimin. Abu Bakar lantas mengirimkan Khalid bin Walid ra (salah satu sahabat korban caci maki Syiah) menjawab tantangan Persia. Panglima perang Khalid yang mendapat gelar syaifullah (pedang Allah) oleh Nabi Saw ini berhasil mengalahkan setiap pertempuran dengan pasukan kekaisaran Persia yang jumlahnya selalu lebih banyak dari muslim. Lebih 100.000 tentara Persia tewas akibat bentrok dengan pasukan Khalid. Artinya lebih 50.000 istri dan anak dari tentara Persia yang tewas, bersedih, marah dan dendam pada Khalid.

Belum selesai Persia tumbang, Khalid dipindah ke medan Syiria menghadapi pasukan besar bizantium yang juga takluk di bawah kilatan pedang Khalid bin Walid. Khalifah Abu Bakar wafat digantikan Umar bin Khathab ra selaku khalifah. Umar menunjuk Saad bin Abi Waqqash ra dalam perang penentuan yang menghancurkan Persia selama-lamanya. Umar wafat ditusuk belati beracun saat memimpin sholat oleh Abu Lulu. Abu Lulu, MAJUSI yang berpura-pura masuk Islam, menyimpan DENDAM pada Umar yang pada masa kepemimpinannya membuat IMPERIUM PERSIA BERUSIA 1000 TAHUN lenyap dari muka bumi. Abu Lulu kini menjadi pahlawan umat Syiah (harusnya pahlawan Persia), dan makamnya sangat dihormati. Inilah salah satu koneksinya Syiah-Persia.

Jadi sebab utama Umar dicaci maki Syiah adalah karena dosa Umar menghancurkan Persia. Adapun kesalahan-kesalahan Umar terhadap Nabi dan Ali ra. yang dikemukakan Syiah hanya rekayasa untuk memperkuat doktrin dosa besar atau kafirnya Umar versi Syiah.

Persia dengan agama Majusi dan kitab Zoroaster telah melekat ratusan tahun pada jutaan penduduknya. Tentu saja menyisakan pengikut fanatik yang menyimpan dendam teradap Islam, Arab dan tokoh-tokohnya. Salah satu kultur agama Persia yakni memposisikan kaisar dan keturunannya sebagai dewa atau tuhan. Hal serupa yang kita temukan pada agama Syiah, bukanlah suatu kebetulan, namun hasil kristalisasi antara pendukung Ali (syiah) dan pembenci Arab (Persia).

Mari kita simak bagaimana proses penyatuan Syiah dan Persia. Kaisar terakhir Persia, Yazdajir, yang terbunuh saat melarikan diri ke arah Afghanistan, menyisakan putri bernama Syahrbanu (versli lain Ghazalah) yang ditawan pasukan muslimin. Putri Kaisar ini lalu diberikan kepada Husain bin Ali ra, cucu Rasulullah Saw. Putri turunan dari dewanya Persia ini kemudian dinikahi Husain. Pasangan ini kemudian melahirkan Ali bin Husain yang sangat terkenal sebagai Zainal Abidin, ahli ibadah si ahli sujud. Dari Zainal Abidin dan keturunan inilah kemudian dimulai sejarah imam-imam besar Syiah yang sangat diagungkan bahkan melebihi Nabi, sebagaimana mereka dahulu mendewakan kaisar mereka.

Kita bisa melihat kesamaan model kultur pada sebagian masyarakat Jawa Muslim dimana sebagian masih mempertahankan adat istiadat kejawen dan sejenisnya. Apalagi kerajaan mendunia sekelas Persia yang memiliki kultur fanatik dan mitos-mitos yang melekat di hati. Hal ini berbeda dengan Bizantium yang materialistis sehingga takluknya Konstantinopel tidak menyisakan sisa-sisa kultur fanatik keagamaan seperti Persia.

Syiah pada awalnya sangat sedikit dan lemah. Paska pembantaian Karbala yang melahirkan dramatisasi emosional pembantaian Husain bin Ali suami dari putri dewa, melahirkan ratapan dan kesedihan mendalam seluruh umat Islam. Peristiwa Karbala terjadi karena pengkhianatan syiah sendiri, mereka mengundang Husain, saat Husain ditengah jalan lalu mereka batalkan sendiri undangan tersebut karena takut mati. Dimana pembelaan syiah terhadap panutannya ? Seluruh tabiin berusaha mencegah Husain ke Kufah hingga berita wafatnya Husain datang membawa kesedihan pada seluruh umat Islam. Sisa-sisa syiah dalam jumlah kecil yang membenci kekhalifahan Umayah bertemu dengan sisa-sisa Persia yang membenci Arab / Islam kemudian mengkristal dalam pemahaman dan kultur dalam satu simbol, Syiah.

Pada abad 11 Masehi, masa-masa Perang Salib dan sebelumnya, Dinasti Fatimiyah di Mesir menetapkan Syiah sebagai agama resmi, dan secara formal telah menetapkan kewajiban mencaci-maki para sahabat dan istri Nabi dalam setiap khutbah Jumat dan ceramah. Bersyukur, Shalahuddin alAyyubi menaklukkan Mesir di abad ke-12, mengembalikan Islam sebagai agama negara dan menghapus doktrin caci maki sahabat pada khutbah dan ceramah Syiah.

Pada abad ke 15 Masehi berdirilah dinasti Safawi di Persia yang kuat dengan Syiah sebagai agama negara. Setidaknya Kekhalifahan Utsmaniyah berhasil membendung Safawi dari upaya menguasai Timur Tengah. Era Safawi inilah yang menjadi landasan kokoh terbentuknya Iran modern dengan Syiah sebagai agamanya. Kultur ibadah terwariskan turun-temurun mendewakan keturunan Husain-Syahrbanu, sehingga beriman kepada imam-imamnya menjadi salah satu rukun syahadat wajib. Memposisikan imamnya sebagai sosok yang ma’shum (tidak pernah berdosa atau bersalah). Dan menetapkan kafir bagi yang tidak beriman kepada imam-imam Syiah Persia.

Kini Iran dengan jutaan umat Syiah telah memiliki tempat suci sendiri di Karbala yang mereka tetapkan sebagai tandingan Ka’bah versi Syiah. Dalam setiap khutbah dan cerama di Iran sebagaimana biasa, wajib untuk mencaci maki sahabat dan istri tercinta Nabi, Siti Aisyah ra yang pernah berkonflik dengan Ali bin Abi Thalib ra. dalam Peristiwa Jamal karena fitnah dan kesalahpahaman. Selain punya Ka’bah sendiri, Syiah pun memiliki ‘Qur’an’ sendiri versi mereka.

Inilah warisan dari sisa-sisa Persia yang masih memiliki kebanggaan sebagai penduduk dari kerajaan imperium besar yang pernah berjaya di seluruh dunia. Sisa-sisa Persia yang menggunakan Syiah sebagai topeng dan doktrin ajaran Islam yang dileburkan dengan Majusi-Zoroaster, lahirlah Syiah.

Nugra Fatah

Penulis buku Panglima Surga

Twitter @nugrazee

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/memahami-syiah-dengan-perspektif-persia.htm/feed 0
Teuku Wisnu Berjenggot , Kenapa Anda Yang Repot ?? http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/teuku-wisnu-berjenggot-kenapa-anda-yang-repot.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/teuku-wisnu-berjenggot-kenapa-anda-yang-repot.htm#comments Sun, 04 Jan 2015 23:40:32 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=92469 wisnu1Oleh: Ust. Abu Husein At-Thuwailibi.

Bismillah Wa ‘Ala Sunnati Rasuulillah.

Fenomena artis atau bintang sinetron yang bertaubat dan meninggalkan dunia intertaiment bukanlah baru sekali dua kali, namun sudah sering terjadi, berkat rahmat dan hidayah dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala tentunya.

Diantaranya adalah seorang artis wanita yang sangat terkenal bernama Soraya Abdullah Balvas yang mengenal dakwah Tauhid dan Sunnah lalu meninggalkan dunia keartisan dan memilih mengenakan jilbab dan cadar.

Melalui dakwah Al-Ustadz Abu Jibril Hafizhahullah (Da’i Sunni dari Majelis Mujahidin Indonesia) ia pun menggali ilmu agama hingga akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan diri dari dunia model dan keartisan serta memilih menutup auratnya dengn Hijab Syar’i. Akan tetapi sudah menjadi hal yang maklum, disetiap jalan kebaikan tentu tidak bersih dari godaan dan tantangan. Demikianlah Sunnatullah pasti berlaku bagi mereka yang ingin menuju jalan yang benar demi menggapai Ridho Tuhan-Nya.

Diantara yang membuat MULUT nggak bisa diam alias sering berkomentar jelek terhadap agama dan orang-orang yang menjalankan agama adalah KEJAHILAN, yakni kebodohan. Salah satunya adalah yang dialami oleh suami Shiren Sunkar.

Salah seorang aktor sinetron SCTV “Cinta Fitri”, artis terkenal bernama TEUKU WISNU yang kini mulai bersentuhan dengan dunia ilmu secara bertahap pun menuai banyak kritikan dan hujatan dari para penggemarnya, demikianlah diantara tantangan para pejuang rabbani yang sedang bangkit memperjuangkan nilai-nilai agamanya dalam kehidupan sehari-hari.

Ayah seorang bayi mungil bernama Adam ini mulai menapaki lautan ilmu dan mulai mengarungi samudera iman sejak mulai dekat dengan para Da’i Radio Rodja; sebuah Radio Dakwah Sunniyah yang terletak di Cileungsi bogor, yang di bina oleh Al-Ustadz Abu Yahya Badrussalam, seorang Da’i Muwahhid alumni Madinah Of University.

Sejarah mencatat, Radio dan TV Rodja merupakan sebuah media dakwah yang banyak memberikan jasa terhadap Dakwah Tauhid dan Sunnah mulai dari Pedesaan sampai perkotaan, mendapat rekomendasi dari para Tokoh Ulama Dunia diantaranya Syaikh Shalih Fauzan Bin Abdillah Al-Fauzan, bahkan konon Mantan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Bpk Patrialis Akbar pun mulai mengenal Islam dan Sunnah secara spesifik berkat perantara Radio Rodja yang diperkenalkan oleh Sopir pribadinya.

Radio Rodja bukanlah satu-satunya media dakwah yang paling benar dan tak mungkin salah, karena para pemateri Radio Rodja bukanlah para Malaikat yang suci yang bebas dari kesalahan dan kekeliruan alias ma’shum, akan tetapi Radio Rodja adalah Media Islam yang berupaya menyelamatkan ummat ini dari keterpurukan rohani melalui syi’ar-syi’ar Tauhid dan Tarbiyah Manhaj Salafiyah yang di publikasikannya kehadapan masyarakat Muslimin Indonesia, dan disana banyak media-media Dakwah lain yang memiliki visi misi sama seperti Radio Rodja; yakni memurnikan aqidah, menebar sunnah dan memberantas aliran-aliran sesat di Nusantara, sedangkan Rodja adalah salah satu diantaranya.

Seiring berjalannya waktu mengarungi lautan keislaman dan menggali ilmu agama, Teuku Wisnu pun mulai memelihara jenggot dan mengenakan celana diatas mata kaki, satu amalan yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang kecuali yang diberi Taufiq oleh Allah Jalla Wa ‘Ala. tidaklah hal itu dilakukan kecuali karena saking cintanya teuku Wisnu dengan Nabi nya,Yakni Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sehingga hal-hal yang dianggap sepele oleh sebagian orang namun diperintahkan oleh sang Nabi ia patuh untuk melaksanakannya. Demikianlah ciri mukmin sejati, mendengar dan taat terhadap segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Walaa Nuzakkii ‘Allaahi Ahadaa…

Begitu pula istri Teuku Wisnu, Shiren Sunkar, seorang perempuan keturunan yaman dari kalngan bani Sunkar yang secara bertahap pun mulai mengenakan busana Syar’i, menutup auratnya demi menjaga kehormatannya sebagai seorang Muslimah. Semuanya mereka lakukan step by step sesuai kadar ilmu dan pengetahuan yang mereka dapatkan dari para juru dakwah yang membimbing. demikianlah ciri Muslim ideal; yakni mengamalkan ilmu meskipun hanya satu dua ayat yang ia ketahui.

Jenggot adalah perintah Nabi yang mulia. pembeda antara kafir dan muslim diantara nya adalah jenggot, demikian pula celana diatas mata kaki adalah murni perintah Nabi dan merupakan Syi’ar islami, terdapat sejumlah dalil yang mensyariatkannya dalam Kitab Shahih Bukhori.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.”

(HR. Muslim no. 623)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى

“Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.”

(HR. Muslim no. 625)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.”

(HR. Muslim no. 626)

Demikian lah Peritah Rasulullah kepada ummatnya….

Perihal mencukur jenggot itu Haram atau Makruh; yang pasti Nabi MELARANG POTONG JENGGOT. Perihal memelihara jenggot itu Wajib atau Sunnah; yang pasti Nabi MEMERINTAHKAN PELIHARA JENGGOT.

Lalu, kenapa anda mencela ??

Kenapa anda menghina ??

Sadarkah anda bahwa anda telah menghina Syari’at Allah yang mulia ???

Sadarkah anda bahwa anda telah menghina Sunnah Nabi yang mulia ??

Anda mau tidak berjenggot ya silahkan !!

Lantas mengapa anda repot dengan orang berjenggot ??

Teuku Wisnu bangga dengan Sunnah Nabi nya, dia bangga dengan agamanya ??

Apakah Teuku Wisnu harus bangga dengan agama kafir sebagimana anda bangga pakek Topi Senterclaus saat hari natal dan tahun baru ???

Silahkan buka pola fikir anda !!

Demikian pula ketika Teuku Wisnu mengenakan “celana cingkrang” (alias celana diatas mata kaki), karena Isbal dalam Syari’at Islam adalah mamnu’ (dilarang).

Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Isbal terlarang dalam Islam, hukumnya minimal makruh atau bahkan haram.
Banyak sekali dalil dari hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mendasari hal ini.

Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka”

(HR. Bukhari 5787)

Rasulullah bersabda:

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

“Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak biacar oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal yakni menjulurkan kain meewati mata kaki, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”.

(HR. Muslim, 106)

لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة

“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan”

(HR. Abu Daud 4084 dalam kitab Shahih Sunan Abi Daud)

Demikian lah perintah Nabi. ! Mengapa anda mencela ???

Mengapa anda menghina ???

Perihal memenjangkan kain dibawah mata kaki itu Makruh atau haram; yang pasti Nabi MARANG ISBAL !! Perihal memakai kain diatas mata kaki itu Sunnah atau Wajib; yang pasti Nabi MEMERINTAHKAN MEMAKAI KAIN DIATAS MATA KAKI !!

Lalu mengapa anda yang repot ??

Mengapa anda yang sewot ??

Kalau anda menyatakan bahwa Penampilan Teuku Wisnu yang memelihara jenggot dan mengenakan celana diatas mata kaki itu mirip “Teroris”, maka ketahuilah bahwa PENAMPILAN ANDA YANG RAPI DAN TIDAK BERJENGGOT SAYA RASA MIRIP PARA KORUPTOR !!

Oleh karena itu, berfikir dan berfikirlan anda sebelum melecehkan satu syariat diantara syariat-syariat Allah dan Rasul-Nya…..!! dan tanyalah pada diri anda apakah anda benar-benar pengikut Rasulullah ataukah bukan.

Karena Rasulullah bersabda:

 « فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى ».

“Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan dariku.

Siapa yang membenci ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perlu dipertanyakan keimanannya.

Siapa yang membenci tauhid, sunnah, jilbab wanita muslimah yang sesuai syariat, memanjangkan jenggot, mengangkat celana di atas dua mata kaki, makan dan minum dengan tangan kanan, siapa yang membenci semua ini, perlu dipertanyakan, “apakah ia sedang menghina Rasulullah atau sedang menghina dirinya sendiri?”

Allahu A’am

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/teuku-wisnu-berjenggot-kenapa-anda-yang-repot.htm/feed 0
Mencari Kebenaran (Acara Tahun Baru) http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/mencari-kebenaran-acara-tahun-baru.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/mencari-kebenaran-acara-tahun-baru.htm#comments Tue, 30 Dec 2014 06:26:48 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=92026  2015Oleh :Ukhty yulia           

Di penghujung tahun selalu ada tradisi yang tak pernah luput dari sorotan masyarakat khususnya para pemuda atau bahkan remaja, selain bertepatan dengan hari Natal, hari lahirnya sang Juru Selanat bagi kaum Kristiani di bulan Desember ini pun akan mengalami pergantian tahun baru masehi. Tiap stasiun televisi jauh-jauh hari telah mengumumkan akan menggelar acara special dalam rangka memperingati tahun baru masehi. Di sisi lain para pedagang pun tak mau melewati moment tahun baru yang menurut mereka akan meraup keuntungan dengan memperjual belikan assesoris tahun baru seperti terompet, topi kerucut khusus tahun baru, kembang api serta assesoris yang menandakan penyambutan tahun baru.

Puncak kemeriahan tahun baru terjadi menjelang detik-detik pergantian tahun di jam 00:00, tanpa ada perintah para penonton di studio maupun pemirsa di rumah serempak meniup terompet dan tak lupa menyalakan kembang api yang harga belinya cukup menguras kantong. Berbeda dengan suasana di jalan raya terdengar suara knalpot dan teriakan klakson kendaraan bernotor yang memecah kesunyian malam, kemudan berlanjut dengan saling mengucapkan selamat tahun baru.

Sejarah Tahun Baru 1 Januari

Mari kita buka The World Book Encyclopedia tahun 1984, volume 14, halaman 237.

“The Roman ruler Julius Caesar established January 1 as New Year’s Day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus , the god of gates, doors, and beginnings. The month of January was named after Janus, who had two faces – one looking forward and the other looking backward.”

“Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu.”

Sosok dewa Janus dalam mitologi Romawi

Dewa Janus sendiri adalah sesembahan kaum Pagan Romawi, dan pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yang sama bernama dewa Chronos. Kaum Pagan, atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir penyembah berhala, hingga kini biasa memasukkan budaya mereka ke dalam budaya kaum lainnya, sehingga terkadang tanpa sadar kita mengikuti mereka. Sejarah pelestarian budaya Pagan (penyembahan berhala) sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) di Yunani, dan dikawal oleh sebuah persaudaraan rahasia yang disebut sebagai Freemasons. Freemasons sendiri adalah kaum yang memiliki misi untuk melenyapkan ajaran para Nabi dari dunia ini.

Bulan Januari (bulannya Janus) juga ditetapkan setelah Desember dikarenakan Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari dimana kaum pagan penyembah Matahari merayakan ritual mereka saat musim dingin. Pertengahan Winter Soltice jatuh pada tanggal 25 Desember, dan inilah salah satu dari sekian banyak pengaruh Pagan pada budaya Kristen selain penggunaan lambang salib. Tanggal 1 Januari sendiri adalah seminggu setelah pertengahan Winter Soltice, yang juga termasuk dalam bagian ritual dan perayaan Winter Soltice dalam Paganisme.

Kaum Pagan sendiri biasa merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, dan bernyanyi bersama. Kaum Pagan di beberapa tempat di Eropa juga menandainya dengan memukul lonceng atau meniup terompet.

SANBENITO: Topi Kerucut Simbol Permutadan

Topi kerucut yang biasa dipakai masyarakat untuk merayakan hari ulang tahun dan perayaan tahun baru Masehi merupakan simbol permutadan oleh kaum muslim di Andalusia. Topi kerucut ini disebut SANBENITO, topi ini digunakan untuk menandai bahwa mereka telah murtad dibawah penindasan gereja Katholik Toma yang menerapkan inkuisi Spanyol. Saat itu terjadi pembantaian Muslim Andalusia yang dilakukan oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela yang dikenal dengan peristiwa Inkuisisi Spanyol. Inkuisisi dimulai semen¬jak tahun 1492 dikeluarkannya Dekrit Alhambra yang mengharuskan semua non-Kristen untuk keluar dari Spanyol atau me-meluk Kristen. Muslim yang memilih tetap tinggal dilumpuhkan secara ekonomi dan diisolasi dalam kampung-kampung tertu¬tup yang disebut Gheto untuk memudahkan pengawasan terhadap aktifitas Muslim.Tidak cukup hanya diisolasi, tapi Muslim Andalusia harus menggunakan pakaian khusus berupa rompi dan topi kerucut yang disebut Sanbenito. Ketika orang Barat menggunakan topi ini dalam pesta-pesta mereka, sejatinya mereka merayakan kemenangan atas jatuhnya Muslim Andalusia dan keberhasilan Inkuisi Spanyol. Masa demi masa berlalu topi kerucut ini kemudian menjadi budaya yang digunakan oleh umat Islam dalam merayakan tahun baru masehi dan ulang tahun.

Islam Menyikapi

Tahun baru Masehi adalah tahun baru yang tak ada anjuranya dalam Al qur’an dan As Sunnah untuk dirayakan. Telah diuraikan diatas bahwa semua budaya tahun baru Masehi merupakan budaya yang berasal dari orang kafir. Anehnya banyak orang islam yang mengadopsi untuk merayakan budaya yang berasal dari orang kafir ini, terlebih para pemuda dan remaja yang minim akan pengetahuan tentang asal usul tahun baru Masehi. Padahal jelas dalam Al qur’an ada larangan untuk tidak melakukan suatu amalan yang tidak ada dasar pengetahuan tentangnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu TIDAK MEMPUNYAI ILMU tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36)

Merayakan (ikut serta) dan meramaikan perayaan tahun baru Masehi merupakan bentuk kemaksiatan. Memakai atribut tahun baru masehi seperti topi kerucut dan lainnya merupakan bentuk menyerupai kaum-kaum kafir terdahulu, padahal Rosulullah melatang tindakan yang demikian.

“Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka ia termaksud didalamnya”

HR.Abu Dawud dan Ahmad

Manusia memang telah berubah, disaat perayaan tahun baru Masehi yang jelas-jelas budaya kaum kafir dan jelas hukumnya untuk dirayakan oleh kaum muslim malah sengaja merayakan, bahkan rela mengorbankan ribuan uang, waktu serta tenaga yang tidak ada manfaat justri akan membawa kemudhoratan. Berbeda ketika tahun baru Muharram, tahun barunya umat muslim dating, kebanyakan dari mereka adem ayem dalam menyambutnya, pdahal di bualan Muharram banyak peristiwa yang penuh dengan sejarah, diantaranya Nabi Adam bertobat kepada Allah, hari pertama Allah menciptakan alam, Nabi Isa diangkat ke langi, peristiwa terbelahnya laut Merahuntuk menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya, semua petistiwa itu terjadi dibulan Muharram.

Minimnya pengetahuan tentang tsaqofah islam dikalangan kaum muslim terutama bagi para pemuda dan remaja akan menjadi masalah besar karena lambat laun mereka akan meninggalkan aturan islam dan mengikuti budaya barat, dan tentu hal ini jika dibiarkan kaum muslim akan menjadi minoritas. Sebelum itu terjadi diperlukan strategi untuk menyelamatkan kaum muslim terutama para pemuda dan remaja yang kelak mereka akan memegang estafet kepemimpinan bangsa ini. Strategi yang paling ampuh adalah dengan menerapkan aturan islam secara kaffah, tak hanya diurusan ibadah tetapi disemua lini kehidupan.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

(TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/mencari-kebenaran-acara-tahun-baru.htm/feed 0
Wajibnya Mengkafirkan Orang Kafir Dan Musyrik http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/wajibnya-mengkafirkan-orang-kafir-dan-musyrik-2.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/wajibnya-mengkafirkan-orang-kafir-dan-musyrik-2.htm#comments Mon, 29 Dec 2014 01:13:56 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=91926 kristen yahudi

0leh: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.

Di antara prinsip ajaran Islam yaitu seorang muslim mesti meyakini kafirnya non muslim dan orang musyrik, tidak ragu akan kekafiran mereka, juga tidak sampai membenarkan ajaran mereka. Demikian dijelaskan oleh para ulama mengenai akidah yang mesti diyakini setiap muslim. Jika tidak meyakini hal tersebut, Islam seseorang jadi tidak sah.

Mengkafirkan Yahudi, Nashrani dan Orang Musyrik

Wajib bagi setiap muslim mengkafirkan orang yang dinyatakan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah telah menyatakan kafirnya orang musyrik yaitu para pengagung berhala dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan dalam ibadah. Begitu juga seorang muslim harus meyakini kafirnya orang yang tidak beriman pada para rasul atau tidak beriman pada sebagian Rasul -seperti kafirnya orang Nashrani yang tidak mau beriman pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sebagaimana dalam Al Qur’an pun telah ditegaskan akan kafirnya orang Yahudi, Nashrani, pengagung berhala dan orang musyrik secara umum. Seorang muslim harus meyakini kafirnya orang-orang tadi sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah menyatakan kafirnya mereka. Sebagai buktinya disampaikan dalam ayat-ayat berikut ini:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”.” (QS. Al Maidah: 17). Ayat ini menunjukkan seorang muslim harus meyakini kafirnya orang Nashrani.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.” (QS. Al Maidah: 24). Orang Yahudi dalam ayat ini dilaknat karena mereka telah mensifati Allah dengan sifat pelit sedangkan merekalah yang ghoni (berkecukupan atau kaya).[1]

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”.” (QS. Ali Imran: 181). Ayat-ayat di atas menceritakan tentang kafirnya ahli kitab, yaitu Yahudi dan Nashrani.

Kita pun bisa menghukumi kafirnya mereka karena mereka mengingkari kenabian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal kenabian tersebut telah tercatat dalam kitab mereka sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157) قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (158)

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. Katakanlah: “Wahai sekalian manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.” (QS. Al A’rof: 157-158). Dalam ayat ini disebutkan bahwa penyebutan Nabi Muhammad sudah ada dalam kitab taurat dan injil. Dan juga disebutkan “Wahai sekalian manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”, ayat ini adalah umum yaitu seruan untuk ahli kitab dan seluruh umat. Jadi siapa saja yang tidak mengimani keumuman risalah Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam walau ia meyakini Muhammad adalah utusan Allah, akan tetapi ia mengatakan bahwa kerasulan Muhammad hanya khusus untuk orang Arab dan tidak pada umat yang lainnya, maka ia kafir. Bagaimana jika ia tidak mengimani risalah Muhammad sama sekali? Tentu yang terakhir ini lebih parah kekafirannya.

Sama halnya, seorang muslim pun harus meyakini kafirnya orang musyrik. Karena syirik itu membatalkan persaksian dua kalimat syahadat dan membatalkan keislaman, juga merusak tauhid. Jadi, wajib bagi setiap muslim mengkafirkan orang musyrik terserah dari bangsa Arab atau non Arab yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah.

Satu ayat lagi yang menjadi bukti pernyataan kafir dari Allah pada orang Yahudi, Nashrani dan orang musyrik yaitu pada ayat,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Ayat ini secara tegas mengatakan mereka kafir.

Ragu akan Kafirnya Mereka

Begitu pula orang yang ragu akan kafirnya Yahudi, Nashrani dan orang musyrik, maka ia pun kafir. Contohnya seseorang yang mengatakan bahwa ia tidak mengetahui bahwa mereka tadi kafir ataukan tidak. Orang seperti ini dihukumi kafir karena terdapat keraguan dalam agamanya antara kafir dan iman, tidak bisa membedakan antara ini dan itu.

Yang Lebih Parah Jika Sampai Membenarkan Ajaran Mereka

Yang lebih parah dari itu jika sampai seseorang membenarkan ajaran agama lain atau ajaran orang musyrik. Begitu banyak saat ini orang-orang yang mengatasnamakan diri mereka Islam namun berprinsip seperti ini. Mereka sampai membenarkan dan mendukung ajaran Yahudi dan Nashrani. Inilah yang dikenal dengan “dakwah penyatuan agama”, yaitu menyatukan antara Islam, Yahudi dan Nashrani. Semua agama ini dianggap sama karena semuanya sama-sama beriman kepada Allah. Jadi, kata mereka jangan sampai dikafirkan. Mereka lebih parah dari orang yang sekedar ragu akan kafirnya agama lain. Contoh membenarkan agama non Islam dengan mengatakan, “Mereka sama-sama beriman pada Allah, sama-sama mengikuti para nabi. Yahudi mengikuti ajaran Musa, sedangkan Nashrani mengikuti ajaran ‘Isa.”

Bantahan: Sebenarnya mereka tidak mengikuti Musa, tidak pula mengikuti Isa. Jika mereka benar-benar mengikuti keduanya, tentu mereka akan beriman pada Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dalam Taurat orang Yahudi yang diturunkan pada Musa sudah termaktub nama Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (QS. Al A’rof: 157).

Begitu pula dalam Injil Nashrani yang diturunkan pada Nabi Isa ada juga penyebutan Muhammad. Bahkan Nabi Isa sampai tegas menyebutkannya sebagaimana kita dapat menyaksikan dalam ayat,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”.” (QS. Ash Shoff: 6). Siapa yang datang setelah Nabi Isa? Yaitu Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan dalam ayat ini disebut dengan nama Ahmad, di antara nama nabi kita yang mulia. Bahkan di akhir zaman, Isa akan turun dan akan mengikuti nabi kita Muhammad, akan berhukum dengan syari’at Islam dan bukan membawa ajaran yang baru.

Jadi, barangsiapa yang tidak mengimani Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan tidak mengikuti  ajaran beliau, ia kafir. Inilah akidah yang wajib diyakini setiap muslim. Jangan sampai ia keluar dari Islam sedangkan ia dalam keadaan tidak tahu. Seseorang bisa keluar dari Islam karena tidak mengkafirkan orang kafir atau bahkan sampai membenarkan ajaran mereka. Sehingga tidak pantas mereka non muslim dianggap sebagai saudara layaknya saudara seiman.

Yahudi dan Nashrani Tidak Akan Senang

Perlu dipahami bahwa Yahudi dan Nashrani tidak ingin kaum muslimin tetap eksis di atas agama mereka. Allah Ta’alaberfirman,

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah: 120).

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”.” (QS. Al Baqarah: 135).

Jadi orang Yahudi dan Nashrani menganggap bahwa jika seseorang tidak berada di atas ajaran mereka, maka mereka tidak mendapat petunjuk, alias ‘sesat’. Inilah yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an, kalam Allah. Tentu saja ini alasan kita menganggap mereka kafir. Bagaimana kita bisa ragu akan kekafiran mereka?

Sekali lagi, akidah seorang muslim tidaklah sah sampai ia mengimani kafirnya orang kafir. Ia harus bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, antara iman dan kekafiran, antara musyrik dan muwahhid (ahli tauhid).

Semoga Allah selalu menunjuki kita pada akidah yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq.

 

(*) Dikembangkan dari tulisan Syaikhuna -guru kami- Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan -hafizhohullah- dalam kitab “Durus fii Syarh Nawaqidhil Islam”, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahun 1425 H, hal. 78-83.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/wajibnya-mengkafirkan-orang-kafir-dan-musyrik-2.htm/feed 0