Eramuslim » Suara Pembaca http://www.eramuslim.com Media Islam Rujukan Fri, 20 Mar 2015 02:10:58 +0000 id-ID hourly 1 http://www.eramuslim.com/ Persepsi Warga AS dan Kebijakan Rezimnya Terhadap Islam http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/persepsi-warga-as-dan-kebijakan-rezimnya-terhadap-islam.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/persepsi-warga-as-dan-kebijakan-rezimnya-terhadap-islam.htm#comments Fri, 13 Mar 2015 02:10:53 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=98836 US-Bomber-Freemason-WallpaperOleh: Fadh Ahmad Arifan

Geliat Islam di Amerika

Secara historis, Islam telah menjadi bagian dari masyarakat Amerika setidaknya sejak awal tahun 1619-1800-an ketika sekitar 10 juta orang Afrika dibawa sebagai budak ke Amerika utara, 30% diantara mereka adalah Muslim. Dari data-data yang berhasil penulis kumpulkan, jumlah muslim Amerika tumbuh pesat pada 1970-an dan 1980-an. Lebih dari separuh muslim Amerika 56 persennya adalah perantauan dan sisanya lahir disana. Populasi umat Islam diperkirakan lebih dari 6 juta jiwa dan termasuk agama terbesar kedua setelah agama Kristen. Baik di seluruh dunia maupun di AS. Islam juga termasuk salah satu agama yang perkembangannya paling cepat di Amerika. Menurut Pew research center, sebanyak 65% muslim di Amerika terindentifikasi bermazhab Sunni dan hanya 11% yang bermazhab Syiah. Sedangkan 15% mengaku tidak berafiliasi terhadap mazhab apapun. Mereka mengaku hanya sebagai Muslim. Secara politik, sebanyak 70% Muslim di AS berafiliasi kepada partai Demokrat. Hanya 11% yang memilih partai Republik. Barangkali, dalam pandangan mereka Demokrat lebih “bersahabat” dengan Islam daripada Republik. Saat ini, Muslim di Amerika telah berperan dalam berbagai bidang, mulai dari dokter, dosen, ahli teknologi informatika, insinyur, pakar keuangan, militer, politisi, pegawai pemerintah, pengacara, wartawan, hingga sopir taksi.

Meski posisinya minoritas, Umat Islam disana sudah mendirikan lebih dari 2100-an masjid dan tempat ibadah di Amerika. Berdasarkan laporan terbaru dari pemerintah Amerika, sekitar 550 masjid baru didirikan antara tahun 2000 hinnga 2011. Berarti jumlah masjid di Amerika Serikat melonjak 45 persen. Di satu sisi, lonjakan jumlah masjid merupakan kabar yang menggembirakan, namun di balik itu semua, ternyata muslim di Amerika memiliki tantangan yakni kurang mencukupinya jumlah Imam sholat disana. Imam masjid Nouman Ali Khan mengatakan bahwa banyak masjid di AS yang kekurangan Imam. Mereka bahkan minta didatangkan Imam oleh lembaga Syariah yang membawahi keberadaan masjid di AS.  Dikatakan Ali, di negara-negara Islam, masjid dan imam yang didukung oleh negara. Di sini (AS), mereka mengelola seperti miliki “pribadi”. Misalnya, sebuah masjid terkelola dengan baik jika disitu banyak tinggal mayoritas muslim pendatang. Perlu diketahui, Masjid di AS punya tiga sistem penggajian bagi para Imam berdasarkan durasi bekerjanya. Jadi, imam di sana ada yang mendapat gaji secara  full time, paruh waktu  dan sisanya adalah para sukarelawan. Selain masjid, lebih dari 200 sekolah Islam telah didirikan untuk menampung ribuan siswa, dan belasan pelayanan sosial yang telah diselenggarakan untuk memberikan bantuan kepada perempuan, anak-anak, dan orang yang miskin baik di dalam rumah dan di luar rumah.

Persepsi Warga Amerika tentang Islam dan Muslim Amerika

Walaupun Umat Islam sudah menjadi bagian dari bangsa Amerika sejak awal dan hampir tidak ada museum terkemuka di negerinya Obama ini yang tidak memiliki koleksi barang seni Islam, tetap saja masyarakat umum tidak tahu banyak tentang Islam atau Muslim Amerika. Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR), didapati bahwa Warga Amerika cenderung memiliki pengetahuan yang minim tentang topik keislaman. Meskipun hampir 60% mereka tahu nama kitab suci umat Islam, hanya sepertiga responden yang sadar bahwa umat Islam juga menyembah Tuhan seperti halnya orang Kristen dan Yahudi lakukan. Hampir 10% mengatakan umat Islam menyembah “Dewa bulan”. Kebanyakan orang Amerika juga kurang informasi tentang tatangganya yang muslim dan peran mereka dalam masyarakat. Hampir dua pertiga responden mengatakan mereka tidak mendengar, melihat atau membaca tentang beberapa pemimpin muslim yang mengutuk aksi terorisme. Dan hampir 80% mengatakan sumber pengetahuan soal Islam berasal dari televisi. Survei ini memberikan kita bukti statistik bahwa satu dari lima warga Amerika memelihara sikap anti-Islam yang kuat. Meskipun 27% toleran tehadap umat Islam, hanya 6% yang memiliki kesan awal yang positif terhadap Islam.

 Pandangan mereka tentang Islam dan muslim Amerika sebenarnya sudah lebih baik pasca tragedi 11 September, kebanyakan orang Amerika tidak lagi menganggap Muslim Amerika sebagai pihak yang memusuhi kepentingan AS. Para kaula mudanya yang berumur di bawah 30 tahun punya pandangan positif soal muslim Amerika, umat Islam dan Islam. Adapun kalangan tua pada umumnya memiliki opini yang baik tentang muslim Amerika, tapi mereka menyatakan rasa skeptisisme terhadap umat Islam dan Islam. Namun perlu di ketahui bahwa walau jumlah penganut Islam bertambah dan organisasinya eksis di berbagai wilayah, tidak berarti pandangan publik terhadap Islam telah berubah. Menurut Alwi shihab, persepsi orang Amerika itu kebanyakan dipengaruhi 2 faktor yaitu, situasi politik internasional dan pemberitaan media massa yang tidak obyektif.

Kebijakan Pemerintah Amerika terhadap Islam

Berbicara soal bagaimana kebijakan pemerintah AS terhadap Islam, sebaiknya penulis bedakan antara pasca perang dingin, pasca tragedi WTC dan di era kepemimpinan Obama. Pertama, pasca perang dingin. Begitu komunisme dianggap runtuh, dengan tempo cepat diskusi-diskusi tentang ancaman Islam atau bahaya Islam bermunculan di media massa. Padahal ketika Komunisme masih ada, presiden-presiden AS seperti Reagan dan para pendahulunya tidak terlalu peduli terhadap Islam. Dengan pengecualian untuk kasus Iran termasuk pendukung Syiah-nya di Lebanon. Hal ini dikarenakan yang dilihat Reagan sebagai musuh-musuh sejatinya bukanlah Islam, tapi Komunisme. Reagan membariskan AS bersama negara Afghanistan, Saudi dan Pakistan untuk memerangi apa yang ia sebut “Kerajaan setan”. Hanya saja pada awal dekade 1990-an Ilmuwan politik berdarah yahudi, Samuel P. Huntington mendadak terkenal karena wacana “the clash of civilization” (benturan antar peradaban). Melalui bukunya Huntington mengarahkan Barat untuk memberikan perhatian khusus kepada Islam. Ia juga mengidentifikasi sembilan peradaban kontemporer, namun hanya dua peradaban yang menjadi favorit pembahasannya yakni Barat dan Islam. Tujuh peradaban dunia lain adalah peradaban Cina, Jepang, Amerika Latin, Afrika, Hindu, Budha, dan Kristen Ortodoks. Anehnya, Huntington bahkan tidak memasukkan Yahudi sebagai peradaban. Bagi Huntington, kebangkitan Islam adalah produk dari kemerosotan kekuatan dan citra barat. Jika hal ini dibiarkan terjadi, maka, cita-cita dan institusi barat pun akan segera sirna dan digantikan peradaban baru Islam. Fawwas Gergez berpendapat meski pemimpin-pemimpin AS secara resmi menolak hipotesis clash of civilizations, tapi kebijakan Amerika pasca perang dingin banyak dipengaruhi oleh ketakutan adanya “ancaman kaum Islamis”. Kebijakan Pemerintah AS yang paranoid terhadap kaum Islamis ini setidaknya dipengaruhi oleh 4 faktor, diantaranya: pandangan warga negaranya, para senator di kongres, media massa dan lobi-lobi Israel melalui AIPAC.

Pasca runtuhnya Komunis, AS dihadapkan pada kemenangan partai FIS di Aljazair. Terhadap FIS, Amerika yang saat itu dipimpin Bush senior  menunjukkan sikap pasifnya, menutup mata terhadap pembelokan proses demokrasi oleh militer Aljazair. Mereka menyetujui kudeta militer Aljazair dikarenakan AS lebih mementingkan stabilitas daripada bereksperimen dengan Demokrasi. Kenapa AS bersikap seperti itu? Hal ini dikarenakan pendekatan Bush senior kepada kaum Islamis yang terus diwarnai dengan ketakutan-ketakutan masa silam. Dicampurnya Islam dengan politik membuat para pembuat kebijakan di AS khawatir kalau sampai Islam politis menggunakan Islam sebagai ideologi yang bisa mengancam stabilitas keamanan kawasan yang dikuasai AS. Sekarang kita beralih ke eranya Clinton, Pemerintahan Bill Clinton yang dimulai pada awal tahun 1993 ditandai oleh semakin kerasnya kebijakan politik AS atas musuh-musuh politiknya di Timur Tengah. Menlu Warren Christoper, Dubes AS untuk PBB, Madeleine Albright (kemudian menjadi menlu pada periode kedua Presiden Clinton), dan Menlu pertahanan William cohen yang berdarah Yahudi, merupakan tiga pejabat tinggi AS yang sangat berpengaruh dalam meletakkan dasar kebijakan politik luar negeri AS saat itu. Tidak heran jika para pejabat berdarah yahudi berada dibalik pemerintahan Clinton dalam sanksi ekonomi terhadap Iran tahun 1995. Selain itu, pemerintah AS senantiasa menentang keras upaya negara-negara Islam untuk memperoleh senjata non-konvensional. Amerika juga menerapkan standar ganda dalam kasus Sudan misalnya, Amerika menjatuhkan sangsi ekonomi kepada pemerintah Omar Hassan al-Bashir di Sudan. Hal yang sama tidak dilakukan AS ketika Musharaf mengkudeta presiden Nawaz sharif.

Lanjut kita membahas kebijakan George W Bush. Setelah tragedi WTC 2001, dihadapan kongres Amerika Serikat tanggal 20 September 2001, Bush mengeluarkan ancaman kepada dunia internasional, “Either you with us or you are with the terrorist”. Bush juga mengatakan, “If you are not with us, you are against us”. Pernyataan yang lebih dikenal dengan Doktrin Bush ini jelas-jelas memaksa negara-negara lain di dunia menentukan sikap dan seolah telah membagi bumi menjadi dua belahan, yakni teroris dan bukan teroris. Tragedi WTC ini juga dipakai sebagai salah satu pembenaran untuk menginvasi Afghanistan. Atas nama pemberantasan terorisme dan menyebarkan demokrasi, AS tak cuma melancarkan invasi ke Afghanistan, melainkan juga ke Irak. Sayangnya, AS tidak jujur soal demokrasi dan kerap menerapkan standar ganda. Untuk mengantisipasi kemungkinan serangan-serangan teroris di masa depan, AS juga mengadopsi sebuah doktrin baru, yakni doktrin preemption. Dengan doktrin ini, AS secara sepihak memberikan hak kepada dirinya sendiri untuk mengambil tindakan terlebih dahulu, khususnya melalui tindakan militer unilateral, untuk menghancurkan apa yang dipersepsikannya sebagai kemungkinan ancaman teror terhadap kepentingan AS di mana saja. Boleh jadi, doktrin inilah yang memicu invasi Amerika ke Irak tahun 2003. Tragedi WTC akhirnya membuahkan kebijakan-kebijakan pemerintah AS yang memojokkan umat Islam. Para pendatang dari dunia Islam harus menunggu cukup lama untuk memproleh visa. Para mahasiswa dari dunia Islam yang kembali berlibur juga harus menunggu hasil pemeriksaan identitas oleh Departemen Luar Negeri AS sebelum mereka dapat melanjutkan kembali studinya disana. Bush melalui RAND Corporation juga meluncurkan kebijakan klasifikasi terhadap umat Islam berdasarkan kecendrungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi (Fundamentalis, Moderat, Tradisional dan Liberal). Setelah membagi-bagi umat Islam atas 4 kelompok itu, langkah berikutnya yang direkomendasi RAND Corporation adalah politik belah bambu. Mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain, berikutnya membentrokkan antar kelompok tersebut. Tak hanya itu saja, Sekurangnya di 24 negara muslim, AS secara diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan Islam moderat ala Amerika. Dari eranya George W. Bush, kita paham bahwa AS punya Kebijakan Hard power dan Soft power.

Terakhir kita bahas bagaimana Obama memperlakukan Islam. Dalam wawancara dengan jaringan televisi satelit Al-Arabiya yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab 26 Januari 2009, wawancara pertamanya sejak dilantik menjadi Presiden AS, Barack Obama mengatakan bahwa Amerika Serikat bukan musuh Islam. Dikatakan bahwa tugas Obama kepada negara-negara muslim adalah mengomunikasikan bahwa AS bukan musuh negara Islam. Hal ini ditegaskan kembali oleh Obama ketika mengunjungi Indonesia, bahwa pemerintah AS telah berusaha melakukan kerja sama dengan dunia muslim termasuk Indonesia melalui berbagai pendekatan yang dilakukan dengan tulus. Pendekatan seperti ini boleh disebut pendekatan soft power/non-militeristik. Pemikiran Obama hampir mirip dengan pemikiran Joseph Nye. Di mana soft power digambarkan sebagai kekuatan berdasarkan pengaruh-pengaruh yang tidak langsung, dan tidak kasat mata. Seperti budaya, nilai-nilai sosial, ideologi dan juga gagasan. Tapi perlu diingat, Se-soft power apapun Obama kepada umat Islam tetap saja dia tidak berdaya menghadapi polah tingkah Israel yang jelas-jelas mendzalimi saudara-saudara kita di Palestina. Sikap Obama terhadap Israel, tentu saja tidak berbeda dengan presiden-presiden AS pada periode sebelumnya. Jadi intinya, siapapun Presiden AS, akan selalu mendukung eksistensi Israel. Sebagian menduga Obama cuma cari muka dengan pendekatan soft power-nya ini, dan masih menerapkan politik standar ganda sebagaimana Presiden-presiden AS terdahulu. Wallahu’allam Bishowab.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/persepsi-warga-as-dan-kebijakan-rezimnya-terhadap-islam.htm/feed 0
Negara Membiayai Parpol, Mungkinkah? http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/negara-membiayai-parpol-mungkinkah.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/negara-membiayai-parpol-mungkinkah.htm#comments Tue, 10 Mar 2015 06:15:26 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=98643 demokrasiOleh Edy Mulyadi*

Bukan rahasia lagi bahwa demokrasi yang digulirkan sejak reformasi 1998 telah bermetamorfosis jadi demokrasi kirminal. Proses yang dilalui adalah demokrasi prosedural yang hanya sibuk pilih-memilih setiap lima tahunan. Lalu demokrasi transaksional yang penuh dengan money politic dan berbagai kecurangan. Kemudian terdampar menjadi demokrasi kriminal yang mengantarkan para pelakunya pada pelanggaran hukum.

Demokrasi yang sebelumnya digadang-gadang bakal memberi kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, ternyata justru membuat tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara di negeri ini makin babak-belur. Mahalnya biaya politik telah menyulap para politisi dan pejabat publik menjadi para bandit penjarah uang negara. Tidak berlebihan bila tiga pilar demokrasi di Indonesia telah terpeleset menjadi executhief, legislathief, dan yudicathief.

Barangkali itu sebabnya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo kemarin (9/3/2015) melemparkan wacana pembiayaan Parpol melalui APBN. Tidak tanggung-tanggung, angka yang disorongkannya adalah Rp1 triliuan untuk tiap partai. Logika yang diusungnya, dengan mendapat gelontoran dana superjumbo itu, Parpol tidak lagi ‘menugaskan’ kadernya di tiga pilar demokrasi tadi untuk menangguk dana. Dengan begitu, korupsi yang selama ini menggurita dari hulu-hilir bisa diredam, syukur-syukur dapat dikikis sampai titik terendah.

Gagasan Rizal Ramli

Keruan saja, wacana Tjahjo itu segera menyulut pro-kontra. Tapi yang menarik adalah, sebelum mantan Sekjen PDI-P itu melontarkan wacana pembiayaan parpol oleh APBN, Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli, sudah melontarkan gagasan serupa jauh sebelumnya. Paling tidak, ide itu disampaikannya saat menyampaikan pidato kebudayaan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), awal Mei 2011.

Pada kesempatan itu dia mengatakan, agar sistem demokrasi sungguh-sungguh bekerja untuk kepentingan rakyat dan tidak dibajak oleh kekuatan uang, maka perlu dilakukan reformasi pembiayaan partai politik. Caranya, Parpol dibayai negara. Di sejumlah negara maju seperti Jerman dan Australia, Parpol memang dibiayai negara.

Menurut dia, dengan dibiayai negara, Parpol tidak lagi sibuk mencari dana secara tidak sah dan melanggar hukum. Selanjutnya Parpol bisa berkonsentrasi untuk mencari kader-kader yang berkualitas dan berintegritas. Selama ini banyak dosen muda yang pandai dan berintegritas tetap ‘tenggelam’  di kampus, karena tidak punya dana untuk maju menjadi Caleg. Begitu juga dengan anak-anak muda yang indealis dan kritis, tetap harus puas berteriak-teriak dari pinggir jalan. Bagaimana mungkin mereka bisa menyediakan dana miliaran hingga triliunan rupiah untuk bisa duduk di kursi legislatif dan eksekutif?

Demokrasi kriminal seperi ini hanya melahirkan pemilik modal atau mereka yang punya bandar saja yang bisa melenggang jadi pejabat publik. Menjadi normal bila saat duduk, yang pertama mereka lakukan adalah bagaimana mengembalikan investasi dan utang dari para Bandar tadi. Maka korupsi besar-besaran yang dilakukan secara berjamaah pun terjadi dengan massif.

‘Hanya’ Rp5 triliun

Tapi saat itu seruan ekonom senior tersebut seperti desahan di padang sahara yang luas. Tak berbekas. Tak berbalas. Nyaris tidak ada elit partai dan pejabat publik yang menanggapinya. Semua sibuk dengan agenda masing-masing. Maksud saya, agenda membegal anggaran untuk melanggengkan kekuasaan dan menggendutkan pundi-pundi pribadi, juga partai.

Pada 2013, Rizal Ramli kembali mencetuskan usulan tersebut. Kembali dia menyerukan perlunya Parpol dibiayai APBN.  Dalam kalkulasinya, anggarannya ‘hanya’ sekitar Rp5 triliun/tahun dari total APBN yang saat itu Rp1.600an triliun. Jumlah ini jauh lebih kecil ketimbang penggarongan sistematis anggaran yang mereka lakukan melalui Badan Anggaran (Banggar) yang ditaksir jumlahnya tidak kurang dari Rp60 triliun setiap tahun. Ini hanya di tingkat pusat alias belum termasuk di DPRD kota/kabupaten dan provinsi.

Tentu saja, dia juga menyadari tingkah-polah kriminal yang boleh disebut telah menyusup ke tulang sumsum para elit kita. Pembiayaan parpol oleh negara memang tidak menjamin mereka tidak lagi korupsi. Besarnya dana untuk partai juga sangat mungkin diselewengkan untuk memenuhi syahwat kriminal para petinggi partai.

Itulah sebabnya ekonom senior tersebut juga menyertakan sejumlah persyaratan dan pengawasan yang ketat atas keuangan partai, plus sanksi tegas dan keras. Misalnya, harus ada audit keuangan oleh lembaga independen dan punya integritas. Lalu, parpol yang tetap juga menggasak uang rakyat, maka bisa dijatuhi sanksi hingga pembubaran. Para pelaku dan elitnya diganjar dengan hukuman pidana amat berat.

Kembali ke awal tulisan ini, isyarat apa yang bisa ditangkap dari wacana Tjahjo agar negara membiayai partai? Akankah ini bakal menjadi awal dimulainya babak baru demokrasi, demokrasi yang bebas dari transaksi dan kriminal?  Kita lihat saja nanti… (*)

 

Jakarta, 10 maret 2015

Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic & Democracy Studies (CEDeS)

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/negara-membiayai-parpol-mungkinkah.htm/feed 0
Ahok Versus DPRD http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/ahok-versus-dprd.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/ahok-versus-dprd.htm#comments Fri, 06 Mar 2015 01:05:20 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=98353 ahok234Oleh : Abu Nisa (Pemerhati Sosial Politik)

Pertikaian Ahok Versus DPRD mengindikasikan pekatnya conflict of
interest di antara pemegang kebijakan. Seperti halnya antara KPK
Versus Polri. Di satu sisi, DPRD diduga korup. Begitu juga dugaan
korupsi yang melibatkan Ahok. Namun media mainstream nampaknya
membangun opini hingga membuat Ahok di atas angin. Sedemikian rupa
membentuk Ahok bak pahlawan yang tegas dan keras melawan korupsi dan
para pelakunya. Pertikaian ini menjadi hal yang strategis mengingat
DKI Jakarta adalah barometer utama politik di Indonesia. Seperti
banyak ahli strategi menyatakan jika mau menguasai Indonesia maka
kuasai dulu Jakarta. Begitu kira-kira pokir (pokok pikiran) dalam
benak Ahok.

Yang dimaksud Ahok tentang dugaan korupsi atas DPRD adalah proyek
pengadaan UPS sejak tahun 2012 – 2015. Dari identifikasi ditemukan
bahwa tahun 2012 dan 2013 sudah diaudit oleh BPKP. Tahun 2014 dan 2015
sedang diaudit. Yang terakhir di tahun 2015 ada selisih antara yang
disepakati dari hasil paripurna dengan yang disampaikan pada
Kemendagri. Jumlahnya berkisar 12,1 trilliun Rp. Dugaan kasus korupsi
ini disinyalir melibatkan SKPD, beberapa anggota DPRD,
perusahaan-perusahaan pemenang tender dan sekolah-sekolah penerima
UPS. Ahok menggunakan 3 strategi dalam menguaknya. Pertama,
menggunakan dugaan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang). Kedua,
menghadirkan bukti diantaranya ajuan anggaran dari SKPD pendidikan.
Ketiga, mendorong Kejagung dan KPK untuk menginvestigasinya. Sekalipun
terjadi lempar tuduh di antara Ahok Vs DPRD terkait dengan kasus dana
siluman tersebut. Dan kasus dana siluman yang melibatkan 49 sekolah
dan puluhan perusahaan pemenang tender yang tersebar di DKI, Jawa
Tengah dan Jawa Timur itu didukung pula oleh Yusuf Kalla.

Sebaliknya DPRD DKI melalui pengacaranya berencana melaporkan Ahok.
Rasman Arif Nasution yang juga merupakan mantan pengacara Budi Gunawan
ini, kata M Taufik (Wakil Ketua DPRD DKI), akan mengawal empat hal.
Pertama, DPRD DKI akan melaporkan mengenai etika dan norma Ahok.
Kedua, DPRD DKI akan melaporkan soal dugaan penghinaan yang dilakukan
Ahok kepada anggota DPRD DKI, berkaitan dengan anggaran siluman.
Ketiga, adanya dugaan pemalsuan dokumen oleh Ahok. Hal ini mengacu
pada draf APBD bukan hasil pembahasan yang diserahkan ke Kemendagri.
Ketiga hal ini, akan dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri.  Keempat,
yang juga akan dilaporkan DPRD DKI, adalah soal dugaan suap yang
dilakukan kepada DPRD DKI sebesar Rp 12,7 triliun. Point terakhir ini
akan dilaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.  Proses aduan
kepada Ahok itu berjalan paralel dengan penyelidikan hak angket. Meski
sebelumnya banyak pakar hukum tata negara seperti Raffly Harun yang
mengatakan bahwa Ahok tidak bisa diberhentikan melalui hak angket. Di
tengah semakin tidak solidnya anggota DPRD DKI sejumlah 106 orang yang
menanda tanganinya. Dimana Nasdem dan PKB dari Koalisi Indonesia Hebat
sudah mencabut dukungannya. Selain itu menurut informasi terbatas,
juga berkembang banyaknya dugaan korupsi atas Ahok. Diantaranya, 1)
Bersama Jokowi disinyalir sebagai aktor utama dalam dugaan skandal
Trans Jakarta yang merugikan negara sekitar Rp.1,5 triliun. 2)
Berdasarkan hasil audit BPK mengungkap 86 temuan kasus yang berakibat
merugikan negara senilai Rp1,54 triliun dalam APBD DKI 2013. 3) BPK
juga menemukan realisasi belanja Pemprov DKI senilai Rp 59,23 miliar
yang tidak didukung dengan bukti pertanggungjawaban alias “dana
siluman”.

Konflik antara Ahok Vs DPRD nampaknya akan berakhir dengan kompromi
politik. Seperti halnya yang terjadi pada kasus KPK Vs Polri. Hal ini
nampak salah satunya sebagaimana yang disampaikan oleh Kemendagri
sebagai pihak yang banyak diharapkan bisa menyelesaikannya. Melalui
Direktur Jenderal Keuangan Daerah Kemendagri Reydonnyzard Moenek,
mengatakan : “Intinya, fasilitasi mediasi dan klarifikasi besok itu
akan membuat segala sesuatunya menjadi terang benderang. Karena ini
suami istri layaknya rumah tangga iya dong. Kami sebagai orangtua
wajib memfasilitasi baik dan benar.” Apa esensi dari perseteruan itu
sebenarnya ? Dan bagaimana ujung dari perseteruan itu pada akhirnya ?
Ini adalah pertanyaan publik yang bisa menguak urgensi pembahasan
APBD sebagai komponen utama pelayanan masyarakat DKI Jakarta. Paling
tidak ada beberapa hal yang bisa dipahami di balik kekisruhan politik
Ahok Vs DPRD antara lain : Pertama, konflik antara Ahok Vs DPRD
mengisyaratkan tarik ulur kepentingan siapa yang lebih bisa bermain
mengendalikan APBD. Tentu dengan menggunakan legitimasi perundang
undangan yang ada. Terlalu sulit untuk mengatakan seperti klaim Ahok
bahwa penyelamatan uang APBD  dari korupsi untuk kepentingan rakyat.
Sementara dirinya juga berada dalam pusaran dugaan korupsi dan
permainan suap seperti yang disangkakan kepadanya. Cuman kepiawaian
Ahok saja bisa menguasai medan birokrasi, opini media, legal aspek,
ekonomi dan politik. Dan menyimpan hidden agenda kebencian terhadap
Islam dan komunitas para pejuang pengusungnya. Kedua, konflik
kepentingan antara kekuatan politik utama itu terjadi sebagai
konsekuensi logis atas pilihan sistem politik yang menyandarkan
otoritas pembuat undang-undang pada manusia. Sehingga yang terjadi
adalah bahwa produk legislasi dalam bentuk perundang undangan hanya
menjadi legitimasi atau cap stempel untuk menggoalkan kepentingan para
elit politik beserta para penyokongnya. Dan setiap konflik kepentingan
itu pasti akan berujung pada kompromi politik untuk tidak saling
menjatuhkan atau bagi-bagi kue kekuasaan/aset kekuasaan. Atau ada
pihak yang dikorbankan untuk menutupi wajah kompromi politik di balik
konflik kepentingan tersebut. Ketiga, rakyat selalu menjadi korban
dari konflik kepentingan antara kekuatan politik tersebut. Selain
mengambangnya pembahasan APBD yang krusial dalam kerangka pembangunan
daerah untuk kepentingan rakyat akibat kisruh itu. Rakyat masih didera
dengan beban berat tekanan ekonomi, sosial dan politik akibat berbagai
kebijakan yang tidak pro rakyat. Belum lagi persoalan masif turun
temurun DKI Jakarta menyangkut kemacetan, banjir, dan infrastruktur
umum yang lain. Keempat, DPRD menyimpan track record dugaan beragam
kasus korupsi tetapi Ahok jauh berpotensi memiliki dugaan kasus yang
sama. Bahkan lebih berpotensi berbahaya karena kebijakannya menyimpan
hidden agenda yang didukung oleh media-media mainstream. Sebuah hidden
agenda untuk menguasai dan mengendalikan DKI Jakarta sebagai pintu
masuk mengendalikan Indonesia. Ingatlah akan firman Allah Subhanahu Wa
Ta`alla : “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir
menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa
berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali
karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari
mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan
hanya kepada Allah kembali(mu)”. (QS Ali Imran : 28). Wallahu a’lam
bis shawab.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/ahok-versus-dprd.htm/feed 0
Kenaikan Harga Beras , Jangan Telmi Dong Ah… http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/beras-oh-beras.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/beras-oh-beras.htm#comments Wed, 04 Mar 2015 01:27:17 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=98182 berasOleh : Edy Mulyadi*

Dalam kurun dua bulan terakhir harga beras melonjak-lonjak. Bayangkan, harga beras telah terbang dari Rp 7.000/kg jadi Rp 10.500-11.000/kg hanya dalam tempo dalam 8 pekan.Keruan saja, rakyat menjerit. Perut mereka makin melilit. Hati pun kian sakit.

Di bawah pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, rakyat benar-benar telah menjadi yatim piatu. Rakyat dipaksa menghadapi berbagai persoalan hidup sendiri. Di mana Pemerintah? Pemerintah sudah lama absen! Mereka sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Mereka adalah kumpulan penggenggam amanah yang autis. Ironis. Tragis!

Pertanyaan besar yang patut disorongkan kepada Jokowi-JK adalah, apa kerja kalian selama ini?

Khusus buat Jokowi, sebaiknya kamu, tuh, mulailah down to earth. Jangan lagi berpikir yang ‘besar-besar’ dan, sepertinya, gagah. Singkirkan dulu berbagai gagasan wah seperti poros maritim, tol laut, dan lainnya. Cobalah lihat, lebih dari 15,5 juta rakyat Indonesia yang miskin itu kini makin miskin karena harga beras yang tak terkendali.

Maaf, ya, saya memang sengaja mengkamu-kamukan Jokowi. Bukannya bermaksud tidak sopan kepada Presiden, lho. Ini sekadar mengingatkan kembali tagline yang dilekatkan para pendukungnya, “Jokowi adalah kita!”

Saya memaknai jargon itu benar-benar sebagai Jokowi adalah kita. Jokowi adalah teman, sahabat. Bahkan Jokowi adalah benar-benar kita. Jadi, ga apa-apa dong kalau berkamu-kamu dengan Jokowi.

Kebijakan sembrono

Kian menggunungnya derita 15,5 juta rakyat miskin bermula dari kebijakan gegabah Jokowi-JK yang menghapuskan program beras untuk rakyat miskin (Raskin). Kebijakan itu makin konyol karena bekas Walikota dan Gubernur DKI yang ‘desertir’ itu mengganti program Raskin dengan kartu bank. Idenya, kelak, rakyat miskin bisa membeli beras dengan kartu bank yang diberikan pemerintah.

Rencananya, electronic money alias e-money, begitu program pengganti Raskin itu disebut, baru akan digulirkan enam bulan ke depan. Kalau pun jadwalnya melar, paling lambat sudah menggelinding awal tahun 2016. Dengan e-money, pemerintah tidak lagi menyalurkan beras kepada rakyat miskin, tapi diganti dengan mentransfer dana ke rekening rakyat. Nah, uang elektronik itulah yang bisa digunakan untuk membeli beras.

Baru sampai di sini sebetulnya sudah mencuat betapa sembrononya mengganti Raskin dengan e-money. Di lapangan, terutama di daerah-daerah memangnya mudah membeli beras dengan ‘uang plastik’? Kalau pun harus menguangkan lewat ATM, apa mesinnya bisa ditemui di tiap pelosok desa? Kalau ternyata tidak ada, kemana rakyat miskin itu harus menguangkan e-money-nya? Singkat kata, bakal timbul serenceng keribetan baru yang membelit rakyat miskin tadi.

Penghapusan program Raskin dan mengganti dengan e-money inilah yang dikritik sejumlah kalangan. Kepala Badan Urusan Logisitik (Bulog) era Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli, adalah salah satunya. Menurut dia, Raskin selama ini sangat efektif membantu rakyat miskin. Pasalnya, dibagikan langsung oleh kepala-kepala Dukuh kepada keluarga miskin dan jompo.

Di sisi lain, ekonom senior yang dikenal bertangan dingin menyelesaikan banyak problem ekonomi ini mengakui, memang terjadi manipulasi Raskin di beberapa kota. Meski begitu, lanjut dia, tidak berarti kelemahan pelaksanaan di kota-kota besar tersebut membuat Raskin dihapus. Seharusnya, programnya diperbaiki, bukan malah menghapus program Raskin.

Bisa jadi tidak banyak orang tahu, RR, begitu tokoh nasional ini biasa disapa, adalah orang di balik cikal bakal program Raskin ketika masih menjadi Kepala Bulog. Tapi kegeramannya bukan semata-mata karena Raskin dihapus Joko Widodo-JK.

“Penghapusan Raskin adalah kebijakan keblinger karena 15,5 juta keluarga miskin tidak memiliki daya beli membeli beras pada harga pasar. Kondisi ini akan membuat keluarga miskin betul-betul diabaikan dan dibiarkan lapar. Kejam!” ujarnya masygul.

Hatinya tidak untuk rakyat

Sejatinya, penghapusan program Raskin bukan cuma menunjukkan Jokowi-JK sembrono. Tapi juga sekaligus membuktikan bahwa hati mereka benar-benar tidak untuk rakyat. Padahal, berpihak kepada rakyat inilah jualan yang terus-menerus disemburkan pasangan itu dan para pendukungnya selama kampanye Capres-Cawapres.

Penghapusan Raskin akan menggiring beras sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar. Inilah jiwa dari mazhab neolib. Ujung-ujungnya, bukan mustahil Indonesia akan semakin tinggi tingkat ketergantungannya terhadap beras impor. Selanjutnya gampang ditebak siapa saja yang bakal menangguk untung besar. Mereka itulah segelintir importir yang membentuk kartel beras. Di kalangan pemain beras, konon, nama dengan inisial BH sudah begitu kondang sebagai raja kartel komoditas startegis ini.

Padahal, selama ini Raskin bukanlah sekadar program menjual beras kepada rakyat miskin dengan harga murah. Ia juga sekaligus menjadi bagian dari instrumen pengendali harga di tingkat petani, khususnya saat panen raya. Bukan hal aneh bila harga gabah dan beras terjun bebas saat panen. Dengan program Raskin, pemerintah melalui Bulog berkewajiban membeli beras petani sampai 3,5 juta sampai 4 juta ton. Itulah sebabnya tiap tahun pemerintah menganggarkan dana hingga Rp18 triliun untuk keperluan ini.

Selain itu, program Raskin juga sekaligus menjadi alat ampuh untuk menjadi penyangga stok beras pemerintah yang 1 juta-2 juta ton. Jumlah ini kudu tersedia setiap saat. Saat cadangan cukup, spekulan tidak berani macam-macam memainkan harga. Begitu harga sedikit naik dengan tidak wajar, pemerintah bisa langsung membanjiri pasar.

Nah, sejumlah program yang prorakyat tadi bakal menguap seiring dihapuskannya program Raskin. Saya benar-benar heran, mosok sih Jokowi yang gemar blusukan itu, yang katanya merakyat itu, tidak paham soal-soal mendasar seperti ini? Masak sih Jokowi yang katanya merakyat itu tidak bisa menangkap problem dan kesulitan yang dialami rakyat kecilnya? Kalau soal para menterinya, saya memang sudah sejak awal tidak berharap banyak. Mereka adalah jajaran pembantu Presiden dengan mutu jauh di bawah banderol. Anak-anak muda menyebutnya KW-3!

Liarnya harga beras sekali lagi menjadi bukti bahwa, Jokowi yang dipersepsikan merakyat itu, ternyata malah gemar menyengsarakan rakyat. Hanya dalam tempo kurang dari enam bulan sejak terpilih menjadi Presiden, dia justru banyak menggelontorkan kebijakan yang mencekik rakyatnya sendiri.

Menaikkan tarif dasar listrik (TDL), menaikkan harga BBM jenis premium ketika harga minyak dunia terjun, menaikkan harga gas LPG 3 kg, menaikkan tarif kereta api hingga 400%, dan lainnya. Dan, yang teranyar, Jokowi beserta para menterinya sama sekali ngga engeh harga beras sudah terbang lebih dari 30%.

Mestinya Jokowi paham benar, bahwa beras bukanlah perkara sepele bagi negeri dengan penduduk lebih dari 256 juta jiwa ini. Begitu vitalnya urusan beras, hingga ketika Soeharto bekuasa, dia benar-benar menjaga ketersediaan beras dengan harga terjangkau rakyat kecil.

Bagi Penguasa Orde Baru itu, beras bisa membahayakan kesinambungan kekuasaannya. Sikap serupa juga ditunjukkan sejumlah penguasa di negara-negara maju, seperti Jepang. Itulah sebabnya Pak Harto berupaya dengan segala cara, agar negeri ini kebutuhan beras bisa dipasok dari dalam negeri. Upayanya itu akhirnya membuahkan hasil menggembirakan. Food Agriculture Organization (FAO) mengganjar Indonesia dengan penghargaan sebagai negara yang berhasil berswasembada beras pada 1986.

Beras memang bukan soal remeh-temeh. Saat Rizal Ramli menjadi Kepala Bulog, dia punya semacam early alert system. Pergerakan harga beras terus dipantau, terutama di beberapa kota yang dianggap penting. Seperti memonitor harga saham-lah. Jika harga naik di atas Rp50 saja per hari, warna kuning muncul. Kalau naiknya sampai Rp100/hari, maka ini sudah masuk warna merah. Pergerakan harga itulah yang dipantau dan dianilisis untuk diambil tindakan secara cepat dan tepat.

Sayangnya, pemerintahan Jokowi sama sekali tidak menyadari soal ini. Perlu waktu hingga 8 pekan untuk membuat mereka engeh, itu pun baru terjadi setelah media meributkannya dalam pemberitaan mereka.

Pak Presiden, kamu tuh selama ini ngapain aja, sih? Lha mbok kalo telmi alias telat mikir ya jangan kelewatan dong, ah!

 

Jakarta, 3 Maret 2015

*Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

edymulyadilagi@gmail.com

 

 

 

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/beras-oh-beras.htm/feed 0
Dominasi Asing Melalui Perangkap Hutang Luar Negeri http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/dominasi-asing-melalui-perangkap-hutang-luar-negeri.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/dominasi-asing-melalui-perangkap-hutang-luar-negeri.htm#comments Tue, 03 Mar 2015 04:16:51 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=98133 hutangUmar Syarifudin (Lajnah Siyasiyah HTI Kota Kediri)

Dalam tiga abad terakhir, kapitalisme telah mendominasi pembangunan internasional dan memonopoli perkembangan ekonomi serta memaksa diterapkannya kebijakan-kebijakannya pada dunia. IMF dan Bank Dunia memproklamirkan industrialisasi dan ide ekonomi liberal akan mentransformasi ekonomi tradisional dan masyarakat. Pengaruh seperti ini akan menetapkan negara-negara miskin dalam jalur perkembangan sejalan dengan pengalaman negara-negara maju semasa revolusi industri dulu.

Sebuah fakta, bahwa hutang Luar Negeri (LN) bukanlah solusi tergambar pada kenyataan bahwa 41 negara miskin yang paling banyak berhutang, hutang luar negerinya meningkat dari 55 milyar dolar pada tahun 1980 menjadi 215 milyar dolar pada tahun 1995. Saat ini pemerintahan negara-negara Afrika menanggung utang sebesar 350 milyar dolar sehingga mereka memotong 2/5 penghasilan mereka untuk bayar utang. Akibatnya pemerintah mengurangi pembiayaan jasa/pelayan negara terhadap rakyatnya. Atas dasar itulah, Jubilee 2000 mengatakan bahwa di 40 negara paling miskin setiap 1 menit 13 anak mati. The Ecologist Report, Globalizing Poverty, 2000.

Privatisasi air merupakan kegemaran Bank Dunia dan IMF. Sebuah pemeriksaan acak atas dana-dana IMF di 40 negara selama tahun 2000, mendapatkan bahwa 12 negara peminjam yang persyaratan peminjamannya memuat klausul kebijakan kenaikan harga jasa air dan privatisasi air. Dampak kebijakan IMF dan Bank Dunia memperivatisasi air dapat dilihat pada KwaZulu-Natal, Afrika Selatan, di mana orang-orang miskin yang tidak mampu membayar air bersih terpaksa menggunakan air sungai yang tercemar sehingga menyebabkan wabah kolera. Globalization Chalengge Initiative, Water Privatization Fact Sheet, 2001.

Ketika kota terbesar ke 3 di Bolivia dipaksa melakukan privatisasi air oleh IMF dan Bank Dunia, tingkat kenaikan harga air bagi pelanggan paling miskin mencapai 3 kali lipat. Negara dengan upah minimun kurang dari 60 dolar per bulan tersebut, banyak pemakai air dengan biaya rekening perbulannya mencapai 20 dolar. Warga di kota tersebut yang telah membangun sumur-sumur keluarga dan sistem irigasi selama berpuluh-puluh tahun lalu, tiba-tiba harus membayar hak atas penggunaan air tersebut. International Forum on Globalization, IF Bulletin, 2001.

Indonesia dalam Jerat Hutang Luar Negeri

Indonesia sebagai negara yang baru merdeka pasca Perang Dunia II, tentu juga tidak mau ketinggalan untuk mensukseskan pembangunan ekonominya. Untuk mewujudkan pembangunan ekonominya tersebut, Indonesia juga telah menetapkan tujuan dan target-target pembangunannya. Tujuan pembangunan ekonomi Indonesia adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang dapat diukur antara lain dengan tingkat pendapatan riil per kapita yang tinggi.

Setelah 30 tahun membangun dengan kucuran dana hutang luar negeri dan investasi modal asing, ternyata ekonomi pemerintahan Orba harus berakhir dengan amat menyedihkan. Fundamental ekonomi Indonesia sama sekali tidak mampu menghadapi terpaan badai krisis ekonomi yang melanda Asia tenggara pada tahun 1997. Solusi yang diambil pemerintah Indonesia ternyata tidak bergeser dari pola sebelumnya. Pemerintah Indonesia tetap mengundang IMF sebagai “dewa” penyelamatnya. Kesepakatan antara IMF dan pemerintah Indonesia terjadi pada tanggal 31 Oktober 1997 dengan ditandatanganinya Letter of Intent (LOI) pertama, yang berisikan perjanjian 3 tahun dengan kucuran utang sebesar US$ 7,3 milyar.

Apa yang dihasilkan dari bantuan penyelamatan IMF ini? Kehadiran IMF ternyata tidak menyelesaikan masalah, namun justru telah mengakibatkan bertambah parahnya perekonomian Indonesia. Pengangguran terus meningkat, nilai tukar rupiah terus melorot tajam. Pada akhir tahun 1998 lebih dari 50% penduduk Indonesia harus hidup dibawah garis kemiskinan.

Salah satu resep kebijakan IMF untuk menutup 16 bank, telah membuat masyarakat panik dan menarik uangnya di bank-bank nasional dan sebagian dari bank asing. Untuk mengatasi goncangan ini, IMF kembali membuat rekomendasi kebijakan yang mengharuskan pemerintah mengucurkan dana trilyunan rupiah untuk memperbaiki kecukupan modal pada bank-bank yang bermasalah tersebut melalui obligasi rekap. Setelah itu, bank tersebut harus segera dijual kepada pihak swasta. Akibatnya, pemerintah juga terbebani kewajiban untuk membayar bunga dari obligasi rekap tersebut. Karena IMF memberi batasan waktu untuk penjualan bank-bank tersebut, akibatnya pemerintah harus menjual murah harga bank-bank tersebut. Akhirnya, para pembeli domestik maupun asing bisa menikmati bunga dari obligasi rekap yang lebih besar jumlahnya dari pada harga bank itu sendiri. Obligasi pemerintah yang melekat pada bank-bank bermasalah seluruhnya sebesar Rp. 430 triliun, dengan kewajiban membayar bunga Rp. 600 triliun yang dibebankan kepada pemerintah. Jika pembayaran cicilan hutang pemerintah berjalan tertib, diperkirakan hutang obligasi rekap tersebut baru akan lunas pada tahun 2033.

Hutang luar negeri di negeri ini pada titik kritis. Sebagaimana yang diungkapkan Salamuddin Daeng, peneliti senior The Indonesia for Global Justice (IGJ) Total hutang luar negeri Indonesia dan swasta hingga tahun 2015 sudah mencapai Rp 3534 triliun. Baru-baru ini BI memborong obligasi yang ada di pasar untuk stabilkan rupiah. Tindakan ini sama dengan menumpuk beban hutang pemerintah melalui otoritas moneter. Sementara swasta dibiarkan menumpuk hutang ke luar negeri. Padahal, hutang luar negeri swasta dan Indonesia telah berada pada tingkat yang membahayakan.

Jumlah hutang sebesar itu tentu saja sudah sangat membebani rakyat Indonesia. Jika jumlah hutang tersebut harus dibagi rata dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai sekitar 250 juta orang, maka setiap kepala penduduk Indonesia akan menanggung hutang sebesar 14 juta rupiah. Apabila ada sebuah keluarga yang memiliki 3 anak, maka keluarga tersebut akan memiliki tanggungan hutang sebesar 70 juta rupiah.

Untuk membayar hutang tersebut, pemerintah Indonesia hanya dapat membebankan cicilannya kepada APBN, yang sumber pemasukannya sebagian besar (sekitar 80%) adalah berasal dari pajak yang ditarik dari kantung rakyat. Akibatnya, APBN akan banyak terkuras untuk membayar hutang pokok ditambah dengan bunganya. Untuk APBN tahun 2012 yang lalu, pemerintah harus membayar cicilan hutangnya sebesar Rp. 170 triliun, yang terdiri dari Rp. 46 triliun untuk membayar hutang pokoknya dan Rp. 124 triliun untuk membayar bunganya.

Akibat dari besarnya cicilan hutang tersebut, beban pajak yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia tentu saja akan semakin berat. Sementara itu, melimpahnya sumber daya alam yang ada di Indonesia sudah tidak dapat dijadikan lagi sebagai andalan untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia. Sebab, SDA yang ada di Indonesia sudah banyak dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing. Hal itu disebabkan kerena telah dibuka selebar-lebarnya kran investasi modal asing di Indonesia, yang telah dimulai dari sejak jaman Orba sampai masa pemerintahan sekarang ini. Dari sektor Migas saja, penguasaan asing sudah mencapai 86 %, sedangkan Pertamina penguasaannya hanya tinggal 16 % saja. Di sisi lain, besarnya beban hutang tersebut juga akan menyebabkan anggaran APBN tidak banyak yang bisa dialokasikan untuk pembiayaan pembangunan. Akibatnya, kemiskinan di Indonesia tidak semakin berkurang, tetapi akan semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Pemberian utang adalah sebuah proses agar negara peminjam tetap miskin, tergantung dan terjerat utang yang makin bertumpuk-tumpuk dari waktu ke waktu. Selanjutnya, utang luar negeri yang diberikan pada dasarnya merupakan senjata politik (as silah as siyasi) negara-negara kapitalis kafir Barat kepada negara-negara lain, yang kebanyakan negeri-negeri muslim, untuk memaksakan kebijakan politik, ekonomi, terhadap kaum muslimin. Tujuan mereka memberi utang bukanlah untuk membantu negara lain, melainkan untuk kemaslahatan, keuntungan, dan eksistensi mereka sendiri. Mereka menjadikan negara-negara pengutang sebagai alat sekaligus ajang untuk mencapai kepentingan mereka.

Dokumen-dokumen resmi AS telah mengungkapkan bahwa tujuan bantuan luar negeri AS adalah untuk mengamankan kepentingan AS itu sendiri dan mengamankan kepentingan “Dunia Bebas” (negara-negara kapitalis). Pada akhir tahun 1962 dan awal tahun 1963 di AS muncul debat publik seputar bantuan luar negeri AS bidang ekonomi dan militer. Maka kemudian Kennedy membentuk sebuah komisi beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat, yang diketuai oleh Jenderal Lucas Clay, untuk mengkaji masalah ini. Pada minggu terakhir Maret 1963, komisi itu mengeluarkan dokumen hasil kajiannya. Di antara yang termaktub di sana, bahwa tujuan pemberian bantuan luar negeri dan standar untuk memberikan bantuan adalah “keamanan bangsa Amerika Serikat dan keamanan serta keselamatan ‘Dunia Bebas’.” Inilah standar umum untuk seluruh bantuan ekonomi ataupun militer.

Jadi, tujuan pemberian bantuan luar negeri tersebut sebenarnya bukan untuk membantu negara-negara yang terbelakang, melainkan untuk menjaga keamanan Amerika dan negara-negara kapitalis lainnya, atau dengan kata lain, tujuannya adalah menjadikan negara-negara penerima bantuan tunduk di bawah dominasi AS untuk kemudian dijadikan sapi perahan AS dan alat untuk membela kepentingan AS dan negara-negara Barat lainnya

Akar masalah

Kalau kita telaah lebih mendalam, ideologi demokrasi dengan kapitalisme sebagai basis kekuatan yang dikembangkan dunia terutama Amerika, Eropa dan negara-negara maju, punya pengaruh yang kuat terhadap hutang ini. Karena dalam alam demokasi, hutang telah menempati peran penting melalui mekanisme ekonomi kapitalis. Dalam konsep kapitalisme yang sudah kita pelajari dari mulai kita sekolah sampai dengan tingkat praktisi, sudah diarahkan dan dibenamkan pemikiran kita bahwa hutang mengambil peranan yang penting dari mulai penempatan modal awal yang akan digunakan untuk memulai suatu usaha sampai dengan ekspansi bisnis yang dilakukan oleh individu maupun perusahaan. Hingga tertanam bahwa ini sudah menjadi jalan yang lazim dalam kehidupan sekarang ini. Padahal di dalamnya mengandung riba karena adanya perhitungan time value of money. Kita bisa lihat hal ini dalam skala kecil industri menengah, multinasional, baik usaha biasa maupun di perusahaan di bursa hingga pemerintah.

Konsep tersebut diterapkan dengan asumsi bahwa baik individu mau pun perusahaan tidak akan memiliki cukup uang untuk melakukan rencana ekspansi/perluasan usaha, sehingga sudah menjadi hal yang lumrah untuk mencari pinjaman. Bukannya menunggu dari akumulasi keuntungan. Kalau kita telaah kiprah perbankan dalam 300 tahun terakhir, dimana sektor perbankan telah berkembang sampai memainkan peran kunci dalam kehidupan ekonomi, karena perbankan menjadi alat untuk mengumpulkan dana dari masyarakat kemudian diberdayagunakan dalam proses pinjam meminjang atau utang piutang.

Model pembangunan yang diterapkan di Indonesia, sesungguhnya lebih banyak membebek pada arahan yang telah diberikan oleh Barat. Dengan model pembangunan ekonomi seperti itu, jutru telah menyebabkan Indonesia semakin terjebak dalam perangkap “penjajahan” Barat. Model pembangunan Indonesia tidak pernah membuat Bangsa Indonesia menjadi negara yang madiri, kuat dan berdaulat secara ekonomi. Sebaliknya, justru telah menjadikan Indonesia menjadi negara yang semakin bergantung pada Barat, baik dalam bidang teknologi maupun dalam bidang ekonomi.

Solusi Riil

Utang yang terkait dengan individu hukumnya mubah, untuk itu setiap individu boleh berutang kepada siapa saja yang dikehendaki, berapa yang diinginkan baik kepada sesama rakyat maupun kepada orang asing. seperti yang diungkapkan dari hadist :

Dari Rafi’ berkata, Nabi saw meminjam lembu muda, kemudian Nabi saw menerima unta yang bagus, lalu beliau menyuruhku melunasi utang lembu mudanya kepada orang itu. Aku berkata “Aku tidak mendapati pada unta itu selain unta yang ke empat kakinya bagus-bagus. Beliau bersabda berikan saja ia kepadanya, sebab sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling baik ketika melunasi utangnnya.

Hanya saja, apabila utang atau bantuan-bantuan tersebut membawa bahaya maka utang tersebut diharamkan. Hal ini mengacu kepada kaidah :

Apabila terjadi bahaya(kerusakan) akibat bagian diantaranya satuan-satuan yang mubah, maka satuan itu saja yang dilarang.

Adapun berutangnya negara, maka hal itu seharusnya tidak perlu dilakukan, kecuali untuk perkara-perkara yang urgen dan jika ditangguhkan dikhawatirkan terjadi kerusakan atau kebinasaan, maka ketika itu negara dapat berutang, kemudian orang-orang ditarik pajak dipakai untuk melunasinya. Atau kalau memungkinkan digunakan dari pendapatan negara yang lain. Status negara berutang itu mubah dalam satu keadaan saja, yaitu apabila di baitul mal tidak ada harta, dan kepentingan yang mengharuskan negara hendak berutang adalah termasuk perkara yang menjadi tanggung jawab kaum muslimin, dan apabila tertunda/ditunda dapat menimbulkan kerusakan. Inilah dibolehkannya negara berutang, sedangkan untuk kepentingan lainnya mutlak negara tidak boleh berutang.

Untuk proyek infrastruktur, tidak termasuk perkara yang menjadi tanggung jawab kaum muslimin, yaitu termasuk tanggung jawab negara. Oleh karena itu negara tidak boleh berutang demi untuk kepentingan pembangunan proyek baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Sedangkan Untuk pengelolaan dan penanaman modal asing diseluruh negara tidak dibolehkan termasuk larangan memberikan monopoli kepada pihak asing. Larangan seluruh kegiatan tersebut adalah karena aktivitas tersebut terkait langsung atau dapat menghantarkan pada perbuatan yang haram. Baik itu penanaman modal asing melalui bursa saham adalah haram sebab kegiatan dibursa saham adalah haram. Ataupun utang untuk investasi pembangunan. Karena pengelolaan modal dengan jalan utang dari pihak asing juga dilarang sebab terkait dengan aktivitas riba yang diharamkan.

Dengan demikian, utang luar negeri dengan segala bentuknya harus ditolak. Kita tidak lagi berpikir bisakah kita keluar dari jeratan utang atau tidak.

Yang penting dipikirkan justru harus ada upaya riil untuk menghentikan utang luar negeri yang eksploitatif itu.

Pertama, kesadaran akan bahaya utang luar negeri, bahwa utang yang dikucurkan negara-negara kapitalis akan berujung pada kesengsaraan. Selama ini, salah satu penghambat besar untuk keluar dari jerat utang adalah pemahaman yang salah tentang utang luar negeri. Utang luar negeri dianggap sebagai sumber pendapatan, dan oleh karenanya dimasukkan dalam pos pendapatan Negara. Kucuran utang dianggap sebagai bentuk kepercayaan luar negeri terhadap pemerintah. Sehingga, semakin banyak utang yang dikucurkan, semakin besar pula kepercayaan luar negeri terhadap pemerintahan di sini. Demikian juga pemahaman bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan kecuali harus dengan utang luar negeri.

Kedua, keinginan dan tekad kuat untuk mandiri harus ditancapkan sehingga memunculkan ide-ide kreatif yang dapat menyelesaikan berbagai problem kehidupan, termasuk problem ekonomi. Sebaliknya mentalitas ketergantungan pada luar negeri harus dikikis habis. Sejumlah program yang dicanangkan negara donor berpotensi menambah jumlah kaum miskin.

Program-program yang diajukan di bidang politik dan ekonomi antara lain : (1) standarisasi Gaji (juga upah buruh) sehingga kenaikannya dibatasi dapat diatur dengan undang-undang. Padahal ini akan kontradiktif dengan daya beli, karena situasi yang mengakibatkan harga membumbung sementara gaji mengalami pelambatan; (2) kebijakan di bidang kesehatan, dimana subsidi dikurangi yang mengakibatkan tarif layanan kesehatan RS milik pemerintah melonjak. Dan mengeluarkan kebijakan kartu miskin mampu menyelesaikan masalah, padahal masalah sebenarnya ada pada kum marginal, dimana tidak termasuk golongan masyarakat miskin; (3)Adanya Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, yang mengakibatkan biaya pendidikan Perguruan Tinggi makin mahal dan makin tidak terjangka masyarakat miskin dan marginal; (4) Subsidi BBM harus dihilangkan; (5) Merosotnya nilai mata uang. Kondisi ini akan menyebabkan ekspor besar-besaran dan menurunnya konsumsi dalam negeri. Pasar dalam negeri akan mengalami kelangkaan barang akibat ekspor berlebihan. Langkanya barang, jelas dapat melambungkan harga; (6) Liberalisasi ekonomi terhadap pihak luar negeri. Kebijakan ini akan memberi kesempatan kepada perusahaan-perusahaan multinasional untuk melebarkan sayapnya di sini. Akibatnya, bukan saja keuntungan besar yang mengalir ke luar negeri, namun juga dapat mematikan perusahaan lokal. Tentu saja hal ini akan dapat memancing kerusuhan sosial yang ujung-ujungnya akan membuat rakyat menderita. Apalagi dalam penerapan kebijakan pemerintah ini, tak jarang dibarengi dengan politik represif atau kekuatan militer yang kejam (Rudolf H. Strahm, Kemiskinan Dunia Ketiga: Menelaah Kegagalan Pembangunan di Negara Berkembang, hal. 99).

Ketiga, menekan segala bentuk pemborosan negara, baik oleh korupsi maupun anggaran yang memperkaya pribadi pejabat, yang bisa menyebabkan defisit anggaran. Proyek-proyek pembangunan ekonomi yang tidak strategis dalam jangka panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia, dan semakin menimbulkan kesenjangan sosial harus dihentikan.

Keempat, melakukan pengembangan dan pembangunan kemandirian dan ketahanan pangan. Dengan membangun sector pertanian khususnya produk-produk pertanian seperti beras, kacang, kedelai, tebu, kelapa sawit, peternakan dan perikanan yang masuk sembako. Dan memberdayakan lahan maupun barang milik negara dan umum (kaum muslimin) seperti laut, gunung, hutan, pantai, sungai, danau, pertambangan, emas, minyak, timah, tembaga, nikel, gas alam, batu bara dll.

Kelima, mengatur ekspor dan impor yang akan memperkuat ekonomi dalam negeri dengan memutuskan import atas barang-barang luar negeri yang diproduksi di dalam negeri dan membatasi import dalam bentuk bahan mentah atau bahan baku yang diperlukan untuk industri dasar dan industri berat yang sarat dengan teknologi tinggi. Serta memperbesar ekspor untuk barang-barang yang bernilai ekonomi tinggi, dengan catatan tidak mengganggu kebutuhan dalam negeri dan tidak memperkuat ekonomi dan eksistensi negara-negara Barat Imperialis.

 

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/dominasi-asing-melalui-perangkap-hutang-luar-negeri.htm/feed 0
Dahsyatnya Ancaman Siksa Neraka bagi Pembela Aliran Sesat http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/dahsyatnya-ancaman-siksa-neraka-bagi-pembela-aliran-sesat.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/dahsyatnya-ancaman-siksa-neraka-bagi-pembela-aliran-sesat.htm#comments Sun, 01 Mar 2015 04:21:19 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=97951 syiah ijabOleh Hartono Ahmad Jaiz
Di zaman ini, perkataan ngawur dari para pembela aliran sesat seperti Ahmadiyah (pengikut nabi palsu) ataupun aliran sesat lainnya seperti syiah telah mencengangkan Umat Islam karena sampai ke taraf meragukan Al-Qur’an, bahkan jelas-jelas bertentangan dengan firman Allah Ta’ala.

Al-Qur’an menyatakan bahwa Nabi Muhammad (lahir di Mekkah20 April 570 – meninggal di Madinah8 Juni 632) itu khataman nabiyyiin (nabi terakhir), tapi Ahmadiyah mengangkat Mirza Ghulam Ahmad (QadianPunjabIndia, 1835 – meninggal 26 Mei 1908) sebagai nabi.

Lebih dari itu, Al-Qur’an mengatakan laa raiba fiih (tidak ada keraguan sama sekali di dalam Al-Qur’an ini) namun orang syiah meragukan kemurnian Al-Qur’an. Hingga Tajul Muluk pentolan syiah dari Sampang Madura telah divonis hukuman 4 tahun penjara karena terbukti menodai agama, melanggar pasal 156A KUHP, karena menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi. Maka Tajul Muluk wajib menjalani hukuman 4 tahun penjara. Keputusan itu tertuang dalam petikan putusan MA (Mahkamah Agung) dengan Nomor 1787 K/ Pid/2012 yang dikirim oleh MA ke Pengadilan Negeri (PN) Sampang tertanggal 9 Januari 2013.

Anehnya, sebagian orang masih menganggap bahwa yang sesat itu hanya syiah Sampang. Yang lain tidak, alasannya karena MUI Pusat sampai kini belum mengeluarkan fatwa sesat untuk syiah, walau sudah ada rekomendasi-rekomendasi (MUI 1984 dan 2014) tentang agar mewaspadai syiah; dan MUI mengeluarkan Buku Panduan MUI Mengenal dan Mewaspadai Penimpangan Syiah di Indonesia.

Pandangan sebagian orang yang berkelit bahwa masih ada syiah mu’tadilah (moderat) yang sering digembar gemborkan tokoh tertentu (yang tidak mau dituding sebagai rekanan syiah namun berbau aroma yang menyuara menguntungkan pihak syiah) sejatinya telah terbantah oleh kenyataan adanya pembela-pembela yang menyuara dalam rangka “menyelamatikan” Tajul Muluk pentolan syiah Sampang Madura yang telah terbukti menodai Islam, menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi itu.

Mereka yang menyuara demi membela kesesatan syiah (yang pada hakekatnya justru membuktikan bahwa yang sesat itu bukan hanya syiah sampang Madura, namun di Indonesia ini pada umumnya) di antaranya adalah:

  1. Jalaluddin Rakhmat dengan konco-konconya dari IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) bahkan didukung pula oleh wanita penghalal homseks Musdah Mulia membela syiah sampang dengan “menyerang” MUI dalam dialog di tv kompas Senin malam (16/9 2013).
  1. Pendukung syiah membela syiah sampang yang lainnya yaitu Haddad Alwi penyanyi yang cukup terkenal yang biasa berduet dengan biduanita Sulis. Salah satu lagunya yang berjudul Ya Thoybah, diubah liriknya dalam bahasa Arab dan berisi pujian pada Ali bin Abi Thalib secara berlebihan (suatu ciri dari syiah). Dalam kunjungannya ke pengungsian Syiah di Sampang, 29/9/2012, ia (Haddad Alwi) mengatakan, “Nggak ada orang mau masuk surga tidak diuji, Rasulullah tidak jauh dari kita, dan jangan ragu Rasullulah tidak sayang sama kita. Penderitaan Rasullulah lebih berat ujiannya daripada ujian kita.”
  2. Haidar Baqir bos penerbit Mizan yang menulis di harian Republika menyebarkan faham sesatnya bahwa Al-Qur’an mengalami tahrif (maksudnya, perubahan teks dari aslinya, setelah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam wafat). Mengenai Haidar Bagir dan Tuduhan Tahrif Al Qur’an, Berisi tuduhan seputar adanya TAHRIF Al Qur’an (perubahan teks  dari aslinya), bahwa mulanya Surat Al Ahzab itu dibaca 200 ayat. Namun kemudian hanya tersisa hanya 73 ayat saja (atau hilang sekitar 127 ayat). Itu tercantum dalam tulisan opini di Republika, edisi 27 Januari 2012, Dr. Haidar Bagir menulis artikel berjudul, “Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat

Lalu bagaimana menjawab pendapat seperti di atas?

Adanya satu atau dua riwayat yang mengatakan ini dan itu, di luar pemahaman mainstream para ulama, tidak boleh langsung diterima begitu saja. Harus dilakukan tash-hih (penshahihan) dulu, apakah riwayat tersebut shahih atau tidak. Riwayat-riwayat yang mengatakan telah terjadi perubahan pada Al Qur’an, rata-rata tidak diterima. Karena alasannya: (a) Bertentangan dengan Surat Al Hijr ayat 9, bahwa Allah yang menurunkan Al Qur’an dan Dia pula yang menjaganya; (b) Bertentangan dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, bahwa Al Qur’an itu sempurna, tidak mengalami perubahan; (c) Bertentangan dengan Ijma’ kaum Muslimin sejak masa Rasulullah dan para Shahabat, sampai hari ini. Dengan alasan itu, maka dari sisi telaah Dirayah (substansi hadits), hadits-hadits yang menjelaskan adanya Tahrif itu tertolak. Dalam ilmu hadits, sebuah hadits yang bertentangan secara pasti dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, ia tertolak. “.[Abahnya Aisyah, Fathimah, Khadijah].

Dengan adanya dukungan para pentolan syiah terhadap Tajul Muluk yang menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi, dan ternyata kasus itu sudah terbukti sah lewat pengadilan sampai ke tingkat MA (Mahkamah Agung), maka terbukti nyata bahwa syiah adalah menodai agama. Dan itu bukan hanya syiah Sampang Madura, namun adalah syiah yang ada di Indonesia ini, dengan bukti para pentolan syiah di berbagai tempat juga mendukung pentolan syiah Tajul Muluk yang menodai agama tersebut.

Pendustaan terhadap Al-Qur’an itu jelas merusak Islam. Berhadapan dengan semua Umat Islam. Maka sangat aneh, bila seseorang apalagi tokoh Islam, masih bersikap lunak bahkan membela syiah. Itu sangat aneh. Bahkan harus bertanggung jawab di akherat kelak, menghadapi ancaman dahsyat siksa neraka.

Ancaman siksa sangat keras

Perlu disadari benar-benar, pendustaan terhadap firman Allah Ta’ala itu sangat membahayakan bagi diri orang yang mengatakannya, bahkan bisa membahayakan bagi orang lain yang terpengaruh dengannya. Maka wajar kalau sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam masuk neraka atas orang yang hanya gara-gara ia mengucapkan satu perkataan.

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah (satu kata) yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarak dalamnya antara timur dan barat. (Hadits ruiwayat Al-Bukhari dan Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ *.

Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya bisa jadi seseorang mengucapkan suatu perkataan yang disangkanya tidak apa-apa, tapi dengannya justru tergelincir dalam api neraka selama tujuh puluh musim.” (HR At-Tirmidzi, ia katakan ini hadits hasan gharib dari arah ini, dan Ahmad – 6917).

Mengenai pembela nabi palsu (terkena juga bagi orang yang membela pengikut nabi palsu, seperti membela Ahmadiyah hakekatnya membela nabi palsu pula), dalam Musnad Al-Humaidi diriwayatkan:

1230- حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِىُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ ظَبْيَانَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِى حَنِيفَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ قَالَ لِى أَبُو هُرَيْرَةَ : أَتَعْرِفُ رَجَّالاً؟ قُلْتُ : نَعَمْ. قَالَ : فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« ضِرْسُهُ فِى النَّارِ أَعْظَمُ مِنْ أُحُدٍ ». فَكَانَ أَسْلَمَ ثُمَّ ارْتَدَّ وَلَحِقَ بِمُسَيْلِمَةَ. )مسند الحميدي – مكنز – (3 / 409)(

Dari Imran bin Dhabyan dari seorang dari Bani Hanifah (suku yang ada nabi palsunya, Musailimah Al-Kadzdzab) bahwa ia mendengarnya, dia berkata, Abu Hurairah berkata kepadaku: Kenalkah kamu (seorang bernama) Rajjal? Aku jawab: ya. Dia (Abu Hurairah) berkata: Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Gigi gerahamnya (Ar-Rajjal) di dalam neraka lebih besar daripada Gunung Uhud”. Dia dulunya masuk Islam kemudian murtad dan bergabung dengan Musailimah (Nabi palsu). (Musnad Al-Humaidi).

Para pembela nabi palsu diancam siksa neraka sangat dahsyat. Termasuk para pembela Ahmadiyah pada hakekatnya adalah pembela nabi palsu, karena Ahmadiyah adalah pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad.

Saef bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda,

إن فيكم لرجلا ضِرْسُهُ فِى النَّارِ أَعْظَمُ مِنْ أُحُدٍ

“Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailimah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailimah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Is-haq dari gurunya, dari Abu Hurairah ra. (Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab, atau lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakrta, 2007, bab Nabi Palsu Musailimah Al-Kadzdzab).

Dengan adanya ancaman dahsyat itu, kekhawatiran akan hilangnya keimanan akibat membela Ahmadiyah pun ada. Contohnya adalah artikel berjudul Para Pembela Kafirin Ahmadiyah, Perlukah Mayatnya Disholati? (lihat nahimunkar.com, June 4, 20089:23 pm, http://www.nahimunkar.com/para-pembela-kafirin-ahmadiyah/#more-77)

Demikianlah ancaman keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai orang yang perkataannya dianggap tidak mengapa (padahal sangat merusak agama) maka mengakibatkan dicemplungkan ke neraka yang jarak dalamnya saja 70 tahun (perjalanan). Sedang yang membela nabi palsu maka gigi gerahamnya di neraka lebih besar dibanding Gunung Uhud. Betapa ngerinya. Namun kini betapa beraninya mereka berkata-kata dengan sangat ngawurnya, hanya untuk membela pengikut nabi palsu dan aliran sesat seperti syiah dan lainnya.

(Hartono Ahmad Jaiz penulis buku-buku Islami dan da’i, tinggal di Jakarta).

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/dahsyatnya-ancaman-siksa-neraka-bagi-pembela-aliran-sesat.htm/feed 0
Fenomena Maraknya Batu dan Kemusrikan http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/fenomena-maraknya-batu-dan-kemusrikan.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/fenomena-maraknya-batu-dan-kemusrikan.htm#comments Fri, 27 Feb 2015 04:27:10 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=97765 IMG_20150227_103346Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Kini sedang marak, di mana-mana orang lagi gandrung (cinta banget) pada batu (batu akik dan semacamnya). Kecintaan yang sedemikian itu bagi yang jeli, mengandung beberapa persoalan. Ada soal pemborosan, kebanggaan (yang sejatinya secara maknawi merugikan pelakunya), dan bahkan dapat merusak keimanan bila batu itu dipercayai punya tuah, kesaktian dan sebagainya.

Dari segi masalah pemborosan, jauh-jauh hari Islam telah memperingatkannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا  [الإسراء/26، 27]

… dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al-Israa’/ 17: 26, 27).

Di samping ada peringatan dari Allah Ta’ala, kenyataan di dalam pergaulan hidup pun perlu dikembalikan kepada fungsi-fungsi yang seharusnya. Dalam kaitan dengan fenomena maraknya cinta batu, kini jari-jari tangan yang seharusnya untuk bekerja, tampaknya oleh sebagian orang seakan dialihkan fungsinya, sebagai centelan/ gantungan batu akik. Hingga jari-jari yang seharusnya santai dan enak ketika pemiliknya sedang berjalan atau sedang apapun, terpaksa harus ngangkang secara tidak bebas lagi. Pemilik jari-jari itupun ketika berjalan, lambaian tangannya menjadi kaku bagai robot, tapi mungkin bangga.

Dari situ, bila tanpa bangga pun sebenarnya telah menambah anggaran bagi jari-jari itu. Anggaran di situ maknanya pemborosan, menyia-nyiakan harta, suatu tingkah yang dilarang agama. Apalagi kalau ditambah dengan bangga, maka bila sampai mengandung unsur merendahkan orang lain (karena orang lain dianggap tidak sehebat dirinya dalam hal batu ini) maka berarti sombong. Sedang sombong adalah sikap yang sangat dibenci oleh Allah Ta’ala.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا ٣٦ [سورة النساء,٣٦]

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri [An Nisa”36]

Masih ada yang lebih gawat lagi, bila batu akik dan semacamnya itu dipercayai memiliki tuah, kesaktian, kekuatan, keampuhan dan sebagainya.

Mari kita bicarakan masalah ini dengan sejenak kembali mengingat peristiwa masalah batu yang dipercayai secara menghebohkan di Indonesia.

Kasus batu dukun Ponari di Jombang Jawa Timur

Bulan Juni, 2011, pernah ada kasus Ponari dan Dewi, dukun cilik  di Jombang Jawa Timur yang dianggap sakti karena dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit, berkat batu petir yang dimilikinya.

Itu sisa-sisa keyakinan primitif yang bersumber pada ajaran dinamisme, yang dalam Islam disebut syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Karena menganggap batu itu sebagai batu sakti yang memiliki kekuatan untuk penyembuhan. Kecuali kalau khasiat untuk obat itu ada landasan dalilnya yang shahih, misalnya air zamzam, madu, dan habbatus sauda’ (jinten hitam), yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak dibuktikan dengan ilmiyah pun kalau dalilnya shahih maka boleh. Apalagi ternyata itu memang bisa dibuktikan secara ilmiyah lantaran memiliki kandungan yang berunsur obat.

Demikian pula barang-barang yang bisa dibuktikan secara ilmiyah memang bisa untuk obat, karena mengandung unsur-unsur obat, maka boleh-boleh saja untuk berobat, asal bukan barang haram. Hanya saja yang menyembuhkan tetap lah  Allah Ta’ala.

Namun ketika batu dan lainnya dipercaya sebagai barang ajaib dan menyembuhkan aneka penyakit, tanpa bukti-bukti ilmiyah dan juga tanpa dalil syar’i, maka ini termasuk yang digolongkan mempercayai kekuatan sakti pada selain Allah. Dalam keyakinan Islam digolongkan syirik, menyekutukan Allah Ta’ala. Itu dosa terbesar.

Mungkin orang masih berkilah, bahwa batu yang dianggap sakti itu hanya sarana, sedang yang dipercayai menyembuhkan tetaplah Allah. Perkataan itu sudah terbantahkan sendiri, karena ketika menggunakan batu dengan dianggap sakti itu sendiri sudah menabrak keyakinan bahwa yang menyembuhkan hanya Allah. Berbeda dengan obat (baik yang ada dalil syar’inya maupun hasil ilmiyah— bukan karena menganggapnya sakti atau punya daya kekuatan), yang memang sudah ada dalilnya agar berobat tapi jangan berobat dengan yang haram.

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ ». (أبو داود ، والطبرانى ، وابن السنى ، وأبو نعيم فى الطب ، والبيهقى عن أبى الدَّرْدَاءِ) أخرجه أبو داود (4/7 ، رقم 3874) وقال ابن الملقن فى تحفة المحتاج (2/9) : إسناد صحيح . وأخرجه الطبرانى

 Dari Abu Darda’ ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menurunkan penyakit dan obat, dan telah menjadikan obat bagi setiap penyakit, maka berobatlah kalian; dan (tetapi) jangan kalian berobat dengan yang haram. (HR Al-Baihaqi, Abu Daud, At-Thabrani, Ibnus Sunni, Abu Nu’aim, dan berkata Ibnu Mulqin dalam Tuhfatul Muhtaj: sanadnya shahih).

Fatwa Lajnah Daaimah membedakan jimat dan bukan

Masalah mengambil manfaat dan menolak bahaya dengan benda

Al-Lajnah Al-Daaimah di Saudi Arabia (terdiri dari kibar ulama/ulama-ulama besar) ditanya tentang sepotong kain atau sepotong kulit dan sejenisnya diletakkan di atas perut anak laki-laki dan perempuan pada usia menyusu dan juga sesudah besar, maka jawabnya:

“Jika meletakkan sepotong kain atau kulit yang diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan. Jika itu untuk tujuan yang benar seperti menahan pusar bayi agar tidak menyembul atau meluruskan punggung, maka ini tidak apa-apa.” (Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fatawa al-‘Ilaj bi Al-Qur’an wa Assunnah, ar-Ruqo wamaa yata’allaqu biha, halaman 93).

Mencari berkah pada pohon, batu dan sebagainya

Mencari berkah kepada pohon, batu dan lainnya termasuk dilarang dalam Islam, bahkan bila dilakukan maka termasuk kemusyrikan. Karena telah jelas dalam Hadits:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ حُنَيْنٍ فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ الْكُفَّارُ يَنُوطُونَ بِسِلَاحِهِمْ بِسِدْرَةٍ وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon bidara, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267, juga riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

Tafsir Al-Qur’an keluaran Departemen Agama RI mengulas sebagai berikut:

Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu; dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574). (nahimunkar.com dalam judul News Maker from Jombang February 20, 2009 8:25 pm)

Demikianlah, fenomena maraknya kecintaan pada batu yang seakan dianggap gejala biasa saja, namun sejatinya umat Islam sangat penting untuk berhati-hati. Kemungkinan terkena larangan pemborosan harta, larangan bangga lagi pongah yang sangat dibenci Allah Ta’ala, bahkan bila sampai batu-batu itu dipercayai memiliki kesaktian dan sebagainya maka dikhawtirkan: Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja, sebagaimana ditegaskan dalam kitab Tafsir Kementerian Agama tersebut.

Semoga Allah Ta’ala melindungi Umat Islam yang masih setia menjalani petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari segala macam godaan dan gangguan yang bila tidak hati-hati maka akan menjerumuskan ke jurang penyimpangan, bahkan kemusyrikan.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/fenomena-maraknya-batu-dan-kemusrikan.htm/feed 0
Catatan Kritis untuk Pengagum Demokrasi http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/catatan-kritis-untuk-pengagum-demokrasi.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/catatan-kritis-untuk-pengagum-demokrasi.htm#comments Tue, 24 Feb 2015 12:29:22 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=97520 islam demokrasiUmar Syarifudin (lajnah siyasiyah Hizbut Tahrir Indonesia Kota Kediri)

Salah satu yang sering disebut-sebut merupakan nilai unggul demokrasi adalah sistem ini cerminan dari suara rakyat. Sebab dalam demokrasi, semuanya diukur berdasarkan kedaulatan rakyat. Siapa yang akan memerintah ditentukan oleh rakyat, lewat pemilu yang digelar secara priodik. Termasuk, kebijakan apa yang akan diterapkan, sering diklaim juga ditentukan oleh rakyat. Yakni, lewat wakil-wakilnya di parlemen. Karena itu pemerintahan yang dihasilkan lewat pemilu, dengan demikian adalah pemerintahan rakyat.

Seperti telah banyak dipahami, inti dari demokrasi adalah kedaulatan di tangan rakyat (sovereignty belongs to people), yang perwujudannya tampak pada dua perkara. Pertama, dalam penyusunan peraturan perundang-undangan. Kedua, dalam pemilihan pemimpin.  Dengan kewenangan (wakil) rakyat menyusun peraturan perundang-undangan dan memilih pemimpin, diyakini bahwa peraturan perundangan yang dihasilkan akan selaras dengan kepentingan rakyat, dan pemimpin yang terpilih akan benar-benar bekerja demi rakyat.

Pendek kata sistem ini merupakan yang terbaik, karena atas nama rakyat. Namun, kenyataan dalam prakteknya, tidaklah seperti yang diangankan dalam teorinya. Pemilu dan pemerintahan atas nama rakyat sering kali dicatut untuk kepentingan yang justru bertentangan dengan rakyat.

Antara Idealita dengan Realita
Lingkaran setan hubungan kekuasaan dan kekayaan dipercaya banyak terjadi di dalam sistem politik demokrasi. Lingkaran dimana uang dipakai untuk mendapatkan kekuasaan dan kekuasaan digunakan untuk mengeruk uang (money to power, power to money).Anggapan yang sudah berkembang di tengah masyarakat. Hal ini kemudian yang diperkuat oleh hasil penelitian wakil ketua DPR Pramono Anung untuk menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Padjadjaran Bandung. dari penelitian itu didapat kesimpulan bahwa DPR memang banyak dihuni para pekerja yang sekadar mencari nafkah, bukan tempat para idealis memperjuangkan kepentingan rakyat.

Penelitian dengan tema motivasi menjadi anggota dewan itu hasilnya menunjukkan bahwa motivasi terbesar seseorang masuk ke DPR ialah faktor ekonomi. Hasil penelitian itu membuat kita kian paham mengapa anggota DPR rajin membuat kebijakan yang langsung menambah pundi-pundi mereka. Selain mendapat honorarium tetap sebagai wakil rakyat, mereka menerima pula tunjangan komunikasi, transportasi, listrik, beras, dan aneka tunjangan lainnya.
Mereka membangun kompleks perumahan DPR dengan biaya ratusan miliar rupiah. Akan tetapi, rumah tersebut tidak dihuni. Sebagai gantinya mereka malah minta uang akomodasi. Meski dikecam, mereka tetap saja pelesiran ke luar negeri dengan kemasan studi banding. Di mancanegara mereka berbelanja. Mereka pun tetap malas mengikuti rapat. Sering rapat dimulai terlambat, bahkan ditunda-tunda, karena tidak memenuhi kuorum. Begitulah, DPR berubah menjadi tempat orang-orang malas yang mencari nafkah, bahkan menjadi kaya dengan bergelimang tunjangan dan kemudahan. (lihat mediaindonesia.com/read/2012/05/08/318084/70/13/Mencari-Nafkah-di-DPR).

Demokrasi mendasarkan diri pada prinsip etnosentrisme, paham yang menganggap manusia sebagai makhluk terunggul. Padahal kenyataannya manusia adalah makhluk yang lemah. Lihatlah, bagaimana peraturan perundangan buatan manusia yang lahir dari kesepakatan-kesepakatan demokratis selalu berubah-ubah. Yang dulu dibenci sekarang disukai. Yang dulu dilarang sekarang menjadi boleh. Yang ganjil bisa berubah menjadi wajar. Yang semestinya dibenci malah disuka. Yang harusnya disuka malah dibenci. Jadi, bagaimana bisa suara dari makhluk yang lemah itu disamakan dengan suara Al-Khaliq Yang Mahagagah? Benarlah kata filsuf Yunani kuno Aristoteles, demokrasi adalah buah pikir manusia purba. Menurut Winston Churchill, mantan PM Inggris, demokrasi merupakan alternatif terburuk dari bentuk pemerintahan manusia.

Pada hakikatnya sistem Demokrasi memiliki sisi gelap yang disebut kekuasaan kapitalis. Sisi gelap inilah yang selalu ditutupi oleh para kapitalis yang menjadi motor gerakan Demokrasi. Biasanya para kapitalis dan orang-orang kaya adalah mereka yang memiliki kesempatan pertama untuk duduk di dewan perwakilan. Sedangkan orang-orang miskin dan rakyat jelata pada umumnya tidak memperoleh kedudukan apa pun dari pengorbanan yang mereka keluarkan saat pemilihan umum, sebagaimana mereka tidak akan mendapatkan keuntungan sosial apa pun setelahnya.
Akibat logis dari penerapan sistem kapitalisme dengan politik demokrasinya. Kapitalisme mengajarkan asas manfaat sebagai pondasinya dan keuntungan materi sebagai tolok ukurnya. Kapitalisme mengajarkan bahwa segala upaya dan pengorbanan manusia itu harus bisa mendatangkan keuntungan materi. Kapitalisme mendorong setiap orang menghitung apa saja yang dilakukannya dalam konteks untung rugi materi. Dalam kamus kapitalisme tidak dikenal yang namanya pengorbanan. Sebab yang ada adalah investasi. Berapa yang dikeluarkan dan berapa yang didapat sebagai imbalannya atau berapa yang harus diperoleh untuk mengembalikan modal atau biaya yang dikeluarkan disertai sekian persen keuntungan.

Dalam pentas politik, doktrin-doktrin itu diwadahi dalam sistem politik demokrasi. Sistem ini bertumpu pada sistem perwakilan dimana “wakil-wakil rakyat” dipilih secara periodik oleh masyarakat, disamping penguasa yang juga dipilih langsung oleh masyarakat secara periodik yang sama. Sistem politik demokrasi ini sarat modal. Mengingat untuk pencalonan dan proses pemilihan diperlukan biaya yang tidak sedikit. Biaya itu bisa berasal dari kantong sendiri atau kebanyakan dari sponsor yaitu para pemodal. Karena itu dengan doktrin kapitalisme diatas, ketika seorang wakil berhasil terpilih, hal pertama yang menjadi fokus dia adalah bagaimana mengembalikan modal yang dikeluarkan dan berikutnya mengumpulkan modal untuk proses periode berikutnya.

Demokrasi semakin jauh dari realisasi politik “demi kepentingan rakyat.” Para pemilik modal itulah yang akhirnya secara efektif memiliki akses dan kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. Tak heran bila kemudian kebijakan yang diambil oleh pemerintah lebih cenderung menguntungkan para pemilik modal atau kelompok kaya yang tidak lain adalah mereka yang telah mendukung rezim naik ke tampuk kekuasaan sehingga yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin makin tersisihkan.

Keadaan inilah yang menimbulkan  ketimpangan ekonomi di berbagai negara di dunia. Di Amerika Serikat, misalnya, dari tahun 1980 hingga 2005, 80% kekayaan AS hanya dimiliki oleh 1% penduduk. Dari tahun 1979 hingga tahun 2007 pendapatan rata-rata 1% terkaya orang naik 272% dari 350.000 USD ke 1.300.000 USD. Pada kurun waktu yang sama, pendapatan rata-rata 20% penduduk AS termiskin hanya naik 13% dari 15.500 USD ke 17.500 USD.

Di Indonesia, kesenjangan serupa juga terjadi. Indeks Gini, yang mengukur tingkat kesenjangan ekonomi, meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Data Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, tingkat kesenjangan ekonomi pada 2011 menjadi 0,41. Padahal pada tahun 2005, gini rasio Indonesia masih 0,33.

Data lain memperlihatkan, total pendapatan 20 persen masyarakat terkaya meningkat dari 42,07 persen (2004) menjadi 48,42 persen (2011). Sebaliknya, total pendapatan 40 persen masyarakat termiskin menurun dari 20,8 persen (2004) menjadi 16,85 persen (2011). Kekayaan 40 ribu orang terkaya Indonesia sebesar Rp 680 Triliun (71,3 miliar USD) atau setara dengan 10,33% PDB, dan itu setara dengan kekayaan 60% penduduk atau 140 juta orang.

Dalam konteks global, terjadi pula kecenderungan peningkatan ketimpangan kekayaan. Hingga tahun 2010, sebanyak 0,5% penduduk terkaya (24 juta orang) memiliki 35,6% kekayaan global; 8% penduduk terkaya (358 juta) memiliki 79,3 kekayaan global. Sebaliknya, 68,4% penduduk miskin (3,038 miliar) hanya memiliki 4,2% kekayaan global. Maka tak heran, dalam demo yang marak terjadi di berbagai negara Barat menyusul krisis ekonomi yang tak kunjung surut, mereka membawa poster atau spanduk berbunyi: “Capitalism is not working”, “Capitalism is merely for 1%, we are the 99%”.

Konsentrasi kekayaan hanya pada kelompok kecil itu tentu saja mengakibatkan melajunya proses pemiskinan dan peningkatan jumlah orang miskin di dunia.  Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan juga naik 200% sejak 1980-an.  Kemiskinan adalah pembunuh massal yang sangat kejam. Dilaporkan 22.000 anak-anak di dunia meninggal tiap hari akibat tidak cukup mendapatkan makan, air bersih dan layanan kesehatan. Belum lagi mereka yang terpaksa hidup seadanya, tanpa tempat tinggal yang layak, nutrisi yang mencukupi dan layanan pendidikan dan kesehatan yang semestinya.

Pendapat Aristoteles perlu dicermati, dia seorang pemikir politik Empiris-Realis yang juga murid Plato di zaman Yunani klasik, yang kemudian banyak merumuskan gagasan-gagasan tentang Demokrasi dan melahirkan karya-karya besar di bidang pemikiran ketatanegaraan. Diantara karyanya yang monumental dan kemudian menjadi bahan kajian bagi pemikir-pemikir Demokrasi generasi berikutnya adalah ‘Politics’ The Athenian Constitution. Menurut Aristoteles bila negara dipegang oleh banyak orang (lewat perwakilan) dan bertujuan hanya demi kepentingan mereka, maka bentuk negara itu adalah Demokrasi.

Demokrasi seakan memiliki konotasi negatif dan Aristoteles tidak menyebutnya sebagai bentuk negara ideal. Dalam ‘Politics’, Aristoteles menyebut Demokrasi sebagai bentuk negara yang buruk (bad state). Menurutnya negara Demokrasi memiliki sistem pemerintahan oleh orang banyak, dimana satu sama lain memiliki perbedaan (atau pertentangan) kepentingan, perbedaan latarbelakang sosial ekonomi, dan perbedaan tingkat pendidikan.

Pemerintahan yang dilakukan oleh sekelompok minoritas di dewan perwakilan yang mewakili kelompok mayoritas penduduk itu akan mudah berubah menjadi pemerintahan anarkhis, menjadi ajang pertempuran konflik kepentingan berbagai kelompok sosial dan pertarungan elit kekuasaan. Perbedaan-perbedaan tersebut menjadi kendala bagi terwujudnya pemerintahan yang baik. Konsensus sulit dicapai dan konflik mudah terjadi.

Ia (Aristoteles) kemudian mengakui bahwa negara ideal adalah negara yang diperintah oleh seorang penguasa yang filosof, arif dan bijaksana dan kekuasaannya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Aristoteles menyebut bentuk negara seperti ini sebagai Monarkhi. Tetapi Aristoteles kemudian menyadari bahwa bentuk negara seperti ini (Monarkhi) nyaris tak mungkin ada dalam realitas. Ia hanya refleksi gagasan normatif yang sukar terealisasi dalam dunia empiris. Meskipun kemudian pada kenyataannya corak pemerintahan yang identik dengan pandangannya itu, lahir secara nyata di belahan bumi lain berabad-abad kemudian setelah kematiannya, yaitu pemerintahan atau daulah kekhilafahan Islamiyah di jazirah Arab yang dipimpin oleh seorang Khalifah atau pemimpin (bukan penguasa) yang filosof, arif dan bijaksana, yang berpedoman pada Kitabullah dan As-Sunnah, serta kepemimpinannya digunakan untuk membawa manusia kepada fitrahnya sebagai hamba Allah untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat. Dengan kata lain jauh sebelum kemunculan Islam, ternyata sistem pemerintahan yang digunakan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya sepeninggal Beliau Saw, telah diakui oleh pemikir-pemikir besar dunia sebagai sistem yang terbaik dan ideal.

Perlu diingat, sistem demokrasi telah dijadikan salah satu senjata Barat untuk menghancurkan Islam. Ini nampak ketika ketika negara-negara Barat mengadakan Konferensi Berlin pada akhir abad ke-18 M. Negara-negara penjajah itu memang tidak mencapai kata sepakat bagaimana membagi-bagi Negara Khilafah Utsmaniyah –mereka sebut sebagai The Sick Man– andaikata “orang sakit” ini telah masuk liang lahat. Namun mereka menyepakati satu hal, yaitu memaksa Khilafah untuk menerapkan sistem demokrasi. Akhirnya Khilafah menerapkan sistem kementerian (al-wuzarah) seperti dalam sistem demokrasi, akibat tekanan dan paksaan Barat. Ketika Khilafah hancur pada 1924, Barat segera meracuni pemikiran umat Islam dengan menulis berbagai buku yang menyatakan bahwa Islam adalah agama demokratis, atau bahwa demokrasi berasal dari ajaran Islam.

Ya, Islam. Bukan Demokrasi
Ditinjau dari akar kelahirannya, Islam jelas berbeda dengan demokrasi. Sistem Islam tidak lahir dari akal-akalan manusia, tetapi merupakan wahyu Allah Swt. Memang, ada sementara pihak yang mencoba menyebut Islam sebagai Mohammedanism untuk menimbulkan kesan sebagai agama buatan Muhammad, seperti yang dinyatakan oleh H.A.R. Gibb Selain dari segi akar kelahirannya, pilar-pilar demokrasi bertentangan secara diametral dengan Islam. Beberapa elemen pokok demokrasi adalah: (1) Kedaulatan ada di tangan rakyat; (2) Rakyat sebagai sumber kekuasaan; (3) Penjaminan terhadap empat kebebasan pokok, yaitu kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan berpendapat (freedom of speech), kebebasan pemilikan (freedom of ownership), dan kebebasan bertingkah laku (personal freedom). Adapun sorotan kritis akan kita selesaikan, menyikapi 3 aspek demokrasi yang secara frontal berbeda dengan konsep Islam.
1. Kedaulatan
Dalam sistem demokrasi, masyarakat kehilangan standar nilai baik-buruk. Siapa pun berhak mengklaim baik-buruknya sesuatu. Masyarakat bersikap “apa pun boleh”. Di San Fransisco, para eksekutif makan siang di restoran yang dilayani oleh pelayan wanita yang bertelanjang dada. Sebaliknya, di New York (masih di AS), seorang wanita telah ditangkap karena memainkan musik dalam suatu konser tanpa pakaian penutup dada. Newsweek menyatakan, “…Kita adalah suatu masyarakat yang telah kehilangan kesepakatan….suatu masyarakat yang tidak dapat bersepakat dalam menentukan standar tingkah laku, bahasa, dan sopan santun, tentang apa yang patut dilihat dan didengar.”

Dalam Islam, penetapan hukum adalah wewenang Allah. Penetapan hukum tidak bermakna teknis, tetapi bermakna penentuan status baik-buruk dan halal-haram. Allah Swt. berfirman:
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (QS al-An’am [6]: 57).

Jika kalian (rakyat dan negara) berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya). (QS an-Nisa’ [4]: 59).

Tentang apa pun kalian berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (QS asy-Syura [42]: 10).

Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam menempatkan kedaulatan di tangan Allah sebagai Musyarri’ (Pembuat Hukum). Segala produk hukum dalam sistem Islam harus merujuk pada al-Quran dan as-Sunnah yang ditunjuk oleh keduanya, yakni Ijma Sahabat, dan Qiyas (ijtihad).

2. Kekuasaan
Dalam sistem demokrasi, kekuasaan berada di tangan rakyat. Rakyat lalu “mengontrak” seorang penguasa untuk mengatur urusan dan kehendak mereka. Jika penguasa dipandang sudah tidak akomodatif terhadap kehendak rakyat, penguasa dapat dipecat karena ia hanya sekadar “buruh” yang digaji oleh rakyat untuk mengatur negara. Konsep inilah yang diperkenalkan oleh John Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1689-1755), dikenal dengan sebutan kontrak sosial.

Dalam sistem Islam, kekuasaan memang berada di tangan rakyat. Atas dasar itu, rakyat dapat memilih seorang penguasa (khalifah) untuk memimpin negara. Pengangkatan seorang khalifah harus didahului dengan suatu pemilihan dan dilandasi perasaan sukarela tanpa paksaan (ridhâ wa al-ikhtiyâr). Akan tetapi, berbeda dengan sistem demokrasi, khalifah dipilih oleh rakyat bukan untuk melaksanakan kehendak rakyat, tetapi untuk melaksanakan dan menjaga hukum Islam. Seorang khalifah tidak dapat dipecat hanya karena rakyat sudah tidak suka lagi kepadanya. Ia hanya boleh dipecat jika tidak lagi melaksanakan hukum Islam walaupun baru sehari menjabat.

Untuk memutuskan apakah seorang khalifah lalai dalam pelaksanaan hukum Islam, negara mempunyai instrumen hukum berupa Mahkamah Mazhalim yang berhak mengadili dan memecat penguasa. Kaum Muslimin juga didorong untuk selalu mengoreksi penguasa. Rasulullah saw. bersabda:

Pemimpin para syuhada adalah Hamzah ibn ‘Abdul Muthalib dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa yang lalim, lalu ia menyuruhnya berbuat baik dan mencegahnya berbuat munkar, kemudian penguasa itu membunuhnya.

3. Kebebasan
Dalam sistem demokrasi, kebebasan adalah faktor utama untuk memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengekspresikan kehendaknya—apa pun bentuknya—secara terbuka dan tanpa batasan atau tekanan.
Masyarakat demokratis bebas memeluk agama apapun, berpindah-pindah agama, bahkan tidak beragama sekalipun. Juga bebas mengeluarkan pendapat, walaupun pendapat itu bertentangan dengan batasan-batasan agama. Bebas pula memiliki segala sesuatu yang ada di muka bumi, termasuk sungai, pulau, laut, bahkan bulan dan planet jika sanggup. Harta dapat diperoleh dari segala sumber, baik dengan berdagang ataupun dengan berjudi dan korupsi. Dalam sistem demokrasi, masyarakat juga bebas bertingkah laku tanpa peduli dengan mengabaikan tata susila dan kesopanan.

Sebaliknya, Islam tidak mengenal kebebasan mutlak. Islam telah merinci dengan jelas apa saja yang menjadi hak dan kewajiban manusia. Islam bukan hanya berorientasi kepada kewajiban, tetapi juga hak sebagai warganegara dan individu.

Islam, misalnya, melarang seorang Muslim untuk mempermainkan agama dengan cara berpindah-pindah agama. Rasulullah saw bersabda:
Barangsiapa mengganti agamanya (Islam), bunuhlah. (HR Muslim dan Ashab as-Sunan).

Islam juga melarang seseorang untuk memiliki benda-benda yang tidak berhak dimilikinya, baik secara pribadi maupun kelompok. Islam telah merinci beberapa cara pemilikan yang terlarang, misalnya pencurian, perampasan, suap (riswah), korupsi, judi. Sebaliknya, Islam menghalalkan beberapa sebab pemilikan, yaitu bekerja, waris, mengambil harta orang lain dalam keadaan terdesak yang mengancam jiwanya, serta harta yang diperoleh tanpa pengorbanan semisal hadiah, hibah, sedekah, atau zakat.

Dalam masalah tingkah laku, Islam memberikan batasan susila yang jelas, terutama masalah interaksi pria-wanita (ijtima’iy). Sebaliknya, di dalam sistem demokrasi, interaksi pria-wanita yang sangat bebas telah memunculkan berbagai masalah pelik, seperti menyebarnya berbagai penyakit menular seksual (PMS)

Khatimah
Bahaya dari penerimaan sistem Demokrasi tidak hanya tersembunyi di balik kegagalan dan ketimpangan aktivitas politiknya, tapi bahaya yang lebih besar adalah ketika sebagian orang-orang Islam mengimani pada suatu sistem yang berbeda dengan pandangan Islam dalam melihat kehidupan, alam dan manusia. Yang akibatnya bisa menghilangkan pemahaman Islam yang hakiki tentang masalah tersebut.
Kepada para pemimpin berbagai jama’ah Islam yang mendukung sistem demokrasi, hendaknya tulisan ini didudukkan pada tempatnya : sebagai nasehat. Sedangkan bagi selain mereka dari kalangan Liberalis, Nasionalis, Komunis dan yang sepaham dengan mereka boleh jadi tulisan ini justru memberikan kesenangan tersendiri bagi mereka, karena mereka mengira bahwa jika para aktivis Islam meninggalkan dewan perwakilan, maka akan memberikan peluang yang lebih luas bagi mereka dalam kancah politik. Tentu saja ini hanya sekedar asumsi mereka saja. Sebab kancah pertempuran yang sebenarnya ialah pertempuran dalam meraih kemampuan dan kesuksesan memberikan pengaruh dan tekanan di tengah masyarakat, yaitu ketika orang-orang Islam berpegang teguh kepada prinsip-prinsip atau manhaj mereka dan mereka tidak berfikir lagi untuk mencari pengganti dari syari’at.
Jika hal itu terjadi maka tinggal menunggu waktu saja sampai terwujud kemenangan umat melalui gerakan-gerakan Islam yang menghendaki perubahan mendasar terhadap seluruh sendi-sendi kehidupan umat, dan pergerakan ini tidak akan mampu dihalang-halangi bahkan oleh konspirasi negara adidaya sekalipun. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw melalui perjuangan Beliau Saw pada periode awal pergerakan Islam di Makkah dan Madinah sampai Islam tegak dan syiarnya tersebar luas hingga sampai ke rumah kita. Oleh karena itu sudah saatnya energi kaum muslimin tidak terkuras untuk memikirkan kebergantungan kepada demokrasi dan DPR, maka inilah nilai sebenarnya yang mulia, bukan sekedar dugaan atau asumsi.

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/catatan-kritis-untuk-pengagum-demokrasi.htm/feed 0
Syiah = Total Berbahaya http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/syiah-total-berbahaya.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/syiah-total-berbahaya.htm#comments Sat, 21 Feb 2015 05:00:34 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=97208 syiah...Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Telah terbukti, Tajul Muluk Pentolan Syiah Sampang Madura divonis penjara 4 tahun karena menodai agama Islam (menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi), melanggar pasal 156A KUHP.

Syiah jelas-jelas sesat dan menodai agama (Islam) itu sudah tidak kurang data dan fakta. Di antaranya sebagai berikut.

Fatwa Sesatnya Syiah

1. Fatwa MUI Jawa Timur tentang sesatnya Syiah lihat di siniFatwa MUI Jawa Timurtentang Kesesatan Ajaran Syi’ah. MEMUTUSKAN

Mengukuhkan dan menetapkan keputusan MUI-MUI daerah yang menyatakan bahwa ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah SESAT DAN MENYESATKAN.

Surabaya    27 Shofar 1433 H

21 Januari  2012 M

DEWAN PIMPINAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)

PROPINSI JAWA TIMUR

 

Ketua Umum                                   Sekretaris Umum

Abdusshomad Buchori                 Drs. H Imam Tabroni, MM

 

2. Fatwa MUI Jatim tentang Sesatnya Syiah, Menang Mutlak di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (13/11/2013.)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah Jawa Timur menang mutlak atas gugatan yang Teguh Sugiharto, yang  sejak beberapa waktu lalu menyusun konstruksi gugatan dengan pengajuan prodeo terhadap Presiden SBY, MUI Pusat, MUI Jatim dan Gubernur Jawa Timur.

Sidang putusan dengan kemenangan mutlak untuk MUI Jawa Timur itu diputuskan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (13/11/2013.)

“Karena yang punya kewenangan menguji Pergub atau undang-undang adalah Mahkamah Agung, jadi gugatan tidak diterima,” kata pengacara MUI Jawa Timur H. Ma’ruf Syah kepadahidayatullah.com, Rabu (13/11/2013).

3. MUI Pusat menilai fatwa MUI Jawa Timur itu sah. Lihat ini MUI Pusat mensahkan dan mendukung Fatwa MUI Jatimtentang kesesatan syiah. Dalam tulisannya di Harian Republika pada hari ini (8/11/2012), Ketua MUI Pusat, KH. Ma’ruf Amin mengatakan, “Setelah melakukan serangkaian penelitian dan berkonsultasi dengan MUI Pusat, MUI Jatim mengukuhkan fatwa serupa. Mencermati hal itu, penulis menyimpulkan, bahwa Fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah sudah pada tempatnya dan sesuai aturan.”

Bukti Syiah Menodai Agama dan bukan hanya syiah Sampang Madura saja yang sesat itu

  1. Tajul Muluk pentolan syiah dari Sampang telah divonis 4 tahun penjara karena terbukti  melanggar pasal 156a tentang penodan agama, karena Tajul Muluk menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi. Vonis Pengadilan itu sampai diketok palu oleh tiga jenis pengadilan yakni Pengadilan Negeri Sampang dengan Nomor 69/Pid.B/2012/PN.SPG pada Juli 2012 lalu memvonis Tajul  Muluk hukuman penjara 2 tahun karena menodai agama, melanggar pasal 156a. Lalu Tajul Muluk naik banding ke pengadilan Tinggi Surabaya, divonis 4 tahun penjara karena terbukti menodai agama. Putusan PT Surabaya yang tertuang dalam surat bernomor 481/Pid/2012/PT.Sby pada 21 September 2012 itu memutuskan terdakwa Tajul Muluk alias Ali Murtadha terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perbuatan yang bersifat penodaan agama. Kemudian ia mengajukan kasasi dan putusannya, kasasi ditolak MA, maka tetap Tajul Muluk wajib menjalani hukuman 4 tahun penjara. Keputusan itu tertuang dalam petikan putusan MA dengan Nomor 1787 K/ Pid/2012 yang dikirim oleh MA ke Pengadilan Negeri (PN) Sampang tertanggal 9 Januari 2013. Hal itu diungkapkan oleh Humas PN Sampang Shihabuddin saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madura terkait kasasi Tajul Muluk ke MA, kemarin (16/1 2013). Jadi jelas-jelas syiah telah terbukti sesat bahkan menodai agama (Islam).  Lihat ini http://www.nahimunkar.com/kejahatan-syiah-dari-mazdak-hingga-tajul-muluk-sampang
  2. Apabila masih ada yang berkilah bahwa itu hanya Tajul Muluk saja, sedang syiah yang lainnya di Indonesia ini tidak begitu, maka coba lihat bagaimana Jalaluddin Rakhmat dengan konco-konconya dari Ijabi bahkan didukung pula oleh penghalal homseks Musdah Mulia membela syiah sampang dengan “menyerang” MUI dalam dialog di tv kompas Senin malam (16/9 2013).
  1. Pendukung syiah bela syiah sampang dan jualan kemusyrikan: Penyanyi Haddad Alwi Ternyata Syiah#

Ia adalah penyanyi yang cukup terkenal yang biasa berduet dengan biduanita Sulis. Salah satu lagunya yang berjudul Ya Thoyibah, diubah liriknya dalam bahasa Arab dan berisi pujian pada Ali bin Abi Thalib secara berlebihan.

Dalam kunjungannya ke pengungsian Syiah di Sampang, 29/9/2012, ia (Haddad Alwi) mengatakan, “Nggak ada orang mau masuk surga tidak diuji, Rasulullah tidak jauh dari kita, dan jangan ragu Rasullulah tidak sayang sama kita. Penderitaan Rasullulah lebih berat ujiannya daripada ujian kita.”

Mengenai nyanyian Ya Thoybah (wahai Sang Penawar) itu juga nyanyian, hanya berbahasa Arab. Kalau nyanyian berbahasa Indonesia, Inggeris atau lainnya yang biasanya berkisar tentang cinta, pacaran dan sebagainya, misalnya dinyanyikan di masjid, orang sudah langsung faham bahwa itu tidak boleh.

Nyanyian cinta-pacaran seperti itu justru kesalahannya jelas. Orang langsung tahu. Sebaliknya, kalau nyanyiannya itu seperti Ya Thoybah, kalau itu mengandung kesalahan (dan memang demikian), justru orang tidak mudah untuk menyalahkannya. Karena dia berbahasa Arab, dan menyebut nama sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyebut Al-Quran dan sebagainya.

Padahal, nyanyian Ya Thoybah itu justru isinya berbahaya bagi Islam, karena ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Berikut ini kutipan bait yang ghuluw dari nyanyian Ya Thoybah (wahai Sang Penawar):

Ya ‘Aliyya bna Abii Thoolib Minkum mashdarul mawaahib.

Artinya: “Wahai Ali bin Abi Thalib, darimulah sumber keutamaan-keutamaan (anugerah-anugerah atau bakat-bakat).”

Dalam video klip Ya Thayibah Haddad Alwi di Youtubehttp://www.youtube.com/watch?v=mJM1D_LNdDk pada menit ke 1.49, seorang anak kecil sujud shalat di atas turbah Husainiyah (tanah Karbala).

Bagaimanapun, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah manusia biasa, bukan Tuhan. Di dalam nyanyian itu sampai disanjung sebegitu, dianggap, dari ‘Ali lah sumber anugerah-anugerah atau bakat-bakat atau keutamaan-keutamaan. Ini sangat berlebihan alias ghuluw.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ

Artinya: “Jauhilah olehmu ghuluw (berlebih-lebihan), karena sesungguhnya rusaknya orang sebelum kalian itu hanyalah karena ghuluw –berlebih-lebihan– dalam agama.” (HR Ahmad, An-Nasaai, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, dari Ibnu Abbas, Shahih).
Ali ra sendiri pernah disikapi seperti itu. Abdullah bin Saba’, pendeta Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam, bekata kepada Ali: “Engkau lah Allah”. Maka ‘Ali bermaksud membunuhnya, namun dilarang oleh Ibnu ‘Abbas. Kemudian ‘Ali cukup membuangnya ke Madain (Iran). Dalam riwayat lain, ‘Abdullah bin Saba’ disuruh bertaubat namun tidak mau. Maka ia lalu dibakar oleh ‘Ali (dalam suatu riwayat). (lihat Rijal Al-Kusyi, hal 106-108, 305; seperti dikutip KH Drs Moh Dawam Anwar, Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI Jakarta, cetakan II, 1998, hal 5-6). http://www.nahimunkar.com/26-penyebab-merajalelanya-kesesatan-di-indonesia-3-36/

4. Haidar Bagir dan Tuduhan Tahrif Al Qur’an

  • Berisi tuduhan seputar adanya TAHRIF Al Qur’an (perubahan teks  dari aslinya).

bahwa mulanya Surat Al Ahzab itu dibaca 200 ayat. Namun kemudian hanya tersisa hanya 73 ayat saja (atau hilang sekitar 127 ayat). tulisan opini di Republika, edisi 27 Januari 2012, Dr. Haidar Bagir menulis artikel berjudul, “Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat

Lalu bagaimana menjawab pendapat seperti di atas?

Adanya satu atau dua riwayat yang mengatakan ini dan itu, di luar pemahaman mainstream para ulama, tidak boleh langsung diterima begitu saja. Harus dilakukan tash-hih (penshahihan) dulu, apakah riwayat tersebut shahih atau tidak. Riwayat-riwayat yang mengatakan telah terjadi perubahan pada Al Qur’an, rata-rata tidak diterima. Karena alasannya: (a) Bertentangan dengan Surat Al Hijr ayat 9, bahwa Allah yang menurunkan Al Qur’an dan Dia pula yang menjaganya; (b) Bertentangan dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, bahwa Al Qur’an itu sempurna, tidak mengalami perubahan; (c) Bertentangan dengan Ijma’ kaum Muslimin sejak masa Rasulullah dan para Shahabat, sampai hari ini. Dengan alasan itu, maka dari sisi telaah Dirayah (substansi hadits), hadits-hadits yang menjelaskan adanya Tahrif itu tertolak. Dalam ilmu hadits, sebuah hadits yang bertentangan secara pasti dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, ia tertolak. “.[Abahnya Aisyah, Fathimah, Khadijah].

Syiah Mengusung Kemusyrikan

نور الدين الجزائري المالكي

http://www.alrad.net/hiwar/imam/3.htm

Ayat yang maknanya diselewengkan syiah itu bunyinya sebagai berikut:

{وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأعراف: 180]

  1. Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan

[Al A’raf180]

Dalam kitab syiah:

عن أبي عبد الله (ع) في قول الله عز وجل: “ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها” قال: نحن والله الأسماء الحسنى التي لا يقبل الله من العباد عملا إلا بمعرفتنا. (كتاب الكافي الجزء 1 صفحة 143 باب النوادر)

Dalam hal firman Alah ‘Azza wa Jalla: Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu Abu Abdillah as berkata: Kami (imam-imam syiah) wallahi adalah nama-nama indah Allah yang Allah tidak menerima amal hamba-hamba kecuali berdasarkan pengetahuan kami. (Kitab Al-Kafi juz 1 hlmn 143).

Dalam rujukan Sunni dapat dibaca: Ibnu Juraij menuturkan dari Mujahid tentang firmanNya: dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya; ia mengatakan, mereka menjadikan nama Laata dari lafal “Allah”, dan Uzza dari lafal al-‘Aziz. (Tafsir At-Thabari 13/283).

Ternyata syiah justru asmaaul husna seluruhnya yang hanya milik Allah Ta’ala itu diambil alih dimaksudkan maknanya adalah imam-imam syiah, bahkan dengan sumpah, dan diri para imam itu jadi syarat direrimanya amal para hamba.

Tapi di kitab syiah:

نحن والله الأسماء الحسنى التي لا يقبل الله من العباد عملا إلا بمعرفتنا. (كتاب الكافي الجزء 1 صفحة 143 باب النوادر)

Kami (imam-imam syiah) wallahi adalah nama-nama indah Allah yang Allah tidak menerima amal hamba-hamba kecuali berdasarkan pengetahuan kami. (Kitab Al-Kafi juz 1 hlmn 143).

Dengan demikian, orang musyrikin jahiliyah menyelewengkan Asmaaul Husna dengan menyematkan untuk nama berhala dengan diubah sedikit ucapannya, sedang syiah langsung mengambil keseluruhan Asmaaul Husna diklaim maknanya adalah imam-imam syiah. Padahal nama-nama indah itu hanya milik Allah, menunjukkan sifat kesempurnaanNya, indah tanpa cela tanpa kekurangan. Sehingga ketika berdo’a agar disebutkan. Misalnya

فيقول الداعي مثلا اللهم اغفر لي وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم، وتب عَلَيَّ يا تواب، وارزقني يا رزاق، والطف بي يا لطيف ونحو ذلك. تفسير السعدي = تيسير الكريم الرحمن (ص: 310)

Orang yang berdoa berkata, misalnya: Ya Allah ampunilah aku dan sayangilah aku, sesungguhnya Engka Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan terimalah taubatku wahai Yang Maha menerima taubat, dan berilah aku rizqi wahai Dzat Yang Maha Memberi rizqi, dan lemah lembutilah aku wahai Dzat yang Maha Lemah Lembut. (Tafsir As-Sa’di, penjelasan ayat 180 Suart Al-A’raf).

Asmaaul Husna milik Allah diambil imam-imam syiah, lalu Allah disifati Bada’

Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).

Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).

Dzat yang Maha menerima taubat, Maha Memberi rizqi dan sebagainya itu apakah maknanya imam-imam syiah? Ketika asmaaul husna yang hanya milik Allah Ta’ala itu diklaim maknanya adalah imam-imam syiah, dan itu tertulis jelas di kitab-kitab induk syiah, maka menambah bukti bahwa benarlah sabda Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits, orang syiah itu musyrik

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ أَبِي الْجَحَّافِ دَاوُدَ بْنِ أَبِي عَوْفٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو الْهَاشِمِيِّ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ عَلِيٍّ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ مُحَمَّدٍ، قَالَتْ: نَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَلِيٍّ فَقَالَ: «هَذَا فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ قَوْمًا يَعْلَمُونَ الْإِسْلَامَ، ثُمَّ يَرْفُضُونَهُ، لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمَّوْنَ الرَّافِضَةَ مَنْ لَقِيَهُمْ فَلْيَقْتُلْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ» مسند أبي يعلى الموصلي (12 / 116): 6749 –  [حكم حسين سليم أسد] : إسناده صحيح

Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- melihat kepada Ali -Radiallahuanhu- lalu berkata: “Ini (maksudnya adalah Ali) ada di surga, dan diantara syiahnya ada satu kaum yang mengerti Islam kemudian menolaknya, mereka memiliki tanda disebut rafidhah, barang siapa bertemu mereka maka bunuhlah (di riwayat lain perangilah) sesungguhnya mereka itu musyrik.” مسند أبي يعلى الموصلي

Husain Salim Asad menghukuminya: sanadnya shahih.

Abu Ya’la, Bazzar, Thabrani meriwayatkan sabda Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-:

كُنْتُ عندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وعندَه عليٌّ فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يا عليُّ سيكونُ في أمَّتي قومٌ ينتَحِلونَ حبَّ أهلِ البيتِ لهم نَبْزٌ يُسمَّونَ الرَّافضةَ قاتِلُوهم فإنَّهم مشرِكونَ

الراوي: عبدالله بن عباس المحدث: الهيثمي - المصدر: مجمع الزوائد – الصفحة أو الرقم:10/25
خلاصة حكم المحدث: إسناده حسن‏‏ (Dorar.net/hadith)

Aku (Abdullah bin Abbas) dulu di sisi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dan di sisinya ada Ali, maka beliau berkata: “Wahai Ali akan ada dalam umatku kaum yang madzhabnya adalah “cinta ahlul bait” mereka memiliki tanda (gelar) mereka disebut Rafidhah, perangilah mereka karena mereka musyrik.” (al-Haitsami berkata: Thabrani berkata: dan sanadnya hasan. Al-Sunnah karya ibnu Abi Ashim dicetak bersama Zhilal al-Jannah, takhrij Syaikh al-Albani, 2/476)

Abdullah bin Imam Ahmad berkata: saya Tanya ayah saya: siapakah Rafidhah?: beliau berkata: yaitu orang-orang yang mencela atau mencaci Abu Bakar dan Umar.” (al-Sunnah, Abdullah bin Ahmad, 1273)

Ini bukti kemusyrikan syiah pula

Syiah: Wajah Allah=Ali

وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧ [سورة الـرحـمـن,٢٧]

  1. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan[Ar Rahman27]

وَجۡهُ رَبِّكَ diartikan قال الصادق نحن وجه الله, para imam syiah itu wajah Allah. (بحار الأنوار للمجلسي (1111 هـ) الجزء39 صفحة88 في الشواذ

 

وَلِلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُۚ فَأَيۡنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ١١٥ [سورة البقرة,١١٥]

  1. Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui

[Al Baqarah115] وَجۡهُ ٱللَّهِۚ diartikan Ali.

أبو المضا عن الرضا ع قال في قوله : ” أينما تولوا فثم وجه الله” قال : علي .

بحار الأنوار للمجلسي (1111 هـ) الجزء39 صفحة88 في الشواذ

kata ar-Ridha as mengenai firmanNya: maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah., itu adalah Ali. (Biharul Anwar oleh Al-Majlisi, (w1111H) juz 39 halaman 88)

Mensyiahkan Sunni berarti memusyrikkan

Karena aqidah syiah itu jelas kemusyrikan, maka mensyiahkan Umat Islam berarti memusyrikkan. Mengembalikan dari keyakinan tauhid ke kemusyrikan. Itu lebih kejam dibanding pembunuhan fisik. Padahal membunuh satu orang mukmin saja balasannya masuk neraka jahannam selama-lamanya (abadi). (lihat QS An-Nisaa’/4: 93).

Sedangkan pemusyrikan itu menurut Al-Qur’an adalah lebih dahsyat bahayanya dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga. Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari Tauhid diganti dengan kemusyrikan atau kekafiran, maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan/ kekafiran; maka masuk neraka selama lamanya.

Hingga ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ  [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).

Itulah betapa dahsyatnya pemusyrikan yang kini justru digalakkan secara intensip dan sistematis, masih pula ditemani secara mesra oleh mereka yang tidak menyayangi iman Umat Islam. Relakah generasi Muslim yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia bahkan merupakan penduduk yang jumlah Muslimnya terbesar di dunia ini dibunuhi imannya secara sistematis?

Dari kenyataan isi ajaran syiah itu sesat, menodai agama, dan bahkan mengusung kemusyrikan, maka sudah sangat membahayakan bagi aqidah Islam. Apalagi ternyata ancaman dan konflik bahkan bentrokan antara Umat Islam dengan orang syiah telah berkali-kali terjadi dan memakan korban. Bahkan di luar negeri telah terjadi peperangan di berbagai negara dengan korban Umat Islam dibantai syiah di antaranya di Suriah, sudah 200 ribu lebih Umat Islam yang dibunuh oleh rezim Assad yang syiah. Oleh karena itu, sejatinya syiah adalah bahaya total, menyerang fisik dan bahkan memporak porandakan aqidah, dari Tauhid diseret ke syirik. Itulah sebenar-benarnya penghancuran yang sangat mengancam bagi Umat Islam.

*Disampaikan di hadapan ribuan jamaah saat Kajian Umum Mengenal & Mewaspadai Bahaya Syi’ah di Aula KH Nur Ali, Islamic Center, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (19/2/2015).

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/syiah-total-berbahaya.htm/feed 0
Masa Depan Di Tangan Islam ! http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/masa-depan-ditangan-islam.htm http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/masa-depan-ditangan-islam.htm#comments Fri, 20 Feb 2015 04:03:15 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=97124 lambang islamOleh : Muhammad Yusron Mufid

Setiap orang yang mengamati timbul tenggelamnya peradaban manusia di panggung sejarah akan mengetahui suatu peradaban tiada tegak bangunannya melainkan diawali pondasi tentang falsafah kehidupan. Falsafah kehidupan inilah yang akan menjadi haluan dan corak bangunan peradaban yang tegak diatasnya. Bagi generasi yang hidup di era abad 20 hingga menjelang akhir. Kita bisa menyaksikan drama persaingan antar 2 kutub peradaban besar yang saling berusaha mengungguli satu sama lain yaitu peradaban blok timur yang dipimpin Uni Soviet dan blok barat yang dikomandoi oleh Amerika Serikat. Seiring perjalanan sejarah blok timur akhirnya runtuh pada tahun 1991 yang ditandai bubarnya komandan mereka yaitu Uni Soviet hingga menjelma-lah blok barat pimpinan Amerika Serikat menjadi penguasa tunggal dunia. Bahkan hingga kini, dominasi barat amat mencengkram hampir semua sisi kehidupan di planet bumi tak terkecuali negeri-negeri muslim baik secara ekonomi moneter, politik, budaya bahkan hingga propaganda media massa.

Blok timur adalah suatu peradaban yang berhaluan komunis sedangkah blok barat berhaluan Liberalisme. Dua peradaban besar tadi, adalah hasil pemikiran para tokoh-tokohnya tentang falsafah kehidupan. Menurut seorang pemikir Islam Taqiyuddin An Nabhani, peradaban tumbuh akibat hasil pemikirannya tentang 3 pertanyaan kehidupan mendasar sebagai berikut :

  1. Darimana manusia berasal ?
  2. Untuk apa manusia hidup ?
  3. Akan kemanakah manusia setelah hidupnya nanti ?

Peradaban blok timur komunis dibangun diatas pondasi falsafah materialisme, melalui tokoh-tokoh dan para pemikirnya mereka memiliki pandangan terhadap 3 pertanyaan tadi bahwa manusia berasal dari materi, hidup hanya untuk menghasilkan materi, dan suatu saat manusia akan kembali menjadi materi. Kaum komunis menafikan adanya fakta penciptaan alam semesta ini termasuk manusia. Tokoh yang amat terkenal yang menjadi inspirasi kaum komunis diantaranya adalah Charles Darwin dan Karl Marx. Falsafah materialisme inilah yang menjadi landasan pokok kekuatan blok timur dibangun. Mereka hidup diatas pondasi ini, berbudaya, berpolitik, berekonomi hingga bernegara. Kehidupan mereka dihabiskan hanya untuk hal yang sifatnya memproduksi materi . Wajar saja mereka berperikehidupan seperti itu sebab mereka yakin bahwa mereka berasal dari materi, hidup untuk mengumpulkan materi dan mati akan kembali kepada materi. Mereka meyakini bahwa keberadaan alam adalah siklus materi, tak ada sang Pencipta apalagi pertanggung jawaban dihadapan sang Pencipta kelak. Sehingga manusia bebas berbuat, bebas berkehendak sesuai dengan apa yang ia mau.

Peradaban ini telah meninggalkan kehancuran yang luar biasa bagi umat manusia. Menurut Harun Yahya dalam film dokumenternya yang berjudul “Jejak berdarah komunisme” dibawah tangan besi Joseph Stalin, puluhan juta orang tewas di Uni Soviet akibat kerja paksa kebijakan pemerintahannya. Begitupun di Republik Rakyat China dibawah kepemimpinan Mao Zedong. Hal demikian wajar saja sebab mereka berpandangan bahwa manusia dianggap tak berharga karena tak ubahnya seperti seonggok gumpalan materi yang tidak dibebankan kewajiban dan tanggung jawab. Manusia tak ubahnya seperti mesin bergerak yang hidup untuk bekerja, bekerja dan bekerja menghasilkan materi. Kemuliaan manusia diukur dari seberapa banyak ia mampu menghasilkan kreasi materi. Dan alhamdulillah, blok timur dengan falsafah materialisme sesatnya telah runtuh secara bangunan meskipun barangkali bibit-bibit pemikirannya masih ada. Semoga segera punah !

Lain blok timur, lain halnya dengan blok barat yang berhaluan liberalisme, blok barat dalam memandang 3 pertanyaan mendasar tersebut tidak menafikan adanya sang Pencipta yang telah menjadikan alam semesta ini termasuk manusia. Tetapi, sang Pencipta hanyalah bertugas menciptakan dan manusia kelak setelah hidup akan kembali kepada Penciptanya namun tanpa ikatan pertanggung-jawaban yang jelas. Sang Pencipta hanyalah menciptakan, tak berhak mencampuri kehidupan manusia. Cukuplah pengabdian manusia kepada sang Pencipta hanya ditempat ibadah saja dan urusan individu masing-masing. Urusan berpolitik, berekonomi, bermasyarakat dan berkepemimpinan menjadi kehendak bebas manusia. Atas dasar paham inilah lahir konsep hidup demokrasi, sekulerisme, nasionalisme dll.

Paham ini sangat menjunjung kebebasan individu atau kelompok berdasarkan hasil pikirannya meskipun dengan itu harus menginjak harga diri dan kehormatan orang lain. Lihatlah, penghisapan suatu bangsa atas bangsa lainnya lewat proyek imperialisme dan kolonialisme dengan cengkraman ekonomi, politik bahkan militer. Kebebasan individu membawa dampak hukum rimba, yang kuat semakin kuat memangsa yang lemah. Bahkan Laporan Oxfam menyebutkan bahwa pada tahun 2016 setengah kekayaan dunia akan dimonopoli oleh 1 persen dari orang-orang terkaya dunia. Bayangkan saja, 99% penduduk bumi harus memperebutkan 50% sisanya. Peradaban ini telah menimbulkan kesenjangan yang luar biasa dzalim sekelompok manusia terhadap manusia lainnya. Asas untung rugi tanpa memperhatikan kemaslahatan bersama telah menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah dimana-mana. Lihat juga contoh kasus terbaru Charlie Hebdo, kebebasan berekspresi yang diagung-agungkan meskipun harus menyakiti perasaan 1 miliar lebih penduduk bumi yang beragama Islam.

Kini, blok barat diambang keruntuhan. Paham kebebasan yang dijunjungnya telah membawa konsekuensi krisis ekonomi yang menggurita, degradasi moral yang parah. Blok Barat akan segera kehilangan legitimasinya untuk tetap memimpin dunia. Bahkan Paus Fransiskus dalam pidatonya menyatakan Eropa sekarang terlihat seperti orang tua yang renta dan lusuh. Lantas, setelah runtuhnya blok Timur dan diambang keruntuhannya blok barat. Peradaban apakah yang layak memimpin dunia ?

Sebenarnya masih ada 1 Peradaban Besar yang sedang “terlelap tidur” dengan segenap potensinya untuk memimpin dunia. Ya, peradaban itu adalah Islam. Peradaban ini sangat unik karena bersumber dari ajaran klasik yang diwahyukan Allah kepada nabi Muhammad S.A.W 1400 tahun yang lalu. Jika para pemikir blok timur dan barat telah bekerja keras mengungkap jati diri manusia dengan menjawab 3 pertanyaan mendasar tadi. Allah melalui AlQur’an telah menerangkan secara jelas kepada umat Islam bahwa manusia berasal dari sang Pencipta, diciptakan untuk menderma baktikan hidupNya kepada sang Pencipta dan akan kembali kepada Sang Pencipta untuk mempertanggung jawabkan amal baktinya selama hidup. Sebagaimana firmanNya :

“Maka apakah kamu mengira kami menciptakan kamu untuk main-main saja (tanpa ada maksud), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada kami (untuk diminta pertanggungjawaban)” (Q.S. Al Mukminuun : 115)

“Wahai sekalian bangsa manusia, baktilah km kpd Tuhanmu, yg telah mnciptakanmu dan org2 sebelum kamu agar kamu semata2 takut kpdnya (takwa)”. (Q.S Al Baqarah : 20)

Islam mengajarkan, segala yang ada di alam semesta ini berikut susunannya yang rapi, sistematis dan harmonis tidaklah mungkin terjadi secara kebetulan melainkan ada sang Pencipta yang Maha Jenius yang telah merancang dan mengadakannya. Jika manusia tetap ingkar terhadap Penciptaan, bahkan Allah dalam AlQur’an menantang manusia untuk menciptakan meskipun hanya seekor lalat. Makhluk sederhana yang sering kita anggap hina. Tak ada yang patut kita sombongkan. Allah telah menciptakan manusia untuk diberi beban tugas dan tanggung jawab untuk patuh mengabdi kepadaNya saja. Islam mengajarkan manusia agar tidak hanya sujud didalam masjid saja namun bersujud dalam arti sebenarnya didalam realita kehidupan terhadap undang-undang sang Pencipta, kepada syariatNya secara menyeluruh sebagaimana alam semesta ini telah menginspirasi akal kita untuk selalu patuh berserah diri kepada sang Pemilik kerajaan Langit dan Bumi.

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan”. (Q.S Ali Imran : 83)

Islam mempunyai pandangan hidup yang sangat agung dibanding komunisme atau liberalisme. Tapi kita patut mohon ampun kepadaNya karena telah melalaikannya dan berpaling dari Islam, malah mengekor cara hidup mereka baik blok timur ataupun barat. Pantaslah jika kita diliputi kehinaan dan ketertindasan dimana-mana. Islam mengajarkan bahwa jika manusia ingin bahagia dan tidak ingin binasa, maka harus hidup sesuai aturanNya, terikat terhadap syariatNya. Dan berjuang melaksanakan amanahnya yaitu mengembalikan sistem hidup Islam untuk mengatur kehidupan manusia diatas bumi Allah ini.

Jika umat Islam bersungguh-sungguh komitmen terhadap jalan hidupnya. Insya Allah akan kembali berjaya di muka bumi menggantikan peradaban blok timur dan barat seperti dahulu ketika nabi Muhammad memimpin umatnya mengungguli dua imperium besar yaitu kekaisaran Byzantium dan kerajaan persia. Namun jika kita berpaling, Islam akan tetap berjaya dan Allah akan mengganti kita dengan generasi yang akan menjayakan Islam dimuka bumi. Menjadikan kita sebagai generasi yang tersingkirkan. Wallahua’lam

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan Dien yang benar untuk dimenangkanNya atas segala Dien, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”

[Q.S At Taubah : 33]

]]>
http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/masa-depan-ditangan-islam.htm/feed 0