Ideologi Sebagai Berhala Moderen

berhalaOleh Amir Bahar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata berhala berarti “ patung dewa atau sesuatu yg didewakan yang disembah dan dipuja”. Patung disebut berhala karena disembah dan diyakini mempunyai manfaat dan mempunyai mudharat. Penekanan kata berhala adalah karena disembah. Patung yang tidak disembah tidak disebut berhala. Allah SWT adalah sesembahan orang mukmin, namun tidak disebut patung. Karena itu berhala adalah sesuatu yang disembah selain Allah.

Kebanyakan  manusia pada zaman dahulu menyembah  berhala dari patung. Patung itu mereka buat lalu mereka sembah. Mereka meyakini bahwa berhala itu mempunyai kekuatan untuk memberi manfaat dan memberi mudharat dalam  memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Berhala itu ada yang dibuat  dari kayu, batu, emas, perak, tembaga dan semua jenis bahan berasal dari bumi yang memiliki bentuk menyerupai makhluk hidup seperti manusia, binatang dan tumbuhan serta memiliki bentuk tubuh yang besar. Orang Arab jahiliah menyebutnya berhala seperti itu  dengan nama   Asnam. Ada juga yang berbentuk dan tidak berbentuk, baik kecil maupun besar yang disebut dengan nama    Ausan.

Bagi yang tidak mampu membuat Asnam maka mereka membuat patung yang tidak   memiliki bentuk tertentu yang digunakan untuk tempat menyembelih binatang yang akan dipersembahkan (altar) untuk berhala-berhala yang disebut  dengan nama Ansab.

Setiap kaum mempunyai berhala sendiri,  sehingga jumlahnya menjadi banyak.  Sebelum kedatangan Islam  jumlah berhala di sekitar Ka’bah sebanyak kurang lebih  360 buah. Yang terkenal adalah Hubal, Lata, dan Uzza.

Bentuk peribadatan mereka kepada berhala itu adalah menyembahnya, Jika   hendak bepergian mereka  memegang berhalanya sebagai kegiatan terakhir. Jika tiba dari bepergian mereka memegang kembali berhalanya sebagai kegiatan pertamanya, sebelum bertemu dengan keluarganya.

Allah SWT bertanya kepada orang-orang yang menyembah kepada sesuatu yang mereka buat sendiri dan tidak mampu   menciptakan sesuatu. Allah SWT berfirman :

أَيُشْرِكُونَ مَا لا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (١٩١)

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri diciptakan (oleh manusia).. (QS Al-A’raf ayat 191).

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (٢٠)

Berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (QS An-Nahal ayat 20).

Idoelogi Sebagai Sesembahan

Kalau orang musyrik zaman dahulu  dan orang orang kafir asli zaman ini melakukan peribadatan kepada patung yang terlihat, maka kebanyakan orang yang ber-KTP Islam pada zaman ini melakukan penyembahan terhadap ideologi yang dibuat oleh manusia. Namun mereka tidak mau mengakui bahwa ketaatan mereka terhadap ideologi yang dibuat manusia sebagai kemusyrikan. Bahkan ada yang mengatakan berkhidmat dalam menegakkan ideologi itu sebagai ibadah kepada Allah SWT. Ajaibnya lagi orang yang menyembah patung pada zaman ini pun sudah    tidak mau disebut penyembah berhala. Mereka mengaku sebagai penganut Ketuhanan Yang Maha Esa, dan itu diakui secara kontitusional. Na’zubillahi.

Perhatikanlah bagaimana manusia menempatkan  ideologi dalam hidup mereka.  Ideologi itu jadikan sebagai :   pedoman hidup  bangsa dan negara,   jiwa bangsa dan negara,   kepribadian bangsa dan negara,  cita-cita bangsa, dan sebagai  sumber dari segala sumber hukum.

Dengan  menempatkan  ideologi seperti itu dalam kehidupan,  maka  mereka telah menjadikan ideologi sebagai pengganti agama (dinullah) atau telah menjadikan ideologi sebagai tandingan dari dinullah.

Mereka dengan bangga mengatakan bahwa agama mereka mempunyai ciri khusus yang toleran. Agama mereka berbeda dengan agama-agama yang sama di Timur Tengah. Hal ini dikarenakan di samping memeluk agama, mereka juga mempunyai ideologi bangsa dan negara yang berbeda dengan bangsa  dan negara lain. Mereka tidak merasa cukup dengan Al-Quran dan Hadis Nabi s.a.w.

Tatkala mereka menjadikan ideologi sebagai pedoman hidup berarti  mereka telah   membuat  ”pandangan hidup” baru di samping Al-Quran. Allah berfirman :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢)

 Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya,  petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.  (QS Al-Baqarah ayat 2).

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ…….. (١٨٥)

 (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)….  …(QS AlBaqarah ayat 185).

 

Tatkala mereka menjadikan deologi sebagai ”sumber dari segala sumber hukum” berarti  mereka telah    merampas hak rububiyah Allah SWT sebagai satu-satunya pembuat hukum yang haq.  Allah SWT berfirman :

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٤٠)

Hukum  itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Yusuf ayat 40).

… أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٥٤)

 Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al-A’raf ayat 54).

 

Tatkala mereka menjadikan deologi sebagai ”cita-cita”  berarti  mereka telah   membuat cita-cita (tujuan hidup) yang berlainan dengan  yang ditetapkan Allah. Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

 

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Az-Zariyat ayat 56).

 

Dalam praktek kehidupan mereka meyakini bahwa keselamatan dan kebahagian hidup berbangsa dan bernegara hanya bisa dicapai dengan cara mentaati ideologi tersebut. Bila bangsa dan negara mendapat masalah maka mereka mengatakan hal ini terjadi karena ideologi tidak lagi ditaati. Dalam keyakinan  mereka  ideologi adalah  harga “harga mati”. Artinya hidup mati mereka dikorbankan untuk ideologi yang mereka anut, bila ada yang  mengganggu, menghina, atau menggantinya.

Dalam rangka memuliakan dan mempertahankan ideologi, pada hari-hari tertentu mereka melakukan upacara “pengangungan” dengan mengucapkan ikrar kesetiaan secara bersama-sama. Kalau di sekolah setiap hari Senin pagi. Di instansi mereka, diadakan  upacara pengangungan yang bersifat : harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Di lembaga pendidikan   ideologi  dijadikan mata pelajaran  dari tingkat  Taman Kanak-Kanak sampai ke Perguruan Tinggi.

Pada hal Allah SWT telah berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. (QS Al-Maidah ayat 3).

 

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا (٦٤)

….tidaklah Tuhanmu lupa. (QS Maryam ayat 64).

Menyikapi pemberian ketaatan terhad ideologi buatatan manusia  (komunisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi, dan ideologi lainnya) Syaikh Abdul Kadir Audah mengatakan bahwa siapa yang menyangka bahwa kaum muslimin membutuhkan sedikit saja dari undang-undang buatan manusia itu berarti ia telah kafir terhadap firman Allah SWT  tersebut di atas. ((Al-Umdah Fi I’dadil ’Uddah; terjemahan Indonesianya : Berpegang Teguh Kepada Quran dan Sunnah, Penerbit Darul Ilmi, Sukoharjo, 2006)

 

Kafir Quraisy Menyembah Berhala dan Menyembah Allah SWT

Sebelum kedatangan Muhammad saw sebagai Rasulullah   orang kafir Quraisy telah melakukan  penyembahan terhadap berhala.  Meski pun demikian mereka masih mengenal ajaran Nabi Ibrahim a.s. Ketika orang Kinanah dan   Quraisy melakukan talbiyah di Ka’bah mereka berkata,”Labbaikallahumma labbaika. Labbaika la syarikalaka illa syarikun huwa laka. Tamlikuhi wamaa malaka.” (Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu itu milik-Mu).

Dengan demikian dalam kehidupan mereka telah bercampur baur antara pengakuan  kepada Allah SWT  dengan kemusyrikan. Mereka mengakui Allah SWT sebagai Pencipta langit dan bumi, sebagai Pemberi rezki, namun mereka juga melakukan penyembahan terhadap berhala. Allah SWT berfirman  dalam  surat Al-Mukminun  ayat 84-89 :

 

قُلْ لِمَنِ الأرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٨٤)سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٨٥)قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (٨٦)سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ (٨٧)قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٨٨)سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (٨٩)

84. Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” 85. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka Apakah kamu tidak ingat?”

86. Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?” 87. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka Apakah kamu tidak bertakwa?”

88. Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”89. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

Ilmu dan keyakinan mereka tentang adanya Allah Yang Maha Pencipta dan Pengatur tidaklah memasukkan mereka sebagi seorang muslim. Mereka disebutkan dalam Al-Quran sebagai orang kafir, sebagai mana firman Allah SWT dalam surat Al-Kafirun. Hal ini dikarenakan mereka tidak menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tuhan yang untuk disembah. Mereka menyembah Allah SWT namun juga menyembah tuhan-tuhan selain Allah SWT.

Kondisi zaman jahiliah tersebut   mirip dengan  kondisi manusia pada zaman ini. Mereka menyembah Allah SWT namun juga melakukan penyembahan terhadap ideologi buatan manusia  yang menentang Allah SWT. Maka betapa pun banyak amal sholeh yang mereka  lakukan berupa  : sholat, haji, puasa, zakat dan infaq, menjadi tidak berarti karena seluruh amal tersebut menjadi terhapus karena kemusyrikan yang mereka lakukakan. Allah SWT berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٦٥)

Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. (QS Az-Zumar ayat 65).

Maka status kebanyakan mereka adalah sama dengan status masyarakat zaman jahiliah yaitu MUSYRIK DAN KAFIR. Na’uzubillah.

 

Wallahu a’lam.