Mengapa Kita Menyebut Nama Penguasa

Jumat, 26/03/2010 00:02 WIB | Arsip | Cetak Kirim Tulisan

Masih ingat dahulu, ketika zaman orde baru. Kalau ada urusan/kepentingan/kegiatan dengan menyebut nama Pak Harto atau Bu Tien maka urusan/kepentingan/kegiatan kemungkinan lebih besar terselesaikan.

Kinipun kalau punya urusan/kepentingan/kegiatan di sebuah instansi pejabat dengan menyebut nama pejabat yang paling berkuasa di instansi pejabat tersebut (untuk menunjukkan kedekatan) maka urusan/kepentingan/kegiatan kemungkinan lebih besar terselesaikan.

Di tempat kerja pun jika kita punya urusan/kepentingan/kegiatan dengan menyebut nama yang paling berkuasa di tempat kerja (untuk menunjukkan keterkaitan/perintah/izin) maka urusan/kepentingan/kegiatan kemungkinan lebih besar terselesaikan.

Sudah naluri manusia, membutuhkan menyebut nama yang berkuasa agar terbantukan.

Seorang muslim dalam mengarungi kehidupan kita di dunia, sebelum melakukan kegiatan dan aktivitas selalu diawali menyebut nama Allah. Mengucapkan Bismillah.

"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (al-Fatihah : 1)

Sehingga Allah yang Maha Kuasa akan mengizinkan dan menolong kegiatan dan aktivitas tersebut akan terlaksana. Seberapa dekat dengan Allah akan memperbesar kemungkinan terkabulkannya.

Dalam Hadits Rasulullah saw bersabda, “Setiap pekerjaan yang baik, jika tidak dimulai dengan “Bismillah” (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari keberkahan Allah)”.

Perbedaannya, kalau kita menyebut nama manusia, manusia yang kita sebutkan kemungkina tidak mendengar langsung dan bukan pula dia yang menolong. Namun kalau kita menyebut nama Allah, Allah Maha Mendengar dan berkenan menolong kita.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dalam keseharian maka membuat mukmin menjadi "dekat" dengan Allah sehingga dengan kedekatan ini terdorong untuk melakukan yang diperintahNya dan meninggalkan yang dilarangNya. Sehingga terwujud tingkatan ketaqwaan yang menentukan tingkat kemulian di sisi Allah.

Ironisnya, dalam pemilihan calon ketua umum PB NU, ada calon menyebut nama penguasa negeri sebagai klaim dukungan (kedekatan dengan penguasa). Kita belum tahu apa hubungan dan manfaatnya dengan keberhasilan dalam pemilihan. Apalagi penguasa kini walaupun seorang muslim belum mempedulikan fatwa MUI yang telah tegas menyatakan kesesatan paham Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme Agama dangan Fatwa MUI No: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005. Sekarang kita dapat mengetahui orang-orang dengan paham liberalisme mencoba mendekati organisasi NU bahkan mengarah akan berkiprah lebih banyak dalam organisasi.

Semoga dalam pemilihan ketua umum PB NU tidak dilakukan berdasarkan "suara terbanyak" namun dilakukan pemilihan secara musyawarah mufakat berdasarkan pengalaman, kompetensi dan memfilter dari paham-paham yang sudah jelas dinyatakan sesat oleh para Ulama.

Semoga kita sebagai muslim lebih merasakan kedekatan dengan Allah.

Untuk mengetahui lebih lanjut kedekatan muslim dengan Allah, bisa kunjungi http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/24/allah-itu-dekat/

Salam

Zon di Jonggol (zonatjonggol@yahoo.com)
mutiarazuhud.wordpress.com

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Suara Pembaca

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


BSM Terima Penghargaan Service Excellence Award 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) kembali menoreh prestasi sebagai  Award Service Excellence Award 2012. Penghargaan kali ini diberikan oleh  Carre Customer Satisfaction & Lo...

Bedah Film Negeri 5 Menara di Universitas Mercubuana
Karya Anak bangsa yang mulai tayang perdana 1 Maret 2012 ini terus mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat Indonesia. Salah satunya melalui Bedah Film Nasional N5M ...

Baso Jadi Nominator di Festival Film Bandung
Alhamdulillah, Film Negeri 5 Menara yang disponsori oleh  iB Perbankan Syariah bank Indonesia mendapatkan apresiasi dari masyarakat Indonesia baik dalam maupun luar negeri . ...

Ekonomi Syari’ah, Kunci Atasi Krisis Global
Berbagai kelemahan yang terdapat pada bank konvensional menjadi isu utama penyebab krisis keuangan global. System ekonomi syari’ah memiliki daya tahan yang kuat terhadap kri...


Peluang