Menghadang Para ‘Paulus’ Akhir Zaman

Redaksi – Rabu, 7 Jumadil Akhir 1434 H / 17 April 2013 08:00 WIB

Sejarah Kekristenan sarat diwarnai oleh sinkretisme (percampuran) antara ajaran Yesus dengan budaya paganisme (penyembahan berhala), sehingga baik sadar maupun tidak sadar, ajaran Kristen yang  murni  sudah hampir punah karena lebih dominan diwarnai oleh paham paganisme.

Tokoh awal dan yang paling terkenal dalam melakukan praktek sinkretisme Kekristenan adalah Paulus. Paulus berasal dari Tarsus yang merupakan pusat  penyembahan Dewa Mithra (Matahari). Ciri yang paling jelas dari penyembahan Dewa Mithra adalah upacara meminum darah sapi atau meminum secangkir anggur yang melambangkan darah. Paulus sejak kecil sudah terbiasa dengan upacara penyembahan berhala ini, sehingga baginya, darah sudah merupakan sumber kekuatan dan penebus dosa sesuai dengan ajaran penyembah Dewa Mithra dan Dewa Herakles.

Penetrasi ajaran Kristen yang luar biasa dan menekan ajaran pagan, hal ini memaksa Paulus harus berfikir keras dan cerdas agar paham pagan yang dianutnya tetap exist atau bahkan bisa tersebar luas, bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan sinkretisme aqidah, tentunya antara agama Kristen dan Paganisme yang dianutnya. Sehingga, ajaran pagan tersebut bisa bertahan bahkan ikut tersebar seiring penyebaran agama Kristen (yang sudah terkontaminasi) ke penjuru dunia. Berita tentang  Yesus mati disalib dan kemudian bangkit kembali, membuat ide cemerlang Paulus muncul untuk mencampurkankannya dengan paham pagan Mithraisme yang ia anut, sehingga muncullah ajaran baru dalam Kristen seperti dosa waris, penebusan dosa, dan juru selamat yang kemudian diadopsi oleh umat Kristen hingga kini.

Cara penyebaran agama Kristen-Katholik melalui proses sinkretisme ini kemudian dilanjutkan oleh kaisar Konstantin yang sebenarnya juga seorang pagan.  Ketika paganisme yang dianut bangsa Romawi dirasa tidak kondusif lagi bagi persatuan Negara Romawi, dikarena terlalu banyaknya Dewa yang dijadikan sesembahan, karena itu Konstantin berfikir untuk mengangkat Dewa (Tuhan) baru yang bisa mempersatukan rakyatnya kembali. Akhirnya pada Konsili Nicea tahun 325M atas masukkan dari para pengikut Paulus, diputuskan pengangkatan Yesus sebagai Tuhan, setelah itu Konstantin menyatakan dirinya masuk Katholik.  Masuknya sang kaisar ke Katholik, ternyata tidak berpengaruh pada rakyatnya yang sudah terbiasa melakukan ritual perayaan kelahiran Dewa Matahari, yang dianggap sebagai Dewa yang paling penting kala itu dan bertepatan pada tanggal 25 Desember. Dengan kelihaiannya , Konstantin mengatasi permasalahan tersebut dengan cara melakukan sinkretisme yang menyatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember sehingga ritual perayaan Dewa Matahari tidak akan dihilangkan.  Dari pernyataan tersebut, rakyat Romawi kemudian berfikir bahwa Yesus adalah anak Dewa Matahari dan mereka pun berbondong-bondong masuk ke agama Katholik.

Ketika Katholik mulai masuk ke daerah Jerman, proses sinkretisme terjadi kembali agar Katholik bisa diterima oleh masyarakat Jerman yang kala itu masih menganut pagan penyembah pohon cemara. Ketika dikatakan bahwa Yesus lahir di bawah pohon cemara, maka dengan segera masyarakat di sana menganggap bahwa Yesus adalah anak dari Dewa cemara, artinya Yesus juga dianggap sebagai Dewa/Tuhan mereka. Akhirnya mereka bersedia menerima Katholik, bahkan hingga kini pohon cemara dipergunakan dalam perayaan Natal, yang kemudian disebut sebagai pohon Natal. Sungguh luar biasa dampak sinkretisme ini!

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kasus sinkretisme tersebut? Ternyata sinkretisme antara yang haq dan bathil hanya akan memunculkan kebathilan baru yang bersifat laten. Sehingga paham baru hasil sinktretisme ini akan jauh lebih berbahaya daripada paham bathil yang menjadi induknya.

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu Mengetahui.” (TQS 2:42)

 

Bilal bin Rabah Al Habasyi ketika disiksa majikannya, Umayyah bin Khalaf, agar bersedia menyembah Latta dan Uza, tetapi dengan teguhnya ia selalu menjawab, “Ahad…Ahad”. Walaupun siksaan yang sedemikian pedihnya, dicambuk dan ditindih batu di tengah terik matahari berhari-hari tetapi tetap tidak merubah pendiriannya untuk mempertahankan aqidahnya, hingga sang majikan hampir putus asa dan mencoba menawarkan sebuah kompromi dengan berkata kepada Bilal, “Anda tidak perlu meninggalkan iman anda, tetapi katakanlah bahwa agamamu sejalan (tidak bertentangan) dengan agamaku”.  Jawaban Bilal sungguh sangat diluar dugaan Umayyah, ia berkata, “tidak ada sesuatu di antara yang haq dan bathil kecuali sesuatu yang bathil. Ketika kebenaran bergeser walupun sedikit, maka ia kehilangan statusnya sebagai kebenaran”. Bilal bin Rabah memilih teguh dalam mempertahankan aqidahnya daripada melakukan kompromi yang bisa menyebabkan titik awal terjadinya sinkretisme antara aqidah Islam dan ajaran pagan Quraisy.

 

Bagaimana dengan yang terjadi pada saat ini? Banyak orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai Ulama, Kiyai, Syech, ataupun Ustadz tetapi dengan entengnya mengatakan bahwa paham paganisme modern (demokrasi) sejalan dengan Islam. Hanya karena ingin mendapatkan dukungan dari masyarakat yang masih awam tentang kebathilan demokrasi, mereka rela menyamakan yang haq dengan kebathilan. Padahal tubuh mereka tidak ditindih batu, dicambuk,  ataupun dijemur di terik matahari, padahal nyawa mereka tidak terancam sama sekali seperti yang terjadi pada Bilal bin Rabah. Malah sebaliknya, ketika mau berkompromi dengan demokrasi, kenikmatan duniawi dengan segera mereka raih, popularitas naik, harta melimpah, title orang “bijak”ataupun “moderat” didapatkan. Tetapi ingatlah bahwa itu semua terlalu murah dibandingkan dengan jatuhnya kemurnian Islam.  Tanpa sadar mereka berperan menjadi para ‘Paulus’ akhir zaman. Mereka tidak belajar dari ‘kepunahan’ ajaran Kristen akibat sinkretisme.

Momentum Muktamar Khilafah yang akan diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia di stadion Gelora Bung Karno – Jakarta pada 2 Juni 2013, insya Alloh akan menjadi sebuah ‘tenaga’ yang besar untuk menghadang laju seruan sinkretisme para ‘Paulus’ akhir zaman.  Seruan personal tentunya sangat lemah, oleh karena itu momentum tersebut adalah sebuah kesempatan bagi anda menggambungkan energi yang anda miliki untuk menciptakan energi seruan yang jauh lebih dahsyat. Sehingga muncullah sebuah semangat baru dan optimisme baru dalam memperjuangkan al-haq, meninggalkan yang bathil serta  tidak mencampurkan (sinkretisme) keduanya. Semoga amal tersebut dicatat sebagai amal jariyah, bukan hanya sekedar membangun masjid, tetapi membangun peradaban Islam agar hukum Alloh tegak kembali. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

 

Penulis:

Budi Kristyanto

Mantan penganut Katholik

Perumnas Klender-Jakarta Timur

 

HP: 08561648432

Suara Pembaca Terbaru

blog comments powered by Disqus