Pornografi di Film Serdadu Kumbang

Siti Tasniyatun – Senin, 3 Sya'ban 1432 H / 4 Juli 2011 11:07 WIB

Assalamu’alaikum wr. wb.

Jumat,1 Juli 2011.

Mengawali bulan Juli, usai shalat Jumat, saya mengajak keluarga menembus kemacetan Jakarta untuk sebuah tujuan: Menonton Film Serdadu Kumbang.

Banyak gedung bioskop di sejumlah mall yang tumbuh menyesaki Ibu Kota. Tetapi saya memilih Taman Ismail Marzuki (TIM). Kebetulan di sana ada pentas Kartolo Mbalelo. Alasan lainnya: planetarium. Adam (6) sangat menyukai antariksa.

Setelah kedua anak saya pipis sembarangan di jalan akibat terperangkap macet, mobil saya berhasil parkir di pelataran TIM dengan berdentam. Nyaris saja bagian bamper belakang menabrak tiang.

Tak ada antrean di loket XXI TIM. Namun, petugasnya menyorongkan muka lesu. Saya pesan empat tiket dan sang peugas menunjukkan ruang studio melalui screen komputernya. "Kok sepi," tanyaku pada petugas. Tak ada penonton di studio 2 pada pukul 15.45 WIB.

Dalam hati, saya ingin membatalkan acara nonton Serdadu Kumbang. Pertimbangannya sederhana saja: kalau sepi penonton, artinya filmnya jelek. Tapi ak mungkin saya mengurungkan acara ini setelah berlelah-lelah menerobos kemacetan dan berjanji pada anak-anak. Kupesan empat kursi di deret D.

Usai shalat ashar yang sangat tepat waktu (pas mengangkat takbir pertama di masjid TIM, saat itu adzan dikumandangkan), saya bergegas memasuki studio dua.

Benar, studio kosong melompong. Hanya saya dan keluarga plus beberapa gelintir penonton di belakang. "Waduhn masih iklan…" Saya mulai gelisah. Ya, iklan preview film-film yang akan diputar di XXI adalah teror bagi anak-anak. Pikiran saya berkecamuk, semoga film Dewi Persik yang "hantu perawan" itu tidak diiklankan. Jantung saya berdegup hebat dan sejenak nyaris panas dingin. Untunglah "dewi persik"
tak diputar.

Alenia Pictures segera merampas perhatianku. Suara balapan kuda khas Sumbawa menyerobot begitu saja. Amek, siswa SD, yang miskin dan berbibir sumbing, tampil sebagai tokoh utama. "Serdadu Kumbang dimulai," saya merapatkan tempat duduk dan meminta perhatian Adam.

Karena menonton bersama keluarga, saya memposisikan diri sebagai penonton kritis. Setiap adegan langsung kukomentari sambil mengajak Adam diskusi-diskusi kecil. Saya tidak akan membiarkan setiap adegan mempengaruhi 100% mindset dan perilaku anak-anak.

Adegan-adegan awal berisi Pak Alim, guru muda, menyiksa anak-anak di sekolah akibat mereka terlambat. Anak-anak itu, termasuk Amek, disuruh lari memutari lapangan.

Adam kulihat nyengir. Rupanya dia pernah terlambat sekolah. Salah seorang gurunya menghukum Adam (bersama beberapa temannya) lari memutari lapangan lima kali. Adam sekolah di SDN 01 Kelapa Dua, Kec. Kebun Jeruk, DKI Jakarta. Usai lari keliling itu, hidung Adam mimisan.

Melihat adegan di film Serdadu Kumbang itu, saya tiba-tiba geram dan langsung berteriak pelan. "Jangan mau lagi disuruh begitu. Bilang, nggak boleh ayah. Nggak usah sekolah saja kalau sampai ada hukuman kayak gitu. Belajarnya sama ayah di rumah." Adam kulihat nyengir.

Meski plotnya tidak utuh, ceritanya tidak begitu kuat dan beberapa aktor yang "tak berfungsi" atau dipaksakan kehadirannya tanpa latar belakang dan tanpa emosi, film ini sempat menyodorkan beberapa cuplikan tentang kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh guru. Juga tentang Ujian Nasional yang menimbulkan syirik: menyekutukan Allah. Untung ada Putu Wijaya yang masih mampu menyelamatkan film ini secara keseluruhan.

Tiba-tiba saja saya dikejutkan oleh adegan pensil Amek terjatuh saat di ruang kelas. Amek mengambil pensil di kolong meja ketika ia dikejutkan oleh rok bu guru yang terbuka. Amek tak lantas duduk kembali. Ia malah mendelik dan menikmati "Rok Bu Guru Rukiyah."

Melihat Amek berlama-lama di kolong meja, satu per satu temannya menjatuhkan pensil dan bergabung bersama Amek menonton "drama rok bu guru."

Adegan ini spontan membuat jantung saya berhenti: shock!!! Saya belingsatan mencari cara bagaimana menjelaskan adegan ini ke Adam. Akhirnya keluar juga kata-kata magis dari mulut saya: ihh jorok. Tidak boleh itu. Masuk neraka. Gak boleh dilakukan. Dalam hati, sumpah serapah kualamatkan ke Alenia Pictures dan Badan Sensor Film.

Mengapa adegan ini yang ditampilkan?? Banyak kisah jenaka di sekolah, tapi mengapa yang ini yang di-capture. Toh, adegan ini bukan adegan inti. Ini cuma selingan, tempelan, dan sama sekali tak mendukung alur cerita.

Alenia ceroboh. Untuk film ini, Alenia masuk ke dalam comberan yang dibuatnya sendiri. Secara utuh, film ini tak mengajarkan apa-apa kepada anak-anak. Mau meniru tokoh utama? Si Amek? Tidak. Anak-anak tidak mau seperti Amek. Apakah kisah perjuangannya yang layak ditiru? Tidak. Tidak ada bangunan cerita yang dipondasi sejak awal yang mengisahkan ketangguhan Amek mengejar cita-cita. Ketangguhan belajar dengan cara-cara yang baik dan menginspirasi. Tidak, sama sekali tidak ada.

Film ini ingin sekali memiliki bangunan kisah heroik seorang anak (Amek) untuk mencapai cita-citanya, tapi tidak berhasil bahkan sporadis, tidak utuh, terpenggal-penggal. Tidak ada yang bisa ditiru oleh anak-anak dari film ini.

Terlebih adegan bibit pornografi itu telah meracuni anak-anak. Racun pornografi itu justru berubah menjadi pesan utama film ini karena efek dramatis yang dibuatnya.

Sayang sekali Alenia Pictures yang dimotori oleh dua artis ari sihasale dan nia zulkarnain ini terjerembab ke dalam pornografi murahan. Meski tak memotret celana dalam si ibu guru, adegan panjang ini mengarahkan pikiran penonton untuk berkhayal tentang celana dalam sang ibu guru, bahkan lebih jauh khalayan itu mengular apakah si ibu guru pakai celana dalam atau tidak. Alenia tidak menyadari daya magis
imajinasi dan terjebak hanya pada mind box: gambar!!!

Yang justru gagal merobohkan pornografi dalam film Serdadu Kumbang ini adalah Badan Sensor Film. Badan ini telah berubah menjadi Badan Sex on Film yang bertugas mengisi dan mengantarkan film anak-anak berisi semua promosi pornografi.

Keluar dari studio dua, saya kembali mengevaluasi adegan per adegan dan ingatan saya hanya tertumbuk pada adegan mesum itu.

Secepatnya saya bergeser ke planetarium. Meski film yang diputar itu-itu saja, planetarium semoga bisa menghilangkan trauma pada Adam dan kami semua.

Akhirnya, jangan tonton Film Serdadu Kumbang atau potong adegan mesum itu. Semoga tulisan ini tidak menambah. Pundi-pundi Alenia Pictures dan ari sihasale dan nia zulkarnaen bisa secara arif menarik film ini, mengevaluasinya, memangkas adegan mesumnya, dan mengedarkannya kembali.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Habe Arifin
habearifin@yahoo.com

Suara Pembaca Terbaru

blog comments powered by Disqus